Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 31. I Miss You.


__ADS_3

Selesai mempelajari dan menandatangi surat dan berkas-


berkas kerja di meja. Satu jam sebelum jam kerja berakhir Vim menemui Joel.


"Ambil semua makanan di meja jika Aurora yang meletakkan di dalam."


"Baik Tuan. Jangan dibuang Tuan, buat kami saja."


"Ambil saja. Aku pulang dulu."


"Baik Tuan. Terima kasih."


Joel memandang kepergian Vim. Segitu bencinya Vim pada Aurora pikir Joel.


Vim berlalu menuju parkiran bawah tanah. Di sana telah menunggu Pak Uun. Sesekali terdengar suara geluduk. Hujan pun turun deras selama mereka di perjalanan.


Keadaan seperti ini akan sangat menentramkan berada di dekat Laras pikir Vim. Laras yang manja dan kadang menggodanya bisa membuat kehangatan di antara mereka. Vim merasakan rindu yang amat sangat. Wajah Laras selalu membayangi di setiap langkahnya di tempat kerja dan setiap ia melangkahkan kaki. Laraslah yang menambah Vim menjadi bersemangat menjalani hari-harinya. Laras itu mood booster bagi Vim.


Walaupun kadang Laras lebih suka mengikuti kata hatinya tapi Vim bisa memakluminya. Laras masih muda. Masih sering terbawa emosi. Tidak seperti Vim yang sudah mendekati usia dua puluh delapan tahun. Emosinya sudah lebih stabil, berimbang


dengan nalarnya.


Vim berlari kecil dari mobil ke rumah orang tua Laras. Pak Uun menawarkan payung tapi ditolaknya. Vim memerintahkan Pak Uun agar kembali ke rumah Maminya.


Tidak memasuki pintu depan karena pintu tertutup dan pakaiannya basah, Vim memilih ke pintu belakang saja. Dan ia sungguh terkejut melihat Laras di teras belakang sedang berada di derasnya hujan tanpa penutup kepala. Vim termangu menyaksi


kan pemandangan di depannya.


Wajah itu, tubuh itu dari atas kepala hingga ujung kaki basah kuyup oleh air hujan. Vim menelan saliva. Tubuh molek itu begitu kelihatan nyata dalam balutan pakaian yang basah kuyup. Tapi Laras kelihatan asyik menyapu lantai teras dengan sapu lantai dan sedikit pembersih lantai. Dia tidak menyadari Vim sedang mengamatinya.


"Eheemm."


Seketika Laras mencari arah suara. Raut wajahnya memancarkan keterkejutan. Meskipun ia percaya Vim bakal menyusulnya tapi Laras tidak mengira di saat seperti itu Vim muncul di hadapannya.


"Mas?!"


"Iya ini aku bukan hantuku."


"Iiiiihh. Mas bikin kaget saja." Laras mencebik.


"Mengapa kau main air?" Tanya Vim langsung.


"Aku membersihkan lantai ini. Mas sendiri mengapa hujan-hujanan?"


"Karena aku mencarimu."


"Di mobil ada payung. Kok tidak digunakan?"


"Biar aku kehujanan lalu kedinginan, menggigil dan menunggu kau memelukku." Canda Vim.


Tidak tampak kemarahan pada wajah Laras. Ada bahagia di manik matanya yang coklat.


"Apa yang kau lakukan Laras. Kau bisa masuk angin. Lihat hujannya sangat deras."


"Aku sudah biasa membersihkan ini sejak dulu mas dan aku suka mandi hujan."


Vim mendekati Laras. Meraih gagang sapu yang dipegang Laras. Sedikit merapatkan wajahnya pada wajah sang istri. Cuma sebentar. Urung bertindak lebih jauh khawatir dilihat orang lain. Siapa tahu tamu tiba-tiba muncul melalui pintu belakang di mana mereka berada. Vim memikirkan dan menjaga harga dirinya.


Vim membuka kran air dan mengarahkan selang air ke lantai. Menyiram lantai dan membersihkan sisa sabun.


"Biar aku yang sapu mas."


"Kau ganti baju saja. Aku teruskan pekerjaan ini."


"Tidak. Mas saja yang masuk dan mandi di dalam."


"Cukup aku Laras."


"Ya sudah kita sama-sama saja sampai selesai."


Menyapu terus menyapu dan menyiram lantai sampai tidak ada busa di lantai. Vim menjadi lelaki biasa jika seperti itu. Gelar dan jabatannya tidak ia hiraukan. Bersama Laras bisa membuatnya lupa segalanya.


