
Entah bagaimana kini Aurora bisa berada di ruangan Vim. Vim tidak mengerti dari mana Aurora memperoleh alamat kantornya. Secara Vim merasa ia bukan usahawan yang sangat terkenal. Vim menebak antara Edo dan Dion yang memberikan informasi kepada Aurora.
Aurora datang padanya meminta pertolongan Vim agar diberi pekerjaan. Vim tak ingin membantu tapi penjelasan Aurora menyentuh sisi kemanusiaan Vim.
"Bantuanmu sangat berarti Vim. Aku memerlukan pekerjaan."
"Sebelum ini kau bekerja di mana? Mengapa sekarang kemari?"
"Di X. Corp. Aku tidak tahan dengan perlakuan manajernya yang berbuat tidak senonoh padaku."
Wajah Aurora sendu mengundang belas kasihan orang yang melihat
nya. Vim menghindari berlama- lama memandangnya. Melirik sekilas lalu mengalihkan pandangan ke luar sana. Pemandangan di luar sana lebih menarik. Sedari tadi Vim berdiri di samping kursi kebesarannya.
"Tolong aku sebagai teman Vim. Kita masih berteman kan??"
"Tentu saja hanya sebatas teman. Semua sudah berakhir. Tidak ada yang bisa menggantikan Laras."
Hati Aurora tersayat mendengar penuturan Vim. Vim begitu percaya diri dan yakin akan cintanya pada Laras. Sudah tidak ada tempat baginya di hati Vim.
"Aku akan mencarikan pekerjaan untukmu. Sementara itu kau bekerja di sini. Hanya sementara karena aku tidak mau Laras menyangka yang bukan-bukan jika mendengar kau bekerja di sini.
"Terima kasih Vim." Wajah Aurora berbinar-binar.
"Kau tahu dari mana aku ada di sini?" Vim belum bergerak dari tempatnya berdiri.
"Dua hari lalu aku melihat kau memasuki bangunan ini dengan tasmu Vim. Waktu itu aku dari bank di depan sana. Ternyata benar kau bekerja di sini."
"Kau tidak memata-mataiku bukan??"
"Untuk apa??"
"Siapa tahu kau terhubung dengan orang lain dan mempunyai niat buruk padaku?"
Joel masuk lalu berada di antara mereka berdua. Tadi Vim memanggil Joel masuk ke ruangannya.
"Saya Tuan."
"Joel bagian mana yang masih kosong berikan pada dia."
"Maaf Tuan saya tanya HRD dulu."
"Baik tanyakan untuknya."
Aurora datang padanya meminta pertolongan Vim agar diberi pekerjaan. Vim tak ingin membantu tapi penjelasan Aurora menyentuh sisi kemanusiaan Vim akhirnya.
"Aku tidak seperti yang kau bayangkan Vim."
Dan karena itu Aurora kini berada di ruangan Vim. Meminta belas kasihan Vim. Ia sangat hafal Vim gampang trenyuh melihat wanita yang membutuhkan pertolongan.
...🍂🍂🍂...
Curahan kasih sayang Vim yang besar dan perhatiannya pada Laras semakin membuat Laras yakin cinta Vim utuh untuknya. Tidak hanya kasih sayang, materi juga tercurah dari Vim buat Laras.
Rasanya tidak ada yang kurang dalam kehidupan mereka selain kehadiran seorang bayi. Untuk ini ketentuan Tuhan juga yang berperan. Kedua mereka dalam keadaan sehat dan subur menurut dokter, hanya saja Tuhan belum memberikan mereka kesempatan menggendong bayi.
Tidak ada jadwal les hari ini. Tugas Laras pun telah selesai semua. Laras baru saja bangun dari tidur siang. Kata Vim ia akan pulang malam hari ini. Laras boleh menggunakan jasa Pak Uun mengantarkan Laras jika ia mau ke luar rumah. Laras berencana mencari buku dan Vim tidak keberatan. Ada Pak Uun yang mengantarkan. Pak Uun akan menjemput Vim nanti jika ditelpon majikannya itu.
__ADS_1
Buku yang berhubungan dengan bahasa Inggris dan keperluan kuliahnya sudah didapat. Akan dibaca saat waktu Laras senggang.
"Pak antar saya ke kantor ya pak. Saya ingin tahu tempat kerja mas Vim."
"Den Vim sudah tahu nona mau ke sana?"
"Belum Pak."
"Sebaiknya mengabari den Vim dulu non. Bukan apa-apa. Den Vim sangat sibuk akhir-akhir ini."
"Saya tidak lama Pak. Hanya ingin tahu dan melihat tempat kerjanya."
Sungguh rasa rindunya pada Vim datang mendera. Menghentak kalbu Laras untuk melihat kekasihnya itu. Tidak cukup melihat sang suami hanya pada malam hari dan pagi sebelum Vim berangkat kerja. Rasa ingin bertemunya begitu besar.
"Masuk nona."
Pak Uun mengantarkan Laras ke lantai atas. Tombol lift terbuka ditekan oleh Pak Uun. Lalu keluar lagi setelah pintu lift terbuka.
"Siang Nyonya."
"Selamat siang Nyonya."
"Selamat siang." Balas Laras sembari tersenyum. Walaupun lebih muda Laras tetap dihormati.
Semua karyawan menyapa. Hanya meja Joel yang kosong.
