
Laras mengitari pusat perbelanjaan di bagian paling bawah gedung. Pusat perbelanjaan paling besar dan lengkap di kotanya. Ditemani bibi yang mendorong kereta besar untuk menampung barang belanjaan nya, beberapa item sudah mengisi keranjang belanja.
Ia mengambil beberapa macam bahan lauk pauk yang bisa diolah menjadi masakan yang menarik dan sedap dimakan. Tidak ketinggalan udang-udang segar kesukaannya ia pilih.
Berpindah tempat ke bagian bahan makanan beku dengan beraneka model dan cita rasa. Laras mengambil nugget ayam madu, bakso ikan dan sosis kesukaannya. Suatu waktu Laras akan menggoreng mereka dan menjadikan makanan camilan yang enak. Yuuuumy..
"Satu lagi bi..Laras lupa ambil yogurt."
"Ambil non sebelum kita keluar."
Mereka menghampiri yogurt. Mengambil yogurt berukuran sedang saja. Minggu depan bisa membeli lagi. Cukup sudah.
"Vim tidak akan suka yogurt rasa original. Percayalah."
Deg. Suara wanita ini sukses membuat Laras terkejut. Wanita seperti hantu yang selalu mengekornya dan membuatnya berasa tidak nyaman. Pada waktu itu Laras berada di taman, makhluk ini muncul dan sekarang Laras berada di sini ia hadir di sini pula.
"Vim selalu bisa menyenangkan hatiku. Dia akan suka apapun yang kusuguhkan dan aku menyuguhkan semua yang terbaik untuknya." Laras menjawab santai. Melanjutkan mengambil tofu disebelah yogurt.
"Setahuku dia menyukai rasa oren.
Sebaiknya kau membeli rasa itu."
"Oh tidak. Sejak bersamaku selera Vim telah banyak berubah. Aku selalu membuat Vim menyukai varian rasa yang berbeda dari biasanya. Kau mengapa tidak bekerja?" Laras ingin tahu.
"Aku membawanya berobat. Singgah di sini untuk menyenangkan hatinya."
Aurora mengelus pucuk kepala milik Rafli anaknya. Si bocah mendongakkan kepalanya.
"Mommy..I want ice cream."
"No. Jika sudah sembuh, oke?"
"Kau lihat menyenangkan sekali punya anak kecil. Bagaimana dengan kalian? Kapan memiliki anak?"
Laras merasakan pertanyaan itu dibuat-buat oleh Aurora. Menyinyiri keadaan Laras yang sesungguhnya.
"Kami..kami sedang proses membikin anak. Kau tahu setiap malam kami menghabiskan malam bersama untuk itu dan takkan pernah lupa sepanjang hidupku dia sangat menyintaiku. Malam-malam semakin menjalin kedekatan kami berdua dan kau mengapa masih saja mengurusnya?"
Laras belum mau beranjak dari situ. Masih sanggup meladeni kata-kata Aurora selanjutnya. Bibi sudah memberikan kode melalui isyarat mata agar mereka meninggalkan tempat tersebut namun Laras tidak menggeser berdirinya sesenti pun apalagi berlalu pergi.
"Dia pernah mengisi sebagian hidupku, dia pernah menyintaiku.."
__ADS_1
"Itu dulu Aurora. Sekarang tidak lagi. Seluruh hidup Vim telah terisi oleh namaku. Kau telah tersingkir. Pergilah menjauh dari kami." Laras berkata penuh percaya diri dan bangga. Tofu mendarat di keranjang belanja.
"Bukan berarti kau menguasai Vim sekarang!" Bantah Aurora.
"Aku tidak menguasainya tapi Vim sendiri tidak mau lepas dari ku. Sebentar lagi ia pasti menelpon menanyakan keberadaanku. Perhatian sekali bukan?"
"Kau!! Kau menggoda Vim selama ini." Kekesalan mulai terpancar di wajah Aurora. Rasanya ia ingin menerkam Laras.
"Aku tak pernah menggodanya
Dia tergoda padaku haha." Laras tertawa ringan. Senang bisa membuat Aurora naik pitam alias marah. Laras menyibakkan anak rambutnya yang menutupi pipi kiri.
"Terimalah kenyataan ini dan mulai langkahmu yang baru. Jangan mengharapkan Vim lagi. Vim sekarang sangat bahagia denganku. Selamat tinggal!"
"Kau! Dasar murahan!!" Aurora menghentakkan sebelah kakinya. Kekesalan memuncak di kepala Aurora. Tangannya ingin mencabik-cabik mulut Laras saat itu juga.