"Laras lihat tubuhmu. Terlihat lekuk tubuhmu karena air hujan. Bagaimana kalau orang melihatmu? Aku keberatan."


"Tidak ada orang sayang. Hanya kita berdua di sini."


"Bisa saja orang melihatmu dari balik itu." Vim menunjuk ke tembok belakang yang menjadi tembok pagar sekeliling rumah. Orang iseng bisa mengintip dari sana.


"Ibu dan bapak kemana?"


"Pergi undangan. Tadi Ibu menelponku mengatakan menginap di sana karena hujan sangat deras."

__ADS_1


" Mengapa kau tidak ikut. Bagaimana mungkin kau sendiri di sini?"


"Tadinya kupikir Ibu dan ayah akan pulang." Laras mengibaskan rambutnya. Hal itu cukup membuat jiwa lelaki Vim berontak. Ingin mendapatkan lebih dari tubuh Laras.


"Sudah bersih semua. Lain kali aku memasang canopy di sini supaya kau tidak basah kuyup. Dan ingat, jangan mandi hujan seperti ini lagi."


"Sekarang waktunya membersih


kan badan. Mas mandi dulu ya."


Laras mendekati Vim. Seperti biasa mengalungkan kedua lengannya di leher Vim. Kebiasaan yang menggoda Vim. Vim menelan air liurnya.


"Menggodaku huuh."


"Biar saja.. mas kan suamiku. Dari pada mas digoda Aurora, aku saja yang menggoda hahaa..."


"Kau baru satu hari tidak melihatku_.."


"Bukannya mas yang tidak tahan tidak melihatku sehari." Pipi Laras bersemu merah.


"Iya aku rindu padamu." Vim mendekap Laras. Ada sesuatu yang mengganjal keras di dadanya.


"Bagaimana jika aku pergi selama tiga bulan. Apakah kau tergoda orang lain?" Pertanyaan Laras menguji Vim. Ia mendekatkan pucuk hidungnya ke pucuk hidung Vim. Vim berusaha menahan gelora di dalam dadanya.


"Tentu saja tidak. Kau tidak boleh pergi dan tidak ada yang tergoda haha.."


"Andaikan Mami mengajakku jalan-jalan ke luar kota bagaimana?"


"Kau hanya akan pergi denganku saja Laras."


Laras mulai kedinginan. Hujan semakin deras.


"Semakin dingin di sini. Ayoo." Ajak Vim kemudian.


Vim menarik tangan Laras. Mengajaknya ke kamar mandi.


Dua pasang anak manusia dalam ikatan yang sah saling meluapkan rasa diantara mereka di dalam sana.


...💦💦💦...


"Mas makan yuuuk!"


Laras memanggil Vim dari pintu. Makanan baru saja dihangatkan. Tentu cocok dimakan saat cuaca dingin begini.


"Dingin sekali Laras." Vim meringkuk di bawah selimut.


"Jelas saja dingin. AC dihidupkan."


Laras mematikan AC. Menarik tangan Vim supaya Vim mau turun dari bed.


"Nanti akan hangat jika mas sudah makan. Tadi Ibu membuat soto. Mas bisa makan yang banyak. Ayuuuk."


Akhirnya Vim mengikuti Laras ke meja makan.


"Enak." Vim menambah semangkok soto lagi ditambah setengah piring nasi.


Laras tersenyum melihat Vim. Begini saja sudah cukup membuat Laras bahagia. Melihat Vim makan dengan sangat lahap


Vim masih menunggu Laras menyuci piring, memperhatikan Laras dari belakang. Hatinya tergerak mendekati Laras. Laras selalu berhasil menarik Vim dari sisi manapun.


"Dingin." Ucapnya lirih sembari melingkarkan tangannya di pinggang Laras


"Kau kelihatan biasa saja. I miss you Laras."


Laras menggeliat kegelian oleh aksi Vim yang menyiumnya di leher.


"Semakin kita diam di balik selimut, semakin terasa dingin."


"Oya?? Jadi bagaimana dengan aktivitas intim kita. Pasti mengasyikkan?" Tanya Vim langsung.


Laras membilas jari jemari dan mengeringkan dengan lap.


Hendak berlalu dari ruangan itu tapi Vim menahannya.


"Ini di ruangan makan sayang."


"Oo baik kita ke kamar ya."


Vim segera mengangkat Laras menuju kamar mereka. Menutup pintu dengan sebelah kaki dan meletakkan Laras di atas pembaringan.


