Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 125. Cerita di kala hujan.


__ADS_3

"Sayang aku bahagia sekali rumah kita sudah terbebas dari jaminan. Makasih ya sayang." Laras menggelendot manja di sisi Vim.


"Hmm." Vim terlalu asyik dengan percakapan di salah satu grupnya. Perhatian tertuju di situ. Laras tak ditanggapi serius.


"Kok hanya hmmm?"


"Hmm."


Laras berdiri. Vim tidak mau diganggu. Lebih baik mencari sesuatu sendiri saja di luar. Cuaca dingin begini sangat cocok menikmati bubur tulang yang hangat.


"Loh mau kemana?" Vim sekedar bertanya tanpa melirik Laras.


"Ehm."


"Ras mau kemana?"


"Memangnya penting buat mas. Aku mau keluar. Mas di rumah saja nanti kubawakan bubur daging ya."


"Oh tidak. Kau tidak boleh keluar sendirian. Aku akan mengantarmu. Tunggulah."


"Maaf mas aku nggak bisa tunggu lama. Perutku ingin yang hangat-hangat."


"Nanti kuhangatkan."


"Mas!"


"Iya sayang. Ini aku berdiri. Jaketmu mana?"


"Naik motor?" Laras balas bertanya.


"Ya. Gunakan pakaian lapis atau kau menjadi flu besok. Bukankah begitu?"


Laras terlalu peka dengan udara malam dan Vim ingin menggunakan motor saja malam ini.


"Iya. Aku pakai sweater mas."


Dalam sekejap Laras telah menggunakan sweater sebagai pakaian penghangat malam itu. Ia mencari bibi supaya bibi menjaga Vian di kamar, kemudian Laras mengikuti Vim berjalan ke motor.


Kedua tangan Laras melingkar erat ketika motor bergerak keluar halaman. Semakin erat saat berada di jalan raya. Breeeeeum.


"Peluk lebih erat sayang!"


"Sudah!" Laras mengimbangi suara Vim.


"Lagi!"


Brrrrrrmmm. Motor melaju lebih kencang. Laras mempererat pelukannya.


"Tolong dua mangkok bubur Bu." Vim memesan bubur. Pelayan datang menanyakan air minum yang mereka inginkan.


"Matcha Latte dan coklat panas, iya kan Laras?"


"Benar mas. Aku coklat panas. Apa tidak terlalu banyak yang kita pesan mas?"


"Tidak. Bakso dan bubur untukku, kau bubur saja."


Lalu makanan datang dengan aroma yang menggugah selera.


Bukan hanya bubur yang dipesan oleh Vim. Bakso dan minuman hangat juga.


"Huuum sedap." Vim menghidu.


"Dimakan mas."


"Kamu juga makanlah. Sayangnya kita duduk di tempat umum, Ras. Jika hanya kita berdua, aku minta disuapi."


"Mau manja-manjaan? Di rumah saja." Malu sekali bagi Laras bermanjaan di muka umum begini.


"Anggap saja dunia milik kita berdua."


"Hihihiii aku tak bisa."


"Aku tidak memaksa. Nggak mungkin juga membiarkan mata semua orang memandang kita saling suap-menyuap. Kayak drama saja. Mau bakso nggak hmm?"


"Aku cukup semangkok bubur saja mas. Ini penuh." Laras menunjukkan bagian perutnya.


"Pantasan saja tubuhmu tidak pernah besar. Makanmu sedikit."

__ADS_1


"Berbeda dong mas dengan porsi makanmu. Aku kan perempuan."


Gerimis tak diundang turun membasahi area Raya City Walk. Keduanya saling berpandangan lalu Vim bilang, "Sepertinya kita tidak boleh pulang. Hujan menahan kita "


"Yaaah gimana ini mas, lama dong kita di sini. Haatciiiim!"


"Tunggu agak reda. Belum apa-apa sudah bersin." Vim memberikan Laras tisu. Tangannya melambai pada penjual bubur.


