
Laras mengemasi pakaian yang akan mereka bawa untuk berliburan. Ini adalah akhir minggu dengan tanggal merah tiga hari berturut-turut. Menurut Vim, ia dan ketiga sahabatnya telah merencanakan liburan akhir pekan ke bungalow mereka. Jadi Vim meminta Laras untuk menyiapkan keperluan mereka selama di sana.
Beberapa makanan juga telah dibeli oleh Laras. Semua dikemas dalam satu tas besar oleh bibi. Siap untuk mereka bawa.
"Sudah selesai sayang?"
Vim bertanya begitu keluar dari kamar mandi. Satu tangannya mengusap rambut menggunakan handuk kecil. Mendekati Laras di depan almari kemudian memilih dan menata pakaiannya sendiri ke dalam tas pakaian.
"Serius banget sampai aku nggak dijawab." Tangan Vim berhenti mengemasi pakaiannya. Beralih berdiri di belakang Laras. Diacuhkan Laras adalah sesuatu bagi Vim.
Menyibakkan rambut Laras yang menutupi lehernya dan menghidu di sana. Laras kegelian tetapi tetap melanjutkan memilih pakaiannya. Sengaja tidak merespon Vim. Jika ia menanggapi Vim akan berakhir di ranjang lagi nantinya. Tadi malam dirasanya sudah cukup memuaskan Vim. Tiga hari ke depan juga waktu yang lumayan untuk Vim bercengkerama dengan Vim.
"Hmm? Iyà nih. Katanya mau cepat berangkat."
"Santai saja sayang. Masih banyak waktu." Vim lebih agresif lagi. Tangannya bermain di lekuk tubuh Laras yang indah.
"Geser mas. Aku susah mau bergerak. Tinggal dua stel pakaian yang belum masuk ke tas." Pinta Laras sembari mengurai pelukan Vim. Tetapi tangan Vim kembali melingkar di pinggang Laras. Raganya terus menempel di belakang Laras, tak hendak merenggang sesenti pun.
"Mas!"
"Duuh galak. Jangan galak-galak nanti cakep."
"Mas apa-apaan sih. Katanya mau cepat tapi kalau kayak gini aku nggak bakalan selesai."
Laras mulai kesal. Mengikuti Vim tidak akan ada habisnya. Selalu dan selalu akan meminta lebih dari hanya sekedar membelai hingga berujung pada penyatuan mereka.
"Lihatlah jam itu mas. Kita molor setengah jam dari rencana. Katanya mau berangkat jam delapan. Sekarang sudah setengah sembilan." Ucap Laras lagi. Mengalihkan Vim itu layaknya memujuk anak kecil. Satu kali pujukan saja tidak akan mempengaruhinya.
"Aku juga belum membersihkan diri. Aku perlu bersiap kan? Sekarang lepaskan aku."
"Apa? Jadi kau belum mandi?"
Serta merta Vim melepaskan rangkulan.
" Bau kan??" Laras terkekeh senang. Akhirnya lepas juga dari pelukan Vim. Ia menjauhi Vim menuju ke kamar mandi.
"Ya tapi bau wangi. Aku suka. Sini!"
"Mas tahu kan aku memang wangi haha." Tawa Laras lepas membuat kedua matanya menyipit.
"Kepedean kamu!"
"Percaya diri itu perlu mas. Aku mandi dulu ya. Baik-baik di situ mas!"
"Aku mau nakal, tapi nakalnya sama kamu!"
__ADS_1
Laras keburu menghilang di balik pintu kamar mandi. Mungkin tidak mendengar apa yang diucapkan Vim barusan.
Hati Vim diselimuti rasa bahagia. Sejak ia memiliki Laras, hidupnya penuh ghairah. Semangatnya hidupnya naik. Semua itu
memberikan pengaruh yang baik untuk pekerjaannya.
Tak berapa lama mereka siap berangkat untuk liburan. Pak Uun dan Bibi diajak serta. Vim melihat pancaran bahagia di wajah Laras sebelum memasuki mobil.
Vim membuka pintu bungalow. Masuk diikuti oleh Laras. Pak Uun dan Bibi mengambil barang-
barang yang masih ada di mobil. Sambil menunggu bibi menyiapkan kamar, Vim dan Laras berjalan di sekitar bungalow mereka.
Tempat itu sengaja dibangun Vim sebagai tempat beristirahat mereka sesekali di sela-sela kesibukan. Tadinya tanah-tanah kosong yang ditawarkan oleh penjual dan Vim membelinya. Edo dan Dion juga membeli tanah di siti kemudian membangun bungalow di atasnya. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh bungalow mereka berjejer tiga. Milik Vim di bagian tengah.
