
"Jangan mendekatiku." Laras mundur ke belakang ketika Roni masuk ke kamar.
"Selamat berjumpa lagi Laras. Bagaimana dirimu?"
"Tak perlu kau tanyakan. Kau pengecut cuma bisa mengurungku." Untuk apa bermanis muka dengan Roni. Laras memandang tak suka walaupun Roni berwajah ceria.
Roni tak bakal mundur keluar dari situ. Kehadirannya justru ingin menemui Laras karena bertemu Laras.
"Jangan marah-marah nanti cepat tua. Nikmatilah."
"Bebaskan aku. Perbuatanmu salah Roni. Tolong lepaskan aku. Anakku membutuhkanku. Tolong...."
Roni terus maju secara perlahan. Menyentuh ujung ranjang. Di sinilah ia dan Aurora mengisi hari saat liburan di tanah air namun semua terjadi dengan keterpaksaan antara keduanya. Akhirnya rumah tangga mereka berantakan karena masing-masing tidak ada yang mau mengalah dalam pertengkaran.
"Bersenang-senanglah denganku Laras. Lupakan keluargamu."
"Itu tidak mungkin. Aku tidak mencintaimu."
Laras merasa perjalanan hidupnya begitu berat. Setelah Vim kecelakaan lalu tentang Edo dan kini masalah yang dibuat oleh Roni. Kapan rumah tangganya benar-benar berjalan lempeng tanpa masalah yang berarti.
"Kita semakin dewasa Roni. Ma'af kan kesalahanku dulu. Kita tak mungkin bersama."
"Kalau Vim tidak melamarmu, hal ini tidak terjadi. Vim ya, Vim selalu jadi ganjalan langkahku."
"Itu sudah jalan hidup kami Roni dan kebetulan saja kalian sering bersaing dalam banyak hal.. Dunia ini sangat luas untuk mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Kenapa harus aku?"
"Aku akan membawamu pergi jauh dari sini, Laras." Apapun ucapan Laras tak mampu mengalihkan tujuan Roni. Laras sudah digenggam untuk dibawa pergi.
"Jangan sentuh aku!" Laras meraih pinset yang tergeletak di meja rias kamar itu. Sejak ia di sana pinset itu tetap berada di tempatnya bersama sebuah sisir.
Roni hanya berjarak dua puluh sentimeter dari Laras. Jantung Laras berdegup kencang. Bukan karena ketertarikan dengan Roni melainkan takut jika Roni menyentuhnya. Ia tak mau Roni berbuat macam-macam. Tubuhnya cuma punya Vim. Kehormatannya tak boleh ternoda oleh orang lain.
"Oke aku tidak menyentuhmu. Berikan pinset itu."
"Biar aku mati saja supaya kalian puas melihat penderitaanku."
"Laras, tenang. Aku tidak akan menyakitimu. Berikan pinsetnya."
Blsssss.
Aaaaawwww!
Dengan sigap Roni meraih pergelangan tangan Laras. Pinset masih dipegang erat oleh Laras.
"Sakit! Lepaskan!"
Tangan kiri Roni mengambil paksa pinset dari tangan Laras dan pinset dimasukkan ke dalam saku celana Roni. Aman.
"Lepaskan! Lepaskan....!! Hhhhh!!"
Laras berontak sekuat tenaga dan Roni melepaskan genggamannya.
"Kau ini seperti macan betina."
Laras melengos. Semakin buruk penilaian Roni semakin baik bagi Laras.
"Kau mau apa? Kesuksesan suamiku? Dia baru mau bangkit lagi, nggak ada yang perlu kau cemburui. Jika kau menginginkan uang, Vim bisa memberikan tapi biarkan aku pergi dan jangan mengganggu kami lagi."
"Aku cuma mau dirimu. Wow kau kelihatan cantik sekali. Jon bilang kau baru saja mandi. Pantas saja ruangan ini harum sekali."
"Jangan Roni. Tolong." Tak ada lagi panggilan kehormatan "Tuan" dari Laras untuk Roni. Lelaki ini memaksakan kehendak. Laras bukan lagi gadis tapi istri orang. Seenaknya dia ingin menguasai Laras.
"Baiklah. Tidak di sini tapi di kota S. Kita memulai semuanya di rumah yang baru kubeli. Vim tahu rasa gimana kehilangan dan kecewa... hahaah!"
__ADS_1
"Cinta tidak bisa dipaksa, Roni! Roni!!"
Roni berlalu keluar. Laras tergugu. Butiran bening airmata berjatuhan.Tiga orang ini tak mempunyai hati memisahkan Laras dari suami dan anaknya.
"Tolong!! Mas Vim tolong aku!! Viiimmm!! huhuhuhuu..."
Laras memukul kaca jendela tebal didepannya. Kesal, sedih, ingin segera terlepas dari sana menyentak di hati. Ia ingin pulang.
Laras ingin menggendong Vian. Ia rindu sama Vian dan Vim. Sama sekali Laras tidak bisa melihat poto mereka di handphone dan dompetnya.
...ΩΩΩ...
"Nyonya, ditunggu Tuan di ruang makan." Kali ini penjaga berpostur gendut muncul di hadapan Laras.
Laras tak bergeming.
"Nyonya jangan sampai Tuan marah. Nyonya diminta menemani makan."
"Suruh makan sendiri. Aku tidak lapar," ujar Laras.
