
Vim meletakkan kembali kemeja yang dipegang. Pagi sekali Laras menyediakan kemeja beserta pakaian dalam di atas ranjang ketika Vim sedang mandi.
"Laras tolong kemeja yang putih kebiruan saja. Pasangannya ada di lemari kantor."
"Baik mas."
Laras mencari kemeja yang diminta dan menunjukkan kepada Vim.
"Yang ini?"
"Ya benar."
Kaos singlet telah menutupi dada bidang Vim. Kancing-kancing kemeja dibuka satu persatu oleh Laras kemudian meminta Vim memasukkan tangannya ke dalam lengan kemeja.
Kembali kancing dikaitkan masing-masing satu persatu sesuai dengan lobang dan mata kancing. Kedua tangan Laras mengusap bagian depan kemeja dan berhenti di situ.
"Sudah rapi." Katanya.
Kecupan pagi mendarat di pipi Vim disambut senyuman menawan Vim. Lengkungan garis bibir yang sempurna.
"Terima kasih sayang." Kata Vim.
Laras menganggukkan kepala.
"Ini tugasku mas. Semoga mas tidak pernah bosan denganku."
"Tidak akan bosan. Terima kasih atas perhatianmu." Vim memberi kecupan balasan.
"Waah dasinya ketinggalan."
"Masih bisa. Aku belum pergi." Vim memajukan kepala dan menunduk. Laras mengambil dasi yang tergantung.
"Tambah ganteng. Aku jadi takut wanita-wanita di luar sana tertarik padamu."
"Kau baru tahu itu sekarang? Aku memang tampan kan."
"Hayoo..mulai deh. Bangga."
"Uuupss iya tidak boleh membanggakan diri." Senyuman Vim tipis.
"Setiap kita mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tampan ada kekurangan yang tidak kelihatan. Yang biasa-biasa saja memiliki kelebihan tersembunyi."
Laras terlihat bijak di mata Vim.
"Malam nanti kita makan malam di luar Bersiaplah." Vim berkata. Kedua bahu Laras dipegang olehnya.
"Baiklah tapi mengapa kita tidak makan malam di rumah saja?"
"Aku mau kau tidak sibuk mengurus meja makan beserta isinya dan sudah lama kita tidak makan di luar." Jawab Vim.
"Aku ikut saja jika itu keinginan mas."
__ADS_1
"Maafkan tidak sarapan pagi ini. Waktu terlalu sempit." Mereka beriringan keluar kamar.
"Lantas mas makan apa nanti. Dibawa aja sarapannya ya mas. Tunggu sebentar aku masukkan ke dalam wadah."
"Joel bisa menyiapkan untukku Laras!"
Teriakan Vim diabaikan Laras. Secepatnya Laras memasukkan roti yang telah ia siapkan ke dalam wadah. Secepatnya pula menyusul Vim ke depan dimana mobil berada. Mesin mobil telah hidup dan siap meluncur. Nafas Laras naik turun karena terburu-buru.
"Mas ini bekalnya. Nanti dimakan ya."
Bekal sarapan diletakkan Laras di atas kursi bagian depan.
"Aku harus menenteng itu?" Tanya Vim tidak percaya.
"Tentu."
Apa kata semua orang yang melihatnya membawa tentengan ke perusahaan? Vim menggelengkan kepala.
"Laras, pak Uun tidak ikut karena akan membawa mobilmu ke salon."
"Aku tahu. Please deh... mas bawa sampai atas ya?" Laras memasang wajah memelas.
"Semoga aku tidak lupa."
"Jangan dong. Mas jangan sampai tidak dimakan. Kutelpon Joel saja agar mengambil bekal itu dari mobilmu." Ucap Laras.
"Ide yang bagus."
Sesudah itu ia mulai mengerjakan tugas kuliah. Syukurnya tugas kuliah tidak terlalu banyak dan mengejar deadline untuk diserahkan kepada dosen sehingga Laras bisa menyicil mengerjakan. Tidak terlalu memforsir pikirannya.
Mulai teringat lagi janji makan malam, Laras bangkit dari tempat duduk. Mencari sesuatu di tempat penyimpanan pakaian. Memikirkan pakaian mana yang akan dikenakannya saat makan malam bersama Vim. Ia memandangi stok pakaian. Warna-warna pastel menguasai stok pakaiannya.
Harus tampil cantik dan menawan untuk mengimbangi Vim dan lagi bersama Vim adalah sesuatu yang istimewa sehingga Laras ingin tampil sempurna.
Pakaian telah dipilih lalu disetrika ulang dan digantung menggunakan hanger. Sepatu hak tinggi juga telah dipilih. Begitupun tas mungil favoritnya.
Laras berjalan ringan menuju dapur. Rumah besar itu terasa lengang. Bibi sedang istirahat. Sebentar lagi akan bangun dari tidur dan menyiram tanaman. Itulah kebiasaan bibi di kala sore hari.
Ia meraih segelas jus yang telah disiapkan oleh bibi setiap hari. Atas perintah Vim semua disiapkan oleh bibi. Di meja makan Laras duduk sembari memainkan ponsel.
Perlahan tapi pasti senja datang menjelang. Waktu terasa begitu cepat. Laras tidak merasakan bed yang nyaman di kamar tidur siang ini. Sekarang hari telah meredup. Sore akan berganti malam. Kenapa waktu berputar cepat sekali.
