Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 114. Selalu setia.


__ADS_3

Baby Vian menangis sepanjang malam. Suhu tubuh yang tinggi menyebabkan ia rewel. Laras sama sekali tidak melepaskannya dalam gendongan sebab tangis Vian kembali terdengar jika Laras meletakkan ke dalam ranjang.


Suara tangis Vian terdengar oleh Vim. Andai saja ia bisa berdiri dan bergantian menjaga Vian, Laras akan terbantu. Akhirnya bibi Am yang menawarkan bantuan.


"Non Laras, biarkan Bibi menggendong Vian. Non tidur sebentar. Kita gantian non."


"Ya Bi. Terima kasih. Sssshhh...."


Vian berpindah ke tangan bibi. Laras segera memejamkan mata. Rasa mengantuk tak tertahankan lagi.


"Hoooaaamm...."


Vim ikut tenang karena tangisan Vian sudah berkurang. Ia bisa tidur nyenyak.


Riuh suara anak-anak memenuhi ruangan. Tertawa dan berebut mainan. Berkejar-kejaran dan main bersama lagi. Dunia anak-anak, paling mengasyikkan. Tanpa beban dan tanggung jawab seperti orang dewasa.


"Punya aku." Si kakak menarik boneka dari tangan si adik. Si adik tak ingin berbagi.


"Puuunya aakuuu. Mommy....ehek...eheek...!"


Si adik merengek meminta mainannya. Si kakak menolak memberikan. Akhirnya suara tangisan pecah memenuhi ruangan.


"Kenapa berebut sayang. Kakak..berikan ke adik ya, sayang mommy." Pujuk ibu mereka.


"Aku mau tapi belikan es krim."


"Iya, iya nanti kita beli es krim. Berikan ke Adek ya." Shinta mengiyakan. Baginya yang penting tangis si kecil berhenti.


Hari ini keluarga Vim berkumpul di rumah Laras dan Vim. Mereka kedatangan abang mereka dari negri Belanda. Vadli datang sekaligus melihat keadaan Vim. Selama ini ia hanya mendengar kabar berita saja.


Vadli mendekati Vian dalam gendongan Laras.


"Wajahnya Vim sekali," ujar Vadli.


"Iya kak."


"Mana papinya?" Tanya Vadli.


"Di kamar kak. Nanti kubawa ke sini."


"Biarkan saja dia di sana."


Shinta datang membawa tiga piring kecil berisi potongan puding. Menyerahkan kepada mami, papi dan Vadli.


"Mas...puding."


"Hmm...letakkan dulu." perintahnya.


Laras bersyukur di kelilingi orang-orang yang sayang dengan dirinya. Mereka selalu memberikan dukungan.


Mami bertanya, "Laras, Vian sudah baikan?"


"Sudah mih. Sekarang tidur terus, badannya sudah enakan."


"Baguslah. Kata Bibi, kau menggendong Vian sepanjang malam. Kau pasti lelah. Berikan Vian ke mami dan istirahatlah sebentar. Supaya kau tidak pusing."


"Betul kata mami." Papi menambahkan.


"Tidak apa mi."


Tapi mami Maharani melihat kelesuan di wajah Laras. Matanya sayu dan cekung akibat kurang tidur.


"Sini Vian mamih pegang." Mami mengambil Vian dari Laras.


"Tidur sebentar gih."


"Baiklah mih."


Pak Dewantara berdiri dan memberi isyarat pada Vadli agar Vadli mengikutinya. Vadli menurut. Kamar tidur Vim dibuka Pak Dewantara.


"Papi...." Panggil Vim.


"Ya. Kau sudah tak mau bertemu kami, Vim?"


"Bukan begitu pih. Aku lagi ingin sendiri."


"Tidak baik menyendiri. Anak muda jangan menyerah. Hei...kembalikan Vim yang dulu untuk papi, Vim." Papi menepuk pundak Vim.


"Apa yang harus kulakukan pih?"


"Dari awal papi bilang, terapi Vim. Vadli mau menolongmu."


"Kebetulan aku di sini, pilihan di tanganmu, kau mau ikut kami atau terapi di sini." Vadli menyela.


"Aku menyusahkan kalian."


"Untuk itulah sebuah keluarga ada, Vim. Tolong menolong." Tambah Vadli. Dia menyandarkan bokong di pinggir meja. Pintu kamar tertutup rapat. Hanya mereka bertiga di situ.


"Masih ada harapan. Bangunlah. Lihat Vian dan Laras. Mereka membutuhkanmu. Sekuat usaha Laras untuk mempertahankan keluarga kalian, harusnya sekuat itu juga kemauanmu untuk sembuh." Papi bicara panjang lebar.


