
Keesokan hari Vim dan Laras kembali ke rumah. Teringat akan janjinya pada Arika si ponakan nan imut generasi paling muda dalam keluarga Pak Dewantara.
Ia dan Laras berniat membawa para ponakan berjalan-jalan nanti sore setelah mereka tidur siang terlebih dahulu.
Vim dan Laras memasuki kamar Vim. Kamar dengan ukuran lumayan luas tampak baru dengan cat dan gorden serta sprei baru.
Yang membuat surprise bagi Laras dan Vim adalah taburan kelopak mawar merah membentuk hati di atas ranjang.
Mereka melongo tak percaya. Entah siapa yang mempunyai ide seperti itu.
"Menurutmu siapa yang melakukan ini??" Tanya Vim meminta pendapat. Matanya memandang manik mata Laras.
"Siapa ya mas? Mungkinkah mami, mbak Sinta atau mbak Alya?"
"Ketiga dari mereka..kemungkinan besar mbak Sinta." Tebak Vim. Sinta paling suka memberikan kejutan kepada seisi rumah terutama di momen tertentu.
Sinta akan rela menyediakan hidangan jika ada di antara mereka yang berulang tahun. Membeli kue dan merayakan ulang tahun kecil-kecilan anggota keluarga. Sinta istri dari Vadli. Mama dari Vini dan Vici anak Vadli.
Tak berniat tidur siang Laras memilih membersihkan pakaian kotornya. Belum ada mesin cuci di kamar mandi karena pakaian Vim selalu di cuci di belakang oleh Laras. Namun Laras enggan ke belakang kali ini dan memilih mencuci manual.
"Kalau kau mau kirim saja ke laundry supaya tidak kelelahan karena menyuci." Vim menawarkan.
"Tidak apa mas. Pakaian rumah saja kok. Belikan saja mesin cuci mas. Letakkan di sini."
Looooh. Vim semakin heran. Di suruh kirim pakaian kotor kok
malah minta mesin cuci.
"Sudah serahkan saja ke Bibi di belakang."
Laras menjadi lebih istimewa di mata Vim. Vim tidak ingin Laras kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah tapi sebaliknya Laras kukuh tetap ingin mencuci pakaian sendiri.
"Pakaian kita biarkan saja aku yang mencucinya mas, kecuali jas kerja. Boleh ya?" Pinta Laras.
"Nanti kau kelelahan sayang. Membantu mami, membantu bibi dan.." Sampai di sini Vim berhenti bicara. Dirinya tegak berdiri di pintu kamar mandi menyaksikan Laras mencuci pakaian.
"Dan apa?"
"Mengurusku pastinya."
"Tidak apa itu sudah jadi tanggung jawabku. Aku tutup pintunya ya. Aku mau mandi. Bukankah sebentar lagi kita membawa trio cs jalan-jalan?"
"Ahahaha..benar. Mereka belum bangun. Mandilah dulu."
Ketika sore menjelang, suara trio cs mulai kedengaran menggema di ruangan rumah nan luas tersebut. Riuh rendah dengan tawa dan juga suara mereka.
"Mbak Vini..Ici pinjam game salonnya." Rengek si Vici pada kakaknya.
"Ahh enggak mau. Mommy.. Vici ganggu nih."
"Sudah main game nya sayang. Sudah lama. Berikan hp pada mami ya." Perintah Sinta pada si sulung Vini.
"Yaah Mommy Vini masih mau."
"No.No."
Vini memberikan hp di tangannya dengan cemberut. Tidak berani membantah perintah ibunya. Lalu berlari ke arah daddy nya diikuti adiknya, si Vici. Vici yang lebih kecil selalu mengekori sang kakak.
"Vini, Vici, Àrika! Ikut oom nggak?!"
Panggil Vim pada ponakannya. Seketika riuh suara bersahutan membalaa panggilan Vim. Bertiga mereka datang menghampiri Vim dengan sedikit berlari. Arika berada paling belakang, mengejar kedua kakak sepupunya. Dua ikatan rambutnya bergoyang ke kanan kemari.
"Hahh..haahh..ikut oom. Sekarang ya oom?" Nafas Vini terengah-
engah.
"Iya dong."
"Ikut jalan-jalan oom" Vici tidak mau ketinggalan.
