Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 132. Dalam tawanan 1


__ADS_3

Nomor panggilan yang baru diterima Vim dilaporkan kepada pihak berwajib. Oleh mereka akan dilacak dari mana panggilan dilakukan. Namun sore hari Vim mendapat kabar jika kartu SIM tidak bisa dilacak lagi. Roni mengganti kartu SIM dengan nomor baru.


Dua hari telah berlalu tiada tanda-tanda menunjukkan keberadaan Laras. Hingga siang itu pengawal tanpa sengaja melihat mobil dengan plat yang sama yang pernah dipoto Vim dari rekaman kamera CCTV.


"Tuan mobilnya bergerak ke arah timur. Mobil baru saja keluar dari mini market. Saya mengikuti dari jauh." Pengawal menginfokan Vim.


Ada harapan bagi Vim. Informasi itu bagaikan oase di padang pasir. Semoga membawa titik terang pencarian Laras. Namun lima kilometer berikutnya pengawal kehilangan jejak ketika lampu lalu lintas berganti merah dua kali. Mobil yang dibuntuti melaju sedangkan mobil pengawal Laras berhenti karena lampu merah.


Baru saja pukul tujuh pagi tapi Laras sudah duduk di sofa. Dua orang penjaga belum kelihatan. Laras yakin mereka ada di sekitar situ. Dia sudah melihat dua pintu yang menjadi akses jalan keluar namun semua dikunci. Laras diam meskipun hatinya gelisah.


Tiba-tiba seorang penjaga berdiri di hadapan Laras tanpa disadari. Laras termenung sedari tadi. Raganya di rumah besar tersebut namun jiwanya berada di rumahnya sendiri. Wajah Vim, Vian dan keluarganya bergantian hadir dalam lamunan.


"Nyonya...anda belum mengganti pakaian anda. Apakah anda tahan dengan baunya?"


"Kalau nggak tahan mengapa aku masih menggunakan ini. Kau pergi saja menjauh supaya tidak menyium bau."


"Bukan soal bau saja Nyonya. Perintah bos, anda harus mengganti pakaian anda. Harus Nyonya. Jika anda tidak melakukannya, kami akan memaksa anda."


"Awas kalau berani menyentuhku."


"Maka itu menurutlah Nyonya. Itu lebih baik."


"Kalian menyusahkanku, keluargaku. Kalian tahu anakku kehilanganku dan aku merindukannya. Kalian tega sekali ckk."


"Bos datang pukul sepuluh dan Nyonya harus dalam keadaan bersih dan mengenakan pakaian yang kami sediakan." Penjaga tak menghiraukan Laras. Tugasnya lebih penting. Perintah bos harus dilaksanakan.


"Bodoh amat!"


"Nyonya .... apa Nyonya mau bos kami yang menggantikan pakaian Nyonya?"


"Nggak sudi! Memangnya siapa dia. Laras menjawab cepat. Dia menjadi sangat ketus.


"Maka itu sebaiknya Nyonya mandi dan berganti pakaian. Pakaian itu semuanya baru Nyonya. Belum pernah dipakai dan dicuci."


"Baiklah. Setelah mandi aku bisa berjalan di luar?"


"Tidak bisa Nyonya. Jangan membodohi kami. Nyonya aman di sini."


"Cuma berjalan saja. Aku tak akan lari. Kalian ini kenapa terlalu patuh. Kesalahan kecil saja, bos kalian tak segan menggampar, tidak usah terlalu loyal."


"Tidak ada penawaran Nyonya. Anda bisa mandi sepuasnya dan saat bos datang anda sudah tampil menarik. Kesetiaan nomor satu Nyonya."


"Buat apa aku mandi karena dia? Dia bukan suamiku. Kau tahu harga kalung ini? Bisa menggantikan harga kesetiaan kalian. Bagaimana?"


"Sudahlah Nyonya. Sayang sekali kalung semahal itu anda gadaikan kepada kami. Siapa tahu bos kami berbaik hati melepaskan anda karena anda terlihat menarik nanti."

__ADS_1


"Sudah. Sudah. Lupakan saja. Suamiku akan datang kemari dan kalian pasti dihajar satu persatu."


Laras berjalan memasuki kamar. Penjaga mengikuti.


"Mau kemana? Mau ikut mandi?"


"Menutup pintu kamar Nyonya."


"Tidak perlu. Aku punya tangan untuk menutup sendiri. Ingat, suamiku akan datang memberi pelajaran."


"Sebelum itu terjadi Nyonya sudah tidak ada di sini."


"Apa maksudmu??"


"Begitulah Nyonya. Lupakan."


Penjaga tidak berkata-kata lagi dan memilih pergi dari ruangan itu. Laras memasang wajah jutek tiga kali lipat dari jutek biasanya. Tangan Laras memutar kunci pintu. Akhirnya Laras memilih mandi sebab tubuhnya terasa tidak nyaman lagi.


Semua perlengkapan mandi serba baru. Kemungkinan memang telah disiapkan sebelumnya. Berarti penculikan dirinya telah disiapkan. Andai benar begitu jerat hukumnya lumayan berat buat kejahatan berencana. Itu yang Laras ketahui.


Laras memandang dirinya di cermin. Dia ibu satu anak tapi Roni tak pernah berhenti menghendaki dirinya. Butakah Roni atau ini cuma pelampiasan dendam Roni pada Vim?


Belum berselang lama Laras selesai membenahi penampilannya, suara gaduh terdengar dari luar ruangan. Pendengaran Laras tertuju ke sana. Daun telinga ditempelkan Laras ke daun pintu. Cukup jelas suara orang berbicara. Tapi hei...Laras pernah mendengar suara ini. Suara lelaki milik si penjaga yang meminta Laras mandi dan suara wanita yang Laras kenal. Aurora sedang mencari Roni.


