Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 72. Menolong Edo.


__ADS_3

"Katakan kau ada di mana Ed?" Tanya Dion tanpa basa-basi.


"Aku di club biasa. Ramai ini. Ada yang baru. Anggota baru kayaknya. Kemarilah." Edo menjawab dari seberang sana.


"Kami di rumah sakit. Kau kemarilah." Lanjut Dion.


"Bersenang-senang sebentar bro."


"Dasar."


Vim, Laras dan Anggia mendengarkan tanpa menanggapi.


"Seorang wanita menghampiriku. Busyeet body nya ckck."


"Dasar." Dion menggeleng- gelengkan kepalanya.


Panggilan diputuskan oleh Edo. Dion mengangkat kedua bahunya.


"Kubilang juga apa. Biarkanlah." Kata Vim.


Namun tidak lama kemudian ponsel Dion berbunyi kembali. Tertera nama Edo di layarnya.


"Orang baru menghampiriku." Kata Edo. Tadi si wanita mendekati Edo dan sekarang orang baru. Lelaki yang dimaksud oleh Edo.


"Waaah." Dion dan Vim saling berpandangan. Jika begitu mereka sedang mendapatkan satu pendapat yang sama.


"Kami ke sana. Rasain itu perkenalan." Dion mengakhiri kalimatnya dan menoleh ke wajah Vim.


"Perkenalan?" Tanya Vim dengan santai.


"Ya. Kita ke club. Orang baru mendatangi Edo. Si cewek menghampiri Edo duluan."


"Rasain kau Ed."


"Cepatan Vim." Ajak Dion.


"Biarkan saja. Dia nggak bodoh bertarung Di."


"Berjaga jika dia butuh bantuan. Anggia kau di sini dulu." Pesan Dion pada istrinya.


"Baik sayang. Kalian berhati-hatilah."


Vim mengecup pucuk kepala Laras sekaligus berpamitan sebentar.


"Tidur agar tubuhmu cukup istirahat. Aku keluar sebentar." Pesannya sebelum pergi.


"Iya sayang. Aku menunggumu saja."


"Tidak. Jangan. Tidurlah."


Vim dan Dion segera datang ke klub dimana Edo berada. Klub tempat mereka biasa berkumpul.


Klub yang dari luar kelihatan sepi namun di dalamnya terdapat cewek-cewek cantik nan seksi. Siap memberikan kepuasan pada lelaki yang membutuhkan dan menawarkan nikmat dunia.


Vim dan Dion berdiri mencari keberadaan Edo di dalam. Mengabaikan seorang wanita yang mendekati mereka. Dion bergerak maju karena pandangannya terlebih dahulu menangkap sosok Edo di depan sebelah kanan.


Vim hendak mengikuti namun langkahnya tertahan oleh tangan lembut yang tiba-tiba menggamit lengannya.


"Lepaskan." Suaranya datar. Acuh pada wanita cantik yang berusaha menarik perhatiannya.

__ADS_1


Namun Vim tidak terpengaruh sedikitpun oleh kecantikan wanita tersebut. Kedua matanya terus memandang ke arah Dion yang sedang berjalan ke depan. Edo bersama seorang wanita pula.


"Mari bersenang-senang. Aku bisa memberimu kepuasan." Wanita itu menempelkan kepalanya di bahu Vim.


"Minggir. Aku cukup puas dengan istriku. Aakh..lepaskan atau kutolak kau." Ancam Vim. Tangannya melepas paksa tangan wanita itu dari lengannya. Ia merasa risih dengan perempuan itu. Vim tidak tertarik sama sekali. Baginya Laras lebih menggairahkan daripada wanita ini.


"Huuuh munafik!" Si wanita menghardik kesal tidak bisa menarik Vim dalam jeratnya.


Di depan sana seorang wanita cantik seksi dan berdandan menor didatangi seorang lelaki berperawakan tinggi. Wanita tersebut sedari tadi mendekati Edo dan berusaha merayunya.


"Aku bisa menemanimu. Katakan mau di mana." Sang wanita menawarkan diri tanpa malu.


"Kau? Apa maksudmu?" Tanya Edo.


"Kau bukan lelaki polos kan hingga tidak mengerti maksudku."


Tubuh wanita itu sangat dekat dengan Edo. Dadanya yang menyembul hampir mengenai wajah Edo.


"Minggirlah. Aku tidak menginginkanmu."


"Beberapa jam atau satu malam. Terserahmu..sayang." Si wanita merayu Edo dengan gemulai.


Edo tak bergeming. Sama sekali tidak memiliki ***** melihat wanita di depannya ini. Ia hanya ingin duduk-duduk santai di sana bukan mencari kepuasan sesaat dari seorang wanita.


Sebuah teriakan membuat si wanita menoleh.


"Menjauh darinya!"


"Hhhhhh." Wanita itu mendengus kesal. Tangannya ditarik oleh lelaki tadi. Wanita itu berusaha melepaskannya.


Edo reflek bangun dari duduknya di depan meja bar. Bersiap sedia akan kemungkinan buruk yang terjadi yaitu serangan dari lelaki didepannya. Melihat gelagat tidak baik dari lelaki itu beserta temannya ia harus berjaga-jaga.


"Jangan ganggu dia!" Seru lelaki yang tinggi dan lumayan tampan seperti Edo.


