
Laras memegang perutnya yang rata. Di dalam sana ada benih cintanya dan Vim yang ia tahu masih segumpal darah. Terbersit rasa bahagia dalam kalbu, ternyata ia bisa memiliki anak. Seandainya Vim tahu akan hal ini tentu Vim membatasi gerak Laras. Bahkan mungkin Laras akan diminta untuk berdiam diri saja di rumah. Vim pasti bahagia bila mendengar berita ini. Tetapi Laras belum ingin berbagi dengan Vim sebab ia ingin menyampaikan kepada Vim di saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Memberikan kejutan sebagai kado pernikahan mereka yang akan datang dalam hitungan hari.
"Laras kamu kelihatan letih. Sebaiknya tidak bekerja lagi. Duduk saja di situ." Ririn memberikan saran. Wajah Laras tidak berseri, kuyu dan sedikit pucat.
"Iya Rin aku istirahat dulu." Laras menyibakkan rambutnya ke samping. AC tak cukup dingin untuk menghilangkan keringatnya. Laras berdiri dan masuk ke ruang istirahat yang ada di belakang lemari pajangan.
Ririn mengikuti Laras takut jika terjadi apa-apa pada temannya itu. Tidak ada orang yang akan mengangkat Laras jika Laras pingsan. Semoga Laras tidak pingsan pikirnya dan ia cukup lega karena Laras telah menggapai bed ukuran single dan membaringkan tubuhnya di situ.
"Sudah jangan khawatir aku tidak apa-apa." Hibur Laras pada Ririn.
"Sebaiknya kamu berobat Laras. Kau tampak lemah." Saran Ririn.
"Aku baik-baik saja Rin. Keletihan sedikit saja kok."
"Apa kak Vim tidak melihat keadaanmu ini. Mengapa ia kurang tanggap?" Ririn bertanya heran.
"Aku yang nggak mau berobat. Nanti tiba saat yang tepat aku akan berobat. Lagian di dekat mas Vim aku selalu sehat." Laras menenangkan Ririn.
"Cieeee..iya deh. Kak Vim kan vitamin." Laras tergelak mendengar ucapan Ririn.
"Hahahah aku tinggal dulu ya. Di depan nggak ada yang menunggu."
"Iya Rin."
Tidak butuh waktu lama Laras tertidur pulas. Dua jam sebelum pukul lima ia terbangun dan pamit pulang. Ririn mengiyakan.
Bagaimanapun juga Ririn tak bisa menahan Laras di situ sebab ia hanyalah bawahan Laras. Ririn cukup senang mendapat kepercayaan dari Laras.
Di rumah ibu, penciuman Laras menangkap aroma cake bakar yang harum. Aroma oren yang terbawa angin begitu Laras menginjakkan kaki di ruang tamu. Laras segera ke dapur.
"Hhmmm sedap bu." Laras memandang takjub kek oren yang mengembang sempurna.
"Kau menyukainya kan? Apa kau tahu Vim juga menyukai kek oren?" Tanya ibu menyelidiki.
"Ibu lebih tahu sih??" Tanya Laras sedikit penekanan. Laras belum tahu jika Vim menyukai kek oren.
"Ibu pernah membuat kek ini untuk dibawa ke rumah mereka. Di sana ibu melihat Vim paling banyak memakan kek ini. Kamu sebagai istri harus tahu apa saja makanan kesukaan suami ya."
"Begitu ya bu. Bisa di sajikan kalau dia ke sini tapi..mas Vim nggak akan ke sini. Nanti Laras saja yang makan Bu."
"Tentu saja kau harus makan karena ibu telah membuatnya. Tidak habis tidak apa-apa, sampai besok masih awet kok."
Laras menghirup udara menghidu bau kue. Baunya yang harum membuat Laras ingin mencicipi kue tersebut.
"Laras bawa ke kamar ya bu?" Ingin segera memotong kue di kamar. Citarasa ini bagi Laras tidak pernah membosankan.
"Belum diberi toping Laras." Cegah ibu.
"Laras mau yang original saja bu. Enak."
Laras membawa kue ke dalam kamar berikut pisau. Ia meletakkan di meja dan mengambil foto kue dengan hp kamera. Klik. Berhasil bagus dan gambar dikirim kepada Vim.
