Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 8. Sebelum pulang.


__ADS_3

"Mengapa kau masih memperhati


kan hujan. Sebaiknya tidurlah.


Kau tahu Vim aku merasa sangat gelisah hanya berdua saja denganmu di ruangan ini. Mana mungkin mataku bisa terpejam. Aku tidak terbiasa seperti ini Vim.


"Mataku belum mengantuk."


"Rebahan saja di atas kasur. Lama kelamaan kau akan terlelap."


Vim berkata sembari memainkan ponselnya. Dia berbaring di sofa.


Melirik ke arah Laras yang penuh keraguan.


"Jangan takut. Tidur saja, kau aman bersamaku karena aku tidur di sofa."


Laras tetap tak bergeming. Malam semakin pekat namun ia merasa gelisah memilih tidur atau tidak.


Vim sendiri sudah terlena dalam tidurnya meskipun di sofa.


Akhirnya Laras merebahkan tubuh di atas pembaringan, menutupi tubuh dengan selimut lalu memejamkan mata. Ia tak lagi berpikir seandainya Vim akan berbuat di luar batas pada Laras karena saat ini Vim telah terlelap.


Adalah hujan yang membawa kesejukan dan kesyahduan malam. Dinginnya malam itu mampu membuat Vim terjaga dari buaian malam. Tubuhnya berbalik ke kanan lalu ke kiri dengan posisi meringkuk mencari kehangatan.


Kehangatan tak jua datang, mata Vim setengah terpejam tatkala memilih meninggalkan sofa dan beralih ke sebelah Laras yang tertidur pulas. Udara semakin terasa sedingin es tapi Vim tidak berpikir untuk mematikan AC.


Kini tubuhnya telah tertutup selimut yang sama dengan Laras. Perempuan itu tidak bergerak sama sekali. Tetap terlelap tanpa menyadari kehadiran Vim di sebelahnya. Vim masih gelisah membalikkan tubuh ke kiri dan ke kanan.


Tidak ada guling di sampingnya dan Vim semakin bergeser ke kiri hingga ia merasakan hangat saat tangannya memeluk pinggang Laras. Sadar atau tidak, Vim semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Laras. Bagi Vim, Laras itu guling. Ia memeluk Laras sama persis saat ia memeluk guling yang sebenar. Akhirnya Vim bisa tidur dengan pulas.


...~~...


"Aaaaahhh!!!"


Teriakan Laras terdengar seperti pukulan gendang yang sangat keras di telinga Vim.


"Ada apa kau teriak??"


Vim bertanya dengan wajah kesal. Ia mengucek mata. Suara Laras sungguh membuat Vim terkejut


luar biasa di pagi itu.


"Kau.. mengapa tidur di sebelahku? Hiiikks apa yang kau lakukan?"


"Aku? Ooh aku tidur di sini, tadi malam udara sangat dingin. Jadi aku pindah ke sini."


Vim menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri. Melemaskan otot leher. Laras menjaga jarak dari Vim tapi tidak dengan Vim. Vim semakin maju mendekati Laras. Laras menciut mundur ke belakang.


"Kau pura-pura. Bukankah kau pernah seperti ini dengan Vano?"

__ADS_1


"Apa? Tidak pernah."


"Mundurlah dan kau akan jatuh ke belakang."


Baru sedetik kalimat itu diucapkan Vim, bagian belakang tubuh Laras hampir terjungkal ke belakang andai saja Vim tidak menarik tangan Laras dengan sigap.


"Aauuuww. Hah..hah." Nafas Laras berpacu menyadari dirinya akan jatuh.


"Makanya jangan mundur-mundur. Lagian takut amat sih."


Laras berada dipelukan Vim karena kejadian tadi. Ada yang aneh yang Laras rasakan. Detak jantungnya dan jantung Vim berpacu di sana.


"Kita harus bersiap pulang."


Laras mencoba keluar dari dekapan Vim tapi tidak bisa. Kedua lengan tangan Vim erat memeluk Laras.


"Sabar. Masih terlalu pagi."


Dirasakan Laras dekapan itu sedikit merenggang dan Laras mencoba beringsut keluar dan gagal lagi. Vim semakin mempererat pelukannya.


"Kau mau mandi? Berikan aku kiss dulu."


"Apa?"


Laras membuang wajahnya. Lebih tepat menutupi rasa malu dari Vim.


