Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 76. Meminta persetujuan.


__ADS_3

Suara riuh di teras depan rumah membuyarkan konsentrasi Vim yang sedang olahraga di rumah. Vim menghentikan aktivitas. Menyeka keringatnya dengan selembar handuk mini dan Ia membuka kaos olahraganya yang basah oleh keringat. Kaos diganti dengan yang baru.


Diluar dua orang perempuan dan dua orang lelaki yang sebaya dengan Laras duduk menunggu. Mereka adalah teman-teman Laras di masa sekolah.


Hari sudah sangat sore tapi mereka berkumpul di situ. Terlihat Ririn baru saja hadir di antara mereka. Dia baru pulang dari kerja.


"Sore. Maaf aku terlambat." Sapa Ririn.


"Hai Rin." Balas Nita.


"Eh..eh.. lihat cowok ganteng datang." Ucap Seira. Matanya berbinar senang.


"Huuuh dasar mata. Ingat sama gandengan. Ingat." kata Didit.


"Pemandangan menyegarkan. Ck..body nya." Kata Seira lagi.


"Mau letak di mana si Deny." Sindir Didit.


"Di sini. Masih ada kocek nih." Jawab Seira santai.


"Aaaa ntar ditinggalin nangis. Nangis bombay tujuh malam kayak dulu. Huuuu."


Didit mengejek Seira.


"Huuus diam. Yang punya rumah datang." Ari mengingatkan.


"Sore kak." Kata Nita.


"Sore mas." Kata Seira.


"Sore bang." Didit tidak ketinggalan.


"Sore Om."


Ari paling terakhir menyapa.


Ririn hampir tertawa mendengar Ari memanggil Om pada Vim.


"Jangan panggil Om dong Ri. Dia suami Laras." Ucap Ririn lirih.


"Badannya besar." Ari menilai Vim.


"Sore kak. Kami menunggu Laras. Sudah janjian." Ririn memberi penjelasan pada Vim.


"Sore semua. Kalian teman-teman Laras bukan?"


"Benar Om." Ari menjawab.


"Apa aku terlihat tua sehingga kau memanggilku Om?"


"Ehm..tidak juga." Ari menjawab lagi.


"Kalian semua teman sekolah Laras?"


"Benar kak." Ririn menjawab lebih dulu. Teman-temannya diam.


"Karena kalian teman-teman


Laras maka aku adalah kakak kelas kalian. Kakak kelas jauh. Aku dan Laras satu almamater."


"Ooo." Kata itu yang muncul dari empat sekawan kecuali Ririn.


"Oleh sebab itu izinkan kami memanggil kakak atau abang."


Mereka masih terbiasa memanggil kakak kelas mereka dengan sebutan kak, baik untuk lelaki atau perempuan dikarenakan mereka belum terlalu lama menyelesaikan pendidikan menengah mereka. Masih terbawa cara mereka.


"Boleh saja aku suka."


"Kalau Om?" Pertanyaan Ari terdengar konyol di telinga Ririn.

__ADS_1


"Arii." Suara Ririn memelas.


"Aku tidak suka itu. Apakah kau menginginkan hukuman dariku? Siapa namamu?"


"Ari."


"Nama yang bagus. Urusan apa kalian ke sini?" Vim banyak bertanya. Rasa ingin tahu Vim besar sebab Laras tidak pernah bercerita apa-apa sebelumnya tentang teman-temannya yang akan datang berkunjung.


"Membicarakan tentang reuni kak." Ririn menjawab lagi.


"Laras sudah tahu ya."


"Sudah Kak. Kata Laras tadi, ia mau mandi dulu." Ririn menjadi juru bicara.


"Oke ditunggu saja. Ririn minta air minum sama bibi ya." Perintah Vim sebelum pergi dari situ.


"Baiklah kak. Terima kasih."


"Lu sih Ri. Masih muda kece badai gitu, lu panggil Om. Untung lu nggak disuruh potong rumput." Seira protes pada Ari.


Dari arah dalam Laras muncul membawa camilan di toples untuk teman-temannya.


"Gimana...gimana.."


Laras mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah tetapi teman-temannya menolak. Mereka lebih memilih duduk di gazebo di sudut depan rumah Laras.


"Laras boleh juga tuh mantan kakak kelas. Kamu waktu sekolah nggak ketahuan siapa pacarnya eh tahu-tahu dapat kakak kelas keren." Mantan kakak kelas yang dimaksud Seira adalah Vim.


"Biasa aja sih. Keren tidak keren tergantung selera kita aja."


"Jadi gini Ras, kita kan belum menunjuk siapa yang akan mengikuti rapat bersama antara panitia per angkatan. Bagaimana kalau kamu dan Novan yang menjadi wakil angkatan kita."


Laras tahu semua teman-temannya yang menjadi anggota grup sekolah menunjuk Laras agar mewakili mereka tetapi Laras masih berpikir apakah setuju atau tidak.


Menjadi perwakilan berarti mengikuti rapat dan di rapat nanti Laras akan bertemu dengan Vim dan berinteraksi dengan Novan. Vim akan melihat itu. Dan..Laras menepis pikirannya.