Di tempat lain Vim sedang makan siang bersama Dion. Melihat sesekali ke layar ponselnya yang berkedip menyala. Pertanda ada pesan masuk. Makan siang selesai setelah terakhir ia mengelap mulutnya dengan tisu. Diambilnya ponsel dan memeriksa pesan masuk. Pesan pertama yang dilihatnya adalah pesan dari Laras. Sebuah kiriman foto cake berwarna kuning kecoklatan.
Ia tersenyum.
Pesan dari Joel mengatakan Herdi berada di gymnasium terdekat. Fit and Fresh Gym. Vim tertarik untuk mendatangi tempat itu dan menemui Herdi. Ia melambaikan tangan kepada pelayan dan melakukan pembayaran setelah memastikan Dion telah selesai makan.
"Ke sebelah Di. Gym!".
__ADS_1
"Apa!? Kau mau gym??" Dion salah pengertian. Mempercepat langkahnya mengikuti Vim.
"Bukan. Herdi ada di situ."
Mereka telah sampai di depan pintu. Vim mencari sosok seorang Herdi
"Aku kira mau nge-gym." Kata Dion.
"Di rumah ada dua mesin, itu cukup buatku."
"Aku tahu."
"Itu dia. Ayo ke sana." Tunjuk Vim.
"Katakan kau tidak akan berbuat onar Vim." Dion mengingatkan sebelumnya.
"Tidak aku hanya ingin bertanya." Balas Vim.
"Hai bro." Dion basa-basi menyapa Herdi.
"Siapa kau? Oh kau suami Laras."
Herdi mengelap keringat yang membasahi wajah dan lehernya. Kostum olahraga yang dikenakan basah oleh keringat.
"Ya dia. Aku temannya." Jawab Dion.
"Mau apa kalian kemari." Herdi menatap Dion lama. Sepertinya ia sedang mengingat sesuatu.
"Bukankah kau Dion? Mantan ketua Sispala Wahana Alam SMA Merah Putih?" Tanya Herdi kemudian.
"Kau..kau siapa? Kenapa kau tahu itu?" Tanya Dion penuh keheranan. Ia berusaha mengingat lelaki ini.
Terlintas dibenaknya Wahana Alam sebuah ekskul sekaligus wadah perkumpulan siswa pencinta alam yang bernaung di bawah Sekolah Menengah Atas tempat mereka menuntut ilmu. Dion, Vim dan Edo pernah berada di kegiatan itu pada jamannya.
"Aku Herdi Putra Hadiyanta. Apa kau lupa aku adik kelas yang pernah kau hukum karena meninggalkan botol airmu di base camp."
"Ooh aku lupa. Kau rupanya." Dion mengusap wajahnya. Lalu menepuk bahu kanan Herdi.
"Selamat berjumpa lagi. Hei Vim! Kau tidak ingat dia Herdi yang ngotot ikut naik ke atas walaupun kepayahan kakinya terkilir waktu itu. Dasar anak ingusan." Dion berusaha mengembalikan memori Vim. Dion menyalami Herdi.
"Oya??? Aku tidak ingat." Balas Vim.
"Kota ini memang kecil. Mudah saja menemukan orang-orang yang pernah kita kenal. Mengapa mencariku?" Akhirnya Herdi penasaran dengan maksud mereka mencari dirinya.
"Kau mengetahui foto-foto ini?" Tanya Vim tanpa basa-basi.
Herdi menerima dan memeriksa satu persatu foto tersebut lalu mengembalikan kepada Vim. Ia menggelengkan kepala.
"Aku mengenal kau di dalam foto itu. Itu saja." Jawab Herdi.
" Bukan kau yang mengambil foto-foto ini?" Tuding Vim.
"Tentu saja bukan! Aku tidak tahu menahu hal itu." Herdi menepis tuduhan Vim.
"Aku butuh kejujuran. Jika aku tahu kau bohong, lihat apa yang kulakukan nanti!" Ancam Vim.
"Terserah kau percaya atau tidak. Aku tak punya banyak waktu untuk ini. Sorry kak." Di kata-kata terakhir Herdi menepuk lengan kiri Dion. Kemudian meninggalkan Vim dan Dion.
Vim dan Dion membalikkan badan meninggalkan tempat itu. Memikirkan langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Pulang atau lanjut?" Dion bertanya dan sangat ingin tahu jawaban Vim.
Hari mulai sore. Matahari tak lagi garang dan sinarnya hangat. Sekelompok burung terbang beriringan di atas cakrawala. Mereka memasuki mobil kembali.
