Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 49. Bila perlu hancurkan.


__ADS_3

Esok harinya rencana Vim benar-benar dilaksanakan. Petugas dekor datang untuk menghiasi ruangan. Laras melihat saja apa hasilnya nanti. Bunga dan juga balon ditata sedemikian rupa. Sepertinya dekorasi yang cocok untuk acara ultah anak taman kanak-kanak. Kursi-kursi di susun berjejer di luar ruangan sebab di dalam ruangan akan menjadi penuh jika diberi kursi.


Nasi kotak bersusun rapi di atas meja. Ibu dan ayah pun telah tiba. Tak ketinggalan Bu Atik ikut berada di situ mengawasi persiapan acara yang ditugaskan kepadanya.


Satu persatu papan bunga ucapan diantar oleh penyedia papan ucapan. Ada ucapan selamat dari Edo, Dion, mami papi, dari perusahaan Vim dan Laria shoes and sandals. Hanya dari orang-orang terdekat. Ada satu papan ucapan bunga yang belum terbaca oleh Laras dan belum mendapatkan info dari pesan masuk di hp.


Mendekati pukul satu tiga puluh menit persiapan telah selesai semua. Menanti jam dua siang.


Mobil Vim terlihat parkir di pinggir jalan. Si empunya dan pak sopir pun turun. Vim melihat dan membaca semua papan bunga bertuliskan selamat atas pembukaan toko Laras. Ia akan mengirimkan ucapan terima kasih setelah ini.


Tapi raut wajahnya seketika berubah menegang tatkala membaca sebuah papan ucapan yang tertera nama pengirimnya Rony.


"Pak tolong ucapan ini letakkan di luar area parkiran toko, atau dikembalikan. saja Pak." Perintah Vim pada Pak Uun.


"Baik Den." Pak Uun berpikir keras bagaimana papan ucapan yang baru diantar itu harus dipulangkan kepada pembuatnya. Sungguh tidak etis. Pak Uun mencari tempat untuk memindahkan papan itu. Setelah mengamati kiri kanan toko, ia memutuskan untuk meletakkan papan ucapan di depan toko sebelah di pinggir jalan. Dua toko setelah toko Laras. Biarlah asalkan tidak memancing emosi tuan mudanya bila melihat papan bunga itu masih terpampang di depan toko Laras.


"Bagaimana mungkin bisa kau terima ucapan itu dari Rony. Huuuh!" Suara Vim bergetar menahan emosi. Wajahnya memerah karena marah.


Laras membelalakkan matanya.


Bergegas melihat papan ucapan yang dimaksud Vim tapi tidak menemukannya. Ia masuk lagi ke dalam toko. Hanya mereka berdua di dalam toko, yang lain di luar menanti anak panti asuhan berdatangan bersama ustad.


"Tidak ada ucapan kok mas."


"Tentu saja tidak ada. Aku menyuruh pak Uun membuangnya." Suara Vim ketus terbawa emosi.


"Apa? Kenapa di buang?? Itu kan pemberian orang mas."


"Tapi tidak perlu dari Rony. Dari mana ia tahu kau membuka toko huh? Dia melecehkanku."


Laras mengangkat kedua bahu.


"Mana aku tahu. Ya sudah dipinggirkan saja. Bila perlu dihancurkan."


"Jangan coba-coba bermain di belakangku."


"Apaan sih mas. Tidak akan pernah. Mas minum air putih ini. Minumlah."


Laras menyodorkan air mineral botol. Vim meraih dan meneguknya. Mungkin bisa menyurutkan emosi jiwa tersebut.


"Mas belum makan siang ya. Aku ambilkan." Laras mencoba memahami Vim. Mungkin ia sedang lapar sehingga gampang emosi. AC ruangan tidak cukup mendinginkan darahnya yang mendidih. Sebaiknya ia tak menanggapi kemarahan Vim dengan emosi juga. Api akan menjadi besar jika disiram dengan balasan amarah.


"Aku belum mau makan. Acara akan dimulai."


"Iya baiklah. Sayang anggap saja itu dari penggemar. Jangan dihiraukan."

__ADS_1


" Rony breng***!"


"Sudah. Sudah. Ia bertambah senang kalau tahu mas marah-marah. Maafkan aku harusnya tadi aku mengecek satu persatu."


Laras kembali menenangkan Vim. Bibi Am datang menemui mereka.


