
Kenyataannya Vim benar-benar tidak mau mengajaknya ikut serta acara malam reuni akbar setelah kemarin pagi Laras sempat pingsan. Kenapa harus pingsan segala. Laras menggerutu sendiri.
Laras mendatangi kamar mereka setelah makam malam dengan Vim di ruang makan. Di sana Vim sedang mengganti pakaian. Laras tidak merayu Vim agar mengijinkannya mengikuti acara malam itu. Percuma saja. Vim akan tetap pada pendiriannya.
"Sayang..pulangnya bawakan martabak spesial ya." Permintaan Laras.
"Belum tahu pulang jam berapa."
"Jam sepuluh masih buka."
"Kuusahakan tapi tidak janji."
Laras manyun. Jawaban Vim seadanya. Sungguh tidak memuaskan.
"Kak Edo dan kak Dion datang?"
"Datang."
Enak sekali berkumpul dengan teman-teman apalagi sekian lama tidak bertemu. Laras menunduk.
Vim melirik Laras dari cermin rias. Dia tidak bersemangat. Andaikan Laras benar-benar dalam keadaan fit, Vim takkan sekejam ini melarang Laras mengikuti reuni.
"Baik-baik di rumah. Aku pergi dulu. Kuusahakan pulang cepat."
Pulang cepat atau lambat sama saja. Laras sedang tidak baik-baik saja terutama hatinya. Lebih baik Vim tak melihatnya dalam keadaan bersedih begitu. Lebih baik Vim pergi saja sementara ini sampai rasa kesal pergi dari hati Laras.
"Tidak apa jika tidak mau mengantarku ke depan."
Namun Laras tetap turun mengikuti Vim. Melepasnya menghadiri reuni malam hari.
Melangkah gontai ke kamar. Menghibur hati dengan menonton drama Korea. Hanya sebentar sebab pikirannya berkelana ke acara reuni yang sedang berlangsung.
Takkan mugkin Vim pulang lebih awal sedangkan Vim bagian dari panitia utama dan dia sangat dikenal oleh mantan adik kelas dan kakak kelas. Banyak orang yang ditemui di sana. Vim bakal pulang larut malam.
Pukul delapan malam acara dimulai. Laras mengetahui dari berita dan foto yang dikirimkan teman-teman melalui grup.
Poto-poto dengan wajah-wajah ceria. Bahagia sekali mereka.
Acara tersebut lebih mirip sebuah pesta kebun. Semula diadakan di ballroom hotel tetapi berubah di luar hotel.
Keingintahuan Laras semakin besar. Sepertinya meriah sekali dengan peserta reuni yang ramai meskipun tidak seramai kemarin pagi. Acara diisi pula dengan grup band.
Video-video kiriman teman-teman menjadikan Laras tambah penasaran. Baru pukul delapan lebih. Acara belum terlalu lama berlangsung..
Dibukanya lemari pakaian yang besar di ruang ganti. Mengambil satu pakaian dan mengganti yang lama. Berdandan tidak terlalu mencolok tapi cukup menawan. Cukup begini saja. Itu saja cukup membuat semua mata menatap takjub.
"Non mau kemana?" Bibi baru saja selesai membenahi penutup jendela.
"Eee bibi. Ini Laras mau keluar sebentar."
"Den Vim pesan, non Laras tidak boleh keluar non."
"Bibi jangan bilang sama mas Vim ya. Bibi pura-pura nggak tahu aja."
"Tapi bibi nggak bisa bohong non."
"Baiklah bibi jawab saja yang jujur jika mas Vim bertanya."
"Hati-hati ya non."
Laras mengangguk mantap tanpa menoleh pada bibi.
Ririn menunggu kedatangan Laras. Sesuai permintaan Laras agar dirinya ditunggu di depan pintu masuk hotel.
"Ririn!" Panggil Laras. Langkahnya semakin mendekati Ririn.
"Laras pelan-pelan. Jangan sampai tersandung."
"Aman. Yuk masuk."
"Acaranya di samping. Lewat sini."
Laras mengikuti Ririn.
"Acara baru saja mulai. Sesi ramah tamah belum berlangsung."
Di depan sana masih berlangsung kata sambutan dari panitia.
"Jangan sampai mas Vim melihatku. Jika iya..entahlah." Bahu Laras terangkat.
Laras tak berhenti memandang ke depan dan ia mendapati kemeja seperti kepunyaan Vim.
