Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 105. Kesepian.


__ADS_3

Happy reading.💐


Jangan lupa tinggalkan jejaknya. Like, komen, gift, vote atau bintang lima. 🤗


°•°•°•°•


Rumah tidak lagi sangat sunyi sejak kehadiran baby Vian. Lengkingan tangisan bayi merah sesekali terdengar hingga ke ruang bawah rumah tersebut. Ketika itulah mami Maharani mengambil perannya. Menggantikan popok bayi lalu memberikan tubuh mungil itu kepada Laras untuk diberikan ASI. Menurut mami Maharani, Laras tidak perlu banyak bergerak melakukan pekerjaan rumah untuk sementara.


Laras ingin melakukan apa saja dari memandikan baby, memasangkan pakaian dan menidurkannya saat baby Vian menangis tapi mami melarang. Laras tidak melakukan apa-apa selain memperhatikan dirinya. Mami tidak mengijinkan Laras melakukan segala sesuatu di rumah untuk sementara waktu Bahkan Laras diperlakukan istimewa. Segala kebutuhannya disediakan oleh bibi Am.


"Pulihkan dulu kondisi tubuhmu. Biar mami dan bibi mengerjakan semuanya." Begitu kata mami.


"Berapa lama seperti ini mih?"


"Tidak lama hanya sebulan lebih dan selama itu pula kalian tidak boleh berhubungan seperti biasa."


"Sekedar berdekatan boleh kan mih?" Vim datang menyela pembicaraan. Ia mengambil posisi duduk di sebelah Laras.


"Boleh saja tapi kau harus mengawal dirimu. Kalian tidak boleh berhubungan terlalu jauh."


"Aku tahu mih. Mami mengulang perkataan itu lagi."


"Ya agar kau tidak lupa."


Laras meletakkan baby Vian ke dalam keranjang bayi di sebelah Laras.


"Untuk berapa lama?" Tanya Vim. Ia tidak mungkin menyakiti Laras.


"Hingga Laras benar-benar selesai masa istirahatnya."


"Sebulan, dua bulan mih?"


"Sebulan lebih. Semoga."


"Sebulan lebih sebentar saja kok mih. Aku Vim sanggup menjalani."


"Harus dong." Mami tersenyum keibuan.


Kenyataannya satu bulan lebih bukanlah waktu yang sebentar. Hari demi hari dilalui Vim dengan sabar. Sabar menunggu Laras benar-benar siap dan bisa melayani dirinya seperti hari-hari sebelum ini. Jiwa mudanya kerap bergolak. Bara api dalam dada selalu menggelegak meminta disalurkan dan Vim harus mampu menahannya. Harus bisa menjaga hatinya agar tidak tergoda oleh wanita lain yang menyuguhkan kemanisan sesaat berselubung pamrih.


Kadang pusing melanda disebabkan tidur tak lena. Tak jarang konsentrasi Vim sedikit terganggu di kantor. Dia berusaha lebih keras mengarahkan fokus pikirannya pada pekerjaan yang penting.


"Akh aku puasa lagi." Vim bergumam. Suaranya lirih. Laras sengaja tidak menanggapi ucapan Vim atau pura-pura tidak mendengar.


"Ini semua karena kau Vian. Tapi tidak apa, papi bahagia kau lahir. Papi sanggup melalui semua ini." Vim berbicara pada Vian. Memandang gemas pada wajah tanpa dosa itu.


Kadang pusing melanda kepala. Kadang kantuk menyerang akibat kurang tidur malam efek dari keinginan dan keadaan yang tidak sejalan. Vim bisa apa? Tidak mungkin mencari kepuasan di luar sana dari wanita yang Vim tidak tahu keadaan sebenarnya. Ia tak mau mengambil resiko tertular penyakit dan ia tidak mau Laras turut menanggung akibatnya. Vim akan merasa sangat berdosa jika itu terjadi.


Tak jarang konsentrasi Vim sedikit terganggu di kantor. Dia berusaha lebih keras mengarahkan fokus pikirannya pada pekerjaan yang penting.


"Mas kok melamun?"


"Ah tidak. Kepalaku agak berat."


"Di bawa tidur saja mas."


"Bagaimana bisa tidur. Tiada kau di sampingku."


"Dipaksakan mas."


"Aku tidur di sini ya." Vim berbaring di sisi Vian. Vian berada di tengah-tengah mereka.


"Terserah tapi mami_"


"Aku tidak akan berbuat apapun padamu. Mami ada di sebelah. Pintu kamar tidak kukunci dan mami boleh cek nanti malam."


"Yaah terserah mas saja. Bobok baik-baik dan jangan nakal."


