
Laras sengaja memperlambat makan es krim. Selain ingin menikmati kesendirian ia juga enggan untuk segera pulang.
Suapan demi suapan es krim ke dalam mulut terasa nikmat bagi Laras. Tidak terlalu menghiraukan apakah OOTD yang ia kenakan cocok dengan situasi di mall itu.
Seorang anak kecil menarik perhatian Laras. Dengan rambutnya yang tergerai anak itu menyanyi di depan ibunya. Sang adik berada dalam pangkuan sang ibu terlihat senang padahal waktu telah malam. Anak-anak itu masih terlihat segar.
"Mama aku sudah. Papa mana?" Tanya gadis kecil kepada ibunya.
Tiara membayangkan jika ia seperti anak itu di saat kecil.
"Sebentar lagi sayang. Nyanyi lagi ya." Kata sang ibu.
Gadis itu menyanyi lagi. Tangannya digerakkan ke atas kepala, lalu ke depan dada dan melingkar. Dia menyanyikan lagu topi saya bundar. Gadis kecil tanpa dosa. Laras mengingat kedua ponakan Vim tiba-tiba.
Vim terlupakan sejenak. Terasa berat kaki Laras untuk berdiri dan pulang. Lihatlah sama sekali Vim tidak mencarinya di sini. Apa dia tidak khawatir keselamatan Laras? Sampai jam segini kemana saja? Huuuhh.
Laras membuka ponselnya. Beberapa pesan masuk dari Vim dan panggilan masuk yang tidak didengar oleh Laras tertera di sana.
'Sayang maafkan aku. Kamu di mana? Aku mencarimu.'
Itu pesan terakhir yang tertera di chat mereka berdua.
"Mama..Delia haus."
Gadis kecil itu menghampiri dan meminta minum keada ibunya. Sang ibu memberikan botol air minum dari dalam tas.
Kembali panggilan masuk berbunyi. Panggilan terputus kemudian berbunyi lagi. Dia menekan tulisan jawab.
'Halo.' Kata Laras singkat.
'........'
'Di sini di air mancur dalam mal.' Katanya lagi lalu memutuskan percakapan.
...*****...
Pukul empat sore Vim berada dalam ruangan rapat bersama mitra bisnis yang baru. Kurang etis jika ia mengundurkan diri saat rapat sedang berlangsung. Ini adalah pertemuan pertama dengan calon mitra bisnis. Kesan pertama menentukan hasil berikutnya. Pagi ini ia mengajak Laras untuk makan malam dengannya.
Vim mengikuti rapat hingga selesai. Ponsel selalu dimatikan jika sedang mengikuti rapat. Rapat yang tadinya akan berlangsung siang itu mendadak mundur waktunya. Sayangnya rapat itu berlangsung lama dari sore dan selesai saat jarum jam menunjukkan angka delapan.
Setengah membanting pintu mobil Vim masuk ke restoran dimana Laras menunggu. Nafasnya memburu dan kegelisahan tersirat di wajahnya yang biasa tenang. Kali ini Vim tidak bisa tenang. Rasa bersalah mengisi relung hati. Membiarkan Laras menunggu lama tanpa berita adalah kesalahan. Maafkan aku kata Vim pada dirinya sendiri. Semoga Laras mendengar kata hatinya.
Kepada resepsionis Vim bertanya tentang Laras. Resepsionis menjawab jika Laras telah pergi sejak tadi. Vim mulai risau. Tak satu pun pesan-pesan yang Vim kirim mendapatkan balasan. Begitu pun dengan panggilan yang dikirim beberapa kali.
Panggilan terakhir yang Vim lakukan mendapat jawaban dari Laras. Terselip kelegaan di dalam hati. Laras berada di dekat situ. Mal di sebelah restoran tempat mereka janji temu. Janji temu yang batal demi sebuah peluang bisnis. Betapa egoisnya aku, batin Vim. Tapi bukankah hasil akhirnya untuk kepentingan mereka berdua?
Vim segera berlalu dari situ dan menuju ke mal di mana Laras berada. Terus saja ia menuju ke belakang dengan langkah kakinya yang lebar. Ingin segera bertemu dengan Laras dan memastikan bahwa Laras dalam keadaan baik-baik saja.
Vim merasa lega mendapati Laras sedang duduk di depan air mancur kecil di antara pengunjung mal. Ia menarik Nafas.
"Laras." Nafas Vim tersengal.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vim kemudian.
Dia datang juga tapi telat. Sangat telat. Laras sedang tidak baik-baik saja. Mal ini besar tetapi pendingin ruangannya terasa dingin bagi Laras. Ditambah perutnya yang belum cukup terisi makanan, udara yang dingin semakin membuat Laras kedinginan dan lapar. Namun selera makannya telah hilang.
"Kau kedinginan."
__ADS_1
Jas berbahan ringan milik Vim berpindah ke tubuh Laras. Menutupi punggung dan lengannya. Sebelum ke restoran Vim mengganti jas kerja dengan jas OOTD ringan yang digantung di mobil.
"Kita pulang."
Tangan Laras dituntun Vim. Bak anak kecil Laras mengikuti Vim. Tanpa suara dan penolakan. Vim bisa melihat kekecewaan di wajah Laras sehingga ia memilih untuk tidak berbicara banyak. Ia memang bersalah. Entah mengapa Laras sedikitpun tidak mengeluarkan kata-kata kekesalan kepadanya.
Kebisuan melingkupi keduanya di dalam mobil. Vim membiarkan Laras diam sedari tadi.
Mobil berhenti di rumah mereka. Suara jangkrik mengisi kesunyian di sekitar rumah. Vim tidak membuka kunci pintu mobil yang otomatis.