Kreeeekkk.
Pintu terdorong dan terbuka lebar. Di situ Laras menghentikan langkahnya tatkala mendapati Aurora di dalam ruangan itu. Matanya memanas hampir mengeluarkan air mata, tidak percaya pada penglihatannya. Bukankah itu Aurora.
"Laras! Sayang tunggu!!!."
"Laras. Mau kemana?"
Kali ini suara Edo yang terdengar. Laras hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Edo. Wajahnya menyiratkan luka. Terus berjalan secepatnya. Di belakangnya Pak Uun mengikuti. Sesuatu hal telah terjadi pikir Pak Uun.
"Wooow! Ini rupanya yang membuat Laras begitu marah."
Edo memandangi Vim dengan tatapan melecehkan. Bergantian netranya menangkap Aurora di Edo telah berada di ruangan Vim.
"Diam. Tahu apa kau!"
Vim dan Edo memang bersahabat tetapi kadangkala berselisih pendapat terjadi di antara mereka. Setelah berselisih pendapat, semua akan berjalan seperti biasa. Masing-masing bisa menerima dan memahami watak satu sama lainnya, karena itu masalah kecil tidak akan berarti apa-apa bagi mereka.
"Kau tidak mengejarnya? Ckck.."
"Edo!!"
Tok tok tok. Pintu diketuk seseorang.
"Masuk!"
Muncul Joel menghadap Vim.
"Maaf Tuan, bagian staf HRD masih bisa diisi. Arahan Tuan."
"Bawa nona ini ke sana. Kau urus semuanya dengan bagian HRD."
__ADS_1
"Baik Tuan. Mari ikut saya nona."
"Aku permisi Vim, Edo. Terima kasih atas bantuanmu."
Pintu ruangan ditutup oleh Joel.
"Maksud kau apa Vim?!"
"Tidak apa-apa. Apa maksudmu??" Vim balik bertanya.
"Belum lama kau mengatakan akan melupakan Aurora, sekarang kau di ruangan ini berdua dengan
nya dan itu dilihat Laras."
"Lalu itu kesimpulan yang kau buat?? Bahwa aku berbuat yang bukan-bukan dengan Aurora."
"Laras pasti berpendapat seperti itu. Kau tidak melihat wajah Laras tadi? Terluka, kau tahu?!"
Vim memejamkan mata dan menarik nafas dan membuangnya dengan berat. Lalu ia menjelaskan maksud kedatangan Aurora. Edo mencoba mengerti apa yang dikatakan Vim.
"Aku mau pulang. Apa kau tetap di sini saja???" Tanya Vim sembari memakai jasnya.
"Tunggu dulu. Kau lihat ini."
Vim menerima kertas yang diberikan oleh Edo. Seketika matanya membelalak.
"Bagaimana mungkin??"
Vim mengusap wajahnya yang tiba-tiba berubah. Tak percaya dengan berita yang di bawa Edo.
"Untuk itu aku datang ke sini. Sumber berita paling kupercaya. Sembilan puluh persen kebenaran
nya."
"Sama persis. Dari mana mereka mendapatkan ini semua?"
Edo mengangkat kedua bahunya. Vim masih belum percaya. Data miliknya bocor padahal ia menyimpannya dengan sangat hati-hati dan sekarang perusahaan lain mendahului apa yang akan ia luncurkan sebentar lagi dengan komposisi yang sama persis dengan milik perusahaannya dengan desain bagian luar produk yang sama pula. Kepalanya mendadak pusing. Vim terhenyak di kursi. Masih belum percaya apa yang terjadi.
Vim memang pernah mencerita
kan perihal produk baru kepada kedua sahabatnya, tetapi tidak mungkin kedua sahabatnya yang berbuat curang menjual rahasia perusahaan milik Vim. Yang jelas perusahaan lain sudah lebih dulu meluncurkan produk yang serupa dengan milik perusahaannya. Edo mendapatkan info itu lebih dulu. Kawannya ini kadang bisa diandalkan.
"Vim aku pulang."
"Aku akan menyelidiki ini. Kau pulanglah."
Vim membuka laptopnya. Pikirannya mulai fokus. Niatnya untuk pulang menemui Laras, ia ketepikan demi mencati jawaban atas rasa penasarannya. Ia akan mencari siapa yang mencuri datanya. Tidak ingin meminta bagian informasi yang melacak. Vim melakukannya sendiri. Otaknya yang encer dan latar belakang pendidikannya di IT saat di luar negeri sangat mendukung dan bermanfaat baginya dalam situasi begini.
Kelelahan terpancar di wajahnya. Dia sudah menyimpannya dengan aman dan rapi tapi masih berhasil dibobol juga. Vim memaki dalam hati. Hingga malam Vim belum pulang juga. Joel yang khawatir dengan keadaan Tuannya yang belum keluar dari tadi sore, mengirimkan makanan ke ruangan setelah memesan lebih dahulu.
"Tuan ini makan malam. Makan dulu Tuan."
"Letakkan di situ saja Joel."
Vim memikirkan langkah selanjutnya. Hampir pukul sembilan malam baru terpikirkan lagi olehnya akan Laras. Sedang apa Laras di rumah.
Tidak banyak berkata-kata, Vim sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitupun Pak Uun yang menjemputnya tidak ingin mengganggu tuan muda nya. Dia paham tuan mudanya sedang resah.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