Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 98. Ingin rujak


__ADS_3

Berulangkali Vim gelisah mondar-mandir di halaman depan. Sesekali melongokkan kepala ke ujung jalan di depan rumah. Busyet. Sesuatu bila ditunggu tidak akan menampakan diri. Vim memendam kecewa tapi tetap mengharapkan sesuatu yang dinginkannya lewat di depan mata.


"Kenapa sih mas gelisah amat?" Laras menjadi penasaran melihat Vim.


"Menunggu sesuatu."


"Apa itu?? Serius sekali."


"Bidadari turun dari langit membawakan rujak."


"Rujak?? Mau rujak?? Kita bikin saja."


"Tidak mau. Beli saja Laras."


"Mas bercanda ya?"


"Laras..aku ingin rujak." Ucap Vim sepenggal-sepenggal kata dan tegas.


"Bumbu rujak buatan bibi juga enak kok. Kita beli buah-buahan yang tidak ada di rumah."


"Buatmu saja. Aku menunggu penjual rujak lewat. Kemana dia?"


Laras menggeleng-gelengkan kepala. Sejak Laras hamil, Vim sering meminta makanan yang jarang dimakannya.


"Jam berapa ke rumah ibu mas?"


"Satu jam lagi."


Satu jam berlalu Vim masuk kembali ke dalam rumah. Tidak terlalu bersemangat. Dalam angannya rujak yang segar bisa menuntaskan keinginannya pada makanan itu. Ia menelan saliva. Lihat saja tukang rujak lewat depan rumah esok hari. Siap-siap diinterogasi oleh Vim karena hari ini tidak muncul di depan rumah.


"Tunggu apa mas. Yuuk ke rumah ibu."


"Di bawa semua pakaiannya?"


"Iya. Cuci di sana saja "


"Tidak. Tinggalkan di sini saja. Bibi akan mengurus pakaian itu."


"Aku serahkan ke bibi." Laras cepat ke dapur. Membantah tidak menghasilkan apa-apa.


"Aku sudah telpon mami bahwa kita ke rumah timur." Yang dimaksud Vim adalah rumah orang tua Laras yang terletak di sebelah timur.


Dan mereka tiba di rumah masa kecil Laras.


Vim memperhatikan sekeliling. Selalu begitu saat ia baru tiba di suatu tempat.


"Laras daun-daun itu tidak nyaman dilihat. Aku akan memanggil orang membersihkan pekarangan ini."


"Ayah belum bersih-bersih keliling rumah mas."


"Ayah jangan mengerjakan ini. Panggil orang lain dan berikan upah. Biar aku yang mengurus dan menyampaikan pada ayah."


Halaman itu berbeda jauh dengan halaman rumah Vim yang selalu bersih dan terang. Di rumah orangtua Laras, dedaunan lebih sering turun mengingat pohon-pohon besar tumbuh di sekitar halaman. Di rumah Vim dahan dan ranting-ranting panjang telah ditebang.


"Rujak! Rujaaaak!"


Teriakan tukang rujak menyihir Vim. Ia segera mencari arah suara. Keinginannya bakal terpuaskan.


"Mas! Rujaknya!"


Langkah Laras terhenti mendengar teriakan Vim. Akhirnya tukang rujak muncul juga. Laras meninggalkan Vim dan tukang rujak.


"Mas pedas ya. Satu bungkus."


"Ya mas."


Tidak hanya Vim yang membeli rujak. Seorang ibu belum terlalu tua datang mendekati mereka.


"Mas rujaknya 1 bungkus ya. Pedas cetar."


"Iya Bu."


"Eeeeh mas Vim.. beli rujak ya . Buat mbaknya ya mas?" Sapa si ibu.


Ah si Ibu sok tahu. Vim mengumbar senyum. Keramahan perlu dipelihara sekaligus menjaga wibawa.


"Bukan Bu."


"Ooh pasti mas Vim ya. Itu wajar istri hamil suami yang mengidam. Sebagian orang begitu mas Vim."


"Iya Bu." Vim tersenyum lagi.


"Sudah berapa bulan mas."


"Dua Bu. Do'akan selamat ya Bu.


"Aamiin. Iiih..si dedek mesti ganteng seperti papahnya dan cantik seperti mamahnya."


"Terimakasih Bu. Maaf saya masuk dulu Bu. Mas ini sekalian buat bayar rujak ibu ya."


Vim menyerahkan uang lima puluh ribu.


