
"Kalian sudah sudah tiba. Masuklah." Ibu menyambut kedatangan mereka berdua.
Laras dan Vim menyalami ibu dan menyium tangan beliau.
Ibu memandang Laras penuh selidik dan tanya yang tersirat di wajah. Wajah Laras sembab dan kelopak matanya menyisakan bengkak akibat terlalu banyak menangis. Naluri ibu selalu tepat pada anaknya. Hubungan batin membuat ibu bisa merasakan apa yang sedang terjadi oleh sang anak.
"Mengapa ibu memandangku begitu?" Tanya Laras.
"Kau menginap di sini dan Vim bagaimana? Kalian baik-baik saja kan?" Laras dan Vim saling menoleh. Vim mengedikkan bahu.
"Kami baik-baik saja bu. Laras cuma rindu."
"Kasihan Vim nggak ada yang mengurusnya. Nak Vim setuju Laras menginap di sini?"
"Laras sudah meminta bibi menyiapkan makanan mas Vim."
Ucap Laras.
"Laras itu adalah kewajibanmu menyiapkan keperluan Vim semuanya." Ibu kurang setuju Laras meninggalkan Vim di rumah.
"Setuju bu. Tidak apa-apa Laras menginap di sini seminggu." Vim membuka suara. Jika ini bisa menghilangkan kemarahan Laras padanya, Vim senang saja.
Vim mengetikkan sebuah pesan singkat kepada Joel dan mengirim sebuah gambar. Selidiki, perintahnya.
"Saya harus kerja. Saya pergi dulu Bu. Titip Larasya bu."
"Oya baiklah. Hati-hati di jalan nak Vim."
Ibu beranjak ke dapur meninggalkan mereka.
"Ingat tidak menaiki kendaraan sendiri. Kemanapun di antar pak Uun. Oke?" Pesan Vim.
"Hmmm baiklah kecuali ke rumah mami."
"Eeiit berlaku sama ya."
Vim mengacak rambut Laras. Dibalas anggukan oleh Laras. Vim segera pergi. Menggunakan kaca mata hitamnya dan memasuki mobil. Menghidupkan mesin dan Memandang Laras dari dalam mobil. Terakhir ia melambaikan tangannya pada Laras dan mulai menguasai setir. Ia pun mengalihkan pandangan ke spion lalu ke kaca depan dan melaju meninggalkan Laras. Bruuuum.
Vim tidak menuju ke kantor melainkan ke perusahaan Dion.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki Vim lebar. Menurut sekretaris Dion, Vim boleh langsung masuk ke ruangan sebab Dion sedang sendiri dan tidak memiliki tamu.
"Hai bro! Nggak ngasih kabar dulu." Sambut Dion begitu Vim muncul di depannya.
"Lihat ini." Vim meletakkan amplop berisi foto-foto intim yang ia bawa. Membiarkan Dion meneliti satu-satu. Wajah Dion berubah terkejut. Foto-foto dengan posisi sangat dekat antara Vim dan Aurora. Vim dan Aurora saling berhadapan sangat dekat di foto tersebut padahal keduanya sedang berdebat mempertahankan pendapat masing-masing.
"Perkiraan mu siapa?" Tanya Dion.
__ADS_1
"Barangkali Aurora." jawab Vim
"Itu kah alasanmu kemari?."
"Benar."
"Baiklah kupanggil Aurora." Dion menelpon Aurora dan memintanya untuk datang ke ruangannya. Tanpa menunggu lama wanita itu pun datang. Make up yang tidak terlalu tebal menghiasi wajahnya. Namun bibirnya terpoles listrik warna menyala sesuai dengan pribadinya yang enerjik.
Aurora yang pernah menjadi kekasih Vim melihat dua lelaki di hadapannya itu memandangnya serius. Satu lelaki berkemeja putih kebiruan bersidekap menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kelihatan menyimpan kemarahan. Lelaki itu adalah Vim. Ia masuk dengan percaya diri.
Kemudian Dion yang ramah padanya hari ini memasang wajah serius dari balik meja kerja. Ada apa ini pikirnya. Vim menatapnya tidak ramah. Ia merasa sedang berada di kandang macan. Dua macan tampan itu siap menerkamnya.
"Mengapa kalian menatapku begitu?" Tanyanya mengharapkan jawaban. Ia seperti terdakwa di depan Vim dan Dion.
"Tanyakan dirimu apa yang telah kau lakukan." Vim meminta Aurora introspeksi diri. Masih berdiri di samping depan meja Dion. Ia tidak duduk hanya menempelkan bokongnya di situ.
"Aku..Apa yang kulakukan? Aku tak melakukan apa-apa. Apa maksud kalian?" Aurora tidak mengerti. Ia merasa tak bersalah. Kedua orang ini menyalahkannya. Raut wajah mereka dingin menanti setiap ucapan yang keluar dari mulut Aurora. Aura kecurigaan sangat terasa.
