
Waktu berputar hari berganti, Laras telah menyelesaikan kuliahnya. Berkat dukungan Vim impiannya untuk sekolah tinggi tercapai. Wisuda diliputi suasana gembira. Laras mengenakan kebaya dan toga seragam kebesaran para wisudawan.
"Selamat! Selamat ya sayang, tugas belajarmu telah selesai."
Cuuup. Sebuah kecupan dari Vim di pipi Laras. Tak ketinggalan buket bunga diberikan.
"Terima kasih mas. Belajar itu takkan pernah selesai mas. Ilmuku masih sedikit."
"Yaaah menuntut ilmu bisa kapan saja, di mana saja."
Keduanya merayakan keberhasilan Laras
berdua saja. Vian ditinggal sebentar dan dijaga oleh bibi.
"Makan lagi. Ini...."
Vim menyendokkan masakan cumi bersaus kepada Laras.
"Cukup mas." Laras menutup piringnya dengan kedua tangan.
"Ini juga, supaya kau sehat."
Vim menambahkan baby kailan ke piring Laras. Laras kalah cepat menolak sebab sayuran matang itu sudah berpindah ke piringnya.
"Yaaa ini kebanyakan."
"Sudah dimakan dulu. Kulihat pipimu belum naik."
"Mas? Heloo mas aku baru selesai melahirkan dan badanku belum kembali normal. Pipi ini kamu bilang belum naik?"
Padahal Laras memang sedang berusaha menurunkan berat badan. Sehabis melahirkan berat tubuhnya naik tiga kali lipat. Diam-diam tanpa Vim ketahui, Laras diet tidak ketat.
"Tapi kau tetap cantik."
"Iya cantik. Kamu lihatnya dari samping. Tubuhku sekarang 72 kilo!" Laras menutup matanya dengan telapak tangan.
"Biar saja. Kau kan menyusui Vian dan aku tetap suka walau badanmu gembrot."
"Ya ampun ... pelan-pelan dong ngomongnya mas."
Vim tertawa. Melirik ke kanan dan ke kiri. Tidak banyak orang di tempat itu. Sebenarnya Vim heran juga. Setiap selesai menyusui Laras akan kelaparan dan mencari makanan di atas meja. Untungnya bibi menyiapkan cemilan di kamar mereka.
"Kau jangan memikirkan diet dulu sekarang ini karena kau harus menyusui Vian dan kau harus banyak makan."
"Diet ringan saja." Laras ingin tahu reaksi Vim.
"Enggak boleh." Vim menekan kata-katanya.
"Duuh ... segitunya."
"Ya iyalah. Kau menyusui Vian dan Vian harus mendapatkan makanan yang cukup dari air susu."
"Kalau begitu mari habiskan. Sayang kan kalau terbuang."
"Naah itu pintar...."
Tidak hanya itu kebahagiaan yang ada. Hari-hari yang terlewati penuh kebahagiaan atau suka cita. Laras mendapatkan keutuhan cinta Vim dan sebaliknya.
Pulang bekerja Vim bermain bersama Vian. Walaupun hanya menggendong Vian , hal itu berarti sekali baginya.
"Anak papi, besar nanti bantu papi ya."
Hanya sekejap dalam gendongan Vim, tangis Vian terdengar.
"Kok nangis? Kau haus ya. Mami!"
Vim memanggil Laras. Laras tak muncul.
"Sabar anak baik. Kita cari mami ya."
Vim membawa Vian naik ke kamar atas. Di sana Laras sedang membersihkan ranjang Vian.
"Anak mami nangis ya. Kenapa sayang? Papi menyubitmu?" Laras melirik Vim.
"Haus mungkin."
"Aku susui mas. Sebentar lagi Vian mandi. Sudah dekat waktunya bobok."
"Aku siapkan air hangat ya."
Laras mengangguk. Kemudian melepaskan semua pakaian Vian. Mengangkat bayinya ke kamar mandi. Laras memandikan dengan hati-hati. Tak ingin melakukan kesalahan yang bisa membuat Vian sakit nantinya. Kepala, wajah dan seluruh tubuh Vian dibasuh dengan air dan sabun. Suara Vian melengking saat air menyentuh kulitnya.
"Vian kamu mandi dulu nak," kata Vim. Ia memperhatikan was-was.
"Sudah mas. Tolong handuknya."
"Segar bukan ... baby??"