"Owaalaaa makasih ya mas Vim. Murah rejeki..lahir selamat si dedek ya."


"Terimakasih Bu. Permisi."


"Iya mas Vim."


Si ibu menunggu rujaknya. Dia memandang kagum pada Vim.


"Sudah ganteng, baik, kaya lagi. Beruntung istrinya." Celetuk si Ibu tadi.


"Orang sini Bu?"


"Iya ini rumah mertuanya."


"Ini rujaknya Bu."


"Makasih mas."


Vim memandang rujak dengan semangat. Satu persatu potongan buah berbumbu kacang itu masuk ke mulutnya. Rasanya yang asem bercampur manis menyegarkan tenggorokan.


"Enak mas rujaknya?" Tanya Laras. Ia baru keluar dari kamar.


"Ehm enak. Mau?"


"Tidak aku tidak ingin."



"Tolong air minum." Pinta Vim.


Lara bergegas mengambilkan.


"Ini. Uuuluuh..uuluuuh keringatnya. Apakah pedas?"


Laras menyeka keringat Vim dengan tisu.


"Sedikit."


Ia tahu suaminya ini tidak menyukai makanan pedas.


"Nggak biasanya nungguin rujak. Ternyata benar-benar ingin ya?"


"Kata si ibu aku mengidam."


"Ya bisa jadi mas. Aku ke kamar ya. Ibu sedang di rumah bu Mardiah. Ayah belum pulang."

__ADS_1


"Pergilah."


Tak berselang lama ayah Laras datang.


"Kalian di sini?" Tanya ayah.


"Yah..iya yah kami baru datang."


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Lancar yah. Pohon-pohon di pekarangan sudah rimbun. Perlu dipangkas. Daunnya menumpuk di bawah. Boleh dibersihkan yah?"


Vim meminta persetujuan ayah.


"Ya..ya.. sudah berapa hari ini tidak terurus. Terserah padamu Vim." Ayah manggut-manggut.


"Ayah saja yang memanggil tukang. Aku tidak memiliki nomor hp mereka."


"Baiklah."


...*****...


Dua orang tukang menebang dahan dan ranting pohon yang menjulur panjang dan menyapu dedaunan yang menutupi halaman .


Vim mengawasi setelah berolahraga lari sore ini. Nafasnya terengah-engah turun naik. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya.


"Sore den. Selesai olahraganya?"


"Iya pak."


Kedua tukang siap pulang ke rumah karena hari telah sore. Mereka duduk sebentar menghabiskan sisa kopi.


"Tinggal di mana pak." Vim nimbrung di antara mereka.


"RW sebelah den, RW 5." Kata bapak berambut ikal.


"Masih ada perkumpulan volly nya?"


"Masih. Sekarang malah dua tim."


"Banyak anak muda di sana. Di sini cuma satu tim." Kata Vim.


Dulu Vim selalu memperkuat tim volly di tempat tinggalnya. Kadang-kadang pertandingan persahabatan dilaksanakan untuk menguji kemampuan anggota tim itu.


"Sudah sore den, kami permisi pulang.


"Baik pak. Besok masih ke sini ya pak?"


"Iya den. Membersihkan sampah yang masih ada."


"Atur saja pak. Jangan ada sampah dahan tersisa ya pak." Pesan Vim.


"Baik den. Besok pickup membawa semua sampah."


"Siiip pak."


Sore belum berganti. Perlahan namun pasti akan berganti malam. Pintu rumah akan ditutup tetapi Vim mendengar namanya dipanggil.


"Den bagus..saya disuruh ibu menghantar ini."


Dia adalah seorang asisten rumah tangga. Pintu tidak jadi ditutup.


"Apa ini?"


"Tidak tahu den. Buat non Laras.


"Ya sudah. Saya terima."


"Saya permisi." Pamit sang ART.


"Sayang ini dari mami buatmu."


"Apa itu mas."


"Puding buah."


"Waah bagus sekali. Pasti enak."


Tampilan puding buah menggugah selera Laras. Puding bening yang didalamnya terdapat potongan buah-buahan lantas dimakan.


"Ehmm enak. Coba mas rasa."


"Kamu saja supaya sehat." Cegah Vim saat Laras memberinya puding buah.


"Aku nggak akan habis makan sebanyak ini. Ayo mas bantu aku." Laras setengah memaksa.


"Ya sudah aku makan kalau begitu."


Tak terasa puding buah tersisa dua potong.


" Habis mas."


"Katamu harus habis. Sekarang bagianmu menghabiskan. Jangan menolak beib."


