Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 9. Bertemu Rival.


__ADS_3

Laras baru saja menyusun bungkusan-bungkusan kain dasar untuk diberi motif oleh Ibu-ibu yang bekerja di kediaman Ibu Maharani tatkala pendengarannya menangkap suara lembut seorang perempuan.


Dua suara yang berbeda. Suara yang satunya Laras hafal karena itu suara Ibu Maharani namun suara yang satunya lagi terasa asing bagi Laras.


"Jadi tante, usaha ini masih tetap berjalan bahkan semakin berkembang?"


"Begitulah Fani. Tante bersyukur usaha turun temurun ini masih bisa diteruskan."


Tanpa menguping pembicaraan, Laras toh akan tetap menangkap pembicaraan tersebut karena Ibu Maharani dan Fani-perempuan itu-


berada tidak jauh dari Laras. Mereka sedang mengamati para pekerja lelaki.


"Harapan tante istri Vano akan meneruskan usaha ini tapi Tuhan berkehendak lain. Vano.."


Suara Ibu Maharani sedikit berubah, serak dan sedikit tercekat.


"Maafkan Fani tante..


mengingatkan tante akan Vano."


"Tidak apa. Lupakan saja. Vano sudah damai di syurga."


"Bagaimana dengan Vim tante."


"Vim..dia yah seperti itu. Tante menunggu berita baik dari Vim, memberikan tante seorang menantu."


"Semoga kesampaian tante."


"Apa kalian belum pernah bertemu?"


"Belum tante. Fani baru tiba siang kemarin."


"Vim sedang bekerja. Fani bisa menghampiri Vim di kantornya kalau mau."


"Besok saja tante."


"Oiya kenalkan ini Larasati, anak tante."


Tidak terasa mereka berjalan sambil bercerita dan telah tiba di dekat Laras.


"A..anak? Tante punya anak pe.."


"Anak ketemu besar."


Ibu Maharani tertawa renyah menanggapi keheranan Fani.


"Laras."


"Fani."


Mereka berdua berjabatan tangan. Senyum Laras mengembang tulus berbeda dengan wajah Fani yang datar saja. Laras sedikitpun tidak memikirkan hal itu. Untuk Laras hal biasa sering tidak dianggap oleh orang lain.


"Mari kita minum dulu. Ayo Laras ikut ya."


"Laras lanjut kerja saja mi. Masih belum selesai."


"Oo ya sudah kalau begitu. Mari Fani."

__ADS_1


Fani memperhatikan Laras sedari


tadi. Di dalam hati ia berkata beruntung sekali Laras bisa diterima sebagai anak di keluarga itu. Bukan tidak mungkin jika Laras menjadi pasangan Vim. Kemungkinan itu sangat besar melihat Ibu Maharani bisa menerima dan menyukai Laras.


Fani memang bisa diterima di keluarga Vim karena Fani dan Vim pernah satu sekolah saat di Sekolah Menengah Pertama sebelum orang tua Fani pindah ke Australia. Hubungan orang tua jua yang membuat mereka sering bertemu. Vim biasa mengantarkan Ibu Maharani berkunjung ke rumah orang tua Fani. Di situ Fani dan Vim sering bertemu dan menjadi akrab.


Kini Fani memilih tinggal di Indonesia sebab ia rindu dengan tanah kelahirannya. Menjadi designer interior adalah pilihannya meskipun ia belum lama memulai profesi itu.


Bagi Laras, Fani terlihat begitu sempurna. Tubuh semampai, ramping, rambut tergerai indah dengan sikap yang anggun. Sangat berbeda dengan dirinya, pendek dengan tubuh yang berisi, dan rambut yang biasa saja.


Pekerjaan selesai. Sepertinya tidak ada yang akan mengambil bahan karena sudah sore. Laras mengambil satu bungkusan kain pesanan ibunya dan juga kunci motor. Kini Laras telah terbiasa menggunakan motor. Sepeda favoritnya masih terbengkalai dengan ban yang kempes belum dipompa. Vim telah melarang semua pembantu dari memperbaiki sepeda itu. Dia mengharuskan Laras menggunakan motor yang telah disediakan untuknya. Laras memang menjadi tumpuan perhatian di rumah itu. Dia seperti seorang putri.


Jarak ke rumah Laras dari rumah Vim tidaklah jauh namun Vim memaksanya menaiki motor saja jika pulang. Sampai detik itu Laras belum ingin tidur di rumah Bu Maharani lagi sejak Vano pergi sehingga ia harus pulang pergi dari rumah orangtuanya ke rumah Ibu Maharani pagi dan sore hari.