Lalu Arika," Lika ikut oom. Oleee..Luka bli esklim enak."
"Kalian salim dulu sama mommy daddy ya."
"Iya oom."
Vini bergerak duluan diikuti adik-adiknya. Arika menyium tangan Viky dan Alya. Vini Dan Vici menyium tangan Vadli dan Sinta.
__ADS_1
"Tidak boleh nakal. Tidak boleh nangis ikut oom ya." Pesan Alya.
Arika mengangguk. Dibenaknya sudah terbayang es krim koko yang lezat. Dia nggak akan nangis, malah senang karena keinginan
nya bisa terwujud. Es krim aku datang.
"Vim jangan dibelikan banyak-banyak." Alya mengingatkan Vim.
"Tenang mbak. Percaya padaku. Palingan dibawa pulang 10 box."
"Viimm?!" Alya mendelik kesal.
"Iyaa takut amat siih."
"Arika sakit gigi jika kebanyakan. Aku tidak tahan mendengar rengekannya jika sakit."
"Oke.Oke. Ras pegang Arika. Ayo anak-anak masuk ke dalam mobil!"
"Oiya kalian mau dibawakan apa?"
"Tidak usah beli macam-macam. Tuh di meja masih penuh makanan." Kata Sinta menolak tawaran Vim.
"Ya sudah kalau begitu. Let's go!"
Vim berjalan diikuti Laras dan ketiga ponakannya. Laras menuntun si kecil Arika. Tempat duduk sebelah Vim diduduki Vini. Laras dan yang lainnya duduk di bagian belakang. Mobilpun melaju di jalanan.
"Cicak-cicak di dinding, diam-diam melayap.."
Suara Arika terdengar menyanyi
kan lagu kesukaannya. Laras ikut bernyanyi juga. Dia akhir bait mereka tertawa riang bersama.
Suasana hidup dengan kehadiran tiga bocah ponakan Vim. Mereka kelihatan seperti keluarga kecil bahagia.
"Nah kita sudah sampai."
Vim melepaskan seat belt yang melingkari Vini. Gadis itu bergerak cepat keluar dari mobil. Ia sudah tidak sabar segera makan makanan yang akan dipesan. Si oom memang baik, pikirnya.
Bergantian Vim membukakan pintu untuk Laras. Menurunkan Vici dari mobil dan menunggu Laras keluar. Namun Laras kepayahan menggeser duduknya hendak berdiri dengan Arika di dalam dekapannya.
Vim meraih Arika. Posisi Vim dan Laras menjadi dekat karena itu. Rasa hati Vim ingin mengecup kening Arika namun urung karena menjaga agar Arika tidak menyaksikan. Aroma parfum Laras semerbak mewangi mengusik indra penciuman. Lembut tapi menyegarkan.
Laras menggandeng adik beradik si Vini dan Vici. Mengikuti langkah Vim memasuki tempat makan dengan aneka menu yang memanjakan anak-anak yang datang ke sana. Membuka-buka buku menu, menunjukkan pada Vim dan dibalas anggukan oleh Vim. Menu pun dipesan.
Makanan yang dipesan datang.
Choco moist untuk si kecil Arika, macharoni schotel dan cumi tepung untuk Vini dan Vici. Tak lupa es krim dengan 3 rasa yang ditumpuk menjadi satu dalam gelas berkaki rendah. Vim dan Laras hanya memesan jus.
"Kau tak memilih makanan Ras. Kenapa?"
"Belum lapar mas. Mas aja yang pesan. Belum sarapan kan?"
"Kau juga belum sarapan. Aku pesankan ya."
"Ya deh."
Tak lama pesanan datang dengan asap yang mengepul. Dua mangkuk mi citarasa negeri ginseng. Bila mi milik Vim pedas dengan level tertentu, punya Laras dengan rasa pedas level rendah.
"Oom nangiss! Mata oom ada airnya." Ejek si Vini. Semua mata mengarah ke Vim. Mereka tertawa bersamaan.
" Oom kepedasan sayang."
Laras menjelaskan. Diraihnya tisu dan melap keringat yang mengalir di dahi dan hampir seluruh wajah Vim.
Penampilannya seperti anak kecil yang kepedasan makan bakso, menurut penilaian Laras. Bibirnya memerah. Sangat merah terbakar cabai.