"Sialan! Berani kau!?" Edo terkejut.


Edo memberikan balasan dan lelaki itu berhasil menghindar. Kedua temannya menghajar Edo. Mendapatkan serangan tiba-tiba, Edo tidak siap.


Edo diserang tiga orang yang menurutnya orang baru. Suara gaduh semakin memenuhi ruangan itu. Sebagian pengunjung memilih keluar dari sana tetapi ada juga yang tetap menyaksikan perseteruan.


Edo terjengkang ke belakang karena sebuah tendangan di perutnya. Vim dan Dion segera berlari dan maju membuat benteng di depan Edo.


"Berani kalian main keroyok. Kalian baru di sini hahh?!" Bentak Dion.


"Jangan ikut campur. Dia mengganggu perempuanku! Minggir kalian!" Seru lelaki yang berdiri paling depan.


"Kau yang tidak bisa menjaga perempuanmu!" Vim tak mau kalah bersuara. Dia sudah pasang badan.


"Sialan. Berikan dia padaku!!"


"Ini baru imbang. Tiga lawan tiga. Dasar pengecut!!"


Vim memancing suasana menjadi semakin memanas. Ketiga orang baru tidak terima apa yang diucapkan oleh Vim barusan.


"Jaga mulut lu! Hiiiaaat!"


Si pemimpin mulai menyerang Vim. Vim membela diri. Anak buah lelaki itu maju dan menyerang Dion dan Edo. Masing-masing menyerang dan mempertahankan diri.


Buuug. Buuug. Plak.

__ADS_1


Edo memegang bibirnya yang sudah berdarah sejak tadi dan harus kena pukulan lagi. Kemarahannya berkobar dan menyerang lawannya tanpa ampun. Sang lawan terhuyung. Dalam hati ia merasa bangga telah mempelajari ilmu bela diri.


Ciiiat..buuug..Aakh!


"Brengsek!." Ucap si kecil yang melawan Dion. Dia memegang perutnya. Berbalik menyerang Dion namun mampu dihindari oleh Dion.


Sang lawan mulai terdesak oleh perlawanan Vim dan Dion. Vim tak kenal ampun. Kekesalannya atas kehilangan calon baby dilampiaskan saat itu. Kelemahan lawan terus dimanfaatkan Vim untuk membuat mereka kalah. Pukulan bertubi dan cepat serta tendangan terarah Vim layangkan ke pemimpin mereka.


Satu persatu mereka ambruk dan memandang sinis pada Vim dan Dion. Vim dan Dion berdiri gagah dengan sedikit luka di wajah mereka. Mereka boleh sombong sedikit saja.


"Pergi dari sini dan bawa wanita itu. Jangan pernah ke sini lagi atau kalian berhadapan denganku!" Dion memberikan peringatan.


"Hhhhhhh!!!" Si pemimpin lawan membuang wajahnya dari Vim cs. Pergi berlalu meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya. Tangan si wanita berada dalam genggamannya pula.


"Kau Ed ngapain di sini sendiri?" Dion bertanya sembari membenarkan kaos dan rambutnya.


"Cuma nongkrong mengisi waktu." Jawab Edo ringan.


"Kita selalu bertiga Ed. Kau bisa mengajak kami atau bergabung dengan kami di RS." Vim menyela.


"Aku sedang ingin sendiri." Edo menimpali lagi.


Jawaban Edo ada benarnya. Adakalanya kesendirian menjadi penawar hati yang sedang gundah seperti Edo. Bisa berpikir jauh tanpa kebablasan tentu saja bagi yang paham.


"Kita ke rumah sakit. Kau bisa pulang sendiri Ed?" Dion bertanya.


"Tentu saja. Kesadaranku penuh."


Edo tak mau dianggap lemah. Ia selalu bisa menutupi keadaan yang sebenar. Tubuhnya terasa remuk dihajar ketiga orang tadi sebelum sahabatnya datang tapi ia tak ingin Vim dan Edo merasa kasihan padanya.


"Hati-hati nyetirnya. Makanya cari bini biar ada yang ngurus tuh luka."


Edo melengos mendengar ucapan Dion.


"Hati-hati bro. Apa perlu kupanggil perawat khusus malam ini?" Vim nyengir mengejek Edo.


Jika perawatnya adalah Laras aku mau batin Edo. Akh..


"Gak usah. Gak perlu."


"Hahaha.. betah amat di apartemen sendirian." Vim belum puas meledek.


" Tunggu masanya." Tangkis Edo.


"Oke. Oke aku tunggu hahah."


"Bagaimana dengan Laras?" Tiba -tiba Edo bertanya tentang Laras. Raut wajah Vim berubah datar.


"Baik. Emosinya sudah stabil. Pulanglah. Bye." Vim menjauhi pintu mobil dimana ia melihat Edo dari kaca pintu yang diturunkan setengah.


"Vim sudah malam." Panggil Dion.


"Oke. Malam Ed."


Vim melambaikan tangan pada Edo demikian pula sebaliknya. Canda hanyalah canda bagi mereka. Tidak ada yang merasa dilecehkan sebab mereka sudah sangat akrab dan hafal dengan sifat masing-masing.


Persahabatan bagai kepompong..


🌱🌱🌱

__ADS_1


Like, comment, gift, vote and five stars.


Terima kasih yang selalu mampir di novel othor..💕🤗


__ADS_2