...🌾🌾🌾...
Vim mengajak Laras menyusuri halaman depan bungalow. Ke arah sebelah kanan di mana bungalow Dion berada.
"Pemandangannya bagus mas. Aku suka sekali. Sejuk dan menenangkan." Ucap Laras. Langkah kakinya mengikuti Vim yang mengajaknya mengamati sekeliling. Lengan kanan Laras melingkar di lengan kiri Vim. Mesra.
"Itu bungalow Dion. Mereka Belum datang. Tidak ada orang sama sekali. Ternyata kita lebih cepat tiba." Vim menunjuk bungalow yang dibangun dengan material kayu tersebut. Klasik tapi apik.
"Iya mobil mereka belum kelihatan parkir." Jawab Laras.
"Dan itu bungalow Edo."
Tiiiiin..Tiiiiiin.
Laras dan Vim menoleh ke arah suara klakson. Mobil Edo tiba.
Edo melambaikan tangannya kepada Vim dan Laras dari dalam mobil.
"Vim kalian sudah tiba!!?" Mobil Edo berhenti di halaman miliknya. Ia turun tapi tidak menghampiri Laras dan Vim. Berdiri di samping Mobil.
"Kau lihat! Aku mengajak Laras berjalan sebentar. Mereka belum datang Ed." Seru Vim membalas.
"Mereka ada di belakang. Tadi mampir di minimarket. Aku masuk dulu lihat di dalam ya!" Sahut Edo.
"Masuklah!" Kau tidur di tempat Dion bukan??" Vim memastikan.
"Apa kau tidak keberatan aku tidur di tempat kalian?? Hahaa..Kau takkan bisa tidur jika aku menginap di bungalow kalian. Bukan begitu."
"Tidak juga. Aku akan tenang jika kamarmu kugembok" Vim berkilah.
"Sama juga artinya. Aku masuk dulu."
__ADS_1
"Oke!"
Vim mengajak Laras kembali ke bungalow mereka.
"Yuk Ras. Nanti malam kita bertemu mereka kok. Ngumpul di tempat kita."
"Ayuuk mas. Aku mau menyiapkan makanan untuk malam ini.
Mobil Dion datang bersama pemiliknya melewati jalan di depan bungalow Edo dan Laras. Mendapati pintu bungalow kedua sahabat tertutup rapat. Melirik ke sana barangkali ada si pemilik bungalow di halaman depan. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Mereka di dalam." Anggia istri Dion bersuara. Di pangkuannya baby Devan tertidur lelap. Anggia membelai kening baby Devan penuh kasih. Lalu mengecupnya.
...🌷🌷🌷...
Sementara itu di sebuah tempat lain, sebuah mobil tampak berhenti di bawah canopy. Seorang anak lelaki bersama ibunya turun dari mobil diikuti seorang lelaki dan seorang wanita.
Si anak berjalan ke sana kemari dengan wajah riang dan ocehan di mulutnya.
"Ayo masuk sayang. Bermain di dalam saja ya." Wanita itu, Aurora menggiring sang anak ke dalam rumah.
"Mama, rafli mau main di sini."
"Masuk dulu sayang. Kita baru saja tiba. Ayo."
Anak itu Rafli, mengikuti ibunya dengan terpaksa.
"Akh mama." Protesnya. Menghempaskan tubuhnya ke kursi. Menekuk dagunya dan memukul pedang mainan yang dipegangnya berulangkali ke atas meja.
"Sayang kamu tidak boleh bermain jauh dari sini. Mengerti?"
Rafli mengangguk. Kembali bermain pedang. Ciaaàat..Hooop..ciiiaaat. Iiiiyaaaaa.
"Berhenti dulu sayang. Makanlah bekal ini." Aurora memberikan tempat bekal berisi makanan kesukaan Rafli. Membuka tempat bekal dan menyuapkan sesendok kepada Rafli.
"Anak pintar makannya tidak disuapi. Kamu lanjutkan ya sayang."
"Iya mah."
"Rafli memang pintar."
Aurora mengacak rambut bocah itu. Tersenyum sesaat lalu meninggalkannya makan sendirian. Tidak jauh dari si bocah, sopir mamanya duduk menemani sembari mengawasi.
❣️❣️❣️❣️
Sampai di sini terima kasih sudah membaca karya receh ini....😍
__ADS_1
Like, fav & comment.