
Vim dan Laras baru saja menyelesaikan tugas dan tanggung jawab bersama sebagai suami istri. Laras tertidur pulas lagi sedangkan Vim duduk di balkon kamar. Dari balkon kamar itulah Vim bisa memandang lepas ke arah jalan di seberang pagar.
Vim tahu satu mobil pengawal yang ia sewa ada di sana. Menjelang larut malam pengawal akan pulang ke rumahnya. Satu petugas keamanan di pintu masuk pagar berjaga di halaman rumah Vim. Akhir-akhir ini Vim memperketat pengawasan di rumah demi Laras dan Vian.
Vim mempertajam penglihatan. Pergerakan di luar pagar menarik perhatian. Tatapannya serius lurus ke depan sana. Pengawalnya sedang berbincang dengan dua orang lelaki yang tubuhnya tak kalah besar. Lelaki asing di mata Vim mendorong bahu kanan pengawalnya. Vim semakin serius. Tak terima pengawal Vim membalas dan menunjuk-nunjuk orang asing tersebut.
Dilihatnya petugas keamanan beranjak ke luar pagar. Ribu-ribut kecil yang mengundang rasa ingin tahu. Empat orang itu adu mulut. Vim menelpon pengawal menanyakan perihal keributan itu.
Dalam waktu bersamaan pengawal membuka gawainya, dua lelaki asing segera masuk ke mobil dan melajukan mobil.
Brrrrrrrrmmmm.
Mobil sukses meninggalkan tempat itu secepatnya dan petugas keamanan tak ingin mengejar.
"Dua orang asing mencurigakan Tuan. Sejak sore tadi berada di sini. Sepertinya mata-mata."
Jalanan kembali sepi. Hening. Vim mengunci pintu dan tidur. Dia bukan lagi pebisnis yang sukses tetapi musuhnya masih tetap ada. Apa yang diincar orang itu?
Walaupun pertanyaan dan prasangka bermunculan, Vim selalu berhasil tenang. Sejauh ini keadaan keluarga kecilnya aman-aman saja. Ia cukup lega.
...***...
Praaaang!
Ponsel berharga mahal jatuh ke lantai. Tangan Laras bergetar memegang ponsel hingga tak sadar ponselnya jatuh.
Bunyi kuat itu membuat Vim terbangun. Dengan netra setengah terbuka ia mencari sumber suara. Laras berdiam diri tanpa berusaha mengambil kembali gawainya.
"Ada apa sayang. Oh apa yang terjadi?"
"Tak mungkin tidak ada apa-apa. Kau sakit?" Vim meraba kening Laras. Tidak ada rasa panas.
"Ee...enggak. Nggak ada apa-apa. Aku hanya terkejut saja."
"Wajahmu tidak sejalan dengan hatimu. Ada apa sih?"
"Tidak ada."
Laras menghindar tatapan Vim. Membalikkan tubuh bermaksud keluar kamar bukannya mengambil ponsel yang telah rusak.
"Tidak baik berbohong sayang."
"Handphone ku terlepas. Itu saja."
"Oh ya sudah."
Triiiit...triiit...triit.
Ponsel Vim berbunyi. Vim menjawab cepat. Rona wajahnya berubah tegang. Handphone pun dimatikan dengan cepat pula.
"Laras! Laras!"
Vim membuka pintu kamar Vian. Laras baru saja membuka tirai tebal penutup jendela. Bagian penutup yang tipis dibiarkan tergerai.
"Apa yang kau lihat tadi. Dari seseorang. Kau ingat nomornya?"
"Aku tidak hafal nomornya. Kenapa?"
"Namanya?"
Laras mengedikkan bahu. Ia tidak terpikir mengingat nama ataupun profil si pengirim pesan pagi ini.
Isi pesan saja sudah membuatnya mendadak sakit kepala.
"Laras gambar apa yang kau lihat?"
"Mengapa mas ingin tahu?"
__ADS_1
"Aku harus tahu Laras. Seseorang menerorku!" Vim keceplosan.
"Dan sekarang menerormu. Lihat ini. Gambar ini sama tidak dengan yang kau lihat?"
"Ya sama. Terus mas mau ngasih alasan apa lagi?"
"Alasan? Aku tak punya alasan.
Dia mengadu domba kita, Laras. Karena poto-poto ini kau membanting handphone."
"Bukan karena itu."
"Baiklah... kau harus tahu. Rony, ke*** itu mengancamku. Keamananmu tidak baik-baik saja Laras. Jika keinginannya tidak dituruti, gambar-gambar ini akan tersebar kemana-mana. Dia berhasil merekam poto-poto itu ketika aku di hotel. Tunggu dulu. Waktu itu aku dan Joel janji temu dengan mitra. Kami tidak menyangka, wanita ini yang dikirim untuk memuluskan perjanjian kerja sama. Aku tak tergiur sama sekali. Bagiku tubuhmu lebih indah dari perempuan itu. Hari ini poto-poto itu tiba di tanganmu. Kau percaya apa yang kukatakan?"
"Entahlah mas. Semoga ini bukan kebohongan."
"Tentu saja. Ini rekayasa dia. Masa bodoh semua poto tersebar. Kau tetap bersamaku. Milikku."