"Tamu-tamu sudah datang Den."


"Baik bi kami ke luar." Laras menjawab bibi.


Para tamu telah mengambil tempat duduk masing-masing. Pak Ustad memimpin di depan. Ada Vim, Laras dan kedua orang tua Laras di sebelah pak ustad. Ririn dan bibi bergabung dengan anak-anak. Tanpa susunan acara yang formal, pak Ustad membuka acara lalu memberikan tausiyah dan memimpin doa diaminkan oleh semua yang ada di situ.


Acara selesai. Nasi kotak pun dibagikan kepada para tamu. Tak lupa Laras membagikan amplop kepada masing-masing anak. Dibalas dengan ucapan terima kasih dari setiap anak. Laras terharu. Hatinya tersentuh melihat anak-anak yang sebagian besar yatim piatu itu.


Semua tamu telah kembali.


"Ayah dan ibu makan ya. Nasi nya di sana. Bi tolong nasi ayah dan ibu." Panggil Laras kepada bibi Am.


"Baik Non."


"Bibi makan sekalian ya. Ririn kamu juga makan. Oya pak Uun makan dulu Pak."


"Terima kasih Laras." Kata Ririn.


"Baik Non."


Vim dan Laras duduk di kursi di belakang lemari pajangan. Laras memotong buah untuk Vim.


"Ini ibu bawakan untuk kita." Laras menjelaskan.


"Aku suka Melon dan buah Lay."


"Buah Lay dulu ya mas. Setelah itu makan nasi."


"Aku ikut saja. Yang penting nggak kupas buah sendiri."


Laras menyuapkan potongan Lay ke mulut Vim lalu ke mulutnya sendiri. Vim memandangi istrinya penuh cinta. Mata Vim mengamati setiap gerak Laras di hadapannya. Mata yang tak pernah bohong tentang keadaan hatinya.


Tidak lagi merasa kikuk. Laras terbiasa mendapatkan tatapan seperti itu. Melayani Vim makan siang ataupun malam dengan tatapan lekat yang sudah Laras hafal. Mungkin saat-saat begini yang akan selalu diingat Laras mengalahkan saat-saat Vim memberikannya hadiah-hadiah mahal. Terlalu banyak kenangan yang telah tercipta dalam hampir satu tahun kebersamaan mereka. Meskipun kadang emosi Vim bisa meluap tiba-tiba tapi Vim benar-benar tulus menyayangi Laras. Tak pernah satu kali pun Vim berbuat kasar menggunakan kedua tangannya kepada Laras.


"Auuww! Aduh pisau ini."


"Kau terluka?" Vim tersentak mendengar jeritan kecil Laras. Segera berdiri dan melihat sayatan luka di telunjuk Laras. Dirinya menjadi panik. Darah terus keluar dari goresan itu.


"Dimana Betadine? Handyplast?"

__ADS_1


"Tidak ada. Belum membeli."


"Aku beli. Di depan ada apotek."


Vim bergegas keluar.


"Kenapa Vim?" Sapa Ibu mertua.


"Laras luka kecil bu. Aku belikan obat."


Ibu pun menghampiri anaknya. Tidak terlalu lebar sayatannya tapi Vim begitu panik.


"Banyak darah nya Ras?"


"Tidak bu. Laras tutup pakai tisu biar nggak ngalir terus."


Tak lama kemudian Vim datang dengan obat-obatan untuk luka di tangannya.


"Mana yang luka. Sakit?"


Dioleskannya luka itu dengan rivanol lalu cairan betadinr dan ditutup dengan kain kasa. Terakhir Vim membalut kain kasa putih dengan plester.


"Sudah. Sekarang duduklah." Ajak Vim kemudian.


"Hati-hati menggunakan pisau. Untung tidak putus jarimu. Aku suapin ya."


Laras menolak disuapi Vim. Ia malu dilihat keluarga dan temannya, si Ririn.


"Aku bisa makan sendiri mas. Yang luka tangan kiriku."


"Tapi aku mau."


"Mas belum makan. Kita makan bersama ya."


"Laras dengarkan aku."


Laras menarik nafas dalam.


"Terserah."


"Makan yang banyak biar lukanya cepat sembuh."


Laras hanya mengunyah makanannya tanpa berkata lagi. Menurut saja daripada berdebat dengan suaminya.


💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2