"Baik nyonya."


"Dengarkan Vian. Mami memperingatkan papi. Kelak kau besar giliranmu mendapat peringatan mami. Vian jangan nakal dan cepat pulang."


"Hahahaha Vian anak baik papi. Tidak berbuat seperti itu." Kata Laras.


Vim berbaring telungkup. Sesungguhnya ia sedang meredam gejolak dalam dada. Berdekatan dengan Laras mampu menghadirkan sejuta rasa yang sulit diungkapkan. Vim menggenggam tangan Laras.


"Bukankah mas mau tidur?"


"Sebentar. Aku masih ingin menemanimu." Vim memandang Laras. Sesungguhnya ia mendambakan mengisi malam berdua. Namun percuma saja berharap. Vim mengalihkan keinginan saat itu jua. Bangkit dan memasuki kamar mandi. Baby Vian dipindahkan Laras ke dalam ranjang bayi di samping Laras berada.


Mami Maharani masuk ke kamar Laras dari pintu yang menjadi penghubung antara kamar Laras dengan kamar Vian. Memeriksa baby Vian dan berlalu. Namun berhenti mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.


"Oh kau di sini Vim?"


"Iya mih. Aku tidur di sebelah Laras mulai malam ini."


Mami tidak lagi menghalangi Vim. Ia percaya Vim bisa mengontrol diri.


"Baiklah mami percaya padamu. Jangan kau ganggu Laras. Dia butuh istirahat."


"Ya nggaklah mih. Aku sadar mih."


"Ya sudah tidurlah."


Malam ini Vim tidak terbangun mengangkat Vian yang menangis tengah malam. Mami juga terlelap. Barangkali mami lelah. Laras berada paling dekat dengan Vian menggapai bayi itu dan mendekapnya. Memberikan air susu sekaligus menenangkan.

__ADS_1


Malam berikutnya masih sama. Vim tidak terbangun ketika Vian menangis. Mami sangat bisa diharapkan. Mami mengurus Vian dengan baik.


Hari berganti hari. Bayi Vian semakin sehat. Laras pun begitu. Namun Vim merasa dirinya tidak baik-baik saja. Waktu berlalu terasa membosankan. Tidur, bangun, berangkat kerja dan begitu seterusnya. Laras fokus mengurus Vian. Mami banyak memberikan arahan kepada Laras.


Vim mulai jenuh. Perhatian Laras mulai terbagi. Vim kurang perhatian. Adakalanya ketika ia pulang ke rumah Laras sedang menyusui ataupun menidurkan bayi mereka. Makan malam yang seharusnya didampingi Laras menjadi hampa karena Laras harus menyusui Vian yang tiba-tiba menangis.


Vim kekurangan kasih sayang. Menghibur diri sebentar mungkin lebih baik. Bisa mengobati dirinya yang kesepian. Oleh karena itu Vim pergi ke klub malam setelah makan malam di rumah. Hanya sebentar untuk membuang suntuk yang belakangan ini menyerang diri. Sudah lama ia tidak berkunjung ke klub itu bersama sahabatnya. Kesibukan masing-masing membuat mereka saling berkirim kabar melalui pesan ponsel saja atau menelpon.


Sejenak rasa jenuh itu hilang namun akan kembali lagi keesokan hari. Klub malam menjadi menarik walaupun hanya duduk melepaskan lelah di sana. Vim sendiri di pojok sofa. Agak jauh dari sisi kirinya dua pasangan sedang berbicara. Vim pulang setelah pukul dua belas malam lewat.


Tingkah Vim mengundang tanya bagi mami. Vim tidak menyangka mami menunggu kepulangannya.


"Vim dari mana dini hari begini?"


Sorot mata mami menghunjam netra Vim.


"Dari klub mih." Vim terbiasa berkata jujur pada mami.


"Selarut ini baru pulang dan ini sudah hari keberapa kau pulang larut. Tidak memikirkan perasaan Laras." Mami bersidekap. Kedua tangan menyilang di bawah dada.


"Mih. Bagaimana dengan perasaanku. Aku butuh hiburan. Itu saja."


"Berturut-turut kau tidak di rumah Vim. Tidak menyapa Laras dan Vian."


"Mami ini urusanku. Laras akan mengerti. Kami masih saling sapa pagi hari."


"Ini bukan hiburan Vim tapi pelarian. Bagaimana coba perasaan Laras mengetahui kau pulang jam satu malam setiap hari?"


"Aku Pasti kembali mih. Aku pulang Laras sudah terlelap. Kita bertemu di pagi hari kok. Sebaiknya mami tidur."


