Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 79. Obrolan pagi hari.


__ADS_3

Hampir dua minggu kurang tiga hari Vim menahan rasa kepada Laras. Bagaimana ia mengalihkan kebutuhan biologisnya hanya dirinya yang tahu. Dua minggu dan rasanya seperti setahun. Vim mengalihkan perhatian kepada pekerjaan. Ia memilih pulang malam hari dan pulang saat pikiran dan raganya lelah. Saat Laras telah tertidur karena kelamaan menuggu dirinya.


Melihat sikap Vim yang acuh akhir-akhir ini, Laras berpikir yang bukan-bukan. Perlakuan Vim padanya tidak sehangat minggu lalu. Memasuki minggu kedua sikap Vim menjadi dingin ditambah lagi kesibukannya bekerja dan mengurus reuni yang akan berlangsung minggu depan.


Laras berdamai dengan situasi. Menerima keadaan. Menganggap Vim memang sedang banyak pekerjaan sehingga harus pulang terlambat hampir setiap malam. Tiap kali Laras menghubungi Vim, jawabnya di kantor menyelesaikan pekerjaan.


Laras mencari informasi pada asisten Joel dan jawaban yang didapatnya sama dengan sang bos. Ada di kantor menyelesaikan pekerjaan dan akhirnya Laras akan tertidur saat menunggu Vim pulang. Kejadian berulang dan menyiksa Laras. Ia rindu Vim saat memanjakannya dengan sikapnya yang hangat dan rindu bermanja dengan Vim.


Malam ini bibi Am merasa kasihan melihat Laras menunggu kepulangan Vim di ruang keluarga. Bibi mengorbankan waktu istirahatnya untuk menemani Laras.


Berkali bibi mengajak Laras pindah ke dalam kamar. Sebanyak itu pula Laras menolak. Lebih senang menunggu di ruang keluarga katanya.


Bibi merasa kasihan pada Laras. Bila begini ketenangan Laras terusik dan bisa saja kesehatannya terganggu.


Tiiiin.


Suara klakson satu kali terdengar dari halaman depan dan mobil berhenti bersuara. Mesinnya telah dimatikan. Vim dan pak Uun kembali tepat pukul sepuluh malam itu. Bibi tidak sampai hati membangunkan Laras untuk menyambut Vim.


"Malam den." Sapa bibi begitu melihat Vim datang.


"Malam bi. Belum tidur?" Balas Vim.


"Belum den. Menemani non Laras. Tidak mau diajak pindah ke kamar den."


Wajah Laras diperhatikan Vim.


Tersisa senyum meskipun samar di bibir Laras yang tipis.


"Nanti saya pindahkan. Bibi tidur saja."


"Baik den."


Terlebih dahulu Vim mencuci tangan dan kaki di kamar mandi dekat dapur. Kemudian mengangkat tubuh Laras ke dalam kamar. Meletakkannya di atas kasur berukuran besar di ruang tidur mereka dan Vim memandang wajah itu sejenak.


Sungguh ia rindu walaupun setiap hari berada dalam satu rumah dengan Laras. Ia harus cukup puas memandang dan mengelus pipi Laras saja, tidak lebih . Berbuat lebih dari itu hanya akan mengundang hasrat lelaki pada dirinya sendiri dan akhirnya ia harus bisa melepaskannya sendiri.


Vim merasakan letih di sekujur tubuh. Berbaring terlentang menengadahkan wajah ke plafon kamar. Tanpa mengganti pakaian ia merebahkan diri di samping Laras. Hal yang paling ia ingat bahwa tiga hari lagi mengajak Laras kontrol sekaligus konsultasi kehamilan Laras berikutnya.


🌷🌷🌷


Pagi hari Laras merutuki diri karena tertidur tadi malam dan tidak menyambut kepulangan Vim dari kantor. Dilihatnya Vim duduk di sofa sedang memperhatikan layar laptop.


Laras mengambil tempat di sebelah kiri Vim.


"Pagi sayang. Maafkan aku tertidur malam tadi." Tegur Laras.


"Tidak apa." Jawab Vim tanpa menoleh. Dokumen-dokumen yang dikirim Joel barusan lebih menarik perhatiannya dari pada Laras sebab dokumen-dokumen itu harus dipelajari Vim secepatnya.


"Mandi sana. Bau." Kata Vim singkat.


Vim masih belum menoleh jua. Daripada tidak menjawab Laras sama sekali, Vim menjawab sesukanya saja. Vim berusaha menetralkan degup jantung yang berpacu lebih cepat karena Laras menyandarkan sisi wajahnya ke bahu Vim.


"Bau wangi kan." Laras menimpali.


"Mas melihat apa?" Tanya Laras pura-pura bertanya. Vim mengacuhkannya membuat Laras sedikit senewen.

__ADS_1


Dari sebelah Vim, Laras bisa melihat angka besar sembilan digit yang sedang menyita perhatian Vim dan mengabaikan Laras di sampingnya.