"Tentu saja aku mau."


"Bagus. Besok kita pulang dan lusa aku ke Singapore tiga hari."


Kalimat Vim membuat Laras tersentak. Tiga hari berjauhan dari Vim seperti apa rasanya. Dia harus sendiri lagi.


"Pentingkah?"


"Biasa urusan pekerjaan." Vim menatap lekat. Menyimpan keindahan di hadapannya ini ke dalam memorinya agar tak terlupakan selamanya.


"Aku akan kesepian. Tidak bisakah hanya dua hari saja atau sehari?" Wajah Laras berubah sendu. Tanpa Vim adalah kehampaan yang terasa.


"Sebaiknya kau di sini saja hingga aku pulang. Bersama ibu beberapa hari lagi." Kalimat yang sama yang pernah diucapkan Vim kemarin.


"Sayang..ibu pasti ingin kau lebih lama di sini. Kebetulan aku pergi temani ibu dulu ya. Mungkin ibu juga ingin mengurus cucunya."


"Baiklah. Selesai pekerjaan mas segera pulang. Janji?"


"Aku janji."


Mana mungkin Vim sanggup berlama-lama berjauhan dari Laras. Meskipun ada poto dan sarana media yang canggih untuk saling bertatapan wajah dan bicara, tetap saja tidak bisa mengobati rasa di dalam hati untuk bertemu. Laras adalah magnet dan hanya Laras yang bisa menarik hati Vim.


"Kau mau dibawakan apa dari sana? Tas branded mau?"


"Terima kasih mas. Di sini juga banyak tas branded." Laras membayangkan harga tas-tas itu yang baginya super mahal. Setelah menikah dengan Vim saja ia memiliki tas-tas bermerk tersebut. Ia tidak pernah meminta tapi Vim memberikan sebagai kado.


"Berbeda dengan yang kubawa sayang. Terserahmu. Katakan mau kubawakan apa?"


"Tidak ada. Mas kembali dengan selamat, itu sudah cukup buatku."


"Laras..please katakan. Parfum, coklat, pakaian?" Vim memaksa.


"Mas memaksaku. Bawakan saja coklat. Ya coklat."


"Ada lagi?"


"Tidak."


"Baik sayang. Lantas kau mau apa, baby?" Vim berbicara di depan perut Laras.


"Aku mau papi cepat kembali." Bisik Laras.


"Hahahaa..kau dengar baby? Itu kata ibumu."

__ADS_1


"Itu keinginan baby mas."


"Huahaahaa..Ya..ya. Do'akan urusanku cepat selesai agar aku cepat pulang." Vim menyentuh pipi Laras.


"Jika ia telah lahir, aku pasti membelikan mainan untuknya dari sana."


"Nanti saja kalau sudah lahir dan besar. Ingat mas kita harus mempersiapkan masa depannya. Lebih baik menabung untuk sekolah anak-anak." Walaupun muda tapi cara berpikir Laras termasuk dewasa sekali. Hal-hal yang luput dari perhatian Vim, Laras akan menjangkaunya.


"Benar. Kau tenang saja. Aku persiapkan semua itu. Besarkanlah anak-anak dengan baik."


"Aku usahakan."


Tok. Tok. Tok.


"Laras! Vim! Ayoo makan malam."


Panggilan ibu terdengar. Laras dan Vim berpandangan.


"Iya Bu kami ke sana."


Vim mengangguk mengikuti Laras ke ruang makan.


Vim menunduk membuka ponselnya sementara Laras mengambilkan makanan. Kedua garis alisnya terlukis menukik di atas mata memberikan kesan tegas.


"Makan mas."


"Terima kasih. Ayah besok halaman sudah bersih dan tukang tidak perlu diberi ongkos lagi." Vim memberitahu ayah.


"Terima kasih nak Vim."


"Sama-sama yah."


Ibu melihat nasi di piring Laras. Hanya ada sayur di sisinya.


"Laras dimakan dagingnya. Ibu bikinkan gepuk daging lagi agar kamu puas memakannya."


"Ya bu. Laras makan dengan sayur dulu ya. Laras nggak mau dicampur."


"Puji syukur pohon-pohon di kebun mulai tumbuh besar. Beberapa tahun lagi bisa diambil kayunya. Nanti uangnya untuk cucu ayah." Cerita ayah.


