
Pagi ini Laras beraktivitas seperti biasa. Bangun tidur, membersih
kan kamar dan tubuhnya lalu menghabiskan susu yang disedia
kan Ibu setiap pagi. Mulai mengeluarkan motor tanpa perlu dicuci sebab masih dalam keadaan bersih. Kemudian pamit pada Ibunya dan menuju ke rumah Ibu Maharani.
Bunyi pintu pagar menjulang tinggi yang dibuka oleh Laras, refleks membuat orang-orang yang berada di situ menoleh ke arah Laras.
"Oh nak Laras baru tiba. Bagaimana keadaan Ibu di rumah Laras?" Tanya seorang Ibu yang hendak keluar dari situ.
.
"Ibu baik-baik saja di rumah bu."
"Saya duluan ya. Kebetulan ini keperluan mendadak kemari."
"Oiya bu..silahkan."
Ibu tersebut berlalu meninggalkan Laras setelah memberikan senyuman.
"Pagi Laras."
"Pagi Bapak."
Laras menjawab semua sapaan dengan ramah. Berjalan ke arah ruangan di mana meja Laras berada.
"Non Laras hati-hati ya. Baru di pel, lantainya li_"
"Aaauww.!!
"Noon!!!"
Sebuah tangan cepat menyangga Laras dari belakang, cekatan menggapai tubuh Laras yang hampir jatuh terduduk.
Semua mata tertuju pada teriakan Laras dan Bibi yang sedang mengepel lantai dan bersamaan dengan itu menarik nafas lega karena Laras terselamatkan dari jatuh kepeleset. Lalu senyuman merekah dari mereka yang menyaksikan kejadian barusan.
"Ya Tuhan." Teriak Laras lagi.
"Hati-hati Laras. Lantai ini masih basah."
"Oo mas, terima kasih mas Vim sudah menahan tubuhku. Seandainya aku jatuh.."
"Syukurnya tidak jatuh. Bagaimana kakimu?"
"Tidak apa."
Laras membetulkan posisi tubuh
nya supaya berdiri sempurna dan melanjutkan masuk ke dalam.
Vim mengekornya dari belakang hendak ke kamarnya. Tadi ia baru saja pulang dari lari pagi dan berjalan tidak berapa jauh dari Laras. Dilihatnya para pekerja menyapa Laras dengan ramah dan mengacuhkan kedatangan Vim. Sialan pikirnya. Apa mereka tidak tahu Vim anak dari Tuan mereka.
Hingga Laras terpeleset dan Vim menahannya agar tidak jatuh terduduk.
Di dalam Laras meletakkan tas kecil miliknya ke laci meja. Hari masih sangat pagi. Jam tujuh lebih sedikit. Ia menemui tukang masak di dapur.
"Pagi Bi. Ada yang bisa Laras bantu bi?"
"Pagi Laras."
Tiga orang tukang masak menjawab hampir serentak.
"Tidak usah dibantu non. Ini sudah kerja kami. Non duduk saja."
"Laras mau membantu bi. Bagaimana kalau kacang panjang ini Laras potong-potong."
Para Bibi saling berpandangan.
__ADS_1
Kepala tukang masak akhirnya menjawab.
"Bibi senang kalau dibantu tapi tugas non Laras itu nanti. Menata hidangan saja nanti ya."
"Tidak apa Bi. Laras belum ada yang mau dikerjakan. Boleh ya bi?"
"Baiklah. Boleh bantu sedikit."
"Makasih Bi."
Dengan semangat Laras mulai menyiang sayuran. Tidak cepat karena aslinya Laras jarang membantu Ibu memasak di rumah.
Sayuran pertama yang dibersihkan dan dipotong-potng Laras telah selesai. Laras akan melanjutkan sayuran berikutnya yaitu wortel. Akan tetapi suara Vim di pintu dapur yang memanggil nama Laras menghentikan kegiatan Laras.
"Iya mas. Mas Vim panggil aku ya. Ada apa?"
"Laras kau bisa masak nasi goreng? Tolong buatkan untukku, aku lapar sekali. Dengan telor ceplok ya."
"Den bagaimana kalau Bibi sediakan nasi gorengnya."
Bibi ketua memberikan penawaran namun ditolak oleh Vim. Vim ingin Laras yang menyediakan buat dirinya.
"Laras saja Bi. Bawakan ke kamarku Laras."
"Baik mas."
" Non telor nya pakai telor ayam kampung. Itu di situ."
Bibi menunjuk beberapa telor ayam kampung yang memang disediakan di dapur.
"Baik bi."