Seperti sore ini, Laras sudah bersiap menaiki motor dan telah pamit pada Ibu Maharani. Para pekerja sebagian telah pulang. Tinggal satu dua orang saja yang bekerja menyiapkan barang yang mengejar deadline pengiriman.


Di sebuah warung yang lumayan besar, Laras singgah untuk mengisi bahan bakar motor. Ia merasa enggan mengisi di SPBU karena jarak yang agak jauh sementara hari telah sore.


"Penuh mbak."


"Iya. Makasih."


Laras memberikan selembar mata uang rupiah.


"Sekalian tisu ya mas. Satu saja."


"Ini mbak kembaliannya."


Laras menerima uang kembalian beserta tisu dan membalikkan tubuh. Namun sesuatu yang keras menyentuh wajahnya. Laras terkejut. Wajah di depannya tidak kalah terkejut.Tiba-tiba seorang gadis yang sangat cantik menabraknya saat ia sedang berjalan mendekati penjual.


"Maaf..maaf mas. Tidak sengaja."


"Maaf..situ juga ya mas. Berjalan lihat ke depan dong jangan lihat hp." Balas Laras.


"Loh kamu yang menabrak saya."


"Saya sudah minta maaf. Lupakan saja."


"Laras kamu ngapain!"


Sebuah suara membuat Laras menoleh. Di sana Vim di dalam mobil memanggil nama Laras.


Kemudian terlihat keluar dari mobil.


"Mengisi minyak mas."


"Kau bisa menyuruh para pembantu kan Laras."


"Tidak apa mas. Aku bisa isi sendiri."


"Tidak. Seterusnya kau tidak boleh mengisi sendiri. Periksa tangkinya sebelum kau pulang dan minta tolong pembantu mengisinya."


"Baik mas."


Prok..prok..prok..


Lelaki tadi yang menyaksikan Vim dan Laras berbicang , bertepuk tangan dan menghampiri Vim.

__ADS_1


"Siapa dia?"


"Bukan urusan lu!!.


Vim menjawab ketus. Dia sangat hafal manusia di hadapannya ini.


Si Rony bagi Vim adalah musuh nyata bebuyutan.


"Wow..wow..kalau dia menjadi istri gue, bukan urusan lu juga kan."


Kata-kata itu lebih mirip sindiran buat Vim.


"Istri?? Lu mimpi ya."


Sudut bibir Vim bagian kiri naik ke atas mencibir kata-kata lelaki di depannya.


"Jangan mimpi. Hadapi gue sebelum lu dapatin dia." Tantang Vim.


Laras hanya mampu memperhati


kan dua lelaki dewasa di hadapannya. cara mereka memandang satu sama lain menunjukkan ada pertentangan antara mereka berdua. Untuk ikut campur tidaklah mungkin. Jadi Laras hanya menjadi penonton saja.


"Persaingan dengan elu selalu terbuka."


"Nggak perlu lu ingatin gue dan jangan ganggu dia. Sekalinya dia terluka, lu tahu balasannya."


Jarak keduanya yang begitu dekat tak bisa membuat Laras mendengar ucapan Vim barusan.


Genderang pertarungan ditabuh lagi. Seperti biasa masing-masing tidak akan mau mengalah walaupun sebuah pertarungan adalah tentang pemenang Dan pecundang.


Rony dan Vim saling memandang dengan meremehkan.


"Mas Vim aku pulang dulu ya." Teriak Laras.


"Oke. Pulanglah dan jangan singgah di mana-mana lagi." Jawab Vim.


"Tidak. Sudah hampir dekat ke rumah."


Laras berlalu. Sebelum beranjak pergi Vim dan Rony saling beradu pandang lagi.


"Mengapa lu penasaran sama gue??" Tanya Vim dengan suara penuh penekanan.


"Kita pesaing."


"Elu yang beranggapan seperti itu."


"Kita ditakdirkan bertemu untuk bersaing sejak dulu."


"Terima semua kekalahan lu!"


"Takkan pernah!"


Setelah mengucapkan kalimat terakhir Rony meninggalkan Vim.


Vim memandangi Rony dari belakang. Rony adalah rivalnya dalam even lomba membawa nama sekolah. Mereka selalu bertemu atas nama daerah atau sekolah masing-masing meskipun hanya antar kabupaten. Mereka selalu bertemu di final sebuah kejuaraan baik ilmu pengetahuan ataupun renang.


Dan selalunya Vim mendapatkan level teratas lalu diikuti oleh Rony di nomor dua. Rony pernah menduduki juara satu, tapi jarang dan Vim selalu memimpin. Untuk itu keinginan Rony mengalahkan Vim tidak pernah pudar walaupun masing-masing telah menjalani dunia kerja dan usaha mereka sendiri.

__ADS_1


Like, Comment & Vote


__ADS_2