Mandi selesai. Laras menidurkan Vian. Vim tidak keberatan bergantian dengan Laras menjaga Vian di malam hari. Mengganti popoknya saat kencing dan membangunkan Laras bila Vian menangis.
...•°•°•°•...
Dion menyebutkan sebuah kerja sama lagi. Keputusan berikutnya ada di tangan Vim. Dion menyanggupi kerjasama. Oleh karena itu calon mitranya ingin bertemu Vim. Berbicara empat mata, katanya.
Joel asisten Vim mengatur jadwal pertemuan di sebuah hotel. Di situ pula mitra baru menginap.
Tap ... tap ... tap.
Langkah Vim mantap diikuti Joel. Mereka menunggu di ruang tamu hotel atau lobby.
"Tuan ada pesan dari resepsionis. Tuan dipersilahkan menunggu di kamar 128. Yang bersangkutan terlambat datang."
"Di sini saja Joel."
"Di kamar saja tuan. Bisa sambil istirahat."
"Oke. Ayo ke atas."
__ADS_1
Mereka berdua menaiki lift dan tiba di kamar nomor 128.
Ceklek. Pintu dibuka Joel.
"Siapa kau?!" Joel tersentak melihat seorang makhluk perempuan berdiri tidak jauh di depannya. Dia menatap Vim heran.
Vim ikut heran memandang Joel. Vim berkata, " Kau memandangku, Joel? Siapa dia?"
Ingin sekali Joel menjawab, iya saya memandang tuan. Memangnya kenapa? Tapi Joel hanya berkata, "Tidak tahu Tuan."
Joel segera menutup pintu. Dadanya turun naik melihat pakaian perempuan tadi. Dia mengusap wajahnya. Pakaian wanita itu terlalu terbuka.
Dia merasa tidak enak hati dengan bosnya.
"Joel!"
Joel keburu menutup pintu dan pergi. Hanya ada Vim dan wanita itu. Wanita dengan pakaian terbuka di bagian dada dan belahan samping yang tinggi.
"Selamat malam tuan. Selamat berjumpa."
"Kau siapa? Apa aku salah kamar?"
"Tuan tidak salah kamar. Perkenalkan aku Shofia, Tuan."
Wanita itu bergaya lemah gemulai. Mengulurkan tangan dan Vim enggan menyambutnya.
"Shofia? Aku tidak memesanmu. Mengapa kau di sini? Maaf aku tidak ada kepentingan denganmu. Kau boleh keluar!" Vim tegas.
"Seseorang memesanku Tuan. Marilah kita bersenang-senang."
"Jangan sentuh aku!"
Vim menepis tangan Shofia di lengannya. Perempuan itu berusaha merayunya. Mengabaikan ucapan Vim.
"Aaaww! Jangan pura-pura Tuan." Si perempuan justru berpegangan erat pada Vim. Bagian tubuhnya yang menyembul menyentuh lengan Vim. Di saat bersamaan, sebuah kamera mengabadikan hal tersebut dari seberang hotel. Wajah Vim dan perempuan itu terlihat dari luar kaca jendela.
"Katakan siapa yang mengirimmu?" Vim menatap tajam. Si wanita meringis merasakan cengkeraman Vim.
Vim menyadari situasi ini.
"Katakan atau kau diseret oleh satpam."
"Lepaskan!" Teriak si wanita.
"Bodohnya kau menolak madu yang kutawarkan." Si perempuan bicara kiasan.
"Aku tak butuh madu dari mu! Katakan siapa orangnya?!"
"Aku tidak tahu Tuan. Aku hanya dibayar." Si Wanita memasang wajah memelas. Meminta belas kasihan Vim.
Vim melepaskan cengkeraman.
Bergegas keluar dari kamar 128. Darah naik ke ubun-ubun kepala. Wajahnya merah menahan marah. Di lobby ia menelpon Dion.
"Di! Batalkan kerjasama. Aku tidak suka. Ini pasti ulah mitramu, mengirim perempuan itu padaku. Tidak ada tapi-tapi Di!"
"Ngapain kau turun ke bawah. Mau menjebakku?!"
"Ti- tidak Tuan. Ma'afkan saya. Saya tidak tahu wanita itu di dalam sana. Seseorang menjebak kita Tuan."
"Brengsek!!" Vim menggeram. Penasaran dengan orang yang berani mengirimkan perempuan itu padanya. Ini pasti ulah mitra baru. Vim asal menebak. Vim berlalu keluar dari hotel diikuti Joel.
