Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 134. Rencana


__ADS_3

Vim mendengarkan suara di seberang sana dengan emosi tertahan. Wajah yang tadi tenang kini berganti memerah bagaikan cabe merah bercampur saos tomat.


Ia mengenali suara lelaki itu. Caranya tertawa mengejek, bisa Vim tangkap melalui indera pendengar. Dialah si Roni yang belakangan ini membuat darah Vim mendidih.


"Dimana Laras?!" Vim setengah teriak. Roni tertawa lagi.


"Jangan bermimpi kau menang, Roni. Aku mencari kalian sampai ketemu. Jangan harap bisa mengambil Laras dariku. Sialan."


Roni hanya mengumbar tawa melalui panggilan ponsel. Panggilan berakhir dan Vim mengumpat sendiri.


"Brengsek. Sialan kau Ron!"


Tak lama notifikasi pesan masuk. Tiiing.


Tanda pesan masuk tampil di layar ponsel. Nomor yang sama dengan nomor yang melakukan panggilan tadi. Vim membuka pesan secepatnya.


Roni mengirim pesan : Dia bersamaku sekarang. Apa yang kau rasakan Vim? Semua terserahku sekarang hahahaa.


Derai tawa Roni terngiang di telinga Vim.


'Sedikit saja dia luka, kau mendapatkan lebih dari luka itu. Kembalikan Laras padaku!' Vim balas mengirim pesan.


'Kali ini nikmati kekalahanmu Vim. Laras menjadi milikku.'


'Kau tak punya hati. Laras seorang ibu. Anaknya menunggu di rumah!'


'Kau punya hati?? Merebut Laras yang hampir kunikahi?' Balas Roni.


'Perlu kau tahu, Laras tak pernah cinta padamu. Dia mencintaiku. Terimalah kenyataan itu!' Tulis Vim.


Vim berhenti membalas pesan Roni. Melayani Roni berarti dirinya ikut gila. Vim tak pernah merasa berbuat salah. Dia hanya mencintai Laras dan sudah tentu ingin memilikinya. Kebetulan saja Roni pun menyukai Laras.


Saling kirim pesan berakhir. Vim meminta pertolongan petugas untuk menelusuri posisi Roni saat menelpon tapi Vim harus menelan kecewa sebab Roni tidak bisa dilacak. Nomornya tidak bisa dikenali lagi.


Namun Vim terhibur ketika pengawal Laras memberikan informasi temuannya. Pengawal berhasil mengikuti lelaki yang dicurigai sebagai penculik Laras. Lelaki yang mengendarai mobil yang sama untuk menculik Laras.


Lokasi berhasil ditemukan pengawal dan Vim menunggu bantuan petugas yang berwajib. Maksud Vim akan melakukan penyergapan saja tapi pihak berwajib menyusun rencana. Vim menunggu.


Dua hari menunggu Vim tak sabaran. Ia pun memanggil Joel ke ruangannya.


"Iya Tuan. Ada yang perlu dibantu?"


"Duduk Joel dan tulislah."


"Baik Tuan. Saya catat di handphone saja."


"Nomor satu celana panjang biasa dua lembar,nomor dua celana pendek dua lembar, kaos, sepatu kets dan sandal. Semua tidak bermerk ."


"Ini buat apa Tuan?"


"Belum selesai. Catat saja."


"Oya jangan lupa celana olah raga panjang."


"Sebenarnya buat apa Tuan?"


"Joel suruh Rifka berangkat sekarang. Semua barang harus ada di meja besok pagi. Mengerti?"


"Ya Tuan saya sampaikan ke Rifka atau saya mengantar Rifka belanja.


"Terserah...atur saja Joel."


"Semua itu keperluanku. Kau akan tahu besok."


"Baik Tuan. Rifka segera belanja."


Joel keluar menemui Rifka. Kehadiran Joel di depan Rifka mengejutkan perempuan itu.


"Apa sih Joel? Bikin kaget seperti hantu."


"Hantu keren hadir...heee." Joel nyengir. Lalu sambungnya,"Nih dapat tugas dari bos, belanja barang-barang. Semua harus ada di meja bos besok pagi."

