Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 115. Masih ada bahagia.


__ADS_3

Dengan terburu-buru Laras melewati semua karyawan yang ada yang ada di ruangan itu. Semuanya memandang ke arah Laras namun tidak berani berkata apa-apa.


"Kenapa ya?" Tanya seorang karyawan.


"Pasti ada yang salah," kata seorang yang lain dari mereka.


"Sesuatu telah terjadi."


Laras menangis sejadinya di ruangan kerja. Air mata tak mampu dibendung.


Seandainya kau sehat mas, tidak terjadi seperti ini. Kuatkah aku melewati ini semua?


Pusing yang mendera tiba-tiba menjadikan pikiran Laras buyar. Lebih baik pulang saja. Hari ini melelahkan dan itu disebabkan oleh Roni.


"Aku pulang, Risa. Kepalaku pusing." Pamit Laras. Risa setuju. Iba melihat Laras yang tak menunjukkan semangat.


"Ya hati-hati."


Laras berdiam diri bersama Vian di kamar. Mengayun ranjang Vian dari bawah. Sesaat berhenti menyandarkan kening di sisi ranjang. Beban hidup terasa berat.


"Hiiiiiiiks."


Laras tak menyadari Vim memperhatikan dari pintu yang terbuka lebar. Vim urung masuk dan tak ada yang menyayat hati selain melihat Laras dalam kesedihan.


Suami macam apa aku ini. Tidak bisa membelamu dalam situasi sulit dan kau mengapa masih saja bertahan?


Suara derit roda membuat Laras tersadar. Vim memperhatikan dirinya.


"Mas....?"


Tak ada jawaban. Vim sudah berlalu dan Laras enggan mengejar. Kejadian tadi mengocok perasaan.


Dari dalam Laras mendengar namanya dipanggil. Ia segera keluar dengan gontai. Berisik sekali suara ini.


"Kak Edo, ada apa??!"


Edo datang. Laras menjadi sungkan dengan Vim. Dia bisa menyangka sesuatu yang tidak baik.


"Ada apa kakak ke sini?" Laras gusar.


"Kau kemari lagi? Ngapain Ed?!"


Nah kan benar. Vim berada di antara Laras dan Edo. Pertanyaan mengandung kecurigaan terlontar tak perduli prasangkanya benar atau tidak.


"Tidak bolehkah aku kemari? Laras...aku bawa berita baik. Perusahaan Triple Q menawarkan penghasilan besar. Kau bisa gabung di sana," kata Edo.


"Seberapa besar?" Laras tak yakin. Sungguh ia tak menghendaki berita ini


"Bisa kau bandingkan. Berminat?"


"Entahlah. Belum pasti." Laras lesu.


"Kerja di mana lagi?!" Tanya Vim ketus.


"Triple Q. Daripada bekerja dengan Roni lebih baik di situ."


"Terserah Laras. Aku tidak bisa membantu. Laras menentukan langkah sendiri."


Vim menjauh dari Edo dan Laras. Dia bukan tidak memikirkan keberadaan Laras yang bekerja dalam perusahaan di bawah naungan Roni. Kekhawatiran kerap menguasai hati tapi segala hal bergantung pada Laras sendiri. Laras yang menjalani.


Laras tak berminat berbicara lagi. Perasaan Vim lebih penting. Nama Roni hanya akan membuat Vim mau muntah. Lebih baik menghindari pembicaraan itu.


"Kak, tidak bahas itu lagi ah. Biarkan aku berpikir dulu." Laras menyusul Vim ke kamar Vian.


Edo tak sungkan mengikuti dari belakang. Mereka memang layaknya saudara satu sama lain. Hal biasa menganggap rumah sahabat bagaikan rumah sendiri dengan batasan tertentu. Sejauh ini Edo masih bisa menjaga jarak dengan Laras walaupun ia menyukai Laras.


"Ya gimana kamu aja. Nggak mau tidak masalah. Aku berikan jalan keluar supaya kamu keluar dari lingkaran Roni. Kau ingat kan dia pernah gagal melamarmu?" Edo bertanya.


