
Toko Laras telah dibuka. Tiga orang pembeli baru saja keluar dari tokoh tersebut dengan menenteng paper bag berisi belanjaan mereka. Laras menemui Ririn.
"Aku membutuhkan beberapa kain panjang Ririn. Ini motif-motif nya. Tolong carikan."
"Baiklah." Ririn memenuhi permintaan Laras.
"Harga mahal semua Laras." Kata Ririn.
"Tidak semua. Di daftar terbawah ada yang tidak terlalu mahal harganya." Ucap Laras.
"Untuk apa?" Tanya Ririn.
"Bazar. Kita akan ikut bazar. Aku meminjam stok mami sebagai tambahan. Syukur kalau laku." Harap Laras.
Kemudian Ririn memanggil Nila. Gadis yang membantunya di toko.
"Nila tolong masukkan ke tas ya. Tasnya ada di lemari." Perintah Ririn.
"Baik kak." Nila melaksanakan perintah Ririn.
"Semoga laris ya Ras. Kapan bazarnya berlangsung?"
"Dua hari setelah reuni Rin. Aku tidak bisa menjaga stan kita seharian. Minta tolong Nila untuk menjaganya. Boleh kan?" Laras meminta persetujuan.
Mengikuti bazar adalah satu cara mengenalkan produk. Laras ingin barang-barang di tokonya lebih dikenal khalayak ramai.
"Kenapa tidak boleh sayangku. Toko ini milikmu." Ririn memberikan tanda cek di daftar kain panjang yang diberikan Laras.
"Ada semuanya?" Laras ingin tahu.
"Dua macam yang tidak ada."
"Oke. Biarkan di sini dulu. Waktu setelah reuni itu sempit sehingga harus disiapkan dari sekarang." Laras menjelaskan.
"Bazarnya dimana?"
"Di graha wanita. Menjelang siang sampai malam hari." Jawab Laras.
"Tapi Ras..apakah Nila sanggup seharian." Wajah Ririn menyiratkan keraguan.
Laras tampak berpikir. Kasihan juga jika Nila seharian menjaga stan di bazar.
"Ehm..gini deh, Nila menjaga stan dari jam sepuluh pagi hingga pukul empat sore. Lalu kamu sambung hingga jam sepuluh malam atau jika kamu keberatan, kita cari satu orang lagi. Kita tidak usah sampai terlalu malam. Gimana?"
"Tidak apa aku menyambung menjaganya. Di sini agak santai di banding di bazar. Tidak terlalu melelahkan." Ujar Ririn.
"Baiklah. Terima kasih ya Rin."
"Sama-sama." Balas Ririn.
"Eh kita kan ngumpul di sini. Gimana kalau pesan makanan." Usul Larasati.
"Terserah. Traktir ya haha." Ririn bercanda.
"Iya dong. Kamu mau makan apa?" Tanya Laras sembari memainkan ponselnya.
Laras membuka aplikasi ojek online beserta go food di dalamnya.
"Aku dimsum aja." Kata Laras.
"Samakan aja deh." Kata Ririn.
"Nila.. kamu mau makan apa." Seru Laras. Nila menoleh padanya.
"Terserah kak." Balas Nila dari tempatnya berdiri.
"Kamu suka sate nggak?" Tanya Laras lagi.
"Suka kak." Nila lagi.
"Ya sudah. Sate, dimsum dan es krim."
__ADS_1
Semua telah dipesan. Mereka menunggu pengantar pesanan datang. Laras tidak kuliah hari ini sehingga bisa menyempatkan diri mempersiapkan barang keperluan bazar dan Vim sama sekali tidak mengetahui Laras keluar dari rumah.
Jarak dari rumah ke ruko tidak terlalu jauh. Hanya Vim kelewatan melindungi Laras. Tidak mengijinkan Laras pergi jauh. Jangan pergi terlalu jauh nanti kamu kelelahan. Itu menurut Vim.