Vim dikuasai nafsu. Apa daya Laras takkan mampu menghindar dari suaminya itu dan pergelutan pun berlangsung di atas pembaringan mereka.

__ADS_1


Sesudahnya...


"Mas apa yang dilakukan Aurora di ruanganmu?"


Akhirnya pertanyaan tentang Aurora muncul juga. Vim mengira Laras telah melupakan kejadian dua hari lalu tapi tidak. Vim menghidu tengkuk Laras.


"Menurutmu apa?"


"Mas kok balik nanya sih??" Laras cemberut, pipinya menggembung.


Tubuhnya berbalik menghadap Vim.


Laras patut cemburu karena Aurora juga punya andil atas masa lalu Vim. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar dalam menjalin kebersamaan. Laras memang muda tapi masalah hati Laras sepertinya sangat cepat mengerti apalagi tentang dua hati yang pernah bersama mengisi hari. Seperti dirinya dan Vano dulu.


Kemudian Vim menyeritakan Aurora yang datang ke kantornya. Dari awal hingga Laras datang dan melihat mereka di ruangan kerja Vim.


"Jadi kau paham Laras. Dia tidak lama di situ. Percaya padaku hmm."


Tapi hati Laras terlalu sakit untuk melihat mereka berdua berbicara dalam satu ruangan. Jangankan di satu ruangan, di tempat terbuka pun jika mereka berbicara berdua seperti itu Laras akan dibakar cemburu.


"Aku mencoba mengerti mas."


Sebenarnya aku tak ingin ia dekat-dekat denganmu.


"Hei ayolah jangan cemberut. Aku suka kau cemburu tapi jangan keseringan."


Bagaimana jika kau melihat Rony berbincang denganku? Lebih cemburu bukan? Huuuh..


"Melamun lagi! Ayo tertawa!"


Tidak ada tanda Laras akan tertawa. Vim menggelitik pinggang Laras. Laras bereaksi. Menggelitik lagi hingga Laras benar-benar kegelian dan tertawa lepas. Percuma menghindar karena Vim terus mengejarnya.


"Cukup. Cukup mas! hahaa hiihiihiii."


"Apa yang ia lakukan padamu. Hanya sekedar berbicara?" Tanya Laras penuh selidik. Ia baru bisa menguasai diri berhenti tertawa.


"Kau mau tahu ya?? Kalau kukatakan sebenarnya kau siap?"


"Tentu saja."


"Laras bukankah tadi sudah kukatakan, Aurora hanya meminta pertolongan. Tidak lebih dari itu."


"Apakah dia tidak menggodamu?"


"Tidak sama sekali. Mungkin aku harus memasang CCTV di ruanganku kalau kau curiga."


"Ide yang bagus sayang."


Laras masuk ke dalam selimut yang tebal mencari posisi enak agar tubuhnya terasa lebih hangat. Hujan belum mau berhenti turun dari langit. Vim mengikuti Laras menutup tubuhnya dengan selimut.


"Lalu kau akan memeriksa CCTV setiap hari, begitu?"


"Hmmmm."


"Tidak akan terjadi sayang. Kau tetap di rumah, kuliah, dan les bahasa Inggris dengan tekun.


Aku tidak mau kau bertambah pikiran mengurusku di kantor. Sekarang kau tidurlah. Aku mau menyiapkan tugasku untuk besok."


Vim mengecup puncak kepala Laras dan mengusap lengannya. Beringsut menuju sofa di mana tadi laptopnya berada. Membuka file-file kerjanya. Besok tidak ada pertemuan dan belum ada berkas-berkas yang membutuhkan persetujuannya. Vim sedikit lega bisa berangkat ke tempat kerjanya tidak di pagi hari sekali.


Laras masih menunggu Vim sedari tadi. Memainkan hp dengan jari-jarinya yang lembut.


"Loh belum tidur sayang. Nunggu aku ya."


"Hujan terlalu deras bercampur angin mas."


"Kau takut. Bagaimana jika tadi aku tidak ke sini?"


Vim mengambil tempat di sebelah Laras lagi. Mendekap Laras dan memberikan rasa aman padanya.


Laras memeluk Vim erat. Berdua mereka terlelap dalam satu selimut tebal yang menghangat


kan.


🌹🌹🌹🌹🌹


~Selalunya konflik kecil menciptakan keharmonisan setelahnya.~


Hai pembaca yang baiiik..


Terima kasih sudah membaca sampai di sini.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya..


__ADS_2