
Mereka berpisah di jalan dalam perjalanan pulang.Vim dan Laras menempuh jalan lurus
sedangkan Dion membelokkan mobil ke kiri sesuai jalan menuju ke rumah orangtua mereka. Mobil berhenti di halaman rumah Pak Dewantara papi Vim. Laras mengajak Vim mampir untuk menyerahkan oleh-oleh yang mereka bawa.
Melewati pintu samping, menyapa para pekerja yang tetap mengerjakan tugas-tugas mereka walaupun hari libur dan masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam.
"Mi..mami. Mami.."
"Mungkin sedang istirahat Laras. Kita ke kamar saja." Ajak Vim.
"Kalau begitu kita ke rumah ibu saja mas. Mau pulang nanti kita ke sini lagi."
"Boleh."
Laras mengikuti Vim keluar menghampiri sepeda motor. Berboncengan menaiki motor menuju tempat tinggal masa kecilnya. Semilir angin mengurai harum tubuh Vim. Wanginya takkan terlupakan oleh Laras. Tubuh Vim yang besar menutupi pandangan Laras yang berada di belakangnya. Sejenak meletakkan sebagian pipinya di punggung Vim. Hanya sebentar sebelum pengguna jalan selain mereka melihat Laras.
"Ibu, Laras datang!"
"Laras anak ibu! kalian ada di sini?"
Wajah ibu berseri-seri. Mereka berpelukan di dapur. Melepaskan rindu setelah dua purnama tidak bertemu.
"Mana Vim, sayang?"
"Saya bu." Vim menjawab cepat namun sopan. Berjalan mendekat dan menyium tangan ibu mertua. Dia selalu tahu batasannya saat berbicara dengan orang tua. Dirinya tegak di sisi pintu menyaksikan kedua wanita itu.
"Oh syukurlah kalian sudah tiba di sini. Laras..ajak nak Vim makan nak."
"Kami sudah makan bu. Ini kami bawakan oleh-oleh buat Ibu dan Ayah. Maafkan Laras ya bu, cuma sedikit."
Ibu menyambut pemberian Laras dengan suka cita.
"Cukup melihat kehadiran kalian di sini, ibu sudah merasa bahagia sekali. Bagaimana liburan kalian?"
"Asyik pastinya bu. Mas apa kamu mau berdiri di situ terus? Tidak bosan tidak lelah? Duduklah."
"Kita tidak berlama-lama Laras."
Vim menunjukkan arloji di pergelangan tangan.
"Mas...??"
"Loohh kok?? Mengapa terburu-buru?" Raut ibu menyiratkan keheranan. Baru saja ibu mengeluarkan rempeyek kebanggaan beliau, anak dan menantunya akan pergi lagi.
"Waktu mendekati sore bu. Laras kecapean."
Iiiih alasan. Tubuhku masih berenergi begini ya.
"Ya sudah..ya sudah. Rempeyek ini kalian bawa ya. Ibu membuatnya kemarin malam.
"Nah bawalah. Yang toples ini untuk mami, ya Laras?"
"Baik bu. Kalau begitu kami pamit bu. Salam Laras untuk ayah."
"Ya. Hati-hati ya nak."
Ibu melepas kepergian mereka hingga menghilang dari pandangan. Kediamannya kembali hening sunyi.
Di rumah masa kecil Vim...
__ADS_1
"Apakah ada yang mencari saya?" Ibu Maharani bertanya pada asistennya yang selama ini menggantikan posisi Laras. Beliau baru saja bangun dari tidur siang.
"Tamu dari luar tidak ada bu tapi sepertinya tuan muda datang. Saya cuma mendengar suaranya sebab saya sedang di belakang."
"Baiklah. Terima kasih."
Ibu Maharani memeriksa laporan yang disampaikan oleh sang asisten. Sedikit pertanyaan dan anggukan di kepala beberapa kali. Laporan dianggap sudah benar dan sesuai dengan barang riil. Ibu Maharani meninggalkan sang asisten.
"Mami kami datang!"
Itu adalah suara Vim batin si mami.
"Ooh.. anak-anak mami rupanya. Kalian sudah lama?"
"Sudah mi. Kami sudah mau pulang." Jawab Vim seenaknya. Sifat isengnya muncul jika berada di rumah masa kecil. Laras mencubit kecil pinggang Vim.
"Aaauuw!"
"Sungguh tidak sopan."
Laras membelalakkan matanya.
"Kami cuma bawakan ini buat mami. Mohon maaf cuma sedikit."
"Tidak apa-apa Laras. Kenapa kalian tidak bawakan mami cucu... Vim, Laras. Mami ingin menggendong baby kalian." Mami mendudukkan bokongnya di sofa. Wajahnya cemberut seperti anak kecil yang tidak kebagian jajanan yang sangat diinginkan.
"Mami sabar ya. Laras dan Vim sedang usaha kok. Do'akan kami ya mi." Pinta Laras.
"Benar? Kalian tidak menghindarinya bukan?"
"Tidak mom. I Swear." Vim meyakinkan maminya. Senyuman mami mengembang. Vim lega berhasil memujuk mami lagi.