"Mimpi apa aku tadi malam. Istriku lebih menggoda dari perempuan itu."
Joel diam saja mendengar si bos mengomel. Jika Joel menanggapi, ia justru kena damprat Vim.
...🌾🌾🌾...
Laras Pov.
Kebahagian telah lengkap kurasakan. Bersama Vim aku merasa disanjung, dipuja, lebih berarti dan mengalami banyak perubahan. Vim memberiku semangat, menguatkanku dan sandaran hidupku. Kurasakan cinta dan perhatiannya yang besar. Aku tak bisa membalas sebesar apa yang ia berikan padaku. Aku cuma punya cinta untuknya.
Kebahagiaan itu semakin lengkap dengan adanya Vian. Buah cinta kami.
Flash back on.
Aku membuka pintu rumah karena seseorang mengetuk pintu. Kuharapkan Vim kembali dari berolah raga. Sore ini dia pergi dengan Dion untuk olahraga. Sudah lama tidak bermain dengan Dion.
"Aku pergi ya. Baik-baik dengan Vian di rumah," pamit Vim.
"Hati-hati ya mas," ucapku.
Dia terlihat gagah menunggang motor kesayangannya. Setelah itu aku kembali bermain bersama Vian. Entah mengapa Vian menjadi rewel sore itu. Tidurnya tidak pulas. Terbangun dan menangis.
Kubuka pintu dan ternyata dia orang yang sangat kukenal-kak Edo. Aku merasa tidak pantas menerima kak Edo saat Vim tiada di rumah.
"Ma'af kak, kak Edo nggak ikut olah raga?"
"Tidak. Laras...mana Vian?"
"Ada di dalam kak, kenapa?"
"Bibi ada?"
"Ada. Kakak mau ketemu bibi ya. Bilang saaja kalau mau ketemu bibi."
"Ya aku mau ketemu bi Am. Cepat panggilkan."
"Baik. Kakak tunggu di sini ya. Aku panggilkan."
"Iya. Cepat Laras!"
Aku heran kak Edo memintaku lebih cepat memanggil bibi. Sebenarnya urusan apa kak Edo dengan bibi. Aku ke depan lagi dengan bibi.
"Ini bibi, kak. Mau ngomong apa sih?"
"Laras...Vim...."
__ADS_1
Flash back off.
Aku menatap nanar kain putih yang menutup tubuh Vim. Kepalaku pusing dan mataku sakit. Hampir sepuluh jam aku menangis tanpa henti. Aku ingat setelah kak Edo menunjukkan foto Vim, pandanganku mengabur lalu gelap.
Setelah kusadar dari pingsan, kak Edo mengajakku ke rumah sakit. Di sana kak Dion menunggu. Tidak lama kemudian papi dan mami datang. Aku belum melihat ayah dan ibuku. Ayah dan ibu kesulitan datang ke rumah sakit di malam hari. Tidak apa. Mami, papi dan dua orang sahabat cukup menguatkan diriku menghadapi ini.
Sebuah tindakan operasi di lakukan. Menurut dokter Vim mengalami cedera tulang belakang. Kecelakaan tadi sore membuat Vim tak berdaya. Dia yang kukasihi.
Kak Dion lantas bercerita, Vim segera pulang setelah mereka selesai olahraga bersama. Dion masih mengobrol dengan seorang teman yang lain.
Dion mengetahui Vim kecelakaan setelah ia pulang melalui jalan sama dengan jalan yang dilewati Vim. Kendaraan berbaris panjang di depan. Rasa ingin tahulah yang membuat Dion berhenti. Kecelakaan beruntun baru saja terjadi. Dion mendengar cerita orang yang berada di sekitar kejadian dan alangkah terkejutnya Dion melihat motor Vim tergeletak di bahu jalan.
Dion tak menemukan Vim. Dion segera mencari tahu dan bertanya pada orang yang berada di dekatnya.
"Kecelakaan Pak?"
"Iya betul. Kecelakaan beruntun. Itu di sana guling-guling jatuh ke bawah. Menghindarkan ibu itu."
Si bapak bercerita. Barangkali dia melihat kejadian ini. Dion melihat orang berkerumun di bawah sana. Di tempat yang lebih rendah dari jalan raya. Dion turun ke bawah. Dia mencari Vim. Mungkin Vim melihat kejadian dan turun ke bawah menolong korban kecelakaan.
Vim bukan menolong korban kecelakaan. Dion menjadi pucat ketika mengetahui bahwa tubuh yang berada di lereng itu ternyata Vim. Dion meminta pertolongan.