"Uhm..dia berbuat wajar-wajar aja kok." Laras berupaya membuat Vim dan Edo tenang.


"Nah kalau hal bejat terjadi?" Edo menggendong Vian.

__ADS_1


"Apaan kau Ed!?" Sergah Vim.


"Bisa saja terjadi dan ketika itu juga Laras bukan milikmu lagi."


Edo tak mengenal ampun berkata-kata. Perduli amat Vim tersinggung atau tidak. Vim terlalu lambat memperbaiki keadaan.


Edo memberikan Vian kepada Laras.


"Seorang yang paling kau cintai. Sanggup lihat Laras jatuh ke tangan Roni??"


"Edo!! Kau....?" Vim memotong kalimat Edo.


"Aku apa? Bahkan kau susah sekali berjuang untuk Laras hhhh."


"Pergi Ed. Kau merusak suasana hatiku." Usir Vim.


"Hahaah..katakan padaku Laras jika kau lelah dengan Vim. Aku siap menolongmu, kapan pun." Edo percaya diri.


"Kakak ini...itu mustahil."


Laras sangat sadar bahwa separuh hati dan jiwa adalah Vim. Sulit menggantikan Vim dengan siapa pun. Biarkan sampai menutup mata hanya ada Vim saja dalam hidupnya.


"Takdir sanggup bicara lain, Laras."


Kalimat Edo menohok Vim. Apa jadi diri Vim tanpa Laras. Dua kali menderita sakit hati?


Namun begitu Vim tetap berkata, "Jalan terbuka untukmu Laras. Memilih pergi atau bertahan. Aku tak memaksamu. Sesungguhnya kebahagiaanmu paling utama."


Laras terpaku. Tegakah ia meninggalkan Vim setelah apa yang diberikan Vim? Sang suami yang telah mengangkatnya ke kehidupan yang lebih baik.


"Bagaimana mungkin aku bisa mas? Aku yang rendah menjadi seperti ini sekarang, karenamu."


"Pertimbangkan keadaan Laras dan Vian, Vim. Buang egomu. Aku masih di sini membantu menjaga Laras. Catat, aku menjaganya!"


"Kuharap tidak ada pengkhianatan di antara kita Ed."


Edo tersenyum miring dan berucap," Tergantung kondisi."


"Mengapa tidak? Kau saja tidak berusaha merubah keadaan." Edo membela diri. Edo menyukai Laras.


"Awas kau!!" Ancam Vim.


Dan Edo pergi. Usaha membujuk Laras gagal. Laras tergiur penghasilan besar yang bisa menutupi kekurangan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.


Kini hanya Laras, Vim dan Vian di kamar. Vian kembali tidur nyenyak. Bayi seusia Vian membutuhkan waktu istirahat dan asupan ASI yang banyak untuk tumbuh kembang.


"Mengapa kau masih di sini? Lihat aku Laras, apa yang kau harapkan dariku?"


"Bukan tentangmu saja mas, tapi Vian dan milik kita yang lain. Aku tetap di sini."


"Kau keras kepala."


"Masih kalah sama mas." Bagi Laras, Vim lebih keras kepala. Semua mendorongnya untuk sembuh, Vim tetap dalam keraguaan.


Vim membayangkan Laras mempunyai banyak kenalan baru di luar sana. Lambat laut bukan tidak mungkin Laras tertarik pada salah satu dari mereka. Dada Vim terasa sakit. Nyeri.


"Berapa banyak kenalan barumu ?"


"Apa??" Laras tercengang. Sampai sejauh itu pikiran Vim.


"Aku tidak bisa menghitung."


"Banyak berarti."


"Tidak juga. Mas curiga ya?"


"Nggak. Buat apa? Hakmu mendapatkan kebebasan." Vim malu mengakui yang sebenarnya.


"Curiga juga nggak apa-apa kok tapi percayalah aku tetap setia." Laras diam sebentar lalu menyanyikan sebaris lirik lagu, "Aku masih di sini untuk setia."


Lalu Laras beranjak ke arah Vian tidur.