"Mami tidak jadi mengantuk. Mami tidak suka kau pulang selarut ini."


"Baik. Baik. Aku masuk ke dalam dulu."


""Bersihkan tangan dan kakimu di dapur saja. Jangan mendekati Laras dan Vian. Tubuhmu kotor."


Huuufft. Ucapan mami tidak memikirkan perasaan Vim. Vim mengabaikan apa yang ia dengar. Membantah tidak mengurangi omelan mami. Justru akan panjang dan semakin panas terdengar di telinga.


"Mami tidur ya. Jangan sampai sakit." Vim mendaratkan sebuah kecupan ke pipi mami.


"Bau bercampur apaan itu hhhh." Mami menutup hidungnya.


Vim tak kuasa menahan rasa kantuk yang menyerang. Ia merebahkan tubuh telungkup di sebelah Laras. Hari sangat larut ia harus tidur. Tetapi ada rasa bergolak naik kepermukaan dada. Kulit Laras yang halus, bibir tipis nan sexy, tubuh montok berisi memenuhi seluruh pikiran Vim. Ia tahu rasa apa ini yang menyelimuti hatinya. Merambat hingga ke bagian paling sensitif di tubuhnya.


Vim memalingkan kepala ke Laras. Wajah lembut itu mana mungkin Vim tega menyakitinya. Hanya untuk hal seperti ini sebuah hasrat yang belum tersalurkan. Mana mungkin bermain api asmara dengan lawan jenis lain selain Laras.


Libido Vim tertahan. Haruskah ia mencoba sensasi lain yang ditawarkan wanita-wanita molek di luar sana yang baginya sangat mudah untuk diperoleh. Dengan begitu hasrat lelaki terpenuhi. Dengan begitu masalah selesai. Selesai? Tidak. Bisa saja muncul Masalah baru antara ia dan Laras.


Vim mengusap pipi Laras dengan sangat hati-hati tak ingin membangunkan Laras. Perkiraan Vim salah sebab netra Laras perlahan membuka.


"Aku merindukanmu." Ujar Vim pelan. Tangannya tidak berhenti mengusap wajah Laras. Menatap lama di sana. Sementara gelora hasratnya semakin naik ke permukaan. Menghangatkan seluruh tubuh. Vim benar-benar lelaki.


"Ijinkan aku menyiummu." Pandangan Vim sarat damba. Ia mendambakan Laras. Laras tidak menolak dan tidak mengangguk.


Vim tak menunggu jawaban Laras untuk itu. Ia segera mengambil peran di seluruh wajah Laras termasuk bibir. Laras tak mampu menolak karena mereka berada dalam ikatan sah sebuah pernikahan.


Kondisi Laras jua yang membatasi gerak mereka. Mereka tidak bisa berhubungan lebih dari itu sementara ini. Laras mendorong tubuh Vim saat Vim dirasanya semakin jauh bermain. Tangannya tidak sekedar bergerilya di bagian atas tubuh Laras tetapi mulai ke bagian bawah.


"Aaahh aku kejauhan. Ma'afkan aku Laras. Tidurlah lagi." Ucap Vim saat Laras mendorongnya. Ia mengusap wajah dan mengatur nafas.


"Ma'afkan aku mas." Laras mandang iba. Guratan kecewa tersirat di wajah Vim tapi mereka bisa apa? Menunggu hingga Laras benar-benar bersih setelah melahirkan Vian lalu bisa sesuka mereka.


Vim memasuki kamar mandi tanpa menjawab Laras.


Ooweeek..! Ooweeeek..!


Tangisan Vian memecah kesunyian malam. Vian bersama mami sedari sore di kamar Vian sendiri. Laras bersiap menerima Vian dari tangan mami namun yang ditunggu tidak muncul. Tangis Vian berhenti dan malam kembali sunyi. Mereka semua terlelap.


...*****...


Di lain tempat keesokan pagi.


"Edo bangun dear. Hp mu berbunyi sayang."


Morina mami si Edo menarik bed cover yang membentang menutupi tubuh Edo.


"Tolong mom."


Morina menyerahkan hp milik Edo. Edo menarik tubuh agar bisa bersandar di ujung ranjang.


"Halo."


'.........'


"Iya Tante. Tidak mengganggu. Ada apa Tante?"


'.......'


"Hmm. Berapa hari?"


'........'


Edo mendengarkan tanpa bergeming. Morina masih di dalam kamar mencari pakaian kotor milik Edo.


"Baik Tante. Saya usahakan. Semoga ini tidak berlarut-larut."

__ADS_1


'.......'


"Baik Tante.."