"Apa bisa pih?"


"Coba saja. Iringi dengan kemauan dan do'a. Semoga Vim, pertimbangkanlah hal ini."


"Jangan kelamaan pertimbangan. Lebih cepat lebih baik. Masih ada cara untuk sembuh." Vadli tegas.


"Beri aku waktu."

__ADS_1


"Hhhhh... tunggu semua usahamu tenggelam dan Laras pergi?" Tanya Vadli.


Pergi? Laras pergi. Itulah yang Vim mau.


"Laras pergi? Itu tidak mungkin. Dia terlalu setia." Vim percaya diri.


"Kau terlalu yakin. Aku tak yakin ia sanggup melihatmu menangis dan menyesali diri terus menerus. Itu membuatnya tambah sedih dan kehilangan kekuatan!"


"Vim, Papi tunggu jawabanmu sebelum Vadli berangkat. Jangan kecewakan papi."


"Beri aku waktu."


"Waktu bagaimana lagi? Atau kau memang senang duduk di kursi ini....??"


"Mas tolong bicaramu!" Potong Vim.


"Makanya bangun Vim. Sadar! Dunia terlalu indah untuk kau sesali terus. Kau masih muda!"


"Iya. Iya aku tahu."


"Nah jangan patah semangat dong."


"Aku nggak patah semangat," elak Vim.


"Bagus. Cepat bangkit atau aku tak mengenal mu lagi."


"Looh kok gitu?"


"Iya. Pegang kata-kataku."


"Sadis sekali." Vim mencebik.


"Bodo amat. Cepat sembuh dan urus keluargamu!"


Papi berlalu keluar diikuti Vadli. Vim memutar kursi roda dan ikut keluar. Berkumpul dengan yang lain.


"Anak mami, gimana hari ini?" Mami sedang menggendong Vian.


"Biasa mih."


"Oom...aku kangen!" Kata si kecil anak Vadli.


"Oom juga kangen kalian berdua."


"Oom cepat berdiri ya. Nanti kita beli es krim yang banyak sama Tante." Si kakak tak mau kalah.


"Iya sayang. Do'akan oom ya."


"Pasti Oom." Si kakak menjawab riang. Lari keluar rumah diikuti si adik. Shinta mengikuti dan mengawasi kedua anaknya. Kedua anak itu tak akan lama duduk di suatu ruangan. Bergerak dan melakukan apapun yang disukai.


"Berhenti berlari, sayang!" Shinta kepada anak-anaknya.


"Huuuh menyerobot. Weeee!" Si kakak cemberut.


Vim mengedarkan pandangan. Berhenti pada Vian dan mami. Betapa ingin ia menggendong Vian lagi, betapa ingin mengambil alih menggendong Vian agar beban Laras sedikit berkurang. Setiap hari Laras bekerja dan masih mengurus Vian saat malam. Kasihan Laras.


"Laras kemana mih?" Tanya Vim.


Mami menjawab, "Laras tidur. Mami yang suruh."


"Kapan kalian berangkat mas?" Tanya Vim ke Vadli.


"Jum'at depan. Kenapa? Kau mau ikut?"


Tak ada jawaban. Pertanda Vim masih ragu.


"Aku harus ngomong sama Laras dulu kan."


"Laras pasti setuju. Ini untuk kebaikanmu dan kalian. Ah sudahlah. Memang kau yang berat meninggalkan Laras di sini."


"Aku bicarakan dulu mas."


Shinta masuk lagi bersama dua anaknya. Di tangannya membawa gelas mika berisi es selendang mayang. Penjual lewat menjajakan es dan anak-anak meminta.


"Aku yang ini."


"Ini aku."


Keduanya berebut es padahal tersedia dua gelas.


"Mami, papi, mas mau juga?"


"Pesan saja, Shinta. Vim tidak." Perintah Vadli.


Laras datang dengan wajah yang agak segar. Tidur setengah jam mengembalikan tenaga Laras.


"Maafkan Laras. Laras tinggal tidur."


"Ya nggak apa Laras," kata mami.


"Mami, kita sudah boleh makan siang."


"Gimana pih? Mau makan sekarang atau nanti?" Mami bertanya pada papi Dewantara.


"Boleh. Boleh. Mari kita makan."


Laras mempersilahkan anggota keluarga makan sedangkan ia memegang Vian. Mami mengambilkan Vim makanan.

__ADS_1


...☘️☘️☘️...


Vim belum juga diskusi dengan Laras tentang rencana terapi. Laras kembali melakukan pekerjaan sehari-hari. Ia menikmati pekerjaan itu. Walaupun milik Roni tapi Laras jarang bertemu Roni. Roni tidak berkantor di sana.