Laras meninggalkan Aurora tanpa rasa bersalah sedikitpun. Lega mengeluarkan rasa dongkol pada Aurora yang selama ini bercokol di hati.
"Sudah bi, kita pulang ya."
Bibi mengiyakan ucapan Laras. Bibi melihat Laras dan Aurora beradu mulut barusan. Menurutnya Laras terlalu berani menghadapi Aurora. Aurora itu tubuhnya tinggi agak lebar meskipun tetap menampilkan lekuk tubuh. Sedangkan nona mudanya memiliki perawakan kecil walaupun gempal dan seksi. Tubuh mungilnya akan kalah jika berhadapan dengan tubuh Aurora.
Satu persatu bumbu dan bahan masakan masuk ke penggorengan dan periuk, dicampur di aduk dan dirasa oleh Laras.
"Coba bibi rasakan..enak belum?"
"Hmm..lumayan non."
"Kok lumayan bi??"
"Iya enak deh."
"Serius bibi?"
"Dua rius non. Enak..pasti den bagus Vim suka."
"Biarkan di sini dulu ya bi seperti biasa. Sudah selesai semua. Laras ke dalam ya bi."
"Silahkan non. Non istirahat saja."
Laras melenggangkan kaki ke kamar. Menyiram tubuhnya dengan air sebentar saja di dalam kamar mandi. Hari ini tidak ada perkuliahan. Kursus bahasa Inggris telah selesai dengan hasil yang bagus. Minggu depan Laras memulai kursus mengemudi. Laras mengkhayal dirinya sedang mengendalikan setir mobil. Bakal menyenangkan bisa menjalankan mobil sendiri. Menjadi sopir untuk diri sendiri.
__ADS_1
"Heh senyum-senyum sendiri!?Bisa kemasukan__"
"Mas Vim??! Cepat sekali pulangnya. Kenapa tidak info lebih dulu mas." Laras tersentak dari lamunannya bila ia mengendarai mobil suatu saat nanti. Wajahnya mendadak sumringah melihat Vim kini telah kembali dari perusahaan.
"Sengaja memberikan kejutan. Aku rindu padamu." Vim membuka kemeja. Membasuh wajah di wastafel dan kembali di samping Laras. Menyigarkan rambutnya ke belakang. Keletihan terpancar di wajahnya namun tertutupi oleh rautnya yang tampan.
"Satu kecupan. Boleh?"
Laras tersipu. Tak ingin menolak namun malu mengiyakan. Bibirnya mengatup rapat.
"Kenapa? Sariawan ya? Kemarilah." Vim meraih pundak Laras dan memberikan kecupan di pipi kanan istrinya.
Satu kali, dua kali. Sudah tiga kali kecupan lembut mendarat. Vim belum mau mengakhiri aksinya.
"Sudah ah sudah banyak." Laras mendorong pelan bahu Vim ke belakang. Bersidekap dengan bantal sofa diantara kedua tangannya.
"Cukup!" Mata Laras menghunjam manik mata Vim. Sesaat saja karena ia takkan sanggup menatap lama-lama. Kalah oleh tatapan Vim yang mematikan menurutnya.
"Perutku agak kembung. Bisa kau memijitku Laras??" Tanya Vim setengah memaksa.
"Pijit?? Tunggu dulu. Kalau perut yang sakit harusnya diolesi minyak angin tapi kau meminta dipijit."
"Di sini sedikit saja." Vim menunjukkan ke dua pundaknya lalu membelakangi Laras.
"Ba..baik. Aku mengambil minyak urut dulu ya."
Minyak urut telah diambil Laras dari kotak P3K. Laras lebih senang meletakkannya bersama obat-obatan lainnya di situ. Duduk di belakang Vim dan siap memijit.
"Lebih keras Laras." Pinta Vim.
"Baiklah." Memijit lagi.
"Sudah mas."
"Terima kasih."
Vim meregangkan ototnya. Lalu meluruskan tubuh di atas sofa. Kepalanya berada di atas pangkuan Laras. Sedetik merasakan hangat menjalar di sekitar lehernya. Laras membiarkan momen tersebut. Menikmati kebersamaan mereka hanya berdua tanpa satu orangpun yang mengganggu. Tidak juga makhluk mungil yang diidamkannya dan Vim. Makhluk yang biasa disebut bayi.
>>>>>>>>
π·πΌπΌπΌπΌπ·
__ADS_1