Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 127. Edo butuh perhatian.


__ADS_3

Tante Morina meminta Laras datang ke rumahnya saat itu juga Laras memutuskan untuk datang.


Dengan rasa ingin tahu Laras pun meluncur ke rumah Edo. Sebuah tanda tanya yang butuh jawaban bersemayam di kepala Laras. Bukan hanya itu saja, tangisan Tante Morina mendorong langkah Laras memenuhi permintaan Tante Morina. Laras berasa iba. Entah di mana Edo sekarang sehingga tante Morina meminta Laras datang. Kenapa tidak mencari Edo saja untuk membantunya?


"Tante minta tolong. Cepatlah kemari sayang. Iya Laras. Cepat datang ya? Hiiiiks..."


Begitu penggalan terakhir ucapan tante Morina?


Laras segera berganti pakaian dan meluncur ke rumah Morina. Morina adalah ibu dari Edo.


"Laras! Laras! Hiiiiks...."


"Tante kenapa??"


Laras menyambut pelukan Tante Morina.


"Laras...dua hari ini Edo mengunci diri di dalam kamar. Tante khawatir. Dia tidak mau membuka pintu Laras."


"Dua hari? Kenapa kak Edo, Tante?"


"Tidak tahu Laras...hiiiiks. Tante bingung.Oom lagi di Jepang sayang."


Mereka berdiri di depan pintu kamar Edo. Kasihan tante Morina yang sangat ingin tahu keadaan putranya di dalam kamar.


Tok. Tok. Tok.


"Kak Edo! Kak, buka pintunya," panggil Laras tetapi tak ada jawaban.


Laras mengulang nama Edo tiga kali. Edo memilih berdiam diri.


Panggilan itu tak berarti apa-apa baginya.


"Kak, pintu ini akan kudobrak kalau kakak tidak mau keluar!" Ancam Laras.


Benar saja. Laras menoleh pada tante Morina dan wanita itu menganggukkan kepala.


"Mengapa tidak didobrak dari kemarin, Tante? Mengapa kak Edo diam saja? Kak!!!" Seru Laras lebih kuat lagi.


"Tante panggil mang Kum supaya mendorong paksa pintu ini. Tunggu ya." Tante Morina turun ke bawah.


Ceklek.


"Kak Edo...ada apa?" Raut wajah pucat pasi berdiri di depan Laras bersamaan pintu terbuka. Pandangan mata kosong dan sayu tanpa semangat. Tubuhnya lemah tanpa daya.


Tubuh tinggi itu bersandar pada dinding di sebelah pintu lalu terduduk lemas di sana. Laras berteriak, "Kak Edo?!"


Edo diam tak bersuara. Melihat wajah Laras, tersenyum samar untuk kemudian wajahnya berubah menjadi dingin.


Kekecewaan tersirat di sana.


"Kak...kakak kenapa?? Jawab aku. Mengapa seperti ini?" Laras berjongkok di depan Edo. Tangannya menyentuh tangan Edo di atas lutut. Cepat Edo menepis tangan Laras.


Morina yang datang bersama mang Kum terlihat lega karena Laras telah berbicara dengan Edo. Edo tidak sedang baik-baik saja. Morina menyuruh mang Kum turun lagi dan dia tetap berdiri di balik dinding kamar Edo.


"Apa salahku kak? Kakak mendiamkanku. Bilang kak."


"Kau tak salah. Aku yang salah," lirih suara Edo. Manik matanya tak ingin menatap Laras. Sesuatu rasa yang sulit ia ungkapkan pada siapapun tapi ia tahu rasa itu kerap hadir di kala ia merenung sendiri. Pandangan Edo kosong ke depan. Laras melihatnya seperti orang yang tak memiliki daya untuk hidup.


"Kakak tak punya salah denganku. Mengapa mengurung diri seperti ini. Lihat tubuhmu. Dua hari kak Edo tidak bekerja tanpa alasan yang jelas. Kenapa? Pikirkan Tante, kak. Beliau menyayangimu."


"Aku memikirkan perasaan orang lain, bagaimana dengan perasaanku?" Tatapan Edo tepat di manik mata Laras namun dingin.


Dua pasang netra itu beradu pandang.


"Kak Edo bicara apa?? Aku tidak mengerti."


"Kau pura-pura tak mengerti kan?"


"Katakan yang jelas kak dan jangan berbuat seperti ini lagi. Mengurung diri di dalam kamar. Membiarkan dirimu tidak makan dan membuat Tante kepikiran."

__ADS_1


"Biarkan saja aku mati, Laras."


"Tidak. Kak Edo tidak boleh mati. Ingat tante dan Oom."