Hingga suatu siang Laras terkejut ketika Risa menemuinya dan berkata," Kami ditunggu pak Roni di ruang rapat Mega Dian. Segera."


"Looh ada apa? Apa hubungannya denganku?"


"Rapat biasa. Perkembangan setiap cabang."


"Mengapa aku? Kamu saja Risa."


"Apa? Nggak bisa aku, yang duduk di kursi itu kamu, jadi kamu yang melaporkan."


"Wahh mendadak begini."


"Gitulah. Cepatlah bersiap sebelum dia murka."


"Biarin aja. Seenak dengkul!" Laras sewot.


"Kenapa ya nggak ngasih kabar dulu. Aku nggak siap sama sekali. Apa yang harus kusampaikan."


"Sampaikan saja yang kukirim ke WhatsApp kemarin. Kurang lengkap tapi yah...daripada kamu diomelin sama dia."


"Benar juga. Laporan sampai bulan kemarin..lumayanlah."


"Sudah. Buruan."


"Iya, berangkat nih."


Laras mengemudikan mobil ke suatu tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya. Mirip sebuah resto besar tetapi memiliki ruang khusus untuk pelaksanaan rapat. Laras terlambat sepuluh menit. Empat pasang mata tertuju padanya.


"Selamat siang. Maaf saya terlambat." Laras menganggukkan kepala.


"Saya harap anda bisa tepat waktu selanjutnya," ucap Roni.


"Saya Pak."


Dan masing-masing yang hadir mengutarakan laporan yang dibawa. Laras tidak tahu apakah yang ia paparkan memuaskan Roni atau tidak.


"Rapat selesai dan sampai jumpa di lain kesempatan. Laras, anda tetap di sini. Ada yang ingin saya tanyakan."


Deg. Inilah yang Laras hindari. Pertemuan empat mata dengan lelaki yang tak diinginkan.


Entah apa yang akan ditanyakan Roni. Laras berusaha menetralkan perasaannya yang tak nyaman. Tiba-tiba ia ingat Vim. Rindu ingin berada di dekat Vim. Sedang apa Vim di rumah.


Laras duduk di tempatnya. Roni menatap intens. Sedikitpun Laras tak ingin melihat Roni.


"Kau betah kerja di tempatku?" Tanya Roni.


"Ehmm...semakin betah jika bayarannya fantastis."


"Hahaah...kau mau ditambah berapa? Tapi dengan satu syarat."


"Kalau begitu, cukup sekian."


"Menikahlah denganku. Kau mendapatkan apa saja."


"Bayaranku sudah cukup. Aku tidak memerlukan tambahan lagi. Permisi."


Laras bergegas keluar dengan tas di pundak. Rambutnya yang indah bergerak ke kiri ke kanan.


"Laras! Tunggu! Aku belum selesai bicara." Roni mengejar. Makhluk satu ini mau apa lagi.


"Satu kali saja Pak Roni."


"Tinggalkan Vim. Menikahlah denganku. Kau akan mendapatkan segalanya."


"Aku mendapatkan segalanya dari Vim."


"Tapi tidak kepuasan batin."


"Maaf, anda sok tahu. Terima kasih atas penawaran anda." Laras cepat-cepat melangkah. Roni menggerutu. Mengambil barang miliknya di ruangan dan keluar mengejar Laras.


Di luar seseorang mengamati Laras dari jauh. Laras tidak boleh tahu jika ia dibuntuti kemana pun. Roni mengejar Laras.


"Kau tidak bisa menghindar dariku Laras."


"Siapa bilang, Pak Roni? Tergantung saya sendiri."


Laras bisa berhenti kapanpun yang ia mau tapi sebenarnya ia masih bergantung pada penghasilan di anak cabang Roni. Tadi ia asal bicara saja.


"Apa yang kau harapkan dari Roni. Dia cacat sekarang." Roni melecehkan Vim.


"Dia sempurna." Balas Laras.


"Buka matamu Laras. Dia tidak bisa apa-apa." Roni mempengaruhi Laras.


"Sampai kapanpun dia suamiku."


"Kau bodoh, Laras."


"Aku memang bodoh. Kau tak perlu mengharapkanku. Aku tak sebanding denganmu."


Laras menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya. Air bening mulai mengalir di pipi. Ia ingin lari dan menemui Vim. Laras mengusap air mata. Di saat dirinya lemah, ia membutuhkan Vim. Ia menyebut nama Vim berulang kali.


🍂🍂🍂

__ADS_1


***Like, komen, gift, vote dan bintang 5.***


Terima kasih.🧡🌷🧡🌷


__ADS_2