Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 75. Tidak bisa memilih.


__ADS_3

Laras merasakan sesuatu menekan bagian atas tubuhnya. Tangan Vim yang melingkar tepat di atas dada Laras membuatnya tidak ingin mengganggu si pemilik tangan yang masih terlelap. Posisi Vim berada di sebelah Laras sekarang, tidak lagi di sofa seperti tadi malam. Entah pukul berapa Vim berpindah tempat. Laras tidak menyadarinya.


Rasa ingin buang air kecil tidak bisa ditahan oleh Laras. Ia pun mengangkat tangan Vim dan perlahan menggeser bokong dari tempatnya berada. Gerakan itu membuat Vim terbangun.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Vim dengan suara serak. Matanya setengah enggan membuka.


"Jam empat." Laras menjawab.


Tali baju tidur Laras turun sebelah. Itu sudah cukup menggoda penglihatan Vim meskipun pakaian itu bukanlah dari jenis bahan yang transparan.


"Apa yang mas lihat?"


"Bahumu, dadamu dan..."


"Aaaah aku kebelet pipis." Laras berjalan cepat ke kamar mandi.


"Pelan-pelan Laras!" Seru Vim.


Laras muncul kembali. Tali bajunya yang sebelah kiri selalu turun di lengannya.


"Hmmm lega." Tuturnya ringan. Beban menahan pipis sudah hilang.


"Bajumu mengapa begitu. Kebesaran ya?"


Tangan Laras segera menaikkan tali baju tidur yang longgar.


"Memangnya kenapa?"


"Kuperhatikan selalu menjuntai ke bawah."


"Iya sedang butuh perhatian." Laras menjawab sesukanya.


"Apa?? Kau butuh perhatian?" Kini Vim telah berada tiga puluh meter dari Laras.


"Aku?? Aku.. ehm aku tentu selalu butuh perhatian, khususnya dari mas." Laras berbicara jujur. Ia sengaja membuat Vim merasa tersanjung. Itu saja tidak lebih dari itu. Kondisi kesehatan Laras tidak mengijinkan mereka berhubungan sementara waktu.


Namun berbeda dengan Laras. Bagi Vim kalimat Laras bermakna lain di benaknya. Tanpa banyak bicara Vim segera mendekatkan wajahnya pada Laras. Menghujani Laras dengan ciuman di wajahnya. Lalu memagut bibir Laras lama. Laras tak bereaksi. Tidak membalas apa yang Vim lakukan padanya agar Vim tidak semakin tenggelam dalam permainan itu.


Laras menolak bahu Vim. Pagutan itu terlepas. Laras terengah. Vim juga.


"Maafkan aku." Vim mengusap bibir Laras lalu bibirnya. Vim mengatur nafasnya. Vim mendamba dan menginginkan lebih.


"Hanya bisa begini." Ujar Laras sendu.


"Ya. Kau rasakan tadi?"


"Tidak. Apa itu?" Laras tidak mengerti apa yang dikatakan Vim.


"Adikku."


"Adik???" Laras bertanya penuh keheranan.


"Hmm..ah sudahlah. Aku harus ke kamar mandi sekarang dan membuangnya di sana." Vim melangkah cepat ke kamar mandi.


"???" Laras termangu memperhatikan Vim.


"Sudah?" Laras bertanya begitu Vim hadir lagi di hadapannya dengan tubuh yang harum. Rambut basah tubuh sempurna menampilkan sosok gagah perkasa.


"Sudah." Wajah Vim terlihat cerah. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Mari kukeringkan." Laras menawarkan diri. Vim memberikan handuk di tangannya.


Vim duduk di kursi meja rias Laras. Menunggu Laras selesai mengeringkan rambut miliknya.


"Waktunya ibadah sayang." Laras mengingatkan Vim.


"Benar. Berhentilah." Perintah Vim.




Ibu telah pulang. Laras hanya berteman dengan bibi Am di rumah. Vim melaksanakan rutinitas harian mencari nafkah. Seperti juga Ibu, bibi Am melayani Laras nyaris sempurna sebab ibu meminta tolong pada bibi Am agar menjaga Laras dengan baik.



Laras berdiam diri di kamar. Sebuah pesan masuk dari Vim di ponsel Laras menyampaikan bahwa Vim akan pulang lambat. Laras menghela nafas. Waktu berlalu tanpa Vim dan kegiatan apapun terasa sangat lama.



"Sayang jangan pulang lambat." Tulis Laras kepada Vim.



Kali ini Vim membalas Laras.



"Sebentar lagi. Hampir selesai."



Majalah wanita favoritnya tergeletak di samping Laras. Laras merasa jenuh. Pukul sembilan malam Vim belum juga kembali ke rumah.



"Mas kepalaku pusing." Tulis Laras lagi. Ponsel diletakkan.



Pesan dibaca namun tidak mendapat balasan. Laras meluruskan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar.



Vim yang tiba tidak langsung menuju ke kamar. Berbelok ke arah dapur untuk mengambil air putih di sana. Rasa dahaganya hilang. Lantas ia memasuki kamar tidur.



Ceklek.



Laras mengarahkan pandangan ke pintu. Seketika ia tersenyum. Kemunculan Vim menghilangkan rasa sedih dan sepi yang ia rasakan. Lelaki itu menghampiri Laras dengan wajah khawatir.



"Kepalamu sakit? Bagaimana bisa sakit?" Vim mendekati Laras dan terlihat panik. Dirabanya kening Laras.

__ADS_1



"Tidak panas sama sekali." Kata Vim kemudian.



"Sudah hilang." Senyum Laras mengembang.