Di balik dinding Morina masih mendengar pembicaraan mereka. Air mata merebak dan hidungnya kemerahan. Sekuat hati menahan agar tangisnya tak pecah.


"Aku salah menempatkan perasaan ini, Laras. Aku menyintaimu."


Laras merasakan kepalanya berdenyut. Jadi karena itu?


"Karena itu kak Edo berbuat seperti ini? Kakak, lihat keadanmu sekarang. Kak Edo seperti zombie."


"Biarkan aku seperti zombie atau monster. Apa pedulimu."


"Ckk...jangan bercanda. Ayo berdirilah."


"Lebih baik kau pulang saja Laras. Vim akan mencarimu dan memarahimu."


"Aku takkan pulang sebelum kak Edo bangkit dan makan. Tubuhmu mulai lesu."


"Aku tidak lapar. Sekalipun aku berdiri takkan merubah apapun, iya kan? Kau boleh pulang Laras."


"Kau bisa sakit kak. Kalau kak Edo sakit, tante Morina bersedih. Ayo bangkitlah."


"Tetaplah bersamaku Ras."


"Apa? Itu mustahil kak. Aku sudah berkeluarga. Mempertanggung jawabkan hal itu pada keluarga


sangat tidak mungkin. Sadarlah kak. Semua ini tidak bisa terjadi. Berkali kuyakinkan pada kak Edo tentang hal ini." Dan yang pasti Laras hanya mencintai Vim.


"Mungkin saja Laras. Kita lari."


"Beeuhh." Laras terperangah.


"Aku tidak berani dan tidak ingin mengkhianati mas Vim. Cinta mas Vim lebih dari cukup kak bahkan tak mampu kuimbangi."


"Tolong aku Laras."


"Aku tidak bisa. Do'aku selalu agar Tuhan mengirimkanmu seorang istri yang lebih baik dariku, kak. Ayolah kak. Anggap aku sebagai adikmu saja karena bagiku kak Edo adalah kakakku."


"Aku tidak bisa Laras." Edo mengusap permukaan wajah.


"Bisa. Kakak bisa. Kak Edo harus berusaha mengalihkan rasa itu. Aku tak mungkin membalasmu kak. Ma'afkan aku. Ma'afkan aku kak...." Laras sungguh tak menyangka akan begini jadinya. Selemah ini Edo sekarang.


Tante Morina masuk membawakan makanan untuk Edo. Meninggalkan mereka berdua lagi.


"Edo...mommy nggak mau lihat kamu sakit, oke?" Katanya sebelum pergi dari kamar itu.


"Ini kakak makan ya." Laras menyodorkan semangkok krim sup. Edo berdiam diri.


"Makanlah kak. Pegang ini." Edo tak bergeming.


"Baiklah. Aku suapi tetapi sekali ini saja. Sebelum aku pulang. Buka mulut kak Edo."


Edo menatap Laras dan membuka mulutnya. Sesendok sup masuk ke mulut Edo. Lalu lagi dan lagi.


"Banyak hal yang harus kita utamakan kak, bukan tentang diri kita saja. Keluarga perlu kita pikirkan. Renungkanlah jauh ke depan. Masa depan kakak dan tante juga oom karena hanya kak Edo harapan mereka. Mulai sekarang buka hati kak Edo untuk nama lain dan anggap aku sebagai adik. Oke kak?"


"Kau ini ngomong apa? Sok bijak."


"Loh ini benar. Mulai sekarang kak Edo harus melupakan aku!"


"Nggak bisa!"


"Bisa. Singkirkan namaku jauh-jauh kak. Tolong...."


"Pulanglah. Aku tidak pantas menahanmu. Bagaimanapun aku tak ingin kau kesusahan karena telah datang kemari. Aku sadar besarnya cinta Vim padamu tapi entahlah kenapa aku hanya memikirkanmu saja."


Di luar Tante Morina menutup hidung menahan isakan. Ia bisa merasakan keperihan di hati Edo. Tak sanggup lama berdiri di situ, tante Morina berjalan turun ke lantai bawah.

__ADS_1


"Aku pulang kak. Sebentar lagi mas Vim pulang. Kak Edo jaga diri baik-baik ya. Sekali lagi pikirkan Tante Morina." Laras berusaha tidak rapuh. Air mata tidak boleh menetes. Setetes saja jatuh akan menyusul lebih banyak bulir bening dari netranya.


"Ijinkan aku menggenggam tanganmu sekali saja Laras setelah ini aku tidak akan mengganggu ketenanganmu," pinta Edo.


"Tapi kak...."