"Kau suka ya melihat rumah tanggaku hancur tapi jangan kau harap itu terjadi." Kalimat Vim sungguh menusuk hati Aurora.
"Vim apa maksudmu!?" Tanyanya.
"Tutupi semua niatmu dengan kepura-puraan Aurora!!"
"Aku tidak berpura-pura Vim!!"
Aurora menepis ucapan Vim. Tuduhan apa pun dalihnya, selalu menyakitkan.
Hampir seluruh wajahnya memerah karena marah. Baru kali ini ia melihat Vim sangat marah. Saat mereka membicarakan tentang perpisahan yang telah terjadi, Vim tidak semarah ini padanya.
"Tak kusangka, kau menghalalkan segala cara. Caramu kotor seperti ini Aurora." Vim meletakkan foto-foto yang ia pegang ke meja. Dion menjadi saksi pertengkaran itu.
"Foto apa? Apa aku boleh lihat?"
Dion menganggukkan kepalanya.
Aurora maju mengambil foto-foto yang diletakkan Vim di atas meja.
Mengamati satu persatu. Sama seperti Dion, Aurora pun kaget. Vim menggeser berdirinya menghadap ke Dion.
"Karena ini aku jadi tertuduh. Vim aku tidak melakukan ini. Mengambil foto-foto secara diam-diam. Tolong percaya." Kata Aurora.
Vim dan Dion saling melemparkan tatapan.
"Lantas siapa? Bukankah kau sangat ingin rumah tanggaku hancur. Kau suka menyakiti hati Laras kan??" Vim menekan Aurora.
"Tapi bukan aku yang melakukan ini!"
"Bisa ku percaya hhh??" Vim mendesak Aurora.
__ADS_1
"Harus percaya. Apa buktinya? Kau main tebak saja." Balas Aurora merasa gerah dengan tuduhan Vim.
"Ya. Aku sedang mencari pelakunya. Siapa dia yang mengganggu rumah tanggaku."
"Tapi nggak benar ini Vim. Kau main tuduh." Wajah Aurora menyiratkan kekesalan.
Dion berdiri dari duduknya. Lelah juga memperhatikan dua orang itu saling ngotot-ngototan.
"Kelihatannya memang bukan dia Vim." Kata Dion.
"Lalu siapa??" Vim berpikir serius.
"Aku bisa pergi? Pekerjaanku butuh perhatian." Aurora berkata dan berlalu tanpa menunggu jawaban Vim dan Dion. Sia-sia meladeni dua lelaki itu yang tidak menerima kejujurannya.
Mereka saling melempar pandangan dan bersuara hampir bersamaan. Kesimpulan pun sama.
"Roni??!"
"Aku memikirkan kemungkinan itu sejak kemarin tapi Herdi mungkin juga melakukan ini." Urai Vim.
"Herdi. Siapa dia? Aku baru mendengar namanya." Tanya Dion.
"Dia teman baru Laras dan tertarik padanya."
"Sudah lama?" Dion bertanya. Tertarik dengan cerita Vim.
"Belum."
"Kau juga cemburu pada Herdi ya."
"Gimana tidak. Herdi mengirimkan bunga untuk Laras."
"Yaelaah..baru bunga. Bayangkan kalau Laras itu artis ngetop yang dikerubuti banyak fans. Bisa gila kau mati cemburu. Lagian Laras sudah menikah."
"Biarin. Bermula dari hal kecil, bisa menjadi besar dan menimbulkan masalah. Sekarang ini apa yang tidak mungkin." Vim mengungkapkan alasannya.
"Kemungkinan itu tipis. Dia baru mengenal kalian."
"Tapi bisa jadi juga. Kita cari Rony, Di." Ajak Vim.
Kemudian Vim menelpon Joel. Meminta Joel menyelidiki di mana keberadaan Rony sekarang. Ia dan Dion bersiap memberikan pelajaran kepada lelaki itu.
'Tidak jauh dari kantor kita Tuan. Sedang berada di situ.' Joel memberikan informasi melalui pesan singkat.
'Oke Joel. Pengawal tidak jadi tapi biarkan saja dulu.' Balas Vim.
Vim mengakhiri pesannya. Biarpun belum tahu kebenarannya tidak ada salahnya mencari kebenaran dari Rony.
"Kita makan siang dulu Vim. Perutku minta diisi." Ajak Dion. Vim setuju dan menjalankan mobil ke arah sebuah resto yang tidak ramai pengunjung tetapi memiliki menu yang lezat. Setengah jam kemudian mereka selesai dan melanjutkan misi.
__ADS_1
Sementara itu di tokonya Laras berbenah mengemasi pesanan yang baru tiba. Ada penambahan dari kebaya modern yang mulai ia pajang. Semua ia pesan pada desainer dengan model yang terbatas. Kelelahan terpancar di wajahnya. Ia beristirahat. Akhir-akhir ini ia sering kelelahan. Mungkin pengaruh dari perubahan pada tubuhnya yang mulai berisi.
Like, comment, gift & vote jangan lupa ya..😚💕