
Pagi sebelum siang.
Tiga mobil berkilap beriringan memasuki halaman rumah orang tua Laras. Halaman yang tampak seperti lapangan di depan itu untungnya agak luas mampu menampung Mobil pa. Sontak membuat seisi rumah terkejut dan panik. Tidak ada pemberitahuan dari siapa pun baik saudara atau teman dari orang tua Laras yang menyatakan akan berkunjung.
Lalu siapa mereka. Ibu panik karena tidak memiliki persiapan untuk menyambut mereka.
Namun Ibu cepat tanggap. Segera mengambil hp dan menelpon rumah makan di tempat wisata yang terkenal enak masakan
nya itu. Ibu Laras memesan benerapa macam menu masakan. Minta tolong diantar ke rumah bila matang. Ini hanya untuk berjaga-jaga menjamu tamu. Itupun masih melihat tujuan kedatangan para tamu.
Jika Ibu masih mengira-ngira siapa mereka yang datang, tidak dengan Ayah. Ternyata salah satunya adalah kenalan Ayah.
Ayah pun menyambut kedatangan mereka dengan suka cita.
"Selamat datang di gubug kami Tuan. Silahkan masuk."
"Ini bukan gubug Budiman. Ini lebih dari kenyamanan. Asri sekali tempat ini. Bagaimana kabarmu."
" Puji Tuhan, saya baik-baik saja Tuan. Pemberian orangtua saat kami menikah Tuan dan kami membangun gubug sini. Silahkan duduk Tuan dan Nyonya."
"Silahkan Nyonya."
Ibu Laras mempersilahkan Nyonya yang mendampingi Tuan tadi. Diikuti oleh enam orang rombongan yang sudah tidak muda lagi. Perbincangan serius terjadi. Diutarakan maksud kedatangan mereka ke rumah orang tua Laras. Sementara di ruang makan, dua orang saudara dari pihak Ibu Laras sedang menyiapkan hidangan makan siang. Semua atas perintah Ibu untuk menjamu tamu.
Laras ingin mengetahui tujuan mereka datang. Rasa penasaran
nya yang besar membuat Laras menguping pembicaraan dari balik pintu ruang tengah yang panjang sekaligus ruang makan. Memberi kode pada kedua saudara Ibu agar tidak mengeluarkan kata-kata.
"Jadi begitulah maksud kedatangan kami. Besar harapan anak kami Rony, supaya harapannya ini tercapai." Tuan Novian berkata.
" Terima kasih atas penghargaan dari nak Rony untuk anak kami Laras. Bagaimanapun yang akan menjalani nanti adalah Laras jadi perkenankan kami untuk bertanya pada Laras. Apakah Laras bersedia atau tidak. Mohon waktu Tuan."
Ayah berbicara dengan sangat hati-hati. Keheningan tercipta.
"Berapa umur Laras sekarang?" Tanya seorang nenek.
"Beberapa bulan lagi dua puluh tahun Ibu." Kali ini Ibu Laras yang menjawab.
"Ooh muda sekali tapi tidak apa. Nanti akan membuat Rony sangat menyayangi Laras."
"Baiklah. Satu minggu cukup untuk anakmu mengambil keputusan."
"Terima kasih Tuan."
Mereka ke sini untuk melamarku?
Rony? Rony yang mana?
Laras merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Jadi mereka ke sini dengan tujuan melamar Laras untuk Rony.
Kegundahan menguasai Laras. Ia berjalan cepat masuk ke kamar. Laras mulai memikirkan jawabannya. Rony nama itu. Laras ingin segera tahu apakah dia adalah Rony teman Vim.
Di kamarnya Laras berjalan kesana kemari dengan wajah gusar. Ia benar-benar tidak menduga akan menerima lamaran dari orang yang tidak dikenalnya. Teman bukan apalagi pacar.
"Mami, Laras hari ini dilamar orang."
Laras menuliskan pesan singkat kepada Ibu Maharani. Tidak menunggu lama, Laras mendapatkan balasan.
"Siapa orang itu Laras?"
"Anak Tuan Novian Mami."
Ketukan di pintu kamar menghentikan Laras dari mengirim pesan lanjutan. Ibu masuk ke kamar.
"Laras mari temui tamu. Temani makan siang ya." Pinta Ibu.
__ADS_1
"Laras malu Bu."
"Tidak apa. Mereka hanya ingin melihatmu. Pakailah."
Ibu mengeluarkan pakaian terbaik milik Laras. Laras memakainya.
Merapikan dan memoles bedak pada wajah seadanya.
"Waahh ternyata dia cantik sekali. Pantasan Rony tertarik padanya. Siapa namamu?"
Nenek tua yang satu lagi bertanya pada Laras saat Laras berjabat tangan dan menyium tangan sang nenek.
"Saya Laras nek."