"Vex..lama betul. Apa dia pingsan!?" Roni muncul tiba-tiba.
"Tidak Tuan. Nyonya tidak lapar."
"Aku gendong saja Vex. Pergilah!"
"Apa?! Tidak. Aku akan ke meja makan," sergah Laras cepat.
Roni tersungging puas. Ancaman berhasil. Laras berdiri dan berjalan mengikuti Roni. Siapa juga yang mau jadi istrinya? Jadi pelayannya juga Laras rasa keberatan. Apa daya nasib tawanan. Kecuali kehormatan diri Laras, untuk hal ini Laras mengikuti Roni ke ruang makan.
"Bukan kau yang melayan, Vex... tapi dia." Tunjuk Roni pada Laras.
"Nah Nyonya, silahkan." Vex tersenyum tipis.
"Cari satu orang pelayan Vex sekalian membantu tukang masak."
"Oke Tuan.Wanita ya?"
"Laki-laki. Perempuan tidak bisa dipercaya saat melihat Nyonya ini. Mengerti?"
"Mengerti Tuan."
"Aku tidak menyuruhmu diam saja Laras. Makanlah. Ehem...Kau masih di sini Vex?"
"Oh ma'afkan Tuan."
Vex pergi. Laras menekuk wajah dalam. Nafsunya untuk makan hilang. Ia cuma ingin pulang ke rumah. Berkumpul dengan keluarga kecilnya. Keluarga besarnya sudah tentu khawatir dengan keadaan Laras.
"Laras, makanlah."
Semua makanan di meja serba lezat tetapi Laras tak memiliki selera.
"Laras!!" Bentakan Roni membuat Laras terkejut.
"Makan atau kusuapi??!!"
"Baik. Baik, aku makan. Setelah ini biarkan aku pergi."
"Kok enak? Tidak begitu."
"Kok enak memaksa."
"Pelan-pelan makannya, kau bisa tersedak."
__ADS_1
"Biarin. Mati tersedak juga nggak apa."
"Heh kau ini. Siapa yang mau membebaskanmu? Tidak ada."
"Ada. Suamiku."
"Suamimu tak pernah tahu tempat ini. Coba sedikit menurut."
"Nggak!"
"Huuuh dasar macan betina...."
"Makanya aku ini galak. Macan betina. Mengapa masih menahanku?"
"Kau tidak begini aslinya. Sedikit lembut ya."
"Aku ya aku. Dari dulu kayak ini. Berubah gimana lagi?"
"Laras aku cium, kau!"
"Ma'af. Baiklah makanku selesai. Aku boleh ke kamar?" Suara Laras berubah pelan. Sendok dan garpu ditelungkupkan.
"Kau bebas di dalam sini tapi tidak di luar sana. Di dalam kamar terus terasa membosankan, kan?"
"Tidak juga. Kujalani sampai tubuhku tinggal tulang sekalipun."
"Bukan begitu Laras. Makan dan minumlah seperti biasa. Jangan menyusahkan dirimu."
"Kau menyusahkanku. Memisahkan aku dari keluarga, apa namanya?"
"Ini karena aku mencintaimu." Lembut suara Roni tak membuat Laras simpati.
"Pemaksaan!"
"Terserah. Dari dulu rasa itu tak berubah."
"Ada Aurora. Sebaiknya kalian rujuk demi Rafli."
"Aku tak membutuhkannya. Kami menikah terpaksa."
"Kalian bisa saling menerima. Banyak orang dijodohkan akhirnya saling mencinta."
"Nyatanya kami tidak. Dia masih memikirkan Vim. Apa sih istimewanya Vim di mata kalian?"
Goresan kecil melukai hati Laras mendengar kalimat Roni. Aurora masih mengharapkan Vim.
"Sama juga, apa istimewanya aku menurutmu? Aku mohon lepaskan aku, Ron. Anakku membutuhkanku. Kau mau balas dendam saja kan?"
Laras tak sanggup membayangkan suatu saat Vian remaja menganggap Laras meninggalkannya. Pergi dengan lelaki lain jika Roni membawa Laras kabur. Hal itu tidak boleh terjadi.
"Kau boleh istirahat. Aku mau tidur siang." Roni meninggalkan meja makan.
Laras tercenung. Pertanyaannya belum dijawab. Ruangan bertambah lengang tanpa orang. Laras pun beranjak pergi menuju kamar. Tapi nanti dulu. Kesempatan yang bagus untuk mengitari ruangan. Siapa tahu ada jalan keluar dari situ di salah satu ruangan. Ruang keluarga yang menyatu dengan ruang makan tidak terdapat pintu. Hanya empat pintu kamar yang salah satunya dimasuki Roni tadi. Laras berbalik arah melewati meja makan. Pintu selalu ada di dapur. Benar-benar tiada orang.
Laras menggenggam handle pintu. Melirik ke kiri dan kanan sebentar lalu memutar gagang pintu. Beberapa kali dan pintu tetap tertutup.
Yaaah dikunci. Di mana kuncinya ya?
Laras mencari kunci. Barangkali tergantung namun barang itu tak kelihatan.
"Nyonya mencari ini? Bukankah saya sudah bilang, semua pintu dikunci." Jon muncul mengagetkan Laras.
"Kalian semua jahat!" Laras berjalan dengan rasa dongkol. Rumah ini bagaikan penjara, gerutu Laras.
__ADS_1