Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Babb74. Aku menahan rasa.


__ADS_3

Laras memasuki kamarnya yang bersih setelah bertemu ibu di depan. Semerbak wangi pengharum ruangan menenangkan hatinya. Laras menyentuh bed cover yang terasa lembut di tangan.


"Laras mulai sekarang kurangi kesibukanmu."


Vim membuka laptop dan mengecek pekerjaan.


"Sepertinya kesibukanku


tidak banyak mas."


Laras berkata dari tempat duduknya yaitu di atas ranjang. Memperhatikan Vim yang menekuni pekerjaannya yang ditinggal dua hari.


"Aku ingin kau benar-benar sehat sehingga aku tidak berpuasa lebih dari dua minggu." Suara Vim menyiratkan ketidaksukaan.


"Puasa..?" Laras bertanya heran.


"Ya bukankah selama dua minggu ini aku tidak boleh mengambil bagianku darimu."


Laras tergelak kecil mendengar penuturan Vim.


"Ooh itu maksud mas. Iya deh..iya." Laras menerima mengalah.


"Ya tentu saja kau hanya boleh sibuk mengurus kuliahmu."


"Apa? Lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Masih akan kukerjakan ya mas."


"Sebaiknya tidak. Sudahlah jangan memikirkan itu dulu."


Laras terdiam. Melihat Vim semakin serius dengan pekerjaannya, Laras urung berkata-kata lagi. Ia pun mengirim pesan kepada Ririn untuk mengetahui keadaan tokonya.


'Semua berjalan biasa dan aman Ras.'


'Syukurlah. Maafkan aku belum bisa datang.' Tulis Laras.


'Aku mengerti. Cepat pulih ya Ras.'


'Aamiin. Jumpa lagi Ririn.'


Vim menyudahi pekerjaannya. Dua jam di depan laptop membuatnya jenuh. Ditambah rasa kantuk yang menyerang, mengharuskan Vim mengistirahatkan netranya dari huruf-huruf di layar laptop.


"Mengapa kau tidak tidur hm?" Tanya Vim melingkarkan tangan di bawah dada Laras. Takut mengenai perut Laras dan menimbulkan rasa sakit.


"Karena aku tidak mengantuk."


"Apakah masih sakit?" Vim ingin tahu.


"Sedikit."


"Aku ingin." Bisik Vim di telinga Laras.


"Ingin apaan??"


Laras bertanya pura-pura tidak tahu maksud Vim. Dua kata itu selalu Vim ucapkan jika ia membutuhkan pelampiasan kebutuhan biologis.


"Biasa.. silaturrahmi kita."


"Oohoo mas lagi puasa kan. Ditahan..ditahan ya." Cegah Laras.


"Kau tahu dua hari rasanya seperti apa? Dan aku harus menunggu dua minggu. Huuhh."


Vim membalikkan badan, memunggungi Laras lalu menelungkupkan tubuhnya. Menahan gejolak yang membuncah di dadanya.


"Atau kupukul saja tembok itu." Ucap Vim menyuarakan kekesalannya. Dua hari tidak menyentuh Laras, kepala Vim berasa mau pecah. Hasrat lelakinya memberontak minta perhatian dan penyaluran.


"Jangan dong. Mas yang sabar ya." Hibur Laras. Sesungguhnya Laras merasa kasihan juga.


Laras mengelus rambut Vim bagian belakang berulang kali. Vim memejamkan mata. Elusan itu berasa lembut seperti elusan mami Maharani di saat Vim kecil dininabobokkan menjelang tidur. Lama kelamaan Vim tertidur.


Menjelang pukul lima lebih tiga puluh menit Vim dibangunkan oleh


Laras.


"Sudah enakan dan tidak mengantuk lagi mas?" Laras tersenyum cerah pada Vim. Tubuhnya sudah bersih dan harum sehabis mandi.


"Lumayan..aku mau mandi . Tidak perlu menyiapkan pakaianku."


Vim mendaratkan kecupan di bibir Laras. Ia hendak berbuat lebih namun urung. Harumnya Laras membuat Vim ingin memeluk dan menguasai Laras saat itu juga. Lagi-lagi hasrat Vim tertahan. Vim beringsut bangun dan berjalan ke kamar mandi.


"Sampai kapan..!"


Suara Vim nyaring dan menghilang saat ia memasuki kamar mandi.




Saat makan malam...



"Ibu saja mengantarkan makanan Laras, nak Vim." Kata ibu mengungkapkan keinginannya.



"Silahkan bu." Balas Vim. Ia makan dengan lahap.



"Kami pulang besok pagi." Ayah menyambung pembicaraan.



"Cepat sekali. Belum ada seminggu."



"Ibu kepikiran rumah terus nak Vim. Kosong dua hari ini." Ibu menjelaskan.



"Baru dua hari Bu. Jika kami mendapatkan momongan, ibu harus lebih lama di sini."



"Haha..iya atur saja. Waktu Laras masuk rumah sakit, ibu meninggalkan pakaian kotor. Ibu jadi kepikiran." Kata ibu lagi.


__ADS_1


"Baik terserah ibu dan ayah saja. Laras pasti senang jika ayah ibu masih di sini. Tapi tidak apa." Vim memaklumi keinginan mertuanya.



"Terima kasih makan malamnya Bu. Makanannya enak semua."



"Sama-sama nak Vim."



Ibu meninggalkan Vim dan ayah. Dengan baki di tangan ibu menemui Laras.



"Laras makanlah. Cepat sehat nak."



"Laras sudah sehat. Ibu lihat nih Laras kelihatan segar kan?"



