Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 92. Resah menyelinap.


__ADS_3

Kedatangan Joel disambut Vim di depan pintu rumah. Vim sengaja meminta Joel datang membawa berkas-berkas yang memerlukan perhatian. Semua berkas harus dipelajari dan ditandatangani bila perlu.


"Hanya ini saja Joel?" Tanya Vim melihat tiga tumpuk map yang diberikan oleh Joel.


"Masuklah atau kau mau pulang?"


"Hanya itu Tuan. Saya tunggu saja Tuan. Boleh saya duduk di gazebo?" Joel meminta ijin.


"Boleh. Duduklah. Aku pelajari ini semua."


"Baik tuan."


"Ada tamu ya sayang? Siapa?"


Laras datang ke ruang depan. Di sana Vim meneliti satu persatu halaman surat. Besok ia pergi berlibur dan hari ini pekerjaan diselesaikan sebelum berangkat.


"Joel mengantarkan ini. Tolong minta air dan cemilan pada bibi. Antarkan ke gazebo. Joel duduk di sana."


"Baiklah. Mas mau minum apa?"


"Air putih saja."


Laras membawa air putih dan Sirup.


"Hai Joel ini buatmu." Cemilan dan minuman diletakkan Laras di hadapan Joel.


"Terima kasih bu."


"Sama-sama."


Jika Joel memanggil Vim dengan sebutan tuan, maka untuk Laras ia lebih suka menyebut Ibu. Sebutan yang sesuai untuk Laras yang lembut. Joel memperhatikan Laras hingga masuk ke dalam rumah.


Diteguknya minuman dan makanan dicicipi. Rezeki tidak boleh ditolak. Joel menikmati suguhan itu. Dedaunan dari pohon di sebelah gazebo memberikan keteduhan dan menjadikan gazebo tempat yang menyenangkan untuk duduk bersantai.


Joel hampir saja tertidur jika Vim tidak datang menyerahkan berkas-berkas yang telah selesai dipelajari.


"Ngantuk melulu. Ngapain saja tadi malam?"


"Kongkow-kongkow sama teman tuan." Jawab Joel jujur.


"Pertemuan yang sudah disusun kau tangani dengan Rendi. Selain itu tunggu aku pulang."


"Baik tuan."


"Termasuk surat-surat penting tunggu aku."


Bosnya ini masih saja berpesan hal yang sama jika mempunyai rencana tidak masuk bekerja padahal Joel sudah mengerti dan hafal apa yang harus dilakukan.


"Jadwal acara minggu depan padat tuan." Joel mengingatkan tanpa berharap Vim membatalkan kepergiannya. Mana mungkin Vim merubah rencananya.


"Itu urusanmu dengan Rendi. Hasil memuaskan dibarengi bonus."


"Siiiip tuan. Saya usahakan beres semuanya. Masih ada lagi tuan?"


Joel keluar dari gazebo. Bersiap pulang.


"Apanya?"


"Pesan dan kesan tuan."


"Tidak ada."


Joel pun pamit pulang. Vim masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan.


"Mas coba rasa ini. Aku baru selesai membuatnya."


Vim menerima chicken sandwich yang diberikan Laras. Lumayan. Vim makan lagi. Laras senang makanan buatannya disukai Vim.


...*****...


Pemandangan di luar resor menyejukkan sejauh mata memandang. Vim dan Laras akan menginap di sana dalam dua minggu ke depan. Laras menarik nafas dalam-dalam. Menghirup udara segar dari area yang jauh dari keramaian serta kendaraan. Pintu ruangan mereka terbuka lebar dan terhubung dengan pemandangan alam sekitar yang asri.


"Kau suka?"


Kaca mata, jam tangan dan dompet diletakkan Vim di atas meja. Waktunya santai tanpa memikirkan pekerjaan dan bisnis.


Vim memeluk Laras dari belakang. Dunia hanya milik mereka berdua. Tiada siapapun di ruangan itu selain mereka berdua.

__ADS_1


Semilir angin menebarkan aroma rambut Laras yang wangi. Vim menghirup harumnya.


"Kau diam saja. Tidak suka hm?"


Berdua merasakan kedekatan yang damai. Laras merapatkan punggungnya ke dada Vim. Sifat manjanya kambuh. Dia mulai hanyut oleh suasana sekitar yang mendukung.


"Aku suka sekali. Di sini tenang sekali mas."


"Syukur kalau kau senang.


Aku tidak salah memilih lokasi."