"Aku senang kalian percaya padaku tapi maaf sepertinya aku harus berpikir dulu. Ini menyangkut keadaanku sekarang. Aku baru saja keguguran dan harus beristirahat. Besok atau lusa aku baru bisa memberikan jawaban. Sekali lagi maaf." Tutur Laras panjang lebar.


"Makasih atas pengertian kalian."


"Lalu bagaimana dengan kaos seragam kita?" Nita bertanya.


Ririn menuangkan air minum ke dalam gelas satu persatu. Keasyikan mengobrol membuat mereka lupa dengan minuman dan makanan yang ada di hadapan mereka.


"Mengenai seragam, akan tiba minggu depan. Ayo sambil dimakan dan diminum."


Laras membuka tutup toples.


"Makasih Ras." Kata Didit.


"Angkatan kita sudah sepakat ke pantai ya. Yang acara malam sebelum ke pantai diadakan di hotel. Yang mau datang saja tetapi perwakilan tiap angkatan harus hadir." Ari menerangkan lebih lanjut. Dia yang berkoordinasi dengan Novan tentang kegiatan reuni. Saat ini Novan tidak bisa berada di antara mereka.


"Aku mengerti. Semoga aku bisa hadir."


Laras berharap sangat bisa menghadiri reuni meskipun ia tak yakin Vim mengizinkannya.


"Konsumsi dipegang oleh Resti, Inung dan Ina." Nita menambahkan."


"Aku tambahkan uang konsumsi." Ucap Laras tanpa menyebutkan nominal.


"Waaw mantap. Makasih ya Ras." Didit bersuara lagi.


"Sama-sama. Sedikit untuk kebersamaan."


"Sering-sering aja Ras hehee. Traktir kita juga boleh." Seira bicara blak-blakan.


"Uuuuh keenakan. Nggak usah Ras. Tuman (kebiasaan)." Didit menimpali.


"Haha tidak apa. Boleh juga kok tapi jangan sekarang. Aku belum begitu sehat."

__ADS_1


"Masih ada yang dibicarakan? Sudah hampir malam nih." Ririn mengingatkan teman-temannya.


"Iya ya nggak terasa hari semakin gelap. Kalau gitu kita permisi dulu." Ajak Nita.


"Iya. Pulang kita." Didik berdiri diikuti yang lainnya.


Laras melepas teman-temannya pulang. Lambaian tangan diiringi senyum sumringah mengantarkan mereka meninggalkan rumah Laras.


Di kamar Vim telah menunggu Laras.


"Lama sekali mereka pulang. Apa yang kalian bicarakan?" Dia bertanya begitu Laras masuk.


"Tentang reuni. Sayang mereka memintaku menjadi perwakilan rapat. Boleh ya." Suaranya sangat halus.


Laras memijit pundak Vim bagian belakang. Mengambil hati Vim agar Vim memberikan persetujuan.


"Aku tidak lelah. Tidak perlu dipijit sayang."


"Supaya lebih rileks. Gimana..enak kan." Laras tetap memijit. Aroma rambut Vim sungguh wangi.


"Enak. Di kening juga."


Tangan Laras berpindah memijit dahi Vim dari atas pangkal alis ke ujung atas alis. Vim memejamkan mata. Menikmati belaian tangan Laras di keningnya.


"Gimana..boleh aku menjadi perwakilan?" Laras meminta kepastian.


"Baiklah.. perwakilan saja. Acara malam dan acara angkatanmu, tidak."


"Haa??? Mas serius dong."


"Aku seribu rius."


Laras menghentikan gerakan memijit. Lemas mendengar penuturan Vim.


"Acara malam aku ingin hadir."


"Kurangi aktivitasmu Laras."


"Please..acara malam hadir sebentar ya."


"Tidak. Mau tokonya di jual?" Vim mengancam. Sikap menguasai terasa sekali.


"Yaaah..udah deh. Terserah mas mau tidur di mana malam ini. Di ruang tv boleh kok."


"Kau mengusirku Laras??"


"Tidak juga." Laras berkilah. Ia hanya kehilangan semangat sebab Vim tidak mengijinkannya mengikuti reuni.


"Terserah aku mau tidur di mana. Ini rumahku. Di sebelahmu bukan suatu larangan." Ucap Vim.


"Ya sudah."


"Makan malam Laras."


"Iya. Sudah terhidang."


"Aku makan sendiri?" Vim menemukan keacuhan dari Laras. Laras tidak menoleh padanya apalagi memandang wajah Vim.


"Tidak. Maksudku mari kita makan." Ucap Laras akhirnya. Ia sedang berusaha menahan air matanya yang ingin turun.


Vim menatap Laras dari samping. Sebenarnya ia merasa iba pada Laras yang geraknya ia batasi. Namun Vim benar-benar ingin Laras menjaga kondisi tubuhnya agar benar-benar sehat kembali.


"Temani aku makan ya."


Vim merengkuh kepala Laras dan akhirnya Laras menumpahkan air mata di sana. Rambut Laras dielusnya dengan lembut. Laras menunggu Vim merubah kalimatnya namun Vim tak jua merubah kalimat itu. Laras bertambah sedih. Berkumpul bersama teman-teman lama adalah sesuatu hal yang jarang terjadi dan Laras menginginkan itu.


Bersambung...


Like, comment, gift, vote & five stars.🌹

__ADS_1


Trims.💕


__ADS_2