
Ibu datang ke rumah mami Maharani membawa buah-buahan dari halaman rumah mereka. Mendengar Laras hamil ibu sangat suka cita.
"Ibu bahagia mendengarnya nak. Akhirnya datang juga calon bayi kalian."
"Berkat do'a kita semua bu." Ucap Laras senang melihat ibu bahagia.
"Hati-hati ya nak. Dijaga kandungannya."
"Iya bu. Do'akan Laras terus ya bu."
"Kamu ingin ibu buatkan apa?"
Laras berpikir sebentar.
"Laras kepingin dendeng age bu."
Dendeng age buatan ibu sangat Laras sukai. Sudah lama Laras tidak pernah menyantapnya.
"Oh itu..kamu kangen dendeng age? Besok ibu bikinkan."
"Besok kami ke sana bu."
"Tidak apa-apa ibu antar ke sini saja."
"Ibu.. Laras kan ingin lihat rumah kita." Laras agak merungut persis seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.
"Ya..ya.. terserah kalian saja.
Datang silahkan, nggak datang juga tidak apa-apa. Pintu rumah selalu terbuka untuk kalian."
"Oiya ibu mau minum apa? Laras sampai lupa nawarin ke ibu."
"Tidak usah Laras. Ibu mau pulang. Jaga diri ya sayang."
"Ah ibu.. cepat sekali. Temani Laras dulu." Laras memegang tangan ibu. Manja.
"Eh..eh sebentar lagi jadi seorang ibu. Lebih dewasa lagi Laras." Tangan ibu menepuk punggung tangan Laras.
"Hmm iya..iya. Ya sudahlah. Titip salam buat ayah, bu."
"Nanti ibu sampaikan ke ayah. Besok kan ketemu ayah."
"Iya sih."
"Ibu nggak jadi pulang sayang kalau diajak ngobrol terus."
"Ya sudah ibu boleh pulang. Ayah menunggu."
Ibu berlalu dari sana. Laras meletakkan sebagian buah-buahan ke meja makan. Sebagian lagi dibawa ke kamar setelah ia cuci. Untuk dimakan di kamar.
Laras memperhatikan asisten mami Maharani yang sedang menulis. Dulu dia yang menggantikan Laras ketika Laras harus mengikuti Vim pindah rumah. Asisten merasa ada yang memperhatikan dirinya. Seketika menoleh. Ada Laras berdiri di depannya. Senyuman Laras mengembang.
"Sore nona. Selamat atas kehamilannya nona.."
"Sore. Terimakasih ya."
"Terimakasih juga nona atas bonus yang diberikan kemarin."
"Bonus??"
"Iya kata ibu dari nona buat kami. Rasa syukur atas kehamilan nona. Semoga sehat selalu nona."
"Ooh..iya iya. Sama-sama. Terima kasih do'anya ya. Kamu juga sehat selalu."
Laras keluar ke halaman samping. Di sana ia sering melewati pintu pagar dinding ketika mengantarkan barang ibu kepada mami Maharani.
Para pekerja menyapa Laras, memberikan ucapan selamat dan do'a buat Laras. Laras santun membalas ucapan mereka. Dia bukan siapa-siapa untuk berlaku sombong. Nasib baik yang membawanya menjadi menantu rumah ini dan disayang oleh seisi rumah.
"Hati-hati non awas menendang batu." Bapak setengah tua itu yang sering menegur Laras saat Laras datang ke rumah tersebut.
Laras mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih bapak. Istirahat dulu, kopinya diminum pak."
"Iya non."
Laras berkeliling. Ikan-ikan di kolam berenang riang kesana-kemari seolah menyambut kedatangan Laras.
Laras menuangkan makanan ikan. Tersenyum tatkala ikan-ikan berebut makanan. Hal sepele namun berarti bagi Laras. Memberi makan makhluk-makhluk kecil itu adalah sebuah kebaikan.
Ikan doakan aku, aku selalu sehat hingga selesai melahirkan dan baby lahir dengan selamat.
"Ras...Laras!"
Panggilan Vim menggema di dalam ruangan. Ah dia selalu begitu kalau di rumah mami. Bagai anak kecil minta perhatian.
"Aku mas. Ada apa?"
"Kau dari mana? Aku mencarimu di kamar."
__ADS_1
"Aku memberi ikan makanan. Ada apa?"
"Kukira kau tidak ada di rumah. Laras kau sudah minum juz?"
"Belum mas tapi.. aku mau buahnya saja. Kita ke kamar ya. Tadi ibu datang mengantarkan buah-buahan." Laras menarik tangan Vim agar Vim mengikuti Laras ke ke kamar."
Ada buah kelengkeng, sawo dan Srikaya. Semua berasal dari halaman belakang rumah Laras.
"Masak dari pohon. Ini sangat bagus." Ujar Vim sembari memperhatikan buah-buahan di dalam plastik.
"Mengapa tidak dimakan?" Tanya Vim pada Laras.
"Belum mas. Aku baru selesai mandi."
"Kita makan sama-sama ya."
Tak butuh persetujuan Laras, Vim melesat ke dapur mengambil pisau dan piring.
"Sawo. Kau suka sawo?"
Sebuah sawo berada di tangan Vim. Vim membuang kulitnya. Kemudian Vim membelah sawo menjadi dua dan meletakkan di piring
"Makanlah."
"Tunggu mas selesai mengupas."
"Sudah. Makanlah."
