
Laras menggeliat bangun. Menyadari ketiadaan Vim di kamar. Menyisir rambut dan mencari Vim ke penjuru rumah. Tidak ketemu. Lanjut ke halaman depan, samping kiri dan di halaman kanan rumah, Laras mendapati Vim sedang mengawasi sekeliling.
"Pagi mas, ngapain di situ."
Vim diam saja. Lalu," Panggil aku sayang." Kata Vim lagi tanpa menoleh.
Laras menarik nafas pelan dan dalam.
"Sayang ngapain di situ?"
"Aku menikmati suasana pagi. Masih asri belum dicemari asap rokok."
"Mas tidak bangunkan aku."
"Kau sangat lelap."
"Kita ke dalam ya sayang."
Vim luluh dengan bujukan Laras.
Mengikuti Laras masuk ke rumah. Langsung ke kamar dan berbaring lagi.
"Aku ambilkan sarapan ya."
"Tidak usah. Aku sudah makan."
"Oo..kalau gitu aku tinggal dulu ke belakang ya.
"Pergilah."
Laras merasa dirinya ceroboh membiarkan Vim mencari sarapan sendiri. Padahal di rumah orang tuanya ia biasa dilayani oleh pembantu atau Laras. Tapi tidak apalah baru pertama kali ini mereka bersama secara resmi, batin Laras.
Laras ke belakang, menyapa Ibu dan saudara-saudara serta masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri di sana dengan dinginnya air di daerah tempat tinggal Laras.
Brrrrrr.
Laras melilit tubuhnya dengan handuk big size. Sejenak terdiam beradaptasi dengan rasa dingin. Kemudian ia memakai baju yang dibawanya. Enggan memakai pakaian ganti di kamar karena ada Vim. Rasa malu tubuhnya dilihat Vim.
"Ras kamu itu kalau bangun lebih cepat dari Vim kenapa?"
"Bu, Laras terasa cape sekali sampai-sampai Laras tidur enak banget. Tidak sadar waktu mas Vim bangun."
"Diusahakan ya Laras, kecuali bila tidak enak badan." Nasehat Ibu.
"Baiklah bu. Laras usahakan bila perlu pakai alarm."
Ibu perhatian banget. Sampai hal sekecil itupun diingatkan.
"Sekarang ajak mas mu makan, kasihan tadi baru makan mi saja."
"Tadi sudah Laras tawarkan tapi menolak."
"Begitu. Laras baik-baik membawa dirimu nak. Kamu sekarang sudah menjadi istri orang." Pesan Ibu.
"Laras akan ingat pesan Ibu."
"Baguslah."
"Laras ke kamar dulu Bu."
"Ya."
Laras berpikir dunianya ini sempit. Kesehariannya berada di rumah Ibunya dan kediaman Ibu Maharani. Bepergian keluar rumah jika diajak Ibu Maharani pergi berbelanja atau ke salon. Selebih
nya menjalankan tugasnya di rumah Ibu mertuanya itu. Setelah ini bisa jadi Laras kembali tinggal di sana mengikuti Vim.
Tidak berasa waktu berjalan cepat. Vim yang tadi ketiduran telah bangun. Laras menemani sejak tadi sambil mengemasi seserahan ke dalam lemari.
Drrrrtt...drrrrtt.
Vim meraih hp yang barusan bergetar. Panggilan dari Pak Uun.
"Siang Den, Sebentar lagi sopir baru menjemput Den Vim dan Non Laras."
"Baik Pak. Terima kasih."
Panggilan dihentikan oleh keduanya.
"Bersiap Laras. Sopir datang menjemput."
"Baik mas."
"Jangan kau bawa lagi piyama tadi."
"Aku suka."
__ADS_1
"Aku tidak suka."
"Aku pakai apa untuk ganti mas??"
"Nanti dicarikan. Bawa yang penting saja."
Memangnya piyama tidak penting?? Tidak mungkin daster yang kubawa. Bisa-bisa dia marah nanti.
"Sudah? Yang lain sudah siap belum?"
"Sudah mas. Mereka sudah tahu waktunya."
Semuanya bersiap bergerak ke hotel untuk pelaksanaan resepsi nanti malam.
Suara Ibu memanggil Laras. Menyampaikan bahwa sopir telah datang menjemput. Laras dan Vim keluar dengan sebuah bag ukuran sedang.
"Selamat siang Den. Kenalkan saya Topo." Sapa sang sopir.
"Selamat siang Kang."