"Mas pesan mi nya terlalu pedas tuh. Nanti kalau perut mas sakit gimana.."
"Kan ada kamu yang ngurusin aku." Kilah Vim.
"Terus mas suka kalau aku nggak tidur, nungguin mas semalaman?"
"Jangan dong! Sudah masuk ke perut nih. Enak..beneran!"
"Pesan saja lagi dengan level dua kali lipat dari yang tadi."
"Boleh tapi kau bantu habiskan makan ya..??hahaa."
__ADS_1
"Yaahh..nggak mau ah."
"Ras perhatikan mereka. Bayang
kan jika mereka anak-anak kita. Seru ya?!"
Raras tersenyum. Suatu saat nanti mereka juga memiliki anak-anak yang lucu dan mengemaskan seperti Vini, Vici dan Arika.
"Kau mau punya anak berapa?" Vim bertanya cepat.
"Ee aku..tiga saja cukup."
"Lima asyik juga." Lanjut Vim. Otomatis mata Laras membelalak sempurna.
"Lima mas?? Banyak banget."
"Seru loh seperti di rumah Mami. Dulu kami berempat. Lihat, setelah berkeluarga masing-masing meninggalkan rumah. Rumah Mami sepi, Iya kaan??"
Setelah Vadli selesai mengejar beasiswa lalu sukses menjalan
kan usaha dan memiliki keluarga menjadi jarang pulang.
Hal yang sama pada Viky yang selesai menuntut ilmu , berkarier dan memiliki keluarga hampir bisa dihitung berapa kali pulang ke rumah Mami. Kesibukannya,
jabatan dan jarak harus diperhitungkan oleh mereka.
Lumayan punya lima anak. Aku pasti akan sibuk mengurus mereka. Bocah-bocah kecil yang menggemaskan.
"Kau membayangkan apa?" Vim menghentakkan Laras dari lamunan.
"Aku sedang membayangkan saat anak-anak kecil, lalu aku menggendong si bungsu, terus si abang di atasnya menangis minta dipeluk juga olehku karena sakit. Aaah." Laras menutup kedua matanya.
Vim meringis mendengarkan uraian Laras. Tidak akan tega ia melihat Laras kelelahan mengurus anak-anak mereka.
"Tante, oom..sudah habis."
"Wow anak pintar." Puji Laras buat Vici yang telah selesai makan.
Dilihatnya Arika mengaduk-aduk sisa choco moist miliknya, pertanda ia sudah kenyang. Es krim nya habis tanpa sisa. Sedangkan Vini masih memakan cumi goreng yang tinggal tiga potongan kecil.
Di akhir makannya Vini memegang perutnya.
"Kenyang oom, tante."
"Nah karena kalian pintar-pintar sudah makan, sekarang kita membeli mainan ya."
" Mainan!!? Olee mau oom."
Si Arika menjawab cadel.
"Tentu tapi kalian cuci tangan dulu sama tante."
"Yuk tante, cuci tangan." Vici tampak bersemangat.
Ketiganya mencuci tangan dan kembali lagi ke meja mereka.
"Oom Vini minta baju baru aja oom. Vini nggak mau mainan."
"Boleh. Nanti Vini pilih sendiri."
Memasuki toko mainan yang besar dan lengkap, mereka disambut pelayan yang amat ramah. Mengarahkan mereka ke jajaran mainan yang dipajang.
"Silahkan dipilih Pak, Bu mainan untuk putri-putrinya. Di sini mainan dengan kualitas bahan terbaik dan aman."
"Kami lihat dulu ya mbak."
Laras menanggapi keramahan pelayan. Memilih lalu menawarkan pada dua ponakannya. Tidak berlangsung lama dua mainan terpilih. Satu mainan salon-
salonan lengkap dengan meja kaca seperti yang ditemui di salon sungguhan dan mainan masak-
masakan yang lengkap pula. Ucapan terima kasih meluncur dari bibi-bibir mungil ponakan Vim.
Giliran mencari pakaian baru untuk si sulung Vini. Melewati deretan baju-baju anak perempuan yang sarat pernik hiasan dan model. Laras dan Vini memilih baju yang akan dibeli. Vim bersama Arika duduk di kursi yang disediakan tidak jauh dari situ sambil menunggu.
Sampai di sini terima kasih sudah membaca karya recehan ini.
Like, comment & vote.
__ADS_1