Pesanan yang mereka tunggu telah datang. Bertiga duduk mengelilingi meja dengan makanan di hadapan mereka. Kebetulan pengunjung toko tidak ramai. Mereka bisa makan bersama dengan tenang.
"Ambil Rin. Nah ini punya Nila. Ayo dimakan." Ajak Laras.
"Iya Laras makasih. Oya aku ambil air putih ya."
Ririn mengambil air minum dari kotaknya. Tiga botol air mineral di letakkan ke atas meja.
"Ras itu saos. Boleh?" Tanya Ririn melihat Laras membuka sambal dimsum memakannya bersamaan dengan dimsum.
"Hmm sedap. Bolehin aja Rin. Dikit kok." Alasan Laras.
"Coba ada Vim pasti dilarang tuh."
"Ho oh..Sekali ini aja. Jangan bilang ya." Pinta Laras.
"Enggak..aman tuh."
Mereka berdua tersenyum. Nila menikmati sate yang dibelikan untuknya. Kuah sate ditambah sambal membuat Nila kepedasan.
"Kamu kepedasan ya?" Tanya Laras.
"Sedikit kak. Harus belajar makan pedas nih." Jawab Nila.
"Benar. Nanti dapat suami yang suka makanan pedas sudah bisa menyesuaikan."
"Tapi..di rumahku ibu suka memasak makanan pedas dan ayah tidak bisa makan pedas. Hingga ayah meninggal tetap begitu. Ayah tidak suka masakan ibu yang pedas sehingga makan masakan yang nggak pedas saat makan." Cerita Ririn mengingat mendiang ayahnya.
"Iya juga ya. Kata orang tua sih memang begitu. Kita dan pasangan belum tentu punya selera yang sama." Laras berkata.
"Kamu lebih mengerti Laras sebab sedang menjalani kehidupan pasutri. Kami berdua belum terlalu mengerti."
"Suatu saat kalian merasakan."
"Iya kak. Makasih. Aku kenyang sekali." Balas Nila.
"Gimana tubuhmu bisa besar Nila. Makanmu sedikit." Ujar Laras lagi.
"Perutku nggak muat kak. Kenyang." Nila mengusap perutnya.
"Ras bukannya tubuhmu seperti Nila waktu sekolah." Ririn mengingatkan Laras.
"Hahaa iya lebih kurang. Sekarang tambah lebar." Timpal Laras.
"Bahagia pastilah." Tambah Ririn
"Aku bersyukur dapat mas Vim. Meskipun kadang menjengkelkan tapi ia sangat perhatian."
Ponsel milik Laras berdering dan bergetar di atas meja. Ia menekan speaker. Tidak masalah teman-temannya ikut mendengarkan.
"Iya yang. Ada apa." Kata Laras setelah mengucapkan salam.
"Laras sore ini kita ke dokter. Aku sudah menyusun temu janji dengan dokter. Kau bersiap. Aku datang, kita langsung pergi. Mengerti?" Ucap Vim dari seberang sana.
"Mengerti sayang. Ada lagi?" Tanya Laras menunggu kalimat Vim selanjutnya.
"Kau sedang apa?" Tanya Vim kemudian.
"Aku? Aku sedang makan. Hmmm enak. Mas di kantor?"
"Di luar dengan Dion. Urusan bisnis." Jawab Vim.
"Bisnis atau bisnis??" Laras menekan kata terakhir.
"Bisnis sayang. Jangan lupa nanti bersiap ya." Pesan Vim.
"Siap tuan."
__ADS_1
Kedua teman Laras terkikik mendengar kalimat Laras yang terakhir.
"Bye sayang." Ucap Vim lagi.
"Bye. Aku menunggu." Panggilan diputus Laras.
"Diiiih mesra banget." Goda Ririn.
"Harus sayangku Ririn. Nah acara makan-makan sudah selesai. Aku pulang dulu ya. Aku harus pergi." Pamit Laras lalu berjalan keluar dengan menggenggam kunci motor di tangannya.