"Suaranya lembut. Rony akan takluk padanya hahaha.."
Suara sang nenek terdengar berat namun sarat kegembiraan.
Satu persatu tamu disalami oleh Laras. Kemudian Laras mengambil tempat duduk yang masih kosong. Ibu telah menyusun dua meja menjadi satu hingga menjadi meja makan yang panjang. Banyak hidangan sudah tersaji di atasnya.
"Ya.. yaa Rony akan betah diam di rumah nanti." Kata wanita yang berumur setengah tua. Mungkin ibunya Rony.
"Nanti cucu-cucu akan ganteng dan cantik-cantik haha.."
Laras tertunduk malu mendengar
kan ucapan para orang tua. Kerongkongannya serasa sulit menelan makanan. Dia ingin segera berakhir saja pertemuan itu.
"Rony sangat menyukaimu sayang. Beberapa hari lalu ia bercerita tentang pertemuan kalian di warung. Walaupun cuma sebentar tapi Rony terkesan padamu. Mencari tahu tentangmu dan meminta kami melamarmu."
Secepat ini kah? Aku tidak mengenalnya sama sekali.
Laras melebarkan senyumnya menanggapi cerita Ibu Rony.
"Ernita berikan mama lalap itu."
Ibu Rony mengambilkan lalapan dari piring dan memberikan kepada nenek di sebelahnya.
"Mama sambalnya ingat.."
"Sayang ini tidak banyak. Mama rasa saja."
"Baru kemarin mama kebanyakan makan sambal bi Min dan perut mama sakit bukan."
"Iya..iya mama ingat."
Sementara di rumah Ibu Maharani terlihat kesibukan Nyonya rumah dan asisten rumah tangga membersihkan meja bekas makan siang untuk pekerja di rumah itu.
Vim yang baru saja muncul dari arah kolam ikan melihat kesibukan itu. Tidak adanya Laras di antara mereka menimbulkan tanda tanya di benak Vim.
"Mi mana Laras. Kok mami yang sibuk."
"Laras belum datang."
"Kenapa belum datang?"
"Sedang ada tamu di rumahnya Vim."
"Siapa tamunya mi."
"Vim Iiii kamu bawel nanya terus."
"Tamu sih tamu mi tapi apa sampai siang begini."
"Namanya juga tamu istimewa.
__ADS_1
Sudah kamu masuk sana dan makan siang."
"Tamu istimewa gimana mi?"
"Vim mami lagi repot."
"Katakan tamu seperti apa itu dari pagi sampai siang begini. Seandainya tamunya sudah pulang, Laras pasti datang kemari."
Vim terus mengikuti mami dari belakang seperti anak kecil meminta dibelikan jajanan.
"Laras ada mengirim kabar kan mi. Apa yang Laras katakan mi."
Kali ini Mami sudah berada di belakang meja kerja Laras. Duduk di sana dengan jari jemari yang terpaut satu sama lain.
"Vim anak mami. Laras hari ini dilamar orang."
"Apa??? Yang benar mi??"
" Mami tidak sedang main-main Vim."
"Lalu..siapa yang melamar Laras mi?"
"Tadi Laras mengirim pesan singkat. Dia dilamar oleh anak Tuan Novian."
"Tuan Novian pengusaha cengkeh??"
"Betul."
"Untuk siapa.. bukankah anak lelakinya hanya Rony??"
Raut wajah Vim berubah dari penuh ketenangan menjadi penuh tanda tanya.
"Vim mami tidak tahu siapa anaknya Tuan Novian, tapi seperti nya itu yang dituliskan Laras. Kau baca pesan Laras."
"Anak lelaki Tuan Novian hanya Rony mi. Brengsek dia."
Vim mengepalkan tangan kanannya. Secepat itu Rony mengambil langkah. Vim merenung.
Aku tak rela kau memiliki Laras.
Jangan sampai Laras menerima lamaran ini.
"Mii..lamarkan Laras untukku."
"Apa???"
Mami Maharani yang sedari tadi berdiam diri , tersentak mendengar permintaan Vim.
"Kau sadar ucapanmu Vim?"
"Yeah..aku serius."
"Mami bicarakan dulu sama pa_.."
"Aku yang akan ngomong sama papi."
"Apakah Laras mau menerima kau Vim." Mami sangsi.
"Jelas dong daripada si kutu****** Rony.
Rony tidak boleh memiliki Laras. Jika itu terjadi sama saja menyakiti hatiku. Rony akan menertawakanku. Rony tidak boleh mendapatkan Laras.
Mami Maharani tercenung lama. Di satu sisi merasa bahagia mendengar keinginan Vim untuk memulai hidup berumah tangga.
Di sisi yang lain merasa kasihan sama Laras seandainya Laras menerima lamaran ini hanya karena memandang Ibu Maharani.
__ADS_1