"Itu mas Vim di depan sana. Mereka bertiga tidak pernah terpisah." Laras memberitahukan Ririn.
"Sahabat sejati."
Acara terus bergulir. Kini berganti acara santai ramah tamah diiringi musik.
"Laras, Ririn apa kabar?"
"Hai Ardita."
"Kabar baik..kamu gimana?
"Aku baik-baik aja. Eh iya masih ingat enggak, ini Didit." Ardita membawa Didit bersamanya.
"Kamu Didit??" Laras kaget melihat Didit.
"Iya aku Didit. Kalian masih ingat kan? Jangan pandangi aku seperti melihat monster dong."
"Beda banget sih kamu. Dulu kamu kurus banget. Sekarang tidak lagi."
Laras menyampaikan penilaiannya. Nah kan baru dua tahun tidak bertemu tetapi teman-teman sudah berubah penampilannya.
"Harus dong Ras. Kamu sendiri berbeda banget. Sekarang tambah cakep, tanpa manis tambah gendut."
"Jangan tinggi-tinggi melambungkan aku. Jatuhnya sakit banget."
"Ini kenyataan Laras. Nggak bakalan jatuh deh."
__ADS_1
"Kalian berubah keren semua." Ririn angkat bicara.
"Ingat nggak Ras. Didit suka membelikanmu air sirup dari kantin kalau jam olahraga."
Ardita mengingatkan kenangan yang telah lewat.
"Sirup orange dan panada." Tambah Laras.
"Ingat sekali. Itu kesukaanku dan aku selalu membeli itu di kantin. Seringnya ketemu Didit di kantin saat aku makan panada dan memesan segelas air sirup. Sejak itu Didit menjadi hafal kebiasaanku. Terus membelikanku jika bertemu di kantin."
"Aku heran aja gimana mungkin dia bisa jajan makanan dan minuman yang sama setiap hari. Ku belikan makanan itu tapi Laras tidak bosan. Setiap hari habis dimakan." Ujar Didit. Tawa mereka berderai.
"Namanya juga suka. Ya begitulah."
Keasyikan berbincang, Laras tak menyadari jika Vim sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
'
"Kau lihat Laras di sana?" Vim menyenggol lengan Edo.
"Mana? Oya itu dia. Biarkan saja." Jawab Edo.
"Dia tidak berangkat bersamaku."
"Bisa begitu? Bukan dirimu yang membiarkannya pergi sendiri." Edo merasa heran.
"Aku melarangnya datang."
"Kau?? Mengapa? Oya kau posesif." Tuduh Edo teringat perilaku Vim pada Laras. Sebutan itu cocok untuk Vim.
"Bukan posesif. Aku mau Laras istirahat saja di rumah. Kondisi
tubuhnya belum kembali.
Kemarin pingsan. Setelah ini apa lagi?"
"Ya sudah bawa pulang sana."
"Sebentar. Dia bahagia." Ujar Vim pelan. Netranya tak berkedip memandang Laras.
"Ya senanglah berkumpul dengan temannya. Biarkan dia melupakan kesedihannya Vim. Belum terlalu malam." Edo mencegah Vim menghampiri Laras.
Dia melihat gelagat Vim akan membawa Laras pulang. Hati Edo ikut senang melihat Laras bercanda dan tertawa lepas bersama teman-temannya. Semenarik itu Laras di mata Edo hingga Edo tak ingin memalingkan wajah meskipun sipemilik sah berada di samping dirinya.
Dia hanya boleh menjadi pengagum Laras. Cukup mengagumi Laras apabila bertemu. Sampai kapanpun Laras tidak akan menjadi miliknya. Laras milik Vim. Pasti Laras tidak akan mau meninggalkan Vim.
Vim, Edo dan tiga orang teman terlibat pembicaraan. Vim melirik Laras. Dia masih berdiri di sana. Posisi Vim yang menghadap ke arah Laras berdiri,
memudahkan Vim mencuri pandang.
Teman-teman Laras berdatangan. Mereka berkelompok sekarang. Vim tidak tenang. Laras memang ramah terhadap siapapun. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya sedari tadi. Mengapa dia harus mengumbar senyum terus?
"Kita duduk sebelum meja penuh."
Alex mengajak Vim dan kawan-kawan duduk mengelilingi meja bundar yang telah tersedia. Posisi meja yang tidak begitu jauh dari Laras berdiri semakin membuat Vim leluasa memperhatikan Laras.