"Sabar Nyonya. Apakah Tuan dan Nyonya janji jumpa di sini?" Tanya penjaga.


"Apa? Janji? Boro-boro janji, mengirimkan uang Rafli saja sudah mulai lupa."


"Tuan tidak ada Nyonya. Masih di kota S."


"Kau melindunginya. Dia sengaja menghindar. Membeli villa megah dan melupakan kewajiban pada Rafli."


"Mungkin Tuan menyerahkan sekalian berapa bulan Nyonya."


"Makan, sekolah, jalan-jalan butuh uang setiap bulan, bukan tiga atau enam bulan. Sewa kamar saja setiap bulan!" Aurora membuat perumpamaan.


Aurora mengitari ruangan dan membuka pintu sebuah kamar. Tak menemukan apa-apa di sana. Selanjutnya penjaga mencegah Aurora melakukan hal yang sama pada kamar lain.


"Percayalah Nyonya, Tuan Roni tidak berada di sini. Semua kamar kosong."


"Kau menghalangiku Jon. Minggirlah."


Aurora membuka kamar kedua. Satu kamar lagi yaitu kamar tempat Laras dikurung. Jon berusaha agar Aurora tidak masuk ke situ.


"Kalau Tuan Roni di sini, dia keluar menemui anda, Nyonya. Suara anda berisik."

__ADS_1


"Berani-beraninya kau bilang begitu. Aku ini mantan Nyonya kalian."


Cuma mantan bukan lagi pemilik rumah mewah ini. Seandainya ia masih berstatus istri Roni tentu Jon segan dan menghormati Aurora.


Laras duduk di sisi ranjang. Aurora mengetahui tempat ini. Sebagai mantan Nyonya rumah wajar Aurora hafal satu persatu aset kekayaan Roni dan barangkali pernah ke sini dengan Roni. Bahkan Aurora mengikuti perkembangan berita Roni hingga tahu Roni baru saja membeli rumah baru.


Jangan-jangan kamar ini tempat mereka berbagi kasih.


Laras memandang berkeliling. Dia mencebik dan penutup bed yang ia duduki mungkin pernah jadi saksi keintiman Aurora dan Roni. Laras bergidik.


Baju ini bukan punya Aurora kan? Huuh aku tidak mau pakaian bekas Aurora walaupun Vim pun pernah berpacaran dengan Aurora.


Sebenarnya Roni tak kalah dari Vim, berhati lembut apalagi jika berhadapan dengan Laras tapi Vim sangat-sangat melindungi Laras dari Roni. Perseteruan yang tak pernah usai ditambah hasrat Roni memiliki Laras menjadikan mereka bermusuhan. Jika Vim menganggap bukan masalah serius antara dirinya dan Roni, tidak demikian dengan Roni. Vim tidak boleh memiliki apa saja keinginannya. Ia sudah cukup mendapatkan apa yang ia mau. Kemenangan pada setiap perlombaan di masa lalu, kesuksesan di setiap langkah usahanya dan cinta yang utuh dari Laras. Roni selalu menelan pil pahit kekalahan. Kali ini ia bertekad menang merebut Laras.


"Kau di sini rupanya?!" Suara Aurora yang kuat bergema di luar kamar. Laras kembali memasang telinga ingin tahu siapa lawan bicara Aurora.


"Dan kau, mau apa kemari? Tidak sembarang orang bisa memasuki tempat ini. Pergilah!" Suara setengah berat itu kepunyaan Roni. Dia sudah tiba.


"Enak saja. Jalankan tanggung jawabmu. Rafli membutuhkan biaya. Dia semakin besar."


"Aurora aku sudah pernah bilang, berikan Rafli padaku tapi kau ngotot ingin menjaganya. Rafli terjamin denganku. Kau tak sanggup mengurusnya lagi kan?"


"Keputusan hakim kau yang menanggung biaya hidup Rafli jadi jalankan kewajibanmu. Berikan uang itu dan aku akan pergi. Rafli butuh aku, ibunya."


"Aku transfer. Puas?? Ingat jangan kau hambur-hamburkan uang itu dan jika usia Rafli lima belas tahun, aku yang akan mengurus langsung semua biaya sekolahnya. Jon bagaimana semuanya?"


"Baik Tuan. Kami menunggu Tuan. Kelinci baik-baik saja."


"Kelinci? Sejak kapan kau suka kelinci?" Selidik Aurora


Aurora tak mendapatkan jawaban. Roni acuh dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas. Menggoreskan tinta pena di atas secarik kertas kecil lalu diberikan kepada Aurora. Jumlah biaya hidup Rafli yang ia tanggung.


"Untuk tiga bulan ke depan dan tiga bulan lalu. Jika Rafli sakit atau kekurangan, aku akan mengambil Rafli."


"Oke. Dia akan baik-baik saja. Baiklah aku pergi sekarang." Wajah Aurora berbinar-binar . Perburuannya tak sia-sia. Jumlah yang diberikan lebih dari cukup untuk keperluan Rafli. Dia bisa ikut bersenang-senang dengan uang tersebut.


"Aurora tahu tentang Laras, Jon?"


"Tidak tahu Tuan. Semua kamar diperiksa tapi kamar yang satu itu tidak. Saya mencegahnya."


"Bagus Jon. Ambilkan aku air putih."


"Baik Tuan. Sebentar...."


Dan Jon mengambilkan air minum di belakang. Jon dan tukang masak berada di rumah itu sedangkan penjaga bertubuh gendut pulang ke rumah dikarenakan keluarga istrinya mendapat musibah.

__ADS_1


__ADS_2