"Laras kau marah?"
Laras memilih diam. Dia tidak benci Vim tapi ia kecewa pada Vim. Harusnya Vim sadar, harus nya Vim mengerti apa yang ia rasakan.
"Sayang.. rapat berlangsung sore dan lama. Kolega yang baru butuh perhatian kami agar kerjasama terwujud." Urai Vim agar Laras mengerti. Vim menatap Laras dari samping.
"Buka pintunya." Sikap Laras beku.
"Maafkan aku." Suara Vim bernada penyesalan.
"Aku maafkan mas. Buka pintu."
Kunci pintu mobil dibuka secara otomatis. Laras segera turun tanpa menunggu Vim.
Di kamar mereka...
Segera Laras membersihkan wajahnya dari make up lalu menyiram tubuhnya yang terasa lengket. Walaupun berada di restoran dan mal yang dingin, tubuhnya terasa tidak nyaman.
Air hangat telah membersihkan keringat yang menempel. Laras keluar dari kamar mandi. Dingin tidak juga menjauh dari tubuhnya itu. Laras menggigil. Ia menekuk tubuhnya. Benar-benar dingin tidak mau berdamai dengan dirinya. Berjongkok demi menahan dingin. Brrrrr. Mengapa sedingin ini?
Vim yang masuk terperangah melihat Laras berjongkok menahan dingin. Dia segera mengangkat Laras dan meletakkan Laras diatas ranjang. Menarik bed cover supaya menutupi seluruh tubuh Laras.
Belum berhenti menggigil kedinginan, Laras menutup telinga dengan bantal. Vim beranjak mematikan AC.
Ia naik ke atas ranjang kemudian mendekap Laras meskipun tubuh Laras dibalut bed cover tebal dan menghangatkan. Menambahkan kehangatan pada kekasihnya.
Laras tidak bereaksi. Dirinya mengatasi rasa dingin yang menyerang.
"Kenapa harus mandi?" Bisik Vim di telinga Laras. Bantal yang menutupi telinga Laras berpindah di samping Vim.
"Ehmm." Laras berusaha mengurai lengan Vim namun tak berhasil. Vim menahan lengannya itu.
"Sekali lagi maafkan aku." Bisiknya lagi.
"Kau makan apa tadi?"
Tiada jawaban. Laras bungkam. Dia tengah menahan rasa di hatinya.
"Laras."
"Hiiiiks." Hanya itu yang keluar dari mulut Laras.
"Sayang aku janji tidak mengulangi lagi."
"Hiiiiks."
"Sayang." Panggil Vim lirih.
__ADS_1
Hiiiks.Hhuuuaaa.
Kesedihan yang tertahan akhirnya lepas. Tangis Laras pun meledak. Ia teringat saat menunggu Vim tadi dan Vim tidak memberikan pemberitahuan kepadanya. Betapa ia bersemangat datang ke restoran. Betapa ia ingin berdua saja menikmati waktu santai bersama Vim. Tapi tadi terjadi. Yang ada hanya menimbulkan bekas kekecewaan.
Pelukan Vim semakin erat.
"Berhentilah menangis." Vim memujuk Laras.
"Mas itu jahat.Ja..hat." Suara Laras tersendat karena tangis.
"Iya aku jahat."
Krrrrk..Krrrkk.
Perut Laras berbunyi.
"Kutahu kau belum makan. Kedinginan karena kelaparan." Vim menduga sebelumnya.
Tok.Tok.Tok.
"Bubur den." Suara bibi Am dibalik pintu.
"Masuk bi." Vim beringsut pindah ke sofa.
Bibi mengantarkan bubur yang masih mengepul.
"Permisi den."
"Iya bi. Terima kasih."
Vim meminta pak Uun membelikan bubur untuk Laras. Bubur dengan citarasa kaldu tulang. Untungnya bubur masih tersedia dijual.
"Berhentilah bersedih. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa. Duduklah."
Vim membawa bubur itu kepada Laras. Menceritakan apa yang dilalui sore hingga malam hari yang menyebabkan Vim tidak memenuhi janjinya. Diterima atau tidak oleh Laras, Vim tidak memikirkan itu. Menjelaskan saja sudah cukup dan ia telah bicara jujur.
"Makan ini. Kau bisa sakit." Pujuk Vim.
Ponsel di nakas berdering. Benda ajaib itu berada berpindah dalam genggaman Vim. Edo menelpon dan Vim keluar dari kamar. Menanggapi panggilan dari Edo di luar kamar agar Laras tidak terganggu.
Laras bangkit duduk. Tubuhnya tidak merasakan dingin lagi. Aroma bubur tulang mengundang selera. Laras memakan bubur itu. Hmmm sedap. Porsinya lumayan banyak. Laras memakan separoh bagian.
Kembali Laras membenamkan tubuh di balik bed cover. Nyaman yang tidak terkira. Matanya mulai sayu. Mengedip. Ah rasa kantuk tidak bisa ditahan. Laras terlelap dalam tidurnya.
Senyum Vim merekah melihat mangkok bubur telah berkurang isinya. Tangan Vim menempel di kening Laras. Suhunya normal.Ia tersenyum simpul.
"Selamat tidur sayang." Bisiknya ketika mengecup kening Laras.
Memadamkan lampu ruang kamar. Mengganti dengan lampu tidur yang sangat redup. Laras akan terbangun suatu waktu jika lampu benar- benar Vim matikan semua.
🏵️🏵️🏵️
Bersambung..
Like, comment, gift, vote & five stars.
Terima kasih readers..❤️
__ADS_1