Vim mengetahui dirinya atau tidak ya. Laras bertanya untuk diri sendiri. Laras yakin Vim mengetahui keberadaannya di acara tersebut. Vim tidak mengajaknya pulang ataupun marah pada Laras karena melanggar larangannya untuk datang. Laras merasa bersalah tapi ah tidak apa-apa sekali-sekali menghadiri acara besar seperti ini.
"Mas Vim mengetahui aku di sini tapi kok dia tidak mengajakku pulang ya Rin."
"Oh ya? Bagus dong sesekali membiarkanmu."kata Ririn.
"Sudah dimakan dulu. Jangan terlalu dipikirkan." Ririn lagi.
"Malam. boleh aku duduk di sini?"
Vim dan Laras mendongakkan kepala. Tidak menyangka dihampiri makhluk di hadapan mereka ini.
"Oh eee kak Herdi. Silahkan duduk kak." Laras mempersilahkan.
" Terimakasih sudah diijinkan. Kalian berdua saja?"
Piring di tangan Herdi berpindah tempat ke atas meja. Ia ikut nimbrung bersama Laras dan Ririn.
"Kami sudah bersama yang lain tadi. Sekarang hanya ingin berdua saja. Kakak kenapa sendirian?" Laras balik bertanya.
"Saat mengambil makanan aku melihat kalian berdua saja jadi aku berpisah dari teman-temanku. Menyenangkan berada di antara dua makhluk Tuhan yang cantik.
Kursi yang diduduki Ririn bergeser ke belakang. Si empunya hampir berdiri jika saja Laras tidak menahannya. Ririn urung berdiri. Di tempat seperti ini hanya berdua dengan Herdi sangat tidak nyaman buat Laras apalagi jika Vim sampai melihat mereka berdua. Untuk melarang Herdi duduk di situ juga tidak mungkin.
Ririn duduk kembali. Ia mengerti tindakan Laras menahan dirinya. Supaya Laras tidak berdua saja dengan Herdi.
"Kalian mau es buah?"
"Es krim saja Rin." Pinta Laras.
"Pasti deh es krim. Kak Herdi mau minum apa?"
"Air buah boleh."
"Baik kak. Tunggu ya aku ambilkan."
"Jangan lama-lama Rin." Pesan Laras. Sungguh ia tidak enak hati berdua saja dengan Herdi meskipun sebentar.
"Tidak. Dekat aja kok disitu."
Ririn bergegas menuju meja hidangan. Dengan sigap ia mengambil es krim dan es buah yang tersedia di tempatnya masing-masing.
"Ini punya kakak dan ini buat Laras."
Tiga gelas minuman dengan rasa berbeda diletakkan Ririn di atas meja.
"Terima kasih Ririn."
"Sama-sama kak Herdi."
"Makasih ya Rin."
"Iya sayang."
__ADS_1
"Berikutnya kita panggil bapak Vim Verdian Rahasha. Kiranya berkenan menyanyikan sebuah lagu untuk menghibur kita semua."
Laras berhenti meneguk minuman. Proook. Proook. Proook. Suara tepukan tangan menyambut panggilan untuk Vim oleh pembawa acara.
Siapa alumni yang tidak tahu dengan reputasi Vim. Si pintar yang serba bisa. Nyaris tanpa kekurangan. Kekurangan Vim adalah melihat wanita menangis. Dia akan mudah goyah melihat kesedihan seorang wanita.
"Terima kasih sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk membawakan sebuah lagu. Lagu ini termasuk lagu lama yang sering diputar papi ketika kami masih kecil tapi akhirnya saya menyukai lagu ini juga."
Vim mulai bernyanyi. Lagu tersebut sangat berkesan bagi Vim hingga ia benar-benar menghayati saat menyanyi. Dari kejauhan Laras hanya memandang dan terus memandang Vim. Sesekali tatapan mata mereka bertemu dari kejauhan. Ada getar halus yang merambat di dada. Andai saja tidak banyak orang, Laras akan berlari memeluk Vim saat itu juga.
Vim mengakhiri nanyiannya.
"Thank you for loving me."🎶
Cepat kilat Laras mengusap bulir air mata di sudut matanya sebelum terlihat oleh Ririn dan Herdi. Mereka berdua tidak boleh tahu Laras terharu atas lagu yang dibawakan Vim. Laras berlaku sewajarnya kembali.