"Pak tolong angkat pak! Dia teman saya. Tolong angkat ke atas." Dion gugup.
Seorang bapak berkata, "Ayo angkat!"
Vim segera dilarikan ke rumah sakit dan Dion meminta Edo menjemputku.
Aku berada di sini. Di depan tubuh suamiku yang kini terbaring dan aku teringat saat terakhir ia berpamitan. Air mataku mengalir lagi. Ya Tuhan beban apa ini yang kau berikan padaku. Terlalu berat menyesakkan dadaku. Orang yang kucintai terbaring tak berdaya. Saat ini belum juga sadar. Berikan kesembuhan Tuhan.
Edo dan Dion belum pulang. Masih setia menemani Vim, sahabatnya yang belum ingin membuka mata. Seluruh tubuhku lemas. Aku tak mampu berdiri. Aku ingin memeluk tubuh itu. Merangkul memberi kekuatan padanya.
"Ras...berhentilah menangis." Kak Edo menenangkanku. Air mataku justru mengalir.
"Kenapa seperti ini kak?"
"Ras yang sabar ya. Vim bisa sembuh." Kak Dion menghiburku.
Aku tak yakin akan ucapan mereka.
"Di saat kami sedang bahagia...hiiiiks."
"Sabar Ras." Kak Edo memberikan kekuatan.
Aku pasrah. Diam. Apalagi yang bisa kulakukan selain menerima.
Mami juga terpukul. Terus terisak di bahu papi. Vim anak kesayangannya terbaring belum sadar diri. Aku tak lagi memikirkan Vian. Anakku itu bersama bibi di rumah. Air susu tak berkurang sejak sore kemarin dan memberikan rasa nyeri di dada karena melimpah.
"Pih... gimana Vim, Pih?"
Mami gelisah dan bersedih sama sepertiku.
"Sabar ya Mih. Kita tunggu."
Author POV.
Semua menunggu Vim sadar. Semua diam dengan rasa yang sulit diungkapkan satu persatu. Dion menyandarkan diri di dinding sebelah Vim. Edo bersidekap di belakang Laras. Laras berada di dekat kaki Vim. Ia mengusap kaki Vim. Mami dan papi di sebelah kiri Vim.
Dan mereka mendapat kejutan ketika kepala Vim mulai bergerak pelan. Lalu matanya terbuka perlahan.
"Laras," panggil Vim.
"Aku di sini mas."
"Mami, papi."
"Iya Vim. Ini papi dan mami."
"Kau Ed dan Dion. Kemarin...."
"Ya Vim. Semangat." Dion menguatkan Vim.
Vim bergerak akan menggeser tubuhnya ke belakang. Dia berhasil menggeser duduknya tapi dia berkata, "Kakiku...kenapa kakiku tidak bisa diangkat? Di!"
Tangis mami pecah. Laras banjir air mata.
"Papi! Kakiku kenapa?!"
"Vim!" Edo memanggil.
"Ed aku kenapa?!!"
"Vim... kakimu bagian bawah tidak bisa digerakkan."
"Aaaaaakhhhh!! Tidaaakk! Tidaaak!!"
Laras menangis. Laras tak sanggup menyaksikan Vim terluka. Dia ingin pergi keluar dari sana tapi bahunya di tahan Edo.
"Tetaplah di sini. Kasihan Vim."
"Aku tidak berguna. Tidak! Mami aku mau mati saja!!" Teriak Vim. Dia menggeleng kuat. Matanya basah air mata. Baru sekali ini Laras melihat Vim begitu kecewa dengan keadaannya.
"Tidak Vim! Kau anak mami, harus kuat...hiiiiks."
"Aku tidak bisa apa-apa Mami. Aku cacat hhhh!" Vim menunduk lemah. Isak tangisnya menyayat hati.
"Semua ada jalannya Vim. Kita masih bisa berusaha," kata papi.
"Aku tidak berguna. Aku tidak berguna."
Vim memandang Laras. Netranya tersirat cinta tapi sesaat kemudian ia memalingkan wajah. Sekuat hati menahan sesak dadanya karena ingin menangis melihat Laras.
Laras bangkit menggenggam jemari Vim tapi Vim diam. Pandangannya kosong.
...🍃🍃🍃...
Readers yang baik...jangan lupa like, komen, gift dan vote ya.💐
__ADS_1
Terima kasih banyak.💕