"Lanjut Di. Ini semua perbuatan Rony. Aku yakin."
Dion menuruti kemauan sahabatnya. Vim sedang butuh bantuan dan sebagai sahabat sudah seharusnya ia menolong.
"Rony di mana sekarang Vim?"
"Di retail nya. Kata Joel di lantai atas."
"Kau siap??"
"Siap seutuhnya dari malam tadi. Memangnya Rony siapa?" Vim sedikit sombong.
"Kita tidak bawa orang Vim."
"Kau takut huh?? Dia selalu sendiri di sana. Kau lihat saja nanti dan rekam suara."
Mereka pun tiba di toko retail yang lumayan besar itu. Masuk tergesa dan mengacuhkan pandangan para pelayan toko besar itu. Beberapa bulan lalu Laras pernah berbelanja di situ dan bertemu dengan Rony.
Brrrrrrk.
Pintu didorong Vim dan terbuka. Seketika Rony didalamnya terlonjak kaget mendapati kekasaran itu. Tanpa permisi dua orang tamu tak diundang datang hadapannya. Dion berdiri diam di samping pintu dan diam-diam mulai merekam suara.
"Apa lagi yang kau lakukan setelah ini?" Vim meletakkan foto-foto di atas meja Rony secara kasar. Kehilangan simpati sama sekali pada Rony hingga ingin menimpuk wajah Rony dengan map tulang yang berada di atas meja.
"Kau mengatakan apa aku tidak mengerti. Kalian menggangguku. Pergi dari sini." Usir Rony. Vim tak menghiraukan ucapannya. Ia berjalan mendekati Rony.
"Heh lihat itu semua! Perbuatan kau yang licik. Sampai kapan kau melakukan kebodohan-kebodohan Rony!" Kerah kemeja Rony berada dalam cengkeraman Vim.
"Lepaskan! Aku tidak melakukan apapun!"
Percuma Rony berusaha melepaskan cengkraman Vim karena tangan Vim semakin kuat menahan kerah kemeja Rony.
"Karena kau telah mengganggu rumah tanggaku!"
Buuugg.
Kepalan tangan Vim hinggap di wajah Rony. Rony meringis dan mulai terpancing emosi.Wajahnya penuh kemarahan.
Buuugg. Pukulan mengenai perut Rony. Tak tinggal diam Rony pun menyerang Vim. Mengenai Pelipis Vim dan meninggalkan bekas memar.
"Sialan! Akui kau yang melakukan semua tipuan foto itu!" Seru Vim.
"Hahahah..mengapa kalau aku yang melakukannya?! Kau brengsek Vim. Merebut wanita yang hampir menjadi milikku!! Itu hanya permainan kecil."
Vim terperangah. Rony masih menyimpan kemarahan dan cemburu padanya karena berhasil memiliki Laras.
"Kau merebut Laras di saat terakhir ia akan menjadi milikku. Kau licik Vim! Aku dibalik foto-foto itu!" Semua kekesalan Rony mulai mencuat satu persatu. Ia berbicara tak mengenal takut.
"Sedari dulu kau selalu lebih unggul. Selalu mengalahkanku Vim! Aku menjadi pemenang kedua dalam setiap turnamen saat berhadapan dengan kau!" Buuugg. Satu tendangan mengenai paha Vim dan Vim terhuyung ke belakang tetapi masih bertahan berdiri.
"Itu garis tangan dari Tuhan. Pun ketika Aurora memilih kau daripada aku, Rony!" Vim mempertahankan diri. Rony mencari celah menyerangnya. Vim tak mau kalah. Sebuah tinju melayang di dagu Rony. Kini Rony terhuyung. Vim mematahkan kekuatan Rony hingga lelaki itu terduduk di lantai.
"Jangan anggap kau orang yang paling dirugikan dalam hal ini. Kau telah memisahkan Aurora dariku. Aku takkan biarkan kau merampas Laras dariku. Catat!!" Vim menyeka keringatnya.
"Sialan kau Vim!!"
__ADS_1
"Kau yang memulai permainan. Aku tak berharap berjumpa kau lagi. Konsentrasi saja pada diri sendiri. Ingat jangan mengganggu rumah tanggaku lagi!!"
Vim berjalan mundur. Kemudian bersama Dion meninggalkan ruangan itu. Dion menjalankan mobil.