"Waaah boleh juga suaranya." Ririn menyenggol lengan Laras.
"Ras balas nyanyi dong. Nyanyi ya Ras."
"Idiih Ririn. Nggak ah."
"Kalau kalian mau menyumbangkan lagu akan kusampaikan pada pembawa acara. Gimana?" Herdi menawarkan diri.
"Terima kasih kak. Tidak usah." Ririn yang menjawab.
"Jangan malu. Siapa pun boleh menyanyi."
"Tidak kak. Tidak. Kami menonton saja." Slurff. Tenggorokan Laras terasa dingin karena es krim yang ditelan.
Makanan utama telah habis dimakan. Bagaimana caranya untuk beranjak dari situ. Herdi masih senang berada di antara mereka. Akhirnya Laras berpamitan akan ke toilet.
"Mau ke toilet dulu." Laras berdiri.
"Butuh teman nggak? Aku temankan."
"Sendiri bisa sayang." Laras menolak tawaran Ririn.
"Jangan. Aku bisa diberondong pertanyaan jika kamu hilang."
"Hahaah..bisa aja Ririn. Kak kami pamit ke toilet ya. Maafkan."
"Oke..lanjut. Sudah tahu letak toiletnya?" Tanya Herdi.
"Kami bertanya di dalam saja. Bye kak."
"Bye. Jumpa lagi di sini."
Laras tersenyum. Belum tentu akan menemui Herdi lagi di situ setelah tadi Vim beberapa kali melemparkan pandangan ke arah Laras. Vim pasti kesal mengetahui Laras berada di sana. Setelah dari toilet Laras beniat untuk pulang ke rumah saja.
"Ririn setelah ini kita berpisah. Kamu gabung dengan teman yang lain. Aku akan pulang."
"Lah kok cepat sih Ras."
"Cepat apaan Ririn. Jam sepuluh sekarang dan aku yakin mas Vim tahu aku berada di sini."
Masing-masing mereka memasuki toilet yang kosong. Keluar lagi lalu mencuci tangan di wastafel dan menambahkan sedikit bedak pada wajah mereka.
"Sudah?" Tanya Laras
"Sudah."
Mereka keluar melalui jalan tadi. Di pintu masuk samping Vim berdiri menunggu di sana. Tangannya bersidekap. Wajahnya tenang.
"Mas Vim! Ngapain di sini mas?" Tanya Laras seolah tidak berbuat kesalahan.
"Menunggumu." Jawab Vim singkat.
"Aku?" Laras menoleh pada Ririn.
"Laras kita sampai di sini ya. Aku gabung dengan teman-teman lain." Ririn berlalu.
"Ya sudah. Kita ke acara lagi." Laras mengajak Vim.
"Tunggu. Laras kau melanggar kata-kataku. Mengapa kau ada di sini?"
"Sayang aku ingin tahu acara ini dan ingin ketemu sama teman-teman." Alasan Laras.
"Baik kau sudah tahu bukan? Sekarang ikut aku."
Vim menggandeng tangan Laras. Mengajaknya masuk lift. Keluar dari lift di lantai tiga.Vim membuka pintu kamar hotel-tempat acara berlangsung.
"Masuk." Laras menurut. Masuk bersama Vim.
"Mengapa kita disini?"
"Kita menginap di sini malam ini. Aku memesannya setelah kutahu kau berada di sini. Bagaimana kau tidak mematuhi kata-kataku??"
Wajah Vim sangat dekat dengan Laras. Meskipun Laras tahu Vim takkan tega melakukan hal kasar padanya tetap saja Laras takut.
"Mas kau tega membiarkanku bersenang-senang di sini sementara aku sendiri di rumah."
"Oh my God. Laras..Sehari yang lalu kau pingsan. Kau tidak sedang baik-baik saja. Aku ingin kau sehat itu saja. Acara ini di tempat terbuka."
"Memangnya kenapa?" Laras tidak berpikir pintar.
"Angin malam tidak baik untukmu."
Tok. Tok.
Pelayan mengetuk pintu kamar. Mengantar pesanan yang dipesan Vim. Membawakan minuman hangat untuk mereka berdua. Lalu pergi lagi. Vim memberikan susu coklat hangat kepada Laras.
🍀🍀🍀
Bersambung..
Like, comments, gift, vote & fivestars.
Trims.💕
__ADS_1