
"Roni! Kapan kau mengembalikanku kepada keluargaku? Kau memang terlalu. Tidak kasihan dengan seorang bayi yang ditinggal ibunya."
Vim hendak mengantarkan minuman hangat pembuka pagi saat didengarnya suara Laras bergema di ruangan tengah. Vim menahan nafas. Istrinya ya itu istrinya yang sedang berjuang meminta kebebasan. Roni tak memberikan reaksi atas ucapan Laras. Dia tak punya belas kasihan. Vim bertambah mual melihat Roni.
"Pulangkan aku. Lepaskan aku Roni. Tolong...."
"Di sini tempatmu sayang. Belajarlah menerima keadaan. Kau akan menjadi Nyonya di rumah ini."
"Apa? Tidak, aku tidak mau. Kau menculikku. Kau bersalah. Lepaskan aku Roni!" Laras tidak perduli lagi suaranya bergema nyaring dalam ruangan itu.
Roni berdiri. Seperti singa yang siap menerkam mangsa. Laras tak sedikitpun gentar.
"Pulangkan aku!!"
"Justru aku akan membawamu pergi dari sini."
" Tidak mau. Lebih baik...."
"Eheeem." Kehadiran Vim mengalihkan mereka.
"Ini minuman anda, Tuan dan Nyonya." Perdebatan terhenti. Laras terpaku, suara barusan pernah ia dengar sebelumnya.
Ingin sekali Vim mendepak perut Roni. Memukul wajahnya berkali-kali. Kemudian menarik tangan Laras dan membawa keluar dari situ. Rahangnya mengeras.
Braaaak. Gebrakan mendarat di meja dapur. Vim menahan marah. Ben belum pulang dari swalayan sehingga tak menyaksikan kemarahan Vim. Vim masih menguping pembicaraan Laras dan Roni dari jauh. Suara Laras benar-benar lepas. Vim heran Laras bisa sekeras itu suaranya.
"Kau jaga di sini. Aku temani bos keluar. Jangan terlalu percaya dengan orang baru. Awasi dia!" Perintah orang suruhan Roni kepada temannya bertubuh langsing.
"Dia bukan siapa-siapa," kata Jon si tubuh langsing.
Vim berjalan keluar. Mengalihkan emosi yang hampir saja bobol. Mengelilingi halaman belakang yang luas. Mendekati pintu yang menghubungkan halaman dan jalan disebelahnya. Ben melewati jalan ini jika belanja ke swalayan.
Pintu dibuka oleh Vim. Vim terperangah. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depannya memanjang jalan dari kiri ke kanan. Di sebelah sana jalan, lapangan luas terhampar tanpa pepohonan. Milik siapa tanah seluas itu? Pepohonan di sana sengaja dihilangkan.
Vim menutup pintu lagi. Dia semakin paham. Rumah ini memang jauh dari keramaian dan perkampungan tapi bukan berarti tertutup sama sekali. Nyatanya ada jalan menghubungkan dengan dunia luar.
"Ngapain disini? Kau sudah membersihkan ruangan Nyonya?" Vim berbalik ke arah suara. Langkah kakinya baru lima langkah dari pintu belakang. Ben datang dari swalayan. Di motornya tergantung beberapa tas belanjaan.
"Belum. Ku dengar Nyonya dan Tuan ribut, aku tidak jadi ke kamar Nyonya," jawab Vim.
"Kalau gitu lap semua peralatan makan. Tunggu mereka berhenti."
"Mereka aneh sekali ya. Mau menikah tapi Nyonya tidak suka. Kasihan si wanita," celetuk Vim. Tangannya membawa sebagian barang belanjaan Ben.
"Itu urusan mereka. Tugas kita selesaikan pekerjaan ini."
"Kalian lagi ngapain?" Jon penjaga bertubuh langsing datang memeriksa Vim dan Ben.
"Bekerja Tuan," Ben yang menjawab.
"Bagus."
"Minta ijin si Arik mau membersihkan kamar Nyonya, Tuan. Boleh?"
"Boleh saja Ben, kalau kau rasa waktumu sempit, kau bisa menyuruhnya. Karena itu kami menerimanya bekerja. Arik, bawa alat-alat sekarang."
"Alat apa Tuan?"
__ADS_1
"Alat bersih-bersih. Alat Apa lagi!? Besihkan kamar Nyonya."
Laras menunggu di luar kamar sementara kamarnya dibersihkan. Pemintaannya pada Roni bener-bener tidak digubris. Entah kapan keajaiban datang membantu Laras membebaskan diri.
"Jon kau tidak capek ya menungguku setiap hari. Berdiri seperti patung. Santai saja Jon. Aku takkan lari kalau ada kalian jadi mendingan kau enakin badan dulu. Sarapan dan ngopi dulu sana gih."
"Hehee... Nyonya, saya santai kalau Nyonya tidur. Ini yang saya awasi." Jon menunjuk Vim yang sedang membersihkan lantai.
"Tak mungkin dia berbuat aneh Jon. Dia butuh pekerjaan ini, iya kan Rik?"
"Iya Nyonya. Buat saya gajian yang paling penting soalnya ibu saya perlu uang sekali. Maklum kami memang orang tidak punya tetapi saya tak mau mencuri." Vim hampir selesai. Menyedot debu sudah sampai di depan pintu kamar.
"Nah bagus itu. Kau tidak punya saudara ya?" kata Laras.
"Punya Nyonya. Saudara saya tiga orang. Masing-masing sibuk mengurus keluarganya dan adik saya sudah meninggal."
"Oh ma'afkan aku. Tinggal di dekat sini ya?"
"Semua abang saya tinggal di luar kota dan saya bersama ibu tinggal lumayan jauh dari sini."