"Hari semakin sore. Kami pamit ya mi." Vim berdiri diikuti oleh Laras.
"Eeeh tunggu sebentar. Ada yang mami mau sampaikan. Itu loh Vim, Vadli katanya mau beli mobil buat di sini dan katanya lagi mami boleh menggunakannya setiap hari."
"Lantas? Mami kan sudah punya mobil."
"Nah itu. Jadi mami pikir-pikir mobil mami itu buat Laras saja. Masih bagus kok."
"Wah dengan senang hati mami. Laras mau banget."
"Iya bawa saja."
"Bisa bawanya?" Vim bertanya. Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban karena ia tahu Laras sama sekali tidak bisa mengemudikan mobil.
"Hahaa Laras belajar dulu."
"Tidak apa. Kalau Laras sudah bisa mengemudi, Laras bisa membawanya ya."
"Terima kasih banyak mami."
Dan mereka pun pulang bersama Pak Uun dan Bi Am. Dalam perjalanan tidak ada seorangpun yang berbicara. Bibi Am sungkan mengajak Laras berbicara apalagi dilihatnya Laras sangat fokus memperhatikan jalanan dari balik kaca mobil. Di bagian depan Vim dan Pak Uun tidak mengeluarkan kata-kata juga.
Adalah kata-kata baby dan anak yang silih berganti berputar di kepala Laras. Hampir satu tahun menikah mereka belum dikaruniakan momongan. Laras menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Membuat semangatnya turun. Laras percaya ia dan Vim dalam keadaan baik-baik saja. Sistem reproduksi mereka dinyatakan normal oleh dokter. Tidak sedang bermasalah. Laras masih muda. Masih tersedia banyak waktu untuk melahirkan bayi-bayi lucu nan menggemaskan. Lalu mengapa satupun dari mereka belum hadir diantara dirinya dan Vim sebagai tanda cinta mereka berdua.
"Laras kau baik-baik saja? Laras sedang apa bi??" Vim memecah keheningan. Suaranya tidak lunak tidak juga keras.
"Non Laras memandang ke luar Den. Non..non dipanggil Den Vim."
__ADS_1
Bibi menyentuh bahu kanan Laras dengan lembut.
"Oh ee... aku mas. Apa yang bisa kubantu? Kamu mau meminta sesuatu mas?"
Kau tidak baik-baik saja kesayangan.(Vim)
Aku baik-baik saja.(Laras)
"Tidak aku hanya meyakinkan diriku bahwa kau masih di situ." Vim membuka pintu mobil sesaat terparkir di dalam garasi. Membukakan pintu untuk Laras dan menuntunnya masuk.
"Bi tolong diurus semua barang ya." Vim meminta tolong. Anak yang diasuhnya sejak kecil ini tidak lagi banyak membentak-bentak, batin bibi.
"Baik Den. Bibi benahi semua."
"Maaf ya bi. Kalau bibi masih letih bisa disambung besok saja." Ujar Laras pula. Senja mulai menampakkan diri, bibi pasti lelah juga. Malam akan datang dan bibi perlu beristirahat.
"Iya non. Yang bisa dikerjakan besok, bibi selesaikan besok."
"Iya bibi atur saja mana baiknya. Oya pak nanti bapak tolong belikan makanan di ruko depan ya. Ini uangnya."
Laras menyebut beberapa menu makanan dan berapa porsi yang harus dibeli serta memberikan uang. Setelah mengucapkan terimakasih, ia dan Vim beranjak ke kamar mereka.
"Kau lelah. Duduklah dulu."
"Di sini saja mas." Laras memilih kursi goyang. Tubuhnya mengikuti gerak kursi ke depan lalu ke belakang.
"Aku siapkan air hangat ya."
Laras belum sempat menjawab namun Vim berlalu cepat ke kamar mandi. Muncul kembali di hadapan Laras memberikan isyarat agar Laras membersihkan diri.
"Baiklah aku mandi sayang. Boleh gantian duduk di sini. Silahkan."
"Boleh kumandikan?"
"Hari ini tidak boleh karena aku tidak mau berlama-lama."
"Sebentar saja." Vim menatap Laras penuh arti.
"Tidak. Tidak. Duduklah dahulu ya." Laras menarik tangan Vim. Vim mengikutinya. Menyandarkan punggungnya ke kursi goyang.
Lima belas menit berlalu Laras belum muncul juga. Vim terlena dalam buaian kursi goyang. Hampir saja tertidur jika Laras tidak membangunkannya.
"Giliranmu mas. Mandilah."
"Sekarang menjadi sangat dingin. Duduklah di sini." Vim menunjukkan kedua pahanya.
"Apa? Nanti ada waktunya sayang. Sekarang membersihkan diri lalu kita harus makan.Oke??"
"Baiklah tuan putri."
Mereka tertawa bersamaan. Bahagia hadir menyingkirkan lara di hati. Saling menerima saling menghibur untuk kemudian saling menguatkan satu sama lain menghadapi cobaan yang menerpa.
π»π»π»π»π»
Baru bisa update lagi.π€
Selalu jaga sehat ya..dalam kondisi seperti ini.
π·Like, comment, fav, gift and vote.π·
__ADS_1