Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 40. Liburan di Bungalow 2


__ADS_3

Jalan yang menanjak membuat sebagian pengunjung tidak meneruskan perjalanan menapaki puncak bukit. Menurut slentingan, di atas bukit terdapat sebuah taman dengan pemandangan air terjun yang menakjubkan.


Dion menolak menuju ke sana. Kasihan melihat Anggia kelelahan meskipun Edo membantu menggendong si kecil Devan. Mereka beristirahat di gazebo sewaan. Memesan makanan favorit di tempat rekreasi itu dan menanti Vim serta Laras yang berjalan ke puncak bukit.


"Sebentar lagi tiba di atas sayang."


Hibur Vim sekaligus memberikan semangat. Nafas Laras terengah-engah. Rasanya ia ingin memutar langkahnya kembali ke lembah bukit.


"Masih lamakah? Kakiku pegal mas."


"Itu sudah kelihatan. Nah sedikit langkah lagi Laras."


Udara segar dan dingin menerpa wajah Laras. Ia merapatkan kedua tangannya di dada.


"Dingin tapi segar." Ucap Vim.


"Merapat padaku Laras. Mari kita poto. Disini bagus."


"Di sini saja mas." Laras bergeser ke kiri. Vim mengikuti.


Mereka berpoto dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada latar belakang hutan jauh di seberang bukit, di kursi taman dan di sebuah pohon penuh bunga yang sedang bermekaran. Laras tersenyum melihat hasil di kameranya.


"Aku belum pernah mengajakmu berbulan madu."


Rangkulan Vim di pundak Laras menenangkan. Memberikan rasa aman bagi Laras.


"Anggap saja kita sedang berbulan madu mas. Tidak perlu jauh-jauh bukan?"


" Yang ini jauh dari kata bulan madu sayang. Liburan biasa."


"Bagiku ini sudah cukup kok. Mereka kok tidak sampai juga ya?" Laras mencari-cari Dion, Edo dan Anggia.


"Berarti mereka tidak naik ke sini."


Puas menikmati pemandangan beberapa lama, Vim dan Laras memutuskan turun. Cukup menikmati keindahan semesta dari ketinggian bukit.


Pegal pada betis dirasakan oleh Laras. Dia berjalan namun lebih banyak jeda untuk mengimbangi rasa yang ada pada bagian kaki.


"Naiklah di sini. Kau kesakitan sekali." Vim tak tega melihat Laras yang kelelahan. Baru setengah turunan dari bukit dan masih ada setengah lagi untuk sampai ke bawah sana.


Ponsel Vim bergetar. Vim melihat pesan masuk. Pesan dari Dion beserta gambar gazebo.


'Kami di gazebo sebelah kanan.'


Vim memasukkan ponselnya ke tas pinggang.


"Naiklah Laras. Kita hampir sampai di tempat mereka berada."


"Aku naik di sini??" Laras menyentuh punggung Vim. Setengah tak percaya ia bertanya. Bagaimana bisa di tempat umum begitu Vim menggendongnya.

__ADS_1


"Iya Laras. Memangnya di punggung orang lain? Cepat Laras, aku sudah lapar."


" Mas dilihat orang dong. Malu."


"Biarin. Lagian mana ada orang. Mana coba??"


"Baik. Baik. Aku naik."


Hoopp!!


Laras melompat kecil di punggung Vim. Sedari tadi Vim berjongkok menunggu Laras melakukannya. Pipi Laras bersemu merah. Melirik ke kanan kiri dan bersyukur tidak ada orang. Selanjutnya Vim kelihatan seperti menggendong sesuatu di belakang tubuhnya dan itu adalah Laras. Dengan langkahnya yang pasti menapaki jalan menurun tersebut. Laras tertawa bahagia. Dia seperti anak kecil yang digendong oleh papanya.


"Apakah aku berat mas" Tanya Laras ketika Vim menurunkannya.


"Tentu saja dan kau harus membayarku." Vim sengaja bercanda.


"Baiklah aku akan mentraktirmu." Laras santai menanggapi.


"Aku tidak mau ditraktir karena uangmu itu aku yang memberi."


"Begitu. Jadi??"


Mereka berjalan hampir mendekati gazebo di mana sahabat mereka berada.


"Bayar dengan sesuatu yang sempurna di kamar."


"Uuhuk." Laras terbatuk tanpa sengaja.