"Sudah belum?" Jon mulai tak sabar.
"Saya ambil pakaian kotor dulu," kata Vim.
"Cepatlah," desak Jon.
"Aku ambilkan."
"Biarkan dia ambil Nyonya. Itu tugasnya. Kok enak."
"Jon tidak ada salahnya ya berbuat baik. Jangan seperti tuanmu itu hhhh."
Laras tak menghiraukan Jon. Laras berlari masuk ke dalam kamar dan mengambil keranjang pakaian kotor.
"Ini Arik bawa ke belakang ya. Kirim ke laundry. Uangnya minta sama Ben."
Vim mengambil keranjang pakaian kotor dari Laras dan kesempatan itu ia manfaatkan untuk menyentuh sebagian jemari Laras. Getar halus merambat di hati Vim. Laras menarik tangannya cepat. Tak seorangpun orang asing boleh memegang tangannya sesuka hati.
Jon melihat Vim belum pergi dari tempatnya, lalu Jon berkata, "Heeehh beraninya menatap Nyonya. Sudah sana bantuin Ben biar cepat selesai."
Vim ke belakang. Memasukkan pakaian kotor Laras ke dalam plastik besar. Setelah membantu Ben, Vim akan mengantarkan barang itu ke laundry.
Triiiit. Triiiit.
Ponsel Vim berbunyi. Vim melirik Ben. Ben masih dengan aktivitasnya, persiapan memasak. Mengangkat panggilan membuat Ben ikut mendengarkan obrolan Vim. Vim mengacuhkan bunyi ponsel.
"Buah melon dan buah naga itu kau potong lalu berikan kepada Nyonya," ujar Ben.
"Baik. Waaah segar sekali buah ini."
"Kau mau ya? Boleh kau rasa sepotong. Hari ini ku belikan untuk Nyonya saja. Besok kau kubelikan ya. Kita bisa makan bersama sepuasnya."
"Terima kasih Ben."
Sudah tiga hari ini Vim tak makan banyak buah-buahan. Dia harus cukup puas dengan sepotong buah yang disediakan untuknya. Sesuai aturan dari Jon. Jatah sepotong sudah cukup untuk menyegarkan tenggorokan Vim, kata Jon. Jon pelit tidak seperti Ben. Ben masih berpikir untuk membelikan Vim buah-buahan.
Laras sayang. Lihat aku. Di rumah kita aku bisa makan buah sepuasnya. Kau yang menyediakan untukku. Sekarang lihat ini, sepotong buah terasa kurang bagiku. Ah ya kita harus cepat pergi dari sini, sayang. Vian menunggu kita.
__ADS_1
"Aaakh!"
"Ada apa? Kau...."
Ben mencari sesuatu. Sebuah kotak kayu menempel di dinding dibuka Ben. Ia mengambil rivanol dan obat luka.
"Mana yang kena? Kau ini melamun ya? Untung jarimu tidak putus."
"Cuma sedikit," balas Vim.
"Sedikit bagaimana? Ckkk."
Ben membalut luka Vim dengan kain kassa dan plester. Saat itu juga ponsel Vim berbunyi kembali.
"Angkat saja. Siapa tahu ibumu menelepon atau mungkin kekasihmu."
"Bukan Ben."
"Jangan malu-malu. Jawab saja. Sudah Rik. Hati-hati jika bekerja. Lupakan dulu hal pribadi dan fokuslah."
Panggilan tadi adalah Dion. Vim menuliskan pesan untuk Dion : Tidak bisa bicara. Aku mencari Laras.
Vim asyik menata hidangan di atas meja makan. Tidak ada orang selain mereka berdua tapi Vim yakin penjaga ada di luar. Sesekali Vim mencuri pandang ke arah Laras yang duduk di sofa di sudut ruangan. Bagaikan mengandung magnet netra mereka beradu pandang satu sama lain. Laras menghindari pandangan Vim. Bayangan Vim hadir di kepala.
Laras tampak gelisah, berdiri dan melihat ke ruang utama dan ruang tengah. Sepi.
"Arik...Arik," panggilnya setengah berbisik, "Ke sini."
"Ya Nyonya. Ada apa?"
"Sssst..Arik, aku minta tolong. Pinjam h/handphone. Aku mau menulis pesan untuk keluargaku," pinta Laras.
"Boleh. Boleh Nyonya. Ini...."
Laras menulis pesan dengan cepat sebelum penjaga datang.
"Sudah. Terima kasih Arik."
"Sama-sama Nyonya. Memangnya handphone Nyonya dimana?"
"Hilang. Sudah jangan tanya lagi." Laras menempelkan jari telunjuk di bibir.
"Nyonya boleh meminjam lagi besok."
"Terima kasih Arik."
Vim yang menyamar menjadi Arik menuntaskan pekerjaan sehabis makan siang . Setelah selesai makan siang Vim masuk ke kamar. Pintu dikunci. Sebentar lagi mengantarkan pakaian kotor ke tukang cuci atau yang disebut laundry. Sebuah pesan yang diteruskan kan oleh Laras tadi dilihat Vim dan dia tersenyum mengetahui bahwa pesan Laras tertuju untuk Joel.
"Sayang...aku baik-baik saja. Tolong jemput aku. Aku rindu sama kalian.
Aku menunggumu."
Dan Laras tidak bodoh. Melalui pesan itu, keberadaan dirinya bisa dicari. Tak lama sesudahnya sebuah pesan dari Joel masuk ke ponsel Vim.
"Tuan...ibu mengirim pesan. Di bawah ini pesannya."
Sebuah screenshoot terkirim dari Joel. Berisi kalimat yang hampir sama dikirim oleh Laras kepada Vim. Permintaan Laras supaya Vim datang menjemput.
__ADS_1
>>>>>>