
Mobil milik Vim berhenti di parkiran luas gedung rumah sakit. Gundah, cemas dan segera ingin tahu keadaan Laras
menyentak dari hati dan pikiran Vim. Tanda tanya bersarang di kepalanya.
Menyusul dari belakang, mobil Edo mengambil tempat parkir tidak jauh dari mobil Vim. Edo keluar dari mobilnya. Melihat Vim telah berjalan menjauhi mobil.
"Vim tunggu!!" Teriak Edo.
Vim menghentikan langkah.
"Apa yang terjadi dengan Laras? Katakan apa yang terjadi dengan Laras??!" Vim bertanya tidak sabar.
"Aku tidak tahu. Dia mengeluh sakit perut."
Mobil Anggia memasuki parkiran. Istri Dion itu berjalan mendekati Vim dan Edo.
"Lalu mengapa kau ada di sana?" Tanya Vim menyelidiki.
"Kebetulan aku mampir setelah
membeli obat mommy. Saat_"
"Kau.. hhhh!!!"
"Kau mencurigaiku lagi??? Oh God." Edo telah mengepalkan jemarinya siap meninju sahabatnya itu.
"Kalian mau berkelahi atau mengurus Laras??" Anggia menghentikan Vim dan Laras. Matanya mendelik pada dua orang lelaki di depannya.
"Anggia. Terima kasih ada di sini." Ucap Vim.
"Teruskan pertengkaran kalian. Aku mau masuk! Huuuhh bisa-bisanya dalam keadaan begini kalian adu mulut." Anggia melangkah dengan perasaan sebal melihat kelakuan Vim dan Edo.
"Tadi pagi Laras mengeluh sakit perut. Sesudah itu ia baik-baik saja dan sekarang kenapa bisa begini?" Vim bertanya tanpa membutuhkan jawaban sebab tak satupun dari mereka yang tahu jawabannya.
"Maaf kak.. dokter mencari kakak barusan." Ririn menyampaikan pesan dari dokter begitu melihat Vim tiba.
"Baiklah." Balas Vim.
Vim segera menghadap dokter yang dimaksud oleh Ririn. Penasaran dengan penjelasan yang akan disampaikan oleh dokter.
"Selamat siang dokter. Saya suami Larasati."
"Selamat siang. Silahkan duduk."
"Terimakasih."
"Maafkan kami. Kami tidak bisa menolong kandungan istri anda. Istri anda mengalami keguguran dan harus dilakukan pembersihan rahim." Suara dokter sangat tenang namun bagaikan hantaman palu di kepala Vim.
"Apa??? Ya Tuhan." Laras hamil batinnya. Vim bersandar lemas di kursi. Berkali ucapan zikir terucap dari mulutnya. Irama jantungnya berpacu cepat mendapat berita mengejutkan itu. Laras sedang hamil dan ia tidak tahu sama sekali. Suami macam apa dirinya ini.
"Berapa bulan dokter?"
"Dua bulan lebih."
Mata Vim memerah menahan tangis. Haru menyeruak dari relung hatinya yang dalam. Air mata tertahan mengambang di pelupuk matanya tetapi masih mampu ditahan agar tidak menetes. Namun wajah sedihnya tidak bisa menipu siapa pun yang melihat Vim. Dia terpukul meskipun berusaha menutupi rasa kecewa dan kehilangan calon bayi mereka.
"Anda harus sabar. Kemungkinan untuk hamil masih ada. Konsultasikan sebelum merencanakan kehamilan berikutnya ya." Dokter berkata sambil menepuk pundak Vim. Ia akan berjalan ke luar.
"Bisa dilihat dokter?"
__ADS_1
"Boleh."
Vim meminta Laras beristirahat di rumah sakit dalam beberapa hari. Ia pun memilih ruangan terbaik untuk istrinya itu.
"Uuhuuuu."
Air mata Laras bercucuran sesaat setelah Vim masuk ke dalam ruangan. Rasa bersalah kini hadir seiring kepergian calon bayi mereka. Ia memalingkan wajah dari Vim. Tak sanggup melihat kekecewan di wajah Vim.
Tangisnya semakin pecah ketika Vim duduk di sebelahnya, menggenggam jemarinya dan memberi kekuatan.
"Uuuuhuuu..maafkan aku mas. Maafkan aku..hiiiiks."
Dengan uraian air mata dan sedu sedan Laras meminta maaf. Vim juga ikut menangis. Berdua menangisi calon bayi pertama mereka. Sangat menyayat hati kehilangan di saat hari bahagia akan dirayakan. Calon bayi pergi tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Namun Vim segera sadar, ia tidak boleh ikut larut dalam kesedihan. Dia harus bisa lebih kuat dari Laras dan memberikan penghiburan kepada istrinya itu.
Ia menyeka air matanya sendiri.
Kemudian Vim menyeka air mata Laras. Menyibakkan anak rambut yang jatuh di kening Laras dan memberikan kecupan di kening Laras.
"Selamat hari pernikahan sayang." Ucapnya lirih. Seketika air mata Laras membasahi pipinya yang pucat. Kado terindah untuk Vim telah sirna.
"Maafkan aku mas..hiiks."
"Tidak apa. Kita bisa buat lagi. Kau harus sehat dulu ya."
"Aku bersalah padamu mas. Aku bersalah menyimpan semua ini...hiiiks. Aku ingin memberikan kejutan padamu di hari ini mas tapi..uuhuuu." Tangis Laras pecah lagi.