"Iya sayang biar tambah sehat lagi. Besok ibu dan ayah pulang ya. Jaga diri baik-baik terutama di saat mengetahui kau hamil, mulailah menjaga kondisi tubuhmu. Jangan kelelahan." Ibu berpesan banyak.



"Iya ibu tenang saja." Laras mengunyah makanan. Masakan Ibu adalah yang paling enak.



"Ingat jangan kau sembunyikan lagi kehamilanmu dari suamimu." Tambah ibu.



"Baik. Baik ibu. Pesannya masih ada Bu?"Laras setengah bercanda pada ibunya.



"Ikuti nasehat dokter supaya kau bisa tetap sehat dan bisa hamil lagi." Kata ibu lagi.



"Ibu segala sesuatu itu atas kehendak Allah. Jika Allah tidak mengijinkan terjadi ya tidak memungkinkan terjadi. Termasuk jika Laras hamil ya karena memang Allah menghendaki itu."



"Benar tapi nggak salah kalau berusaha untuk itu bukan supaya lebih mudah."



"Iya juga sih. Sudah selesai. Laras bisa bawa sendiri piring kotor ke belakang." Ucap Laras membenahi piring kosong bekas makannya.



"Biar ibu bawa ke belakang. Kamu di sini saja."



"Laras bisa sendiri. Ini ringan bu. Laras sudah kuat kok." Laras memegang nampan sebelum ibu mengambilnya.




"Eehm..namanya juga cinta. Cinta itu bisa membuat seseorang menerima kekurangan kita bu. Mas Vim tidak pernah memandang siapa Laras kan bu."



"Tapi Vim mengenal keluarga kita sejak kecil jadi Vim sangat tahu tentang kita. Tentu saja karena ibu dan ayah baik. Mungkin karena itu ia tidak ragu padamu." Penjelasan ibu masuk akal.



"Ibu tahu aku cinta sama mas Vim." Laras berterus terang tanpa malu.



"Iya ibu bisa melihat itu. Berbahagialah. Ya sudah berikan ibu baki itu."



"Oh tidak. Laras bawa sendiri saja." Laras bersikukuh.



Ibu mengikuti Laras yang berjalan pelan-pelan. Sesudah itu Laras kembali ke kamarnya dan berbaring di sana. Perasaan nyaman membuat Laras tertidur lebih cepat. Vim dan ayah masih mengobrol di ruang keluarga.



Kriiek.



Suara pintu dibuka membangunkan Laras. Ia mengusap mata. Laras melihat Vim datang membawa segelas minuman.



"Kau baru bangun. Tidur saja kalau mengantuk."



"Aku menunggu mas tapi tertidur. Apa itu di gelas?"



"Susu buatmu." Jawab Vim.



"Mas nggak minum susu?" Tanya Laras.



"Tidak minum susu dua minggu." Jawab Vim agak ketus.


__ADS_1


"Looh memangnya kenapa? Susu yang kubelikan untuk mas masih ada di lemari."



Vim gemas Laras tidak menangkap maksud ucapan Vim.



"Karena susu milikku yang *limited edition* tidak boleh diminum."



"Susu yang mana. Apa mas beli merk baru lagi?" Tanya Laras lugu.



"Laras milikku ada padamu dan aku tidak boleh melakukan apa-apa saat ini. Paham sampai di sini??"



"Astaga..itu maksudmu. Maafkan aku jika telat mikir. Aku baru bangun." Alasan Laras asal.



"Minum susu ini agar kau menangkap maksudku."



"Hehee..maafkan aku mas." Laras meneguk susu.



Tatapan Laras tidak berhenti memperhatikan Vim. Ia melihat Vim membawa selimut dari ruang penyimpanan pakaian. Lalu Vim mengambi bantal miliknya. Laras bertanya heran.



"Sayang mau ke mana?"



"Aku mau ke ruang keluarga. Menemani ayah menonton televisi."



Tapi Laras tidak percaya dengan ucapan Vim. Menonton televisi tidak perlu membawa selimut menurut Laras.



"Mas menonton televisi atau tidur di sana. Mengapa bawa selimut?"



"Barangkali ketiduran di sana. Tidurlah. Selamat malam."



"Sayang mengapa harus di sana?"



Laras berubah manyun. Vim membuang nafas.



"Aku tidak tahan berdekatan denganmu sementara kita belum boleh berhubungan. Aku harus menahan rasa Laras."



Akhirnya Vim berterus terang. Itulah alasan mengapa ia memilih tidur di luar kamar.



"Ya Tuhan. Tetaplah tidur di sebelahku sayang. Tidak enak dilihat ibu dan ayah." Laras memohon pada Vim.



"Tidak bisa. Aku bisa lepas kendali. Huuh kau tahu aku menahan rasa padamu. Bagaimana ini? Kau harus bertanggung jawab Laras."



"Tentu saja aku tanggungjawab jika keadaanku sehat." Laras bersungut menanggapi Vim.



"Mas harus tidur di kamar. Jika aku kenapa-kenapa gimana?"



Pertanyaan Laras berhasil membuat Vim ragu untuk keluar kamar.



"Aaakh..aku tidur di sofa saja. Kita tidak bisa berdekatan sementara waktu." Vim memutuskan.



"Yak begitu dong sayang. Tetaplah di sini." Laras tersenyum bahagia.



Vim mendengus. Lampu kamar dimatikan olehnya. Ia mengambil posisi di atas sofa dan berusaha memejamkan mata.



✨✨✨



Bersambung...



Hai readers..jangan pernah bosan membaca karya othor.πŸ˜ŠπŸ™



Jangan lupa juga tinggalkan jejak like, comment, gift, vote dan bintang lima.

__ADS_1



TrimsπŸ’•


__ADS_2