"Hanya lima detik," tawar Edo.


Edo menyentuh jemari Laras. Rasa yang ia tahan menyesakkan dada. Sekian detik kemudian genggaman itu berangsur merenggang dan Edo pun berkata, "Pulanglah. Ma'afkan aku. Aku akan baik-baik saja." Sudah seharusnya ia merelakan Laras. Percuma mengharapkan sesuatu yang tak mungkin


"Kak Edo janji? Bangkitlah."


Edo tidak menjawab. Edo berdiri perlahan dan berjalan lunglai ke ranjang besar miliknya.


"Aku pulang ya kak. Aku harap kak Edo selalu baik-baik saja. Jaga tante Morina untukku."


Tanpa menoleh lagi Laras berlalu turun. Meninggalkan Edo sendiri.


Laras mencari tante Morina di bawah namun tak menemukan wanita tersebut. Tak mungkin berlama di sana. Vim akan bertanya jika ia pulang tetapi Laras tak berada di rumah.


Sesuatu yang aneh dirasakan Laras selama menuju ke rumah. Sesekali netranya melirik spion dalam mobil. Mobil di belakang Laras berjalan pelan sama halnya dengan mobil Laras.


Setir dibelokkan oleh Laras ke kanan. Mampir sejenak ke supermarket di kanan jalan. Keluar dan berjalan ke arah pintu masuk supermarket. Perasaannya masih sama. Seseorang mengikuti dari belakang. Laras mempercepat langkah dan tanpa sadar menabrak seseorang yang lewat di depannya. Laras meminta maaf dan tak menyangka, orang yang yang membuntuti sejak tadi juga menahan tubuh agar tak menabrak badan Laras.


"Siapa kamu!?"


"Oh ma'afkan, saya hampir menabrak Nyonya."


"Siapa kamu?!!" Laras semakin sengit. "Mengganggu privacy orang saja. Sejak kapan mengikuti saya?"


"Sejak pagi Nyonya."


"Sejak pagi?? Apa tujuan kamu dan siapa yang menyuruhmu?" Laras mengeluarkan handphone dari tas.


"Suami saya akan bertindak pada kamu dan bosmu. Lihat saja. Kamu mengancam keselamatan saya."


Kening si lelaki mengerut. Laras menelpon Vim dan mendapat tanggapan.


"Halo sayang... seseorang mengekoriku sejak pagi. Mungkin mau menculikku. Mas aku takut."


'......'


"Haaah?? Kenapa mas lakukan? Sama sekali tidak memberitahuku lebih dulu. Mas awas ya pulang nanti."


'....."


"Sudah di rumah? Oiya hampir Maghrib. Aku ingin membeli jajanan sedikit. Tunggu ya mas?"


Laras segera mencari barang yang dibutuhkan. Hanya lima jenis jajanan yang sudah ia perkirakan. Keluar lagi dan meninggalkan pengawal yang berdiri di luar pintu menunggu Laras.


"Di bayar berapa kamu?" Tanya Laras sebelum menutup pintu mobil.


"Banyak Nyonya. Lumayan lebih buat menghidupi keluarga saya." Si pengawal menjawab santun. Bukan masalah baginya mendapat tugas mengawal. Itu adalah pekerjaan yang biasa dilakukan dan bayaran kali ini lumayan besar untuknya.


"Masih butuh?"


"Jelas nyonya. Tidak salah kan nyonya, saya menjaga Nyonya? Tolong saya jangan dipecat Nyonya."


Laras ingin tertawa mendengar penuturan sang pengawal. Dia tak berniat meminta Vim menarik kembali pengawal itu.


Vim mengusap-ngusap rambutnya yang basah dengan tetap mendengar perkataan Laras. Protes Laras karena ia mengirim pengawal lagi sekarang.


"Mas aku bukan orang penting. Tidak perlu dikawal."


"Kau tidak penting bagi orang lain tetapi kau sangat penting buatku dan Vian bahkan segelintir orang yang mencintaimu seperti..."


"Seperti siapa? Hanya kalian dan keluargaku yang mencintaiku utuh. Aku sadar itu."


"Aku tahu kau ke rumah Edo tadi, Laras." Vim berkata santai. Sebisa mungkin menahan emosi. Dia lebih baik sekarang.

__ADS_1


Pasti si pengawal melaporkan pada Vim kegiatan Laras hari ini.


Laras bersiap menerima kemarahan Vim. Lebih baik jangan menoleh dan menatap Vim. Vim akan menelan dirinya bulat-bulat. Laras tak sanggup menerima itu dan dia berdiam diri saja menghadap jendela yang tertutup gorden.


__ADS_2