"Kau membohongiku hmm?"



Vim merasa lega meskipun Laras membohonginya. Wajah Vim menyiratkan kelelahan. Ia membuka kemejanya. Hanya kaos singlet putih yang menempel di tubuh.



"Pulangmu lambat sekali. Aku tidak ada teman." Alasan Laras.



"Pekerjaan itu harus selesai jika tidak ingin bertambah banyak besok dan lusa. Syukurnya sekarang sudah rampung." Sambung Vim lagi.



"Syukurlah. Berarti esok mas bisa pulang tepat waktu. Sayang.. besok aku mau ke toko. Aku kangen melihat toko. Boleh ya?" Laras meminta ijin.



"Pergilah tapi hanya esok saja. Seterusnya tetaplah di rumah. Aku akan mencarikan Ririn teman untuk menjaga toko."



Kalimat Vim mengalir tanpa beban tetapi bagi Laras kata-kata Vim itu mencubit hati Laras. Laras teringat kalimat Vim sewaktu di rumah sakit bahwa ia akan membatasi kegiatan Laras.



"Inikah salah satu caramu membatasi gerakku mas?" Tanya Laras dengan tersendat. Ia ingin menangis.



Vim yang mendukungnya untuk bergerak maju namun kini Vim juga yang akhirnya memberi batasan.



"Ya Laras. Aku ingin kau istirahat dan lebih santai. Konsentrasi pada kuliahmu saja. Jika kau tidak menurut apa kataku, dengan terpaksa toko kujual." Vim mengharuskan Laras menerima ketentuannya. Laras merengut.



"Haah?? Bagaimana mungkin dijual?"



Laras tidak percaya Vim akan tega menjual toko yang pernah dihadiahkan kepadanya itu.



"Maka ikutilah kemaunku."




"Jika aku tetap bekerja?"



"Aku tidak main-main. Toko itu bisa ku jual. Aku tidak ingin kau kelelahan itu saja."



Laras memikirkan ucapan Vim. Hening untuk beberapa saat.



"Aku masih boleh melihatnya sesekali?"



"Tentu saja. Untuk aktif tidak. Mulai sekarang jagalah kesehatan dirimu."



Kata-kata Vim membuat Laras berpikir ulang. Ada baiknya menuruti kemauan Vim supaya dirinya bisa memberikan Vim bayi-bayi mungil yang imut kepada Vim. Andaikan keguguran terulang lagi pasti keluarga akan menuding Laras tidak becus mengurus dirinya dan si calon bayi.



"Terserah mas saja. Aku tidak boleh memilih kan?"



"Ini untuk kebaikan kita. Kau tidurlah. Aku akan ke dapur memasak mi instan." Vim merasakan perutnya lapar.



"Mas makanan di meja masih banyak loh." Laras mengingatkan.



"Aku ingin makan mi. Makan tanpa ditemani mengurangi selera makan." Vim meninggalkan Laras sendirian.



"Aku temani ya?"



Laras turun dari ranjang menyusul Vim. Padahal malam telah larut. Berjauhan dari Vim setengah hari saja berasa hampa baginya.



"Loh kok menyusul. Tidur aja di kamar." Kata Vim yang melihat Laras datang.



"Nggak boleh ya aku temani?" Laras mengambil tempat duduk.

__ADS_1



"Bukan begitu. Lebih baik kau istirahat. Sudah malam sekali."



Vim menjerang air, mengambil telor dan bakso untuk campuran. Memotong tiga cabe rawit ukuran sedang.



"Mas takut kuminta ya."



"Tidak juga. Kau tidak boleh makan ini saat ini."



"Iya. Baik. Aku tidak meminta mi."



"Kau tidak perlu menemaniku."



*Berduaan denganmu dalam keadaan begini terasa berat Laras. Hanya bisa mendekat. Tidak bisa melakukan hal lain lebih jauh padamu*.



"Hmmm sedap." Ujar Laras.



Bau mi instan rebus menggugah selera Laras. Laras melirik Vim. Vim melirik Laras. Tatapan mereka bertemu.



"Apa yang kau pikirkan Ras?"



"Kau takkan memberikanku mi itu mas."



"Sudah tahu bukan? Kau makan yang ini saja." Vim menyodorkan sepotong kecil salmon.



"Tapi aku ingin mencicipi mi." Mi di mangkok benar-benar menggiurkan.



"Oke. Salmon itu kau habiskan dahulu nanti kuberikan sedikit mi." Vim mengajukan syarat.



"Huuhh bersyarat gitu."



"Iya. Aku ambilkan sedikit agar kau bisa mencicipi."



Laras menghabiskan ikan salmon panggang yang memang disediakan untuknya.



"Haa sedikit sekali." Laras kecewa melihat isi mangkoknya.



"Eeiiits..tidak boleh kebanyakan. Nanti jika benar-benar sehat, kau boleh makan apa saja."



Laras tidak berkata lagi. Vim selalu ingin dituruti kata-katanya.



" Wooww habis dalam semenit."



"Hehehehe..makasih mas. Aku kenyang." Laras terkekeh mendengar ucapan Vim.



"Pergilah ke kamar." Perintah Vim.



"Baik. Aku tunggu."



"Tidak perlu."



Dan Laras pun berlalu dari situ. Merebahkan diri di ranjang dan memejamkan mata.



🍁🍁🍁



Bersambung...



Terima kasih readers sudah membaca novel othor.😊


__ADS_1


Jangan pernah bosan memberikan suka, komen, hadiah, vote atau bintang lima. 🌹🌹🌹


__ADS_2