"Ini bawang dan cabai. Semuanya dirajang saja non biar cepat, lalu ditumis."
Laras mengikuti instruksi Bibi ketua lalu membolak-balikkan nasi di dalam wajan. Mencicipi rasanya
dan matang sudah.
"Iya non. Sekarang non antar ke kamar Den bagus ya. Hati-hati jangan kesandung jalannya."
"Oke bi. Makasih bi sudah mengajari aku."
"Iya..Iya. Cepetan non ditunggu tuh."
Pintu kamar Vim sedikit terbuka sehingga Laras tidak perlu mengetuk. Ia pun masuk setelah meminta ijin pada si empunya
kamar.
"Letak di situ saja."
Hidangan diletakkan Laras sesuai perintah, ke atas meja.
"Kamu yang masak atau Bibi?"
"Aku mas. Larasati."
"Owh bisa juga masak ya?"
Astaga ini orang. Nggak bodoh-bodoh amat aku nya.
"Sudah diberitahu Mami belum Ras?"
"Laras belum ketemu Mami mas. Tentang apa ya?"
Pertanyaan Vim bikin Laras penasaran.
"Nanti juga kau tau sendiri. Tunggu saja. Kau mau ikut makan? Kenapa masih berdiri di situ?"
__ADS_1
Astaga. Wajah Laras memerah. Jelas saja ia masih berdiri di situ. Ia harus menjawab pertanyaan Vim tadi.
"Oo ee aku permisi."
"Sebentar aku rasa dulu nasi gorengnya. Kalau nggak enak kamu yang makan dan bikin baru buatku."
"Apa??"
"Hemm..lumayan. Kau boleh pergi."
Laras menarik nafas lega nggak jadi disuruh makan nasi goreng. Perutnya masih terasa kenyang minum susu buatan Ibu di rumah.
Belum muat kalau diisi dengan nasi goreng.
"Terima kasih mas. Permisi."
"Seterusnya kau siapkan sarapan di sini jika aku selesai olahraga pagi. Jangan Bibi lagi."
"Baik mas Vim."
Ceklek. Pintu ditutup rapat oleh Laras. Vim melanjutkan makan pagi dengan lahap sampai habis tiada sisa di piring.
...~~...
"Laras..anak mami. Menantu Mami!"
"Mami selamat pagi."
"Kau sudah lama sayang? Senang melihatmu. Kapan-kapan ikut Mami ke salon ya sayang. Kau harus perawatan biar tambah cakep. Kau tidak boleh kalah sama teman-teman Vim yang cantik-cantik itu."
Menantu. Ke salon. Ucapan Mami barusan menambah kebingungan Laras. Tadi Vim melemparkan pertanyaan, sekarang Mami berkata seperti ini. Laras itu jarang ke salon kecuali bila akan memotong rambutnya. Kata Mami tadi perawatan. Perawatan yang bagaimana Laras tidak mengerti.
"Laras jarang ke salon Mami. Ini rambut Laras masih pendek, belum mau Laras potong."
"Hahahahaha bukan potong rambut Laras. Merawat tubuh dan wajahmu. Nanti Vim semakin suka sama kamu."
"Tapi Laras.."
"Sudah ikut saja apa kata Mami. Kau kan anak perempuan Mami satu-satunya. Kau itu cantik Laras."
"Nanti Laras merepotkan Mami."
"Tidak pernah merepotkan. Kau melihat Vim, Laras?"
"Mas Vim di kamarnya mi sedang sarapan. Tadi minta dibikinkan nasi goreng."
"Owalaaa manja sekali dia ya. Laras yang menyiapkan sarapannya atau bukan."
"Laras mi."
"Laras apakah Vim sudah mengatakan sesuatu padamu?"
"Apa itu mi. Mas Vim tadi bertanya apakah Mami sudah memberitahu Laras. Gitu saja mi."
"Begini Laras Vim itu minta Mami, Papi melamarkan kamu buat Vim."
"Apa mi??"
"Iya begitulah. Melamarmu untuk Vim."
"Serius ini mi?"
"Iya Laras. Dia sangat berharap Laras menerimanya daripada si Rony."
"Ooo..jadi Mami dan Papi mau ke rumah?"
"Iya nanti malam.Mami sudah telepon Ibu kamu. Sekarang kamu kerja dulu ya. Mami mau ke butik."
__ADS_1
"Iya mi."
Laras melanjutkan pekerjaannya. Mempersiapkan makan siang para pekerja di rumah itu. Hari ini libur membersihkan kamar Vim karena pemiliknya sedang berada di dalam.