__ADS_1


Rifka mendelik. Pekerjaannya belum selesai dan akan diserahkan esok hari tapi masih banyak yang perlu dikerjakan. Bisa-bisa terpaksa dikerjakan di rumah.


"Tugasku belum kelar Joel. Kamu saja ya."


"Rifka ini tugas dari bos buat kamu. Cepat kerjakan atau tak cukup waktu mencari semuanya. "


"Tolong Joel bantu aku ya...lanjutin ini ya? Besok aku bawakan coklat. Joel?"


"Buat kapan sih? Ah aku temani belanja saja."


"Ya sudah kamu saja yang belanja. Bantu supaya pekerjaan ini cepat selesai dan bukan malah ikut belanja," ucap Rifka.


"Rifka, rapat batal jadi kamu tidak perlu terburu-buru menyelesaikan semuanya."


"Aaahh yang benar...."


"Yap benar."


"Memang betul bos ngomong begitu gitu?"


"Belum sih cuma percaya deh sama aku. Bos mau pergi mencari istri?"


"Loohh istrinya masih ada Joel. Mau cari istri baru apa?"


"Rifka kamu buang-buang waktu. Cepetan berangkat. Si bos menyiapkan barang-barang tentu ada sesuatu apalagi barang-barang itu semua tidak ada mereknya. Lihat saja ya."


Sreeeeeg. Muncul raut wajah Vim ketika daun pintu terbuka. Percakapan Joel dan Rifka terhenti. Bos tidak boleh tahu mereka sedang membicarakannya.


"Kenapa kalian memandangku? Ada yang aneh?" Tanya Vim.


"Ehm...Tuan muncul tiba-tiba, kami sedikit terkejut," jawab Joel.


"Ingat, berdosa menggunjingkan orang hanya buang-buang waktu kalian saja. Joel batalkan rapat besok dan seterusnya sampai aku kembali. Aku pergi beberapa hari, dokumen penting tunggu aku pulang. Urusan yang lain berikan ke Rendy," kata Vim.


"Jelas Tuan. Saya ikut ya?"


"Kau dan Robin bersamaku. Siapkan barangmu seperlunya dan Rifka pergilah belanja."


Vim masuk lagi ke ruangannya. Rifka mencolek lengan Joel.


"Ada apa Rif? Sudah belanja sana.


Aku tidak jadi mengantarmu. Tuan belum pulang dan membutuhkanku di sini."


"Benar dan aku mau pergi sendiri saja. Boleh dong bonus satu buatku?" Rifka tersenyum iseng. Tangannya sudah memegang tas dan bersiap pergi.


"Bonus apa?" Joel membelalakkan mata.


"Sepasang high heels."


"Haaa?? Oh boleh...yang harga dua ratus ribuan kan?"


"Joel! Pelit amat sih."


"Bukan pelit Rif. Dana milik kantor dan tuan Vim belum bagi-bagi bonus atau hadiah buat kita-kita. Harga segitu aku belikan dah."


"Aku bisa beli sendiri harga segitu Joel. Pergi aah..daaa."


"Hahahaahaa. Mau yang mahal aja!" Seru Joel.


Rifka menoleh. Senyumnya mengembang. Sekali lagi Rifka berkata, "Ruangan bos jangan dikunci ya. Aku letakkan semua besok, pagi-pagi sekali."


"Oke Nyonya! Hati-hati ya."


Rifka melambaikan tangan dan pergi. Joel menunggu waktu bekerja usai dan Vim pulang tapi hingga pukul delapan malam yang dinanti tak kunjung keluar. Vim masih betah menekuni pekerjaannya. Joel tak diam saja. Cepat mencari tahu sedang apa Vim di dalam. Esok tidak ada janji temu dengan siapa pun dan tak ada yang perlu dipersiapkan sebelumnya. Seperti biasa Joel mengetuk pintu dan masuk.