"Senang mendengarnya ayah tapi.. maaf sebaiknya uang hasil penjualannya nanti buat ayah dan ibu saja. Bisa digunakan untuk keperluan lain." Vim berpikir dari penghasilannya saja sudah bisa menopang hidup keluarga kecilnya.


"Baiklah Vim."


"Diterima saja Vim. Kebun itu dari uang yang nak Vim berikan saat kalian menikah." Ujar ibu.


"Sementara ini ibu simpan saja uangnya. Jika kami membutuhkan kami akan pinjam." Vim bersikukuh. Kebutuhan keluarganya adalah tanggungjawabnya. Ia masih sanggup memenuhi itu.


"Yaaaah tidak apa kita simpan saja Bu. Barangkali suatu saat berguna." Kata ayah.


"Tambah nak Vim?" Tanya ibu lebih menawarkan.


"Iya bu. Masakan ibu enak." Balas Vim. Ibu melirik Laras dan Laras mengerti maksud ibu. Laras menambahkan nasi ke piring Vim.


"Cukup Laras."


Vim membuka pepes tahu yang dibungkus daun pisang.


"Mas suka?" Tanya Laras.


"Suka. Termasuk botok juga."


"Oooh nak Vim suka botok. Besok ibu masakkan botok ya? Bisa kalian bawa pulang."


"Terima kasih Bu."


"Nah sekalian Laras bisa belajar bikin botok. Itu kesukaan Vim loh. Kamu harus bisa membuatnya."


"Dengan bantuan ibu, Laras bisa."


Laras tersenyum.


"Tidak usah pedas bu." Ujar Vim.


"Besok Laras akan mengingatkan ibu tentang ini. Ya kan Ras?"


"Iya Bu. Mas Vim tidak suka makanan terlalu pedas." Kata Laras.


"Mau lagi gepuknya mas?"


"Sudah cukup. Buatmu saja. Kami kembali siang yah..bu. Persiapan saya ke Singapore." Vim meminta ijin.


"Nak Vim mau ke Singapore? Terserah gimana baiknya saja. Lalu Laras tetap di sini bukan?"


"Laras kembali kesini setelah mengantar saya ke bandara. Saya titip Laras ya bu selama saya pergi."


"Dengan senang hati. Di sini rumah Laras juga kok. Kalian bebas datang kapan saja." Suara ibu lembut.


Laras tak ingin malam ini cepat berlalu menjadi pagi lalu Vim akan berangkat meninggalkannya. Dia enggan ditinggal pergi dan karenanya kini memeluk Vim. Kepalanya menelusup di dada Vim.


"Relakan aku pergi sebentar saja. Jika seperti ini langkahku menjadi berat." Suara Vim tenang tanpa tekanan.


"Aku takkan bisa tidur mas."


"Bisa. Harus bisa. Peluk guling dan sebut namaku tiga kali." Canda Vim.


"Nggak lucu. Aku ikut ya mas."


"Apa? Tidak Laras. Usia kandunganmu sangat muda. Lebih baik di rumah saja." Pujuk Vim.


"Kau bisa merajut selama kepergianku dan di sini ada ibu yang selalu memperhatikanmu. Aku akan tenang di sana sebab kau berada di rumah ini. Jangan bepergian selama aku tidak ada."


Vim mengelus kepala Laras bagian belakang. Menenangkan batinnya yang sedang Lara. Selama ini mereka belum pernah berjauhan.


"Jangan menangis tidak baik untuk baby." Mau tidak mau Vim menjadi berat hati meninggalkan Laras.


"Cepat pulang."


"Iya aku cepat pulang." Kata Vim.


"Apakah kalian berdua saja?"


"Iya aku dan Joel saja. Jangan takut kami tidur terpisah."


Laras memukul pelan lengan Vim.


"Bukan itu maksudku. Tidak ada wanita lain?"


"Ya tidak sayang. Sekali lagi hanya aku dan Joel. Percayalah. Kau boleh tanya Joel setiap aktivitasku di sana."


"Aaahh itu sih bisa diatur."


"Kau percaya padaku?" Tanya Vim. Mata mereka saling menatap.


"Percaya." Jawab Laras.


"Bagus. Jadi jangan khawatir, tidak ada nama lain dihatiku."


"Benar?"


Vim mengangguk. Laras sedikit tenang meskipun ada galau yang masih bersemayam dihatinya.


🌷🌷🌷


Maaf baru up karena ada kegiatan di RL. 🙏


Terima kasih yang sudah support dan terus membaca novel ini. Sehat selalu..😘

__ADS_1


__ADS_2