Laras masuk ke mobil diikuti oleh Vim. Sopir menjalankan Mobil atas perintah Vim. Lantas mereka sama-sama bungkam. Masing-
masing memikirkan jalannya resepsi nanti malam. Semoga lancar.
Vim melihat ketegangan di wajah Laras. Vim sendiri sedikit lega setelah acara kemarin pagi berlangsung lancar. Baginya kemarin adalah saat yang paling penting di mana ia telah resmi mempersunting Laras. Berarti ia berhak sepenuhnya atas Laras menurut hukum agama.
Kemewahan pesta tak diragukan lagi. Ada pula Edo di sana yang terlihat asyik berbicara dengan tamu yang lain. Lalu ada Dion dan keluarga kecilnya dan para kerabat Vim. Hampir tengah malam pesta baru usai.
"Aaaaahhh."
Vim menjatuhkan tubuhnya ke bed, seperti biasa jika ia merasakan lelah. Laras membersihkan make up yang menempel di wajah. Dia baru teringat tentang pakaian untuk tidur. Pakai apa?
"Sayang bajuku?"
"Nggak usah pakai baju"
"Haaahh???"
"Iya pakai selimut saja. Ini besar dan tebal."
"Nggak ah."
"Coba kau buka kado-kado Itu. Barangkali ada baju cantik buat tidur . Kata Dion waktu mereka menikah, ada lima kado baju tidur wanita yang sexy, yang diterima Anggia."
"Bantu aku mencarinya."
Laras berhenti mencari. Tubuhnya menyandar ke dinding. Wajahnya mulai berubah cemberut.
"Nah ini. Kau beruntung tubuhmu ditutupi oleh set ini."
Vim menyerahkan pakaian tidur wanita dengan desain sexy, yang ngetopnya seantero jagad itu.
"Anggia dan Dion."
Dari Dion rupanya. Ceklek. Mengabadikan si produk pakaian tidur itu lalu Vim mengirim potonya ke Dion dengan emoji lidah mengejek.
"Tipis sekali."
"Memang begitu. Pakai saja."
"Tidak mau."
"Terserah. Aku mengantuk."
Sebenarnya yang dicari Laras adalah piyama namun Laras belum menemukan benda itu, justru yang didapatnya adalah produk tipis yang menerawang bentuk tubuh jika digunakan.
Dilihatnya Vim sudah memejamkan mata. Laras memperhatikan dirinya sejenak.
Tidak berapa lama Laras membaringkan tubuhnya di sebelah Vim dengan bathrobe masih menempel di tubuh.
Lebih baik pakai bathrobe saja dari pada si L yang tipis menerawang.
...~~...
Pagi yang mendung..
Vim terbangun lebih dulu. Membasuh wajah kemudian meraih hp.
"Tadi malam Aurora menanyakanmu. Pukul satu."
Deg. Seketika jantung Vim seperti sedang di palu. Sakit membaca nama itu. Sebuah pesan singkat dari Edo.
Apa perdulinya padaku. Tak ada ruang dan waktu untukmu lagi Aurora. Sama seperti kau meninggalkanku waktu itu. Lihat penggantimu lebih cantik bukan?
Wajah Vim berubah datar. Vim melirik Aurora yang masih terbungkus selimut. Tersirat damai di wajahnya sepolos hatinya. Vim yakin Laras tidak sama dengan Aurora. Tidak akan mengkhianati Vim.
__ADS_1
Flashback On.
"Vim aku harus pergi menuruti keinginan papa. Jaga diri baik-baik. Semoga kau bahagia. Maafkan aku Vim."
Itu pesan yang dikirim Aurora untuk Vim kala itu. Tanpa penjelasan, tanpa cerita apapun sebelumnya jika Aurora mempunyai masalah. Sangat
menyakitkan.
Vim baru saja menghadiri wisuda Aurora dua hari sebelumnya. Semua terlihat baik-baik saja. Kedua orangtua Aurora sepertinya berpihak pada Vim. Setuju dengan hubungan mereka. Bahkan mereka sudah pacaran dari saat di SMA. Vim dan Aurora sudah mengenal keluarga masing-masing. Tidak ada yang keberatan dari pihak keluarga. Vim dan Aurora sangat serasi menurut pandangan mereka.
Tapi Tuhan punya rencana lain. Aurora dinikahkan dengan orang lain oleh papanya. Hari itu Vim meraung marah dan sakit hati. Mengunci kamar seharian dan terpaksa pintu dibobol oleh Pak Uun Sopir atas perintah Ibu Maharani.