"Jangan khawatir mas, cintaku selalu ada buatmu.Tidak bisa dibeli oleh apapun."


"Benarkah begitu?"


"Hmmm." Laras mengangguk pasti. Dia tidak pernah berhenti tersenyum. Vim selalu bisa mengambil hatinya walau kadang Vim juga membuat dirinya kesal.


Semua yang dilakukan Vim karena rasa cinta yang besar. Laras dimanja. Laras dipuja oleh Vim.


"Aku pikir kalian akan tetap di atas." Celetuk Edo.


"Mauku seperti itu apalagi cuma berdua dengan Laras. Semalaman juga nggak berasa lama kok." Vim bergurau menanggapi Edo. Netranya melirik Laras. Mesra.


"Tentu saja aku tidak mau. Di sana tidak ada tempat berteduh kecuali pohon." Laras berkata sembari mengambil tempat di sisi Anggia.


"Heheeh kau dengar kan Vim?" Anggia bertanya.


"Ya. ya tidak begitu Laras. Tidak di atas sana. Di suatu tempat yang kau merasa nyaman nanti."


"Kau percaya itu Ras?? Tanya Edo pula.


"Percaya kak."

__ADS_1


Edo mencebik. Senyum Vim mengembang. Bangga mendengar jawaban Laras.


"Seorang rekan ingin menemuiku di sana. Aku tinggal sebentar ya. Laras kau tetaplah di sini." Vim menunjuk sebuah bangunan hotel yang lumayan tinggi. Berdiri merapikan kaos berkerah yang dipakainya. Kacamata hitam kembali bertengger di batang hidungnya.


"Iya mas."


Vim meninggalkan mereka setelah membaca pesan masuk di ponsel. Berjalan ke bawah tanpa rasa risih sebab kendaraannya berada di parkiran nun jauh di bawah sana. Yang lainnya melanjutkan menikmati santapan yang telah dipesan termasuk Laras. Teringat oleh Laras belum membeli buah tangan untuk kepulangan esok. Sesuatu yang khas yang bisa ia berikan kepada miss Sissy dan keluarganya.


"Kak, aku mencari oleh-oleh sebentar. Nanti ke sini lagi." Pamit Laras.


"Sebaiknya menunggu Vim saja Laras." Cegah Dion secara halus.


Vim keberatan bila Laras berjalan sendirian. Itu yang ada di pikiran Dion. Baginya Laras itu seperti keramik antik yang harus dijaga.


"Jika mas Vim datang kita sudah bisa pulang kak jadi aku mencari sendiri saja. Tidak apa-apa kak. Tidak akan terjadi apa-apa padaku."


Dion dan Edo berpandangan.


Lalu Edo berkata, "Aku akan mencari sesuatu juga. Mari ke sana denganku Laras."


"Oya?? Boleh kak. Ayolah."


Edo mengangguk dan melangkah mengikuti Laras. Berjalan menuruni bukit sejauh dua ratus meter untuk tiba di pusat perbelanjaan di tempat rekreasi tersebut. Sebenarnya mencari buah tangan hanyalah sebuah alasan agar ia bisa menemani Laras.


Menjadi pengawalmu saja bukan masalah buatku Laras.


"Kau mau membeli apa Laras? Pilihlah. Aku ingin ke toilet sebentar saja."


"Iya kak pergilah. Aku memilih dulu ya."


"Tunggu aku ya!"


"Ya kak."


*********


"Untuk kelanjutanya kita bicarakan di pertemuan nanti. Semoga anda berkenan bergabung bersama kami." Vim sedang berbicara dengan seseorang yang ia temui. Seseorang yang menelpon dan mengajaknya berbicara tentang kerjasama. Secara kebetulan mereka sama-sama berada di kawasan itu. Mereka memutuskan bertemu di restoran hotel.


"Baiklah sampai jumpa di waktu yang akan datang." Mereka bersalaman dan berpisah.


Vim tidak kembali ke tempat semula dimana sahabatnya dan Laras berada tetapi menuju ke bagian bawah bukit di mana mobilnya terparkir. Untuk kemudian menjemput Laras sehingga Laras tidak kelelahan berjalan kaki ke bawah bukit.


Ke bawah berarti melewati pusat belanja buah tangan. Terpikirkan di benaknya membeli oleh-oleh. Tetapi nanti saja bersama Laras pikir Vim.


Buuuukkk.


"Aaaaawww! Aduh sakit."


Ooopss.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2