__ADS_1


"Sayang, cepat besar nak. Papi akan mengajarimu berenang. Iya kan pih?"


Vim tersenyum berat. Harapan Laras sama dengan keinginan dirinya. Vian harus jago renang. Tercapaikah bila Vim berdiam diri begini?


"Selagi kau libur sebaiknya istirahatkan dirimu, Laras."


Vim mengarahkan kursi roda ke pintu. Ia hendak keluar tapi Laras menahan. Kursi dipegang Laras dari belakang.


"Aku menemani mas. Kita ke halaman belakang ya."


"Ke depan saja.".


Laras mendorong. Vim melirik ke area kolam renang ketika mereka berada di ruang keluarga. Dari situ memang berhubungan langsung ke kolam renang mini mereka.


"Berhentilah," ucap Vim.


"Mas kangen ya."


"Kapan aku berenang lagi." Vim bergumam.


"Secepatnya mas. Secepatnya mas sembuh. Aku orang yang paling bahagia saat itu, mas."


Laras membawa Vim keluar dari pintu samping. Lantai yang rata memungkinkan Laras mendorong kursi roda Vim. Berbeda dengan lantai pintu depan yang menggunakan undakan.


Semilir angin menyejukkan hati Vim dan Laras. Sama-sama menikmati momen itu berdua. Biarlah kesedihan menepi sejenak. Memberi kesempatan agar hati mereka selalu terpaut walau sekeras apapun cobaan mengikis batas kesabaran.


Angin berhembus kian kencang. Awan kelabu berarak di atas. Hujan sedang mengumpulkan buliran air hingga siap membasahi bumi. Sekuntum bunga mangga yang kuning jatuh di atas kepala Vim. Laras mengambil dan membuang bunga itu ke tanah. Dibersihkannya bahu Vim dari serpihan bunga-bunga mangga.


"Mangga ini mulai berbunga mas. Tidak lama lagi menjadi buah."


"Untuk pertama kalinya dia berbuah," sambung Vim.


Mereka menyusuri jalan yang sengaja dibuat di halaman rumah mereka. Bunga-bunga dan tanaman pekarangan menghiasi menjadi taman kecil yang enak dipandang.


"Seandainya aku tiada, apakah kau bisa tidur dengan nyenyak, Laras?"


"Sebelum kujawab, mengapa mas bertanya begitu?" Laras balik bertanya.


"Ingin tahu saja."


"Mas tidak berpikir saat mas di Singapura, aku tidak bisa memejamkan mata berapa lama dan ternyata kita sama-sama tidak bisa tidur. Ketika itulah kita terhubung meski jarak memisahkan."


"Mungkinkah itu yang dinamakan ikatan batin? Tapi...itu karena kita melalui proses kebersamaan lahir batin Laras. Sekarang...ah entahlah." Vim tak jadi meneruskan ucapannya. Mereka berdekatan tetapi hanya satu atap.


'Semoga selalu begitu." Harap Laras.


Titik air mengenai punggung tangan Laras.


"Gerimis mas. Kita masuk ya."


"Baru gerimis belum hujan deras."


"Mau hujan-hujanan di sini?"


"Lama sekali kita tidak bermain air hujan. Waktu hujan di rumah ibu, kau membersihkan beranda belakang dan aku datang. Ingat??"


"Hahaha...iya. Nyebelin banget kamu mas! Bisa-bisanya mengambil kesempatan kala itu."


Laras tertawa renyah. Mereka kehilangan momen manis.


"Yang benar ya mengambil hakku bukan memanfaatkan keadaan."


"Huuumm..ya deh. Nah sekarang mas mau ke kamar Vian atau ke kamar mas?


"Ke kamarku."


"Sudah sampai Tuan." Laras mengumbar tawa. Vim senang melihat barisan gigi Laras yang putih. Kebahagiaan kecil menyelinap di hati keduanya. Bahagia itu sederhana...


...๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ...


Like, komen, gift, vote dan bintang lima. Terimakasih...๐Ÿ’๐Ÿงก

__ADS_1


__ADS_2