"Tolong dihitung semua Bu."


Penjual menyebutkan jumlah yang harus dibayar dan mengucapkan terima kasih. Tempat duduk yang berada di tepi memudahkan Laras dan Vim menatap titik-titik kecil air yang turun. Laras terhanyut oleh bunyinya. Tik. Tik. Tik.


"Kau memikirkan apa?" Sentuh Vim di jemari Laras. Usapan lembutnya mengalirkan sengatan kecil di hati Laras.


"Mas kau tahu hujan selalu mampu membuatku tenang."


"Jadi kita di sini saja ya menikmati hujan?"


" Wooo di rumah juga bisa menikmati hujan mas. Kelamaan di sini, sampai di rumah jam berapa?"


"Kalau begitu mari kita berdo'a, Tuhan tolong hentikan hujan sejenak."


Laras menjawab, "Aamiin."


"Laras...kau punya kenangan dengan hujan?"


Laras menoleh dan tersenyum simpul. Dia tak memiliki banyak momen istimewa. Hari-hari berlalu biasa saja meskipun ada Vano di sampingnya. Kebersamaan dengan Vano lebih sering terjadi ketika Laras mengikuti ibu ke rumah Vim.


"Baru denganmu saja aku memiliki momen di saat hujan seperti saat ini. Aku menyukai hujan karena kesejukan yang dihadirkan memberiku ketenangan. Selebihnya tidak ada. Mas punya hal yang indah untuk diingat?"


"Sembilan tahun lalu, aku membawa sebuah kado untuk seorang gadis. Aku baru menyadari kepergian Aurora dan berhasil berdiri tegak menerima kenyataan. Motorku dipakai Vano sehingga aku berjalan kaki dan memegang payung di bawah derasnya hujan. Tapi sayang, aku kalah cepat memberikan kado itu. Di beranda rumahmu, kulihat Vano dan dirimu duduk berdua. Kalian merayakan hari kelahiranmu."


"Baru sekarang mas cerita?" Laras menatap tak percaya. Tentunya itu momen tak mengenakkan buat Vim.


"Pahit tapi sudahlah. Itu dulu, sekarang kau menjadi milikku."


"Terus kadonya mas apakan?"


"Kubuang ke selokan."


"Selokan depan rumahku?"


"Apa isinya mas?"


"Cuma kalung dan liontin kecil. Bercampur mas putih. Tidak terlalu berharga."


"Apa?" Laras terperangah. Melanjutkan lagi kalimatnya, "Namanya perhiasan pasti bagus. Mengapa dibuang mas??"


"Kesal saja. Melihat barang itu nantinya akan mengingatkan kepedihan, jadi kubuang saja ke got."


Laras menepuk jidatnya. Tentu perhiasan itu berarti buat Vim.


"Dari mana mas membelinya?"


"Pertama aku menjadi sales abal-abal disamping kuliah. Uang kusimpan sedikit demi sedikit. Aku hanya menyimpan saja dan berpikir memberikan kepadamu setelah Aurora menghilang."


"Buat Aurora tadinya?"


Vim menggeleng cepat.


"Bukan. Buat mimpiku yang sesungguhnya, kamu." Sepanjang berumah tangga, kali pertama Vim menyebut Laras dengan sebutan kamu. Bukan kau atau sayang.


"Bisa ya mas ... pacaran dengan Aurora, menyimpan sesuatu untukku. Lalu kenapa dibuang? Kan sayaaang...."


"Aku tidak tahu apa namanya tapi melupakanmu tetap aku tak mampu apalagi masih melihatmu kadangkala datang ke rumah mengantarkan barang ibu."


"Dan Vano sering menemuiku ketika aku datang...." Laras seperti berkata pada diri sendiri. Lirih.


"Ya tiap kali melihat kalian berdua, di sini rasanya....beeuuh!" Vim menunjuk ulu hatinya.


"Mau kutinju Vano tapi tidak tega dan tali persaudaraan tak mungkin kurusak karena itu. Mami...mami justru memintamu tinggal di rumah."