"Hati-hati Laras. Terima kasih traktirannya."
"Sama-sama Ririn. Jumpa lagi ya."
Cipika cipiki sebagai penutup perjumpaan hari itu. Laras melambaikan tangan sebelum menghidupkan mesin motor lalu pergi meninggalkan Ririn dan Nila.
Di rumahnya Laras mendinginkan suhu tubuh yang tadi terasa panas karena udara luar rumah. Siang menjelang sore namun hangat matahari terasa sedikit menyengat. Laras merasa gerah. Dikamar ia hanya mengenakan tank top agar suhu badannya segera normal lalu mandi membersihkan diri.
Mandi telah selesai. Kini tubuh Laras harum dan berseri. Ia merasa perlu menambahkan aroma parfum di tubuhnya.
Srooott.
Cukup. Jangan sampai terlalu wangi karena Vim tidak akan suka bau yang terlalu kuat.
"Laras, aku datang. Sudah siap belum?"
Tiba-tiba Vim membuka pintu kamar yang tidak dikunci.
"Sudah pulang mas? Aku tidak mendengar suara mobil." Kata Laras seketika menoleh.
"Mobil diparkir di luar pagar. Jika sudah selesai ayo berangkat."
"Sudah. Ayo."
Berdua menaiki mobil menuju klinik praktek dokter yang merawat Laras sewaktu Laras opname.
"Mengapa terburu-buru ingin memiliki anak? Ibu baru sembuh. Rileks untuk beberapa bulan dan mengkonsumsi makanan sehat. Nikmati masa berdua sebelum memiliki anak." Tanya dokter sekaligus memberikan saran.
"Saya yang ingin, dokter. Jika diberikan amanah baby mungil lebih cepat dari perkiraan, kami terima dokter." Ucap Vim. Di benaknya terlintas mami yang sangat ingin menimang cucu dari Vim.
"Sabar ya. Semoga segera mendapatkan momongan."
"Terima kasih dokter."
Dokter menyebutkan jangka waktu tertentu sebaiknya untuk mereka merencanakan kehamilan Laras. Vim manggut-manggut berusaha memahami.
"Dengar apa yang dikatakan dokter Laras. Sehat. Sehatlah untukku." Vim berkata ketika mereka keluar dari klinik.
"Iya mas. Aku yakin dengan makanan bergizi yang mas berikan, aku bisa sehat dan kita bisa punya baby mungil yang lucu." Laras meyakinkan Vim.
"Semoga. Kau jangan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya kau cuti kuliah saja." Usul Vim tiba-tiba.
"Jangan mas. Kuliah tidak bikin stres sebab kuliahku online." Laras mengemukakan alasannya.
"Tugas-tugasnya membuatmu berpikir." Vim selalu pandai mematahkan ucapan Laras.
"Tidak terlalu berat apalagi kalau mas membantu mengerjakan haahaa."
"Baiklah. Jika perlu bantuan, katakan saja."
Vim tidak menolak permintaan Laras demi kesehatan istrinya itu. Laras merasa senang. Permintaannya itu hanyalah sekedar ucapan, tetapi mendapat tanggapan serius dari Vim. Jika mengatakan baiklah yang berarti ya, Vim tidak pernah ingkar. Dia akan memenuhinya.
Mobil terus menyusuri jalan raya. Lampu-lampu jalan mulai menyala dan ruko-ruko di sepanjang jalan sebagian ramai dengan para pengunjung terutama rumah makan. Mereka menikmati kebersamaan berdua. Melalui masa yang tidak pernah mereka lalui sebelum menjadi pasangan suami istri.
🥦🥦🥦
Bersambung...
Hai readers..sehat selau ya. Othor tidak berarti apa-apa tanpa kalian..
Terima kasih sudah hadir di sini.💕🌷
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, comment, gift, vote atau bintang lima.