Seisi kamar dibuat porak poranda oleh Vim. Tinggal satu langkah lagi bagi Vim melamar Aurora tapi gadis itu memilih orang lain tanpa cerita yang Vim dengar secuil pun darinya.
Vim frustasi. Hampir tiga bulan Vim kurang memikirkan dirinya sendiri. Tidur atau tidak tidur bukan masalah bagi Vim. Lebih banyak menghabiskan waktu di klub malam daripada memikirkan langkah esok. Edo dan Dion bergantian menjaga Vim di klub malam.
Sampai suatu malam Vim pulang ke rumah dengan mulut bau alkohol yang amat sangat. Dipapah oleh Edo sang sahabat setia. Papi Vim yang malam itu sengaja menunggu, menghadang dari pintu kamar Vim yang terhubung dengan kolam renang keluarga.
Plaaaakk. Plaaaakk.
Tamparan keras mengenai pipi Vim. Vim terus mengoceh tidak beraturan.
" Lagi mabok oom." Ujar Edo.
Edo terus memapah Vim ke kamar mandi. Mendudukkannya di sana dan menyiram Vim dengan air. Mengelap dengan handuk, membuka pakaian Vim dan memasangkan pakaian yang kering. Edo membawa Vim ke atas ranjang. Memperhatikan wajah Vim dengan rasa iba.
"Saya pulang oom."
"Terima kasih nak Edo."
"Sama-sama oom."
Edo pamit. Vim ditinggalkan sendirian. Sampai d sini Vim mendengar cerita ini dari Edo keesokan hari karena pagi hari Vim dipanggil lagi oleh Pak Dewantara di ruang kerjanya.
Vim memdapat tamparan keras lagi yang menyisakan luka disudut bibir. Papinya benar-benar marah.
Vim tidak berniat melawan karena ia tahu dirinya bersalah. Ia menunduk dalam.
Vim diberi waktu untuk memperbaiki diri. Jika tidak berubah Vim akan didepak dari daftar keluarga. Wejangan dari Papa mengalir pagi itu menyirami jiwa Vim yang gersang. Dengan caranya sendiri. Dengan cara papa yang tegas tapi mengena akhirnya jalan pikiran Vim kembali baik.
Vim lalu mengajukan permintaan sekolah di negeri orang pada orang tua. Papi dan Mami mendukung dan amat bersyukur Vim tidak lagi terkungkung dengan masa lalu.
Di tempat Vadli tinggal-kakak tertuanya-Vim menimba ilmu. Di sana dengan tekad Vim yang kuat ia mencari kesibukan di sela-sela kuliahnya. Alhasil Vim bisa menyingkirkan pengaruh Aurora. Melepaskan gadis itu dari hatinya meskipun bayangan Aurora terkadang hadir mengganggu.
Vim kembali pada dirinya yang semula. Hanya saja bila rasa sakit dihatinya muncul bila teringat Aurora, Vim mencari pelarian dengan mabuk lagi. Melupakan rasa sakit dengan cara instan meskipun tidak bisa hilang begitu saja.
Flashback Off.
"Mas melamun??"
Sapaan lembut Laras membuyar
kan lamunan Vim. Laras duduk di sebelah Vim.
"Melamunkan apa. Maaf ya mas aku baru bangun."
"Tidak masalah."
Tiiing.
Hp menyala menampilkan pesan masuk. Mata keduanya mengarah ke hp. Kebetulan hp dibiarkan terbuka oleh Vim dari tadi. Masih di jalur pribadi dengan Edo.
Vim membaca sebentar kemudian menyerahkan hp itu pada Laras.
"Aku boleh membacanya?" Tanya Laras ragu.
"Bacalah. Aku tidak menyimpan rahasia apapun padamu kecuali hal-hal berkaitan dengan rahasia perusahaanku."
Laras melihat hanya kalimat-
kalimat dari Edo yang masuk. Vim tidak membalas pesan itu satu kalipun.
"Aurora telah bercerai mas. Ini poto surat cerainya."
"Aku sudah tidak perduli."
Laras mengucapkan syukur dalam hati. Vim beritikad baik melupakan Aurora.
"Kalau begitu apa yang mas pikirkan?"
"Aku ingin mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku."
"Aahh yang benar??" Goda Laras.
Tawa Laras terdengar renyah dan lepas. Matanya menyipit hampir tertutup semua. Vim sangat suka.
__ADS_1
Like, Comment and Vote.🤗😍