"Semua sudah berlalu. Itulah jalan kita mas. Semoga sampai akhir nanti kita bersama."


"Semoga."


Titik-titik hujan mulai berkurang. Menjadi gerimis kecil lalu berhenti sama sekali. Pukul sepuluh lebih namun tempat jajanan elit tersebut semakin ramai.

__ADS_1


Dinginnya malam ini membuat Laras ingin merapat lebih dekat lagi pada Vim. Lengannya dan lengan Vim bersentuhan.


"Kenapa? Sudah nggak tahan ya? Nanti sayang...di rumah," ujar Vim ringan.


"Apaan sih mas. Dingin tahu!"


"Bahasa tubuhmu itu sebuah kode. Mau minta dihangatkan?"


"Astaga. Mikirnya ke situ sih?"


"Kata orang kalau wanita merapat pada lelaki dengan bahasa tubuh tertentu artinya memberikan kode. Semacam itulah, mengarah ke sana."


"Pelajaran dari mana mas hihi...."


"Pelajaran umum."


"Ayo ahh pulang! Hidupkan motornya."


"Peluk yang kuat sayang. Aku tidak mau kau diambil orang."


"Weeleh apa hubungannya. Peluk yang kuat sayang, aku tidak mau kau jatuh. Itu baru benar." Laras mengulang kalimat Vim.


"Suka-suka aku!"


"Ya deh suka-suka mas saja! Mas aku tak menyangka kita berpacaran setelah menikah. Sebelumnya kita tidak pernah mengisi hari bersama bukan!?" Laras berkata di antara suara kendaraan yang lalu lalang.


"Betul. Aku merasa keberuntungan sedang berpihak padaku lagi. Terima kasih tetap bersamaku sayang!"


...ΩΩΩ...


Laras sedikit repot pagi ini. Vian bangun tidur bertepatan waktu dengan jam berangkat Vim ke kantor.


"Sayang...baru bangun ya. Kita antar papi ke depan ya." Vian diangkat oleh Laras.


"Papi! Vian mau sayang nih."


"Aah anak papi belum mandi. Bau!"


"Papi, Vian bela-belain bangun pagi loh."


"Heehm. Kemarilah!"


Criiiiiiit. Criiiiiiit. Criiiiiiit.


"Wah airnya matang. Mas tolong pegang Vian ya. Air untuk Vian mandi sudah masak."


"Bibi di mana?!"


"Di belakang, jemur pakaian."


Laras selalu memasak sendiri air untuk mandi Vian. Jika Vian belum bangun, air yang baru mendidih tersebut dimasukkan ke dalam termos. Laras belum terlalu sibuk dengan kehadiran seorang anak.


"Aku harus pergi Laras! Waduh!!"


"Kenapa mas!?" Seru Laras dari belakang.


"Sayang! Vian ngompol!"


Vim merasakan hangat di perutnya. Hangat berasal dari air seni Vian.


"Loh Vian ngompol nak? Kasihan papi."


"Vian, kamu nakal hmm?" Vim melotot. Terpaksa ia mengganti pakaian secepatnya.


Laras mengganti celana Vian dan membiarkan Vian di dalam ranjangnya. Lalu Laras menghampiri Vim yang sedang mencari kemeja.


"Ada mas?"


"Ada. Ah ya tolong singletku sayang."


Laras membantu Vim. Ia menjadi geli bercampur kasihan membayangkan Vim diompoli Vian tadi.


"Maafkan aku. Kukira Vian sudah pipis."


"Tidak apa. Aku pergi ya."


"Hati-hati mas."

__ADS_1


Di tempat lain seorang lelaki memaki-maki keadaan. Usahanya menyuap Kepala Balai Pelelangan Swasta tak memberikan hasil. Rumah yang diincar olehnya batal dilelang.


***Like, komen, gift, fav dan bintang lima. Terima kasih semua. 💐


__ADS_2