Vim mendekatkan wajahnya ke monitor laptop. Menatap serius.


"Sibuk ya. Ya sudah aku jalan pagi sendiri." Laras buru-buru berdiri.


"Mau kemana?? Laras tunggu!"


"Jalan pagi pelan-pelan." Jawab Laras meninggalkan Vim.


Laras tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Sebenarnya ia akan menyiapkan sarapan Vim bukan jalan pagi.


"Pagi bi."


"Pagi non." Bibi tersenyum ramah.


"Non duduk saja. Bibi kerjakan semua." Kata bibi lagi.


"Bibi..saya sudah sehat. Cuma bikin sarapan saja nggak berat kok."


Panggangan roti dihidupkan. Roti diselipkan di sana. Laras menunggu roti matang. Kemudian mengoleskan selai blueberry kesukaannya. Menuangkan susu steril untuk Vim dan membawa sarapan pagi itu ke kamar.


"Selamat sarapan sayang."


Meletakkan makanan beserta nampan ke atas meja.


"Cepat sekali kau jalan pagi."


Vim meregangkan tubuh. Susu diminum dan Sepotong roti bakar disantap Vim.


"Pffft..Laras! Kenapa ini?" Mata Vim melotot.


"Karena mas mengacuhkanku."


Kalimat Laras membuat Vim tercenung. Vim diam dan urung marah. Laras mencari perhatian darinya.


"Sayang ...aku.. pekerjaan ini butuh keputusan cepat. Sekarang berikan aku orak-arik telur saja."


"Mas pasti lapar pagi-pagi sudah mengurus pekerjaan. Aku buatkan nasi goreng dan telu orak-arik saja."


"Terserah. Aku mau makan. Kau tidak perlu berlari ke dapur. Laras!"


Namun Laras tidak mendengar panggilan Vim lagi.


Di dapur Laras menyiapkan bumbu nasi goreng dan telur orak-arik.


Sreng. Sreng.


Laras mematikan kompor. Dituangnya nasi goreng yang masih panas ke dalam piring dan meletakkan telur orak-arik ke bagian sisi piring. Diambilnya kerupuk di dalam toples ukuran sedang dan membawa semuanya ke kamar.


"Sarapan pagi telah tiba. Ayo mas dimakan dulu selagi hangat."


"Ini baru benar." Ucap Vim senang.


"Dengan kompensasi yang sesuai tentunya." Laras tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Sebutkan berapa."


Vim memulai sarapan paginya sedangkan Laras menghabiskan roti berselai blueberry yang tidak dimakan Vim.


"Aahahaa.. serius nih mas?"


Tak menyangka pancingannya mengena Laras semakin senang.


"Lima ratus ribu untuk sepiring nasi goreng, susu dan tenaga yang menyiapkannya."


Laras meletakkan ujung ibu jari ke dagunya.


"Tidak. Tidak. Aku hanya bercanda."


"Beneran juga kuberi. Kau sedang butuh uang?" Tanya Vim selanjutnya.


"Tidak juga. Uang darimu lebih dari cukup bagiku. Lupakan saja."


Aku butuh perhatian saja saat ini.


"Mas hari ini pulang jam berapa?"


Laras membayangkan kesendirian lagi di malam ini.


"Belum pasti jam berapa." Jawab Vim.


"Jangan terlalu malam. Pikirkan kesehatanmu."


"Gimana bisa sehat. Ada yang tidak seimbang." Kalimat itu meluncur ringan dari mulut Vim.


Laras mengerti maksud Vim. Rasa bersalah hinggap di hatinya. Silaturrahmi mereka sebagai suami istri tidak lancar itu yang dimaksudkan oleh Vim.


"Sabar ya mas. Gimanapun juga jangan pernah mencari kepuasan di luar sana." Nasehat Laras pada Vim. Ia tidak bermaksud menggurui Vim. Sebagai istri, Laras berhak mengingatkan suaminya.


"Aku masih ingat batasan. Tolong tisu."


Laras menyerahkan tisu kepada Vim. Suara Vim yang tenang menyejukkan hati Laras.


"Di luar sana banyak penawaran Laras. Sejauh ini aku bisa mengendalikan diri tidak menanggapi mereka. Cepatlah sembuh untukku."


"Aku sudah sehat. Percayalah." Ujar Laras. Terbersit rasa khawatir di hati Laras jika Vim mulai tergoda wanita lain.


"Jadi kita bisa melakukannya sekarang?"


"Haa?? Belum mas. Setelah kita konsultasi ke dokter tiga hari lagi."


"Hhhh tiga hari seperti tiga minggu." Vim menggerutu.


"Sabaaar mas."


Laras membiarkan Vim berdiri dan mandi.


🌻🌻🌻


Like, comment, gift, vote & five stars.

__ADS_1


❤️ U yang sudah mampir.


Trims yaa.💕


__ADS_2