Hp diletakkan kembali. Edo bangun dan berkaca pada cermin yang menempel di dinding.


"Kau ganteng tapi hampir tua." Morina menyeletuk dan mengejek. Ia berhenti melangkah di belakang Edo.


"Apaan sih mom. Aku baru tiga puluh."


"Kau sudah jadi oom untuk anak-anak Dion dan Vim tapi belum menikah."


"Benar. Tunggu saja."


" Tunggu sampai dunia runtuh. Mommy curiga apakah anak mommy_"


"Apa maksud mommy?"


Edio menyeruput kopi yang diantar Morina ke kamar.


"Dengarkan dulu. Jangan-jangan anak mommy tidak sehat."


"Aku sehat jasmani dan rohani mom." Wajah Edo berubah manyun.


"Lalu kenapa kau belum memiliki kekasih. Apa masih kurang cantik wanita-wanita di sekelilingmu?"


"Cantik saja tidak cukup mommy."


"Lalu? Kriteriamu terlalu aneh Ed. Come on beri mommy menantu."


"Iya baik mommy. Tante Maharani mau kemari menemui mommy. Tidakkah mommy bersiap?"


"Oh Maharani mau ke sini? Benarkah begitu?" Ia meyakinkan berita itu.


"Benar mom. Panggilan tadi dari tante Maharani." Kata Edo.


"Baiklah. Mommy bersiap dulu."


Mami Maharani datang. Ditangannya membawa buah tangan untuk keluarga Morina. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak anak-anak mereka masih sekolah. Pertemuan antar orang tua di sekolah menjadikan mereka akrab. Terlebih lagi Vim, Edo dan Dion bersahabat karib.


"Pagi Rani sayang.Sudah lama kita tidak bertemu." Morina merangkul Maharani. Mereka saling melepas rindu.


"Pagi juga sayang. Bagaimana kalian semua?" Maharani memandang takjub pada Morina yang masih terlihat segar di usia mereka saat in. Sebaliknya Morina pun demikian.


"Baik-baik saja. Kita masuk ya."


Morina mommy Edo mengajak Maharani masuk ke ruangan tengah. Mereka berbincang lebih akrab di dalam.


"Kalian semua baik-baik saja?" Tanya Morina.


"Baik dan sehat. Sebenarnya aku ingin bertemu anakmu Edo. Apakah Edo ada?" Tanya Maharani.


"Ada. Sebentar aku panggil ya. Dia memang menunggumu."


"Ya kau ingin bertemu dengannya."


Morina muncul kembali dengan Edo di belakangnya.


"Pagi Tante. Bagaimana keadaan Tante?" Edo mengulurkan tangan kepada Maharani.


"Tante baik sayang. Ma'afkan Tante karena merepotkanmu."


"Tidak repot Tante. Ada apa sebenarnya. Ehm..mommy_"


"Biarkan mamimu di sini. Tante pikir Vim itu kesepian. Waktu Laras digunakan untuk mengurus Vian dan mereka kan tidak bisa berhubungan seperti biasanya."


Edo menelan saliva. Getir hatinya mendengarkan mami Maharani mengucapkan kata berhubungan.


"Lalu Tante?"


"Yaah jadi Vim itu sering pulang larut malam. Tante minta tolong nak Edo mengawasi Vim. Jangan sampai hal yang bukan bukan terjadi luar sana." Penjelasan mami.


"Laras baik-baik saja?" Edo berharap mendengar secuil berita tentang Laras.


"Laras baik-baik saja. Ia tidak berkata apapun tapi tante tahu Laras menyimpan ini di dalam hati. Kami sama-sama perempuan memahami hal seperti ini."


"Tante jangan khawatir. Vim sangat bisa mengendalikan diri."


"Bisa saja Vim terperosok Edo. Di luar sana banyak juga orang yang tidak baik kan."


"Benar. Baiklah aku akan mengawasi Vim setiap malam tante."


"Terima kasih nak Edo. Mainlah ke rumah."


"Iya Tante. Lagi konsentrasi di kerjaan tapi aku akan main ke sana." Ujar Edo.


"Oiya nanti kalau acara pemberian nama Vian kau hadir ya. Ajak mamimu."


"Baiklah tante."


"Rina aku pulang dulu ya. Terima kasih untuk sajiannya."


"Sama-sama Rani. Jumpa lagi ya."


Sepi bukan suatu alasan untuk berlari. Kenyataan yang menghadang seharusnya dihadapi meskipun tak menjanjikan kemanisan yang berarti.

__ADS_1


🌹 Terima kasih readers.❤️


__ADS_2