Pakaian telah dipakai Laras. Bunyi dering ponsel di meja rias meminta perhatian Laras. Laras mengangkat panggilan yang masuk di ponsel.
"Ya aku diantar pak Uun saja. Mas sudah mandi? Sudah berganti pakaian? Baiklah."
Vim menelpon Laras. Menyebutkan sebuah restoran di dekat mal besar di kota mereka. Kata Vim ia akan datang ke tempat makan malam setelah selesai urusan kantor. Normal jam kantor di perusahaan Vim adalah hingga jam tujuh belas.
Tidak masalah. Sesungguhnya Vim sibuk tetapi masih menyempatkan diri mengajak Laras menikmati waktu berduaan. Laras menghargai Vim.
Restoran yang di pilih Vim terkesan tenang. Hanya beberapa meja terisi dengan jarak yang berjauhan. Mungkin untuk memberikan privacy kepada pengunjung di situ. Pencahayaan ruangannya tidak terlalu terang dan tidak pula menyilaukan mata.
__ADS_1
Laras menanyakan meja yang telah dipesan Vim kepada resepsionis. Vim memilih meja di belakang ruangan. Laras akan menunggu di sana.
"Terima kasih mbak."
"Sama-sama. Maaf mbak.. mbak mau minum apa?" Resepsionis tersenyum ramah. Harus ramah jika ingin mendapatkan pelanggan yang berkunjung ke situ.
"Lemon tea hangat saja mbak."
"Baik. Ditunggu ya mbak."
Resepsionis memesan minuman khusus untuk Laras. Permintaan Vim agar dirinya yang melayani Laras. Dia menjalankan amanah pelanggan. Vim dan koleganya memang senang makan di sana sembari membicarakan hal yang berhubungan dengan bisnis. Resepsionis sangat mengenal Vim.
Apalagi Vim bermurah hati memberikan tips kepada pelayan. Tidak ada larangan dari pengelola restoran terkait tips yang diberikan oleh pelanggan. Tips yang diberikan masih dalam ukuran yang wajar.
"Silahkan diminum. Ada lagi mbak?" Tanya resepsionis meletakkan minuman di meja. Seorang supervisor menunggu meja resepsionis yang kosong.
"Oya mbak. Satu coklat mousse ya. Minta pelayan saja yang antar."
"Baik."
Coklat mousse dan lemon tea menjadi teman Laras menunggu kehadiran Vim. Air minum telah surut perlahan diseruput Laras dan coklat mousse hampir habis. Laras memandang keduanya bergantian. Lemon tea, coklat mousse. Sebentar kemudian ia menilik ponselnya. Menanti kabar dari Vim terlebih panggilan dari Vim. Laras sangat berharap
Pesan yang dikirim Laras kepada Vim hanya bertanda centang satu. Pesan belum terbaca. Jarum jam menunjukkan angka tujuh lewat tiga puluh menit. Sudah satu jam Laras menunggu namun Vim tak jua hadir. Kemana Vim?
Wajah Laras mulai berubah tidak semangat seperti saat tiba tadi. Kecewa mulai hadir. Kemana Vim hingga tidak memberinya kabar? Atau meminta pak Uun supaya menjemput Laras kalau memang ia tidak bisa datang. Bukankah jam kantor sudah berakhir. Ataukah Vim sedang lembur tiba-tiba? Laras ingin menangis.
Laras berdiri lesu dan berjalan meninggalkan restoran elite tersebut.
Tega Vim membiarkan Laras menunggu tanpa kabar. Jika tidak sempat menuliskan kabar melalu pesan, Vim bisa mengirimkan rekaman suara. Semua begitu mudah tetapi mengapa seolah tiada gunanya.
Kakinya terus melangkah dengan pikiran dan pertanyaan yang berkumpul di kepala. Vim kemana? Baru sekali ini ia ingkar janji. Mungkinkah Vim mengulangi ini suatu saat nanti?
Deretan toko-toko eksklusif yang memajang produk-produk mahal tidak menarik bagi Laras malam itu. Melangkah dan tetap melangkah di sepanjang area lantai paling bawah mal besar dalam kota.
Kakinya mulai terasa pegal. Dengan sepatu hak tinggi cukup cepat untuk merasakan pegal di betis ketika banyak berjalan. Pengunjung mal berjalan searah dan berlawanan arah dengan Laras.
Laras memasuki sebuah toko parfum. Melihat-lihat kemudian menemukan parfum seperti miliknya. Ia membeli sebuah parfum sebagai ganti parfumnya yang sisa sedikit di rumah.
Satu lagi yang dicari Laras yaitu es krim. Toko yang ramai dengan pembeli baik dewasa atau anak remaja tanggung dimasuki Laras. Tiga rasa es krim dalam satu cup dibeli Laras.
Tidak sanggup untuk berjalan lagi. Kakinya benar-benar pegal. Ini semua karena Vim ingkar janji. Sampai detik ini Vim belum menghubunginya. Dasar.
Di lingkaran air mancur kecil tidak jauh dari Laras berdiri, banyak pengunjung duduk-duduk santai di sana. Masih tersisa tempat kosong. Laras pun melangkah ke sana. Ia duduk dan mulai memakan es krim di genggaman tangannya.
💔💔💔
Bersambung...
Like, comment, gift, vote & five stars.
Trims.💕
__ADS_1