"Sejauh itu mas?"
"Ya. Untuk itu aku menyewa pengawal."
Kemudian Vim membuka ponsel terhubung ke CCTV dan menunjukkan kepada Laras.
"Ini pengawalmu. Dia bergantian dengan yang ini berjaga di luar rumah ketika malam hari. Mengawasi sekeliling rumah kita."
"Tidak berlebihan ya mas?"
"Ya enggak. Tetaplah di rumah."
"Jadi Handphone ku rusak dong. Mas sih omongnya terlambat. Punyaku rusak."
Vim menepuk kening. Perhiasan Laras bisa dibelikan lebih dari satu namun gawai tak terpikirkan oleh Vim untuk membelikan dua. Rusak satu dan belum ada penggantinya.
"Untukmu kubelikan yang baru. Mau berapa biji?"
"Tidak dong. Sama sekali tidak menyusahkan. Ada rejekimu di setiap usahaku dan uang kita masih ada sayang."
"Kita baru saja mulai bangkit lagi sayang. Kita perlu menabung buat masa depan Vian. Belikan model biasa saja ya."
"Tidak. Aku baru saja mendapat bonus dari papi selesai meneliti pekerjaan kemarin. Itu rejeki buatmu. Aku yang akan memilih."
"Ya sudahlah tapi aku nggak minta yang mahal ya mas."
"Loh yang mahal juga nggak apa. Ini uang." Vim melambaikan amplop di tangan yang berisi uang.
"Siapa bilang daun....ck jangan terlalu mahal atau tidak kupakai nanti."
"Huuuss ribut amat. Kau tinggal pakai saja Laras."
"Iya deh terserah yang mau belikan saja. Nurut...."
Laras mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah bersamaan.
"Ya bagus begitu. Itu namanya istri yang baik. Lebih baik lagi jika mengurut punggungku."
"Sepagi ini minta urut? Biasanya mas olahraga. Kita olahraga yuuuk. Aku mau senam sendiri saja."
Laras menarik tangan Vim. Berdua berjalan ke ruangan ukuran sedang berisi alat olahraga Vim.
Laras menyalakan komputer. Membuka saluran video senam. Musik mulai terdengar.
"Waah aku ikut senam saja kalau begini."
"Yaak boleh. Asyiiik. Mas berdiri di sebelahku."
"Di sini saja." Pilih mengambil posisi di belakang Laras.
__ADS_1
"Mas jangan salahkan jika aku buang angin."
"Huuuft. Jangan keluarkan bom itu."
"Qiqiqiik...kenapa juga di belakang. Ayo mas, mulai."
Mereka berdua mengikuti gerakan senam. Vim yang tidak hafal gerakan senam berbuat banyak salah gerakan dan fokusnya agak terganggu dengan liukan tubuh Laras. Bokong Laras yang sintal mengganggu pandangan. Ingin sekali Vim menepuknya.
Senam berakhir. Laras menoleh ke belakang.
"Loh mas ini tidak berkeringat? Aneh. Lihat keringatku. Mengucur bukan?"
"Aku tidak hafal gerakannya jadi asal senam saja. Bagian belakangmu lebih menarik."
Pipi Laras merona seketika. Dia mencebik.
"Hahaha...dari hati yang paling dalam, kukatakan."
"Huuuuh. Disuruh senam matanya jelalatan. Di luar rumah juga gitu?"
"Oh tidak dong. Mataku tidak liar di luar rumah."
"Haalaah...bisa dijamin?"
"Dijamin...." Vim mengacungkan jempol.
"Kita senam sekali lagi ya mas sebelum Vian bangun."
"Ya boleh."
Kali ini Vim melakukan dengan serius. Berdiri di sebelah Laras dan mengikuti gerakan senam dengan benar. Musik yang agak cepat dengan gerakan enerjik membuat tubuh Vim mengeluarkan keringat. Begitu juga dengan Laras.
"Selesai," kata Laras.
"Sekarang perutku minta diisi." Vim menepuk perut.
"Wooow!"
"Makanku bakalan banyak. Tadi malam olahraga ditambah dengan pagi ini. Bisa porsi ganda."
"Roti nggak nendang dong."
"Betul tapi siapkah bibi?"
"Kita lihat ya mas."
Ternyata bibi Am memang bisa diandalkan. Di meja telah terhidang sarapan pagi nasi kuning. Semerbak bau ayam goreng menebar di ruangan dapur.
"Huuum sedap."
"Silahkan Den dan Non." Bibi meletakkan ayam goreng ke atas meja.
"Terima kasih Bi."
"Sama-sama Non."
"Bibi tahu saja aku tidak turun ke dapur pagi ini. Sarapan sudah disiapkan."
"Bibi pernah mudah juga. Memahami jika kau berjuang tadi malam menghadapiku." Seulas senyuman tersungging di bibir Vim.
"Huuuh sok tahu."
"Hahaaah. Ayo dimakan. Setelah ini mau menemaniku mandi?"
"Tidak."
Menemani Vim mandi tidak hanya sekedar menemani saja. Lebih dari menemani dan Laras belum siap menghadapi kelanjutannya setelah tadi malam bergelut dengan Vim.
__ADS_1