Walaupun terbiasa memakan buah-buahan tersebut, Laras memakan dengan lahap.
"Mengapa aku saja yang makan. Bantuin dong mas."
"Buatmu saja."
"Tadi katamu makan bersama. Coba mas rasa." Laras menyodorkan potongan sawo kepada Vim. Vim menolak.
"Yaah gitu deh." Laras bersungut.
"Sepotong saja, oke? Habiskan yang lainnya."
Vim menerima suapan sepotong sawo supaya Laras tidak kecewa.
"Laras kau menginap di rumah ibu beberapa hari lagi. Aku pulang duluan."
"Nggak gitu mas. Aku ikut pulang."
Dia hanya mau berdekatan dengan Vim. Datang berdua dan pulang ke rumah mereka berdua pula. Mengapa ia ditinggal di sana? Mata Laras memerah.
"Nggak. Kelilipan saja."
Laras menunduk menyembunyikan wajah dari Vim. Tiba-tiba berasa sedih mendengar
Vim akan pulang terlebih dulu.
"Jangan ajari anakmu bohong."
"Mas bawa aku jika mas pulang ke rumah kita. Aku nggak mau ditinggal."
Maksud Vim adalah agar Laras puas melepaskan rindu kepada kedua orang tuanya.
"Kau tidak mau lebih lama di rumah ibu. Kenapa? Aku tidak melarangmu Laras."
"Aku tidak mau saja. Aku ikut pulang kalau mas pulang." Laras bersikeras.
"Kapan kita ke rumah ibu?"
"Besok. Aku meminta ibu memasak dendeng age."
"Besok sore ke rumah ibu."
"Iya."
Vim menunduk. Memandang perut Laras. Perut yang masih datar. Mengelusnya sekali.
"Anak papi. Baik-baik di dalam ya. Tumbuh sehat dan jangan menyusahkan mami. Oke sayang."
"Baik papi." Laras menjawab.
Vim mengacak rambut Laras. Gemas campur bahagia. Tidak sabar menunggu besarnya perut Laras lalu si bayi mungil lahir dan menyapa dengan tangisan. Tujuh bulan lagi.
"Sepertinya dia lelaki." Celetuk Vim.
"Tahu dari mana." Laras mencebik.
"Perasaanku mengatakan."
"Kalau begitu aku bisa bilang, perasaanku anak kita perempuan sayang."
"Haahaa itu maumu. Bayi laki-laki atau perempuan yang penting sehat. Ingatkan aku saat tanggal periksa tiba."
__ADS_1
"Baik mas."
Vim berhasrat menemani Laras memeriksa kandungannya. Dia bertekad mengikuti setiap perkembangan janin darah dagingnya itu.
Setiap jam berlalu penuh dengan perhatian-perhatian kecil. Aktivitas Laras tak pernah luput dari perhatian Vim.
Suasana meja makan sangat hening. Sesekali terdengar dentingan sendok menyentuh piring. Hingga selesai makan malam masing-masing diam.
"Vim..Tembok bagian samping dan belakang Villa akan ditinggikan. Sementara itu dulu yang lain menyusul perbaikan." Papi mengawali pembicaraan selesai makan.
"Mana yang baik saja Pih."
"Vadil dan Vicky mengirim uang." Papi menyebut nama kedua abang Vim.
"Oh aku belum pih."
"Kau nanti saja menutupi kekurangannya. Itupun kalau ada ." Cegah pak Dewantara.
"Terima kasih pih."
"Ya..ya. Bagaimana cucu papi?"
"Baik-baik saja Pih."
"Bagus. Mih tolong papi ya."
Pak Dewantara meninggalkan meja makan. Berikut mami mengikuti masuk ke kamar.
"Aku ke kamar duluan sayang."
Vim bangkit mengecup puncak kepala Laras dan berlalu.
"Iya mas."
Bibi datang membantu Laras menyingkirkan peralatan makan ke dapur.
"Non jangan banyak bergerak. Bibi saja yang membersihkan."
"Tidak apa bi cuma sedikit ini."
Tidak terlalu lama pekerjaan selesai. Laras kembali masuk ke kamar.
"Sedang apa mas?" Sapaan lembut Laras hampir tak terdengar oleh Vim.
"Ya sayang?"
"Sedang apa. Memikirkan sesuatu ya."
"Memikirkan nama anak kita."
"Sudah ketemu?"
"Lelaki Vidi, Vino, Varen."
"Apakah harus berawalan V juga?" Laras tertawa.
"Tidak juga."
"Terserah saja mas. Aku ikut saja."
"Laras..ini adalah untuk anak-anak kita. Berikan idemu."
"Aku belum mencari namanya. Masih panjang waktunya mas."
Vim melihat Laras meringis. Seketika khawatir menyelinap.
"Mengapa? Sakit?"
"Sedikit menegang."
"Hati-hati. Berbaring saja."
Vim mengangkat Laras ke atas bed kemudian mengusap perut Laras.
"Tenang baby. Kasihani ibumu ya." Bisiknya.
"Sudah berkurang kok mas. Hanay sebentar saja."
"Baguslah. Diamlah di situ. Kalau mengantuk katakan padaku. Kau belum minum susu."
"Iya sayang. Saat ini masih kenyang."
...🍁🍁🍁...
Bersambung...
Berikan jejak di novel author..
Luv u readers.❤️
__ADS_1
Terima kasih.💞💐