Vim mulai kecanduan aroma tubuh Laras. Tubuhnya terus menempel tidak ingin lepas dari Laras.


"Mas apa tidak lapar? Kita baru saja tiba." Vim kian agresif pada Laras.


"Mas???"


"Aku lapar." Suara Vim sumbang.


"Lalu mau begini terus? Ayo kita makan."


Vim tetap sama. Merangkul Laras bahkan menambah erat rangkulannya di pinggang Laras.


"Aduuh..aduuh..perutku sakit." Laras meringis.


Segera rangkulan tangan Vim lepas dari pinggang Laras. Mengamati dengan was-was. Dia berbuat kesalahan menyebabkan Laras kesakitan.


"Kenapa perutmu? Apakah tanganku terlalu erat?" Vim bingung Laras tiba-tiba mengeluh sakit. Apa yang salah?


"Tidak ada apa-apa." Laras tersenyum lebar.


"Kau pasti membohongiku lagi. Dosa tahu."


"Soalnya mas nempel terus sih." Laras membela diri.


"Kau menggunakan pelet ya."


"Ya ampuun..jahat banget ngomong begitu." Laras memukul lengan Vim berulang kali. Vim tergelak.


"Aku lapar. Mas mau ikut makan nggak?" Laras melenggang berlalu dari sisi Vim.


"Mas kita lihat suasana di resto yuk. Aku ingin tahu gimana tempatnya." Pinta Laras.


"Seperti yang lainnya, banyak pilihan menu dan pasti banyak orang." Kata Vim.


"Sekali ini saja karena aku ingin melihat restonya. Besok kita pesan saja, boleh ya mas?"


Demi keinginan Laras, Vim mengalah. Tidak apa. Pun agar mereka tahu keseluruhan tempat ini sebab baru pertama kali mereka ke sini.


Resto tak kalah menarik. Tempatnya yang menyatu dengan alam memberikan kesan menenangkan.


"Makan apa saja yang kau inginkan." Ujar Vim sembari menyuapkan makanan ke dalam mulut.


"He eh. Kalau semua dipesan dan dimakan, perut tidak akan muat. Ini saja sudah cukup."


Hari-hari mulai berlalu indah. Mengesankan dan penuh warna. Tawa riang keduanya selalu mengisi ruangan kamar mereka menginap.


"Mas lihat, jika aku hamil tubuhku akan seperti ini." Laras menunjukkan hasil pencariannya di mesin pencarian pada ponsel. Postur ibu hamil sembilan bulan.


"Jelas dong. Tubuhmu mengembang dan mengembang semakin besar. Itu lumrah untuk seorang wanita. Apa kau takut?" Vim ingin tahu jawaban Laras.


"Ehm aku tidak takut tubuhku melar seperti ini tetapi menurutmu bagaimana?"


"Bagaimana gimana Ras?" Dahi Vim berlipat.


"Maksudku pasti di matamu aku menjadi jelek dengan tubuh seperti ini."


"Itu menurutmu. Aku tidak melihat dari sisi jelek atau bagus. Lebih dari itu semua, pengorbananmu mengandung anak-anak lebih berarti. Generasi penerus keturunan Dewantara"


Ucapan Vim benar-benar menenangkan. Terbersit ragu di hati Laras, bisakah ia hamil kembali. Mungkinkah ia bisa memberikan Vim keturunan setelah keguguran yang lalu. Laras takut. Takut keguguran kedua kalinya. Harapan Vim akan hampa bila hal itu terjadi. Laras memejamkan mata. Melintas di angan Laras keinginan mami yang ingin memiliki cucu dari mereka. Dalam hati Laras berdoa semoga ia dan Vim tidak merasakan kecewa lagi karena kehilangan calon bayi.


"Misalnya nih.. misalnya.." Laras ragu melanjutkan kalimatnya.


"Misalkan apa?"


"Kejadian berulang." Ucap Laras.

__ADS_1


"Maksudmu keguguran? Aahh jangan katakan itu. Ucapan umpama doa Laras. Katakan yang baik-baik saja, oke?"


"Aku takut begitu mas."


"Santai saja. Jikapun terjadi lagi ya kita cuma bisa menerima kaan."


Vim tabah sekali berkata seperti itu padahal Laras tahu jauh di lubuk hati Vim menginginkan keturunan dari Laras.


"Sudahlah hilangkan resahmu. Berdo'a dan terus berdo'a. Sabar atas takdir untuk kita Laras."