Dia tak menemukan Vim di kursi kerja. Mungkin Vim di ruangan satu lagi sedang beristirahat di sana. Ruangan tertutup tempat Vim tidur sejenak menghilangkan lelah dan kantuk.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"


Tak terdengar jawaban. Joel melanjutkan bertanya, " Tuan anda tidak pulang?"

__ADS_1


"Hoooaaamm...Joel jam berapa sekarang?" Suara Vim berat.


"Hampir setengah sembilan Tuan. Mari kita pulang."


"Di rumah sepi Joel. Cari tempat yang ada musik dan tidak ramai," suruh Vim.


"Saya tahu tempatnya dan Tuan pasti suka."


"Haalaaah...cafe kan?"


"Musik tanpa henti, anda pasti senang Tuan."


"Tapi jangan minta ganti rugi kalau pacarmu menuntut karena kau menemaniku."


Vim membasuh wajah, merapikan pakaian, menyisir rambut dan memperhatikan penampilan di cermin.


"Itu yang saya pikirkan Tuan."


"Huuuh kau ini. Kerjakan segalanya dengan ikhlas."


"Iya Tuan."


"Tolong tasku."


Joel mengambil tas Vim lalu mengejar Vim yang berjalan cepat. Ruangan terlalu sepi untuk berjalan sendiri.


"Kau takut berjalan sendiri? Kenapa berlari?" Vim memandang Joel.


"Tidak takut Tuan. Saya khawatir Tuan hilang saja."


"Huuft alasan."


Mereka tiba di sebuah kafe dengan sajian alunan musik yang menyambut kedatangan mereka . Joel mencari tempat yang terdapat sekat di pinggirnya agar orang-orang tidak bisa leluasa melihat siapa yang duduk di situ. Ia hafal keinginan Vim. Dalam keadaan gundah begitu Vim hanya mencari tempat hiburan yang mengutamakan kenyamanan.


Tak banyak bicara Vim lebih banyak berdiam diri. Asyik dengan pikiran sendiri tentang bagaimana Laras, sedang apa Laras dan apa yang Roni lakukan pada Laras.


"Aku tak sabar membebaskan Laras, Joel. Aku ingin sekali melihat wajahnya."


"Oh Tuan merindu. Sabar Tuan. Jalan mulai terbuka."


"Besok waktunya Joel. Ingat kalau terlambat datang, pekerjaanmu taruhannya."


"Tidak Tuan. Pergi sekarang juga saya siap."


Tapi tidak lama mereka di sana Vim mengajak Joel pulang.


"Hotel yang tidak megah," celetuk Joel sambil menyetir mobil.


"Mana?"


"Itu Tuan."


"Tapi nikmat dunia di dalamnya. Kau mau ke sana?"


"Apa Tuan mau? Bisa saya temani."


"Pergi saja sendiri. Aku tidak ingin."


Tentu saja bosnya ini tidak mau. Sampai detik itu yang ada di pikirannya cuma Laras dan Laras meskipun istrinya tak ada di sampingnya.


"Ingat tepat waktu besok," kata Vim sebelum keluar dari mobil.


Dinginnya hembusan angin malam menelusup ke rongga pori-pori. Seketika hampa dirasakan Vim. Malam kesekian tanpa Laras. Rumahnya bagaikan kotak raksasa tanpa isi. Memasuki bagian dalam rumah hanya abu-abu yang Vim rasakan. Tiada warna lain. Kegembiraan, keceriaan dan kehangatan sirna dengan hilangnya Laras.


Vim melangkah lesu. Dentang jam berbunyi. Baru pukul sebelas malam. Vim sangat tau bunyi suara jam besar itu.


Pak Uun yang muncul dari belakang memperhatikan Vim dari pintu dapur. Pinu ruangan utama harus dikunci.


Untuk apa mengganti pakaian. Tidak ada yang protes pakaiannya lusuh dan bau karena dipakai sepanjang hari. Laras tidak bersamanya. Tidak ada yang menyiumnya.


Brrrrrrk. Vim menjatuhkan tubuhnya ke atas bed. Berusaha menghadirkan bayangan Laras dalam angan-angan dan dia tenggelam dalam kenangannya hingga tertidur.

__ADS_1


>>>>>>


__ADS_2