Dia mulai minta yang aneh-aneh. Permintaan macam apa itu.


Dari kata-kata Vim, Laras mencium gelagat mencurigakan. Untuk itu Laras hendak turun dari tempat tidur dan meninggalkan Vim. Sayangnya Laras kalah cepat


dari Vim. Tangan Vim yang lebar sudah menangkap pergelangan tangan Laras. Seketika Laras terdiam di tempat.


Dengan cepat Vim meraih leher Laras dengan pelan. Mendekatkan wajahnya dan mulai memberikan ciuman pagi untuk Laras. Ajaib. Laras hanya diam tak menolak sama sekali. Seperti kedua kutub yang mempunyai daya tarik, bibir mereka telah saling bersentuhan. Laras berusaha melepaskan diri tapi kalah dengan usaha Vim yang semakin memagut lama bibir Laras.


"Kau berani sekali."


Laras mengusap bibirnya. Garis bibirnya melengkung ke bawah tanda ia sedang marah.


"Kenapa tidak? Kau bukan milik siapa-siapa kan."


"Kau anggap aku apa?"


Wajahnya mulai kemerahan menahan malu dan mata ia tentu saja ingin menangis diperlakukan seperti itu. Laras belum pernah mendapatkan serangan ciuman sekalipun dari Vano.


"Lebih..Pergilah mandi duluan."


Vim beringsut dari ranjang dan mengambil hp.


"Hiiikks kau jahat."

__ADS_1


"Begitu saja menangis."


"Kau_"


"Satu jam lagi kita pulang, jika kau belum siap, kutinggal."


Ucapan Vim hanya membuat Laras menjadi panik. Ia tidak mau ditinggal sendirian di kota itu. Namun bukannya beranjak ke kamar mandi, Laras semakin terpaku apa yang harus ia lakukan. Padahal Vim cuma menyuruhnya mandi. Mereka tidak perlu membereskan pakaian karena mereka tidak membawa banyak pakaian.


"Yeaahh malah diam."


"Apa?"


"Hmmm..lambat sekali."


Vim tidak sabar melihat Laras bergerak dengan lambat pagi itu. Dari tadi Laras masih berdiri di pinggir ranjang hotel. Karena itu Vim beraksi lagi mengangkat Laras ke kamar mandi. Laras berteriak karena terkejut dengan perlakuan Vim.


"Turunkan! Turunkan aku Mas."


Tangan Laras yang mengepal memukul punggung Vim berulang kali. Laras meronta minta diturunkan namun Vim tidak menurutinya. Vim tidak merasakan sakit sama sekali di punggungnya.


"Jika aku menunggumu terlalu lama, kita semakin lama di sini. Apa kau tidak ingin pulang? Masih ingin bermalam denganku heh?"


Vim membawa Laras sampai ke kamar mandi. Lalu menutup pintu dan membiarkan Laras di dalam membersihkan diri.


"Sudah selesai? Cepat sekali."


"Katamu aku lambat. Sekarang aku bergerak lebih cepat, kau heran hhh.."


"Jangan marah. Giliranku mandi."


Kini gantian Vim yang masuk ke kamar mandi. Tak lama muncul lagi dengan tubuh yang bersih dan segar. Tetes air sedikit mengalir dari ujung rambut Vim. Kulitnya yang memang bersih semakin kelihatan bertambah bersih.


"Periksa lagi barang-barangmu. Jangan ada yang ketinggalan. Kalau ketinggalan kau pasti meminta ganti padaku."


"Ya jelas dan harganya harus lebih mahal dari itu." Sergah Laras ringan sembari memasukkan hp dalam tas.


"Ckckckc."


"Kenapa? Oya minta dibelikan mami saja." Senyum Laras mengembang mendapat inspirasi.


"Sebentar aku periksa ruangan lagi."


Dan Vim memeriksa seluruh kamar hotel sampai ke kamar mandinya. Baginya tidak apa ketinggalan barang-barang Laras satu macam saja tapi yang apa-apa bagi Vim jika pakaian dalam Laras yang ketinggalan. Huuuft.


"Bersih. Kita check out sekarang."


"Kuncinya sudah mas?"


"Hemmm..."

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan seperti adik beradik, tapi orang yang melihat akan menganggap mereka sepasang kekasih.


__ADS_2