Laras menjadi sendu dan terharu mendengarkan wejangan atau nasehat Vim.


"Loh kok malah nangis?? Jangan khawatir jangan takut. Hadapi semua yang akan terjadi. Kau masih memiliki aku bukan? Aku akan melindungimu sayang." Hibur Vim. Laras sesenggukan di dalam pelukan Vim.


"Heei kita ke sini mau senang-senang. Diamlah yang. Jangan menangis."


Sungguh aku tak bisa melihatmu berurai air mata Laras. Jangan biarkan air mata itu mengalir di hadapanku.


Hati Vim teriris melihat air mata Laras. Baginya air mata adalah perwujudan kesedihan yang dalam dan melihat Laras mengeluarkan air mata berarti perempuan yang dicintai nya itu dalam keadaan benar-benar sedih. Vim tidak suka melihat Laras bersedih. Tanda ia tak mampu memberikan kebahagian.


Punggung Laras diusap-usap lembut oleh Vim agar Laras berhenti menangis. Vim mendekap erat. Vim memiliki hati yang lembut meskipun kadang keseharian lebih terlihat tegas.


"Aku takut tidak bisa memberikan mami apa yang diimpikan mami."


Keguguran meninggalkan trauma buat Laras. Bagaimana jika ia tidak bisa hamil lagi. Pertanyaan itu selalu hadir di pikirannya.


"Kita berusaha Laras. Semampu kita. Selebihnya serahkan pada Sang Maha Kuasa. Aku takkan meninggalkanmu."


Vim teringat akan janjinya saat akan menikahi Laras. Membahagiakan Laras. Melindungi Laras. Janji itu pula yang ia ucapkan saat berada di makam Vano-adiknya.


"Mas janji?"


"Ya janji."


Lalu buliran air mata Laras diusap Vim hingga kering. Laras mendapatkan kekuatan dari Vim. Rasa cinta dan sayang yang besar takkan mampu menggoyahkan pendirian Vim. Mungkinkah Vim mampu berpegang pada janjinya seiring waktu dan usia mereka yang bertambah?


"Meskipun kita tidak memiliki momongan?"


"Hmm iya tapi tidak salah kita berharap segera diberikan momongan."


Laras berhenti menangis. Kepalanya terasa berat. Vim memberikan minuman air mineral kepada Laras.


"Kuminta dengan sangat Laras. Tidak ada air mata dan hilangkan kecemasan dalam dirimu. Apa yang terjadi hari esok kita pikirkan nanti saja." Kata Vim.


"Aku coba mas."


"Harus bisa. Dengan begitu ketenanganmu tidak terganggu. Bebaskan pikiranmu dan pinggirkan semua ketakutanmu. Aku mau mandi sekarang."


"Ooh aku ambilkan handuk." Laras mengambil travel bag mereka.


"Yang kecil saja. Ada bathrobe di dalam."


"Ini mas." Laras menyerahkan handuk kecil. Vim biasa menggunakan untuk mengeringkan rambut.


"Tunggu. Aku ingin merasakan air kolam itu." Vim menunjuk kolam renang dibalik pintu yang menghadap pemandangan alam di luar sana. Vim selalu tak bisa melihat kolam renang. Selalu menceburkan diri saat melihat kolam renang berada di depannya.


Laras menemaninya, memandang Vim dari tepian kolam. Menghabiskan cemilan yang dibeli ketika di bandara kemarin.


"Kemarilah berenang bersamaku!" Ajak Vim.


"Aku tidak bisa mas."


"Berendam saja kalau begitu."


Laras menggeleng. Vim memercikkan air kepada Laras.


Sementara hangat sinar matahari sore menemani mereka. Menelusup di sela-sela pepohonan hijau.


"Basah!" Seru Laras.


"Biarin. Ayo masuk ke sini!"


"Tunggu jajanan ini habis. Tinggal sedikit."


"Oke cepatan makannya."


"Sabar sayang. Aku bisa keselek."

__ADS_1


Laras membuat Vim tidak sabar Vim keluar dari kolam renang menghampiri Laras. Serta merta mengangkat Laras dengan kedua tangannya. Membawa Laras ke dalam kolam renang. Laras berseru dan tertawa. Air membasahi pakaian yang belum ia tukar. Kemudian Vim menyiramkan air ke arah Laras. Mereka mengurai tawa berdua. Bahagia. Alam menjadi saksi kebahagiaan mereka.


__ADS_2