"Sssst sudah. Semua sudah terjadi."
"Uuhuuu...uuhuuu..hiiiks. Kita tidak jadi berangkat mas hiiiks. Ini semua karena aku..hiiikss." Bahu Laras berguncang.
"Tenanglah. Masih banyak kesempatan untuk kita. Yang penting kau sehat dulu."
"Kau istirahat ya. Aku menebus obat. Aku akan mengambilnya sendiri." Vim hendak berdiri namun tangannya ditahan oleh Laras.
"Tidak jangan tinggalkan aku hiiikss. Jangan tinggalkan aku."
"Sebentar sayang."
Laras menggelengkan kepala.
"Tetaplah di sini."
"Baiklah. Aku meminta mereka mengambilkan obat untukmu."
Vim berjalan keluar. Ketiga temannya tadi masih berdiri di luar kamar rawat inap. Memberikan kesempatan kepada Vim dan Laras meluapkan kesedihan mereka berdua.
"Ed resep obat. Tolong." Vim memberikan secarik kertas.
"Kita cari sendiri?"
"Iya mungkin habis di apotek bawah."
"Oke. Tunggu kalau begitu."
Edo pergi. Vim, Anggia dan Ririn hendak masuk ke ruangan di mana Laras berada. Suara panggilan menghentikan langkah mereka.
"Vim bagaimana Laras?!"
__ADS_1
Mami Maharani berada di antara mereka. Penuh rasa ingin tahu akan apa yang telah terjadi. Wajahnya menyiratkan kekecewaan kepada Vim.
"Mami maafkan kami." Ucap Vim penuh penyesalan.
"Mana Laras?" Tanya mami Maharani lagi.
"Di dalam mi."
"Kau memang keterlaluan. Tidak bisa menjadi cucu mami." Vim mengernyitkan kening. Suara mami Maharani sarat penekanan. Menyiratkan kekesalannya.
"Mami."
"Huuuhh." Mami Maharani membuang wajahnya dari pandangan Vim.
Mami Maharani meninggalkan mereka dan masuk menemui Laras.
"Mami..huuuhuu."
"Iya sayang."
Mami Maharani memeluk Laras. Mengusap-usap pundak Laras dengan kasih sayang. Laras kembali berurai air mata.
"Sabar ya sayang. Ini ujian dari Tuhan. Kalian yang kuat ya sayang." Rasa bersalah yang amat sangat dirasakan oleh Laras.
Laras telah membuat orang-orang terkasih kecewa. Ia tidak bisa menjaga sesuatu yang diamanahkan kepadanya.
"Mami maafkan Laras mi.. hiikss. Laras nggak menjaganya..hiiiks. Laras menyimpan berita baik ini sendiri huuhuu. Laras mau bikin kejutan untuk mas Vim tapi hari ini rencana kami gagal mii..hiiiks"
"Relakan ya sayang. Semoga cepat dapat gantinya. Cuuup. Kalian bisa liburan kapanpun."
Vim mendesah berat. Melihat Laras menangis hatinya tersayat.
Sedu sedan Laras tak jua berhenti. Apalagi ibu dan ayahnya kini telah berada di sampingnya. Ibunya merangkul dengan belas kasih.
"Tenanglah. Kasihan Vim melihatmu menangis terus. Kita semua sedih tapi harus ikhlas menerima ini." Ucap Ibu.
Perlahan Laras menguasai air matanya. Ibu mengelus kepalanya berulangkali hingga Laras terpejam dan tidur.
"Aku pulang dulu mi. Mengambil pakaian ganti." Pamit Vim pada maminya.
"Pergilah."
"Tolong jangan salahkan Laras mi." Pintanya lagi.
"Kau ini Vim istri hamil tidak tahu. Bagaimana sih??" Mami Maharani menahan suaranya. Wajah mami Maharani masih menyiratkan kemarahan pada Vim.
"Maafkan aku mi. Aku salah tidak menjaga Laras tapi aku benar-benar tidak tahu Laras hamil."
"Huuh. apa kau tidak bisa melihat hal-hal aneh dari Laras. Permintaannya, perubahan kesehatannya atau perubahan tubuhnya?" Mereka berbicara dengan suara pelan namun penuh penekanan.
"Aku salah dan aku terima mami menyalahkanku asalkan tidak menyalahkan Laras. Aku pulang dulu."
Di perjalanan pulang benak Vim mencari keanehan Laras dua bulan terakhir ini. Kepala Vim dipenuhi bayangan-bayangan keanehan dari Laras. Perubahan tubuh Laras yang lebih sintal, selera makan Laras yang tidak seperti biasanya hingga keluhannya pada kepala.
Vim menggeleng sendiri. Menyadari dirinya sangat bodoh tidak curiga dengan perubahan-perubahan pada Laras.
Seandainya ia tahu ia akan bertindak keras mengajak Laras berobat. Seandainya ia tahu sudah tentu Laras akan dilindungi lebih dari biasanya. Seandainya ia tahu Laras akan dilarangnya melakukan banyak aktivitas. Seandainya....
πππ
__ADS_1
Tiba di episode ini othor ikut sedih menuliskan kata keguguran.π Semoga Laras segera mendapatkan ganti calon baby-nya ya..
πΉJangan lupa like, comment, gift, vote dan 5 stars.Trims π