
"Mari kugendong Devan mbak. Mbak makanlah." Laras menawarkan diri. Sedari tadi cuma Anggia yang belum menyentuh makan malamnya. Laras telah mengambilkan di piring nasi beserta lauknya.
Beruntung baby Devan tidak menangis ketika tubuhnya berpindah ke tangan Laras.
"Terima kasih Laras. Sebentar lagi Devan akan mengantuk. Sudah waktunya ia tidur."
"Kau sudah mengantuk sayang? Bobok sama tante ya? Biarkan mama dan papamu berdua. Mau ya?" Laras bertanya pada Devan meskipun ia tak akan memperoleh jawaban dari bayi tujuh bulan tersebut. Devan mengibaskan tangannya.
"Oh kau mau ya. Izin sama papa dulu ya. Papa Dion.. Devan mau bobok sama tante, boleh ya?" celoteh Laras lagi di hadapan Vim, Edo dan Dion.
Dion dan Vim tertawa lebar. Edo menyunggingkan senyum.
"Boleh kalau uncle Vim mau diganggu olehmu haha. Laras kau sudah pantas menggendong bayi. Gimana ini Vim?"
Vim mengangkat bahu.
"Serangan intens bro. Jangan kendor." Sambungnya lagi.
"Akh kau!" Pipi Vim merona kemerahan.
"Masalah Rony bereskah?" Edo berbicara. Di tangannya satu cup es krim siap dilahap.
"Masalahku beres. Rony biar tahu rasa dia!" Wajah Vim kelihatan memegang.
"Bagaimana bisa ia terus saja mengganggumu? Mulai mi**** tuh dia!" Edo melanjutkan.
"Entahlah. Aku tidak memulai ini semua duluan. Dia yang memendam kesal padaku. Berusaha menyaingiku dalam setiap hal." Vim menjelaskan.
"Tapi ia tidak menyaingi kau dalam satu hal Vim." Dion berkata.
"Apa itu??" Vim bertanya dengan serius.
"Pendamping hidup. Dia belum punya istri." Dion kembali tertawa.
"Justru itulah yang kupikirkan. Larasati."
"Aku mengerti." Sambung Dion.
"Jangan karena itu lantas kau persempit gerak Larasati Vim. Laras masih muda, dia juga punya keinginan-keinginan." Edo mengutarakan pendapatnya.
Melihat Vim yang terlalu melindungi Laras, Edo tidak terlalu setuju. Baginya Laras berhak mengembangkan diri dengan tidak melupakan statusnya sebagai seorang istri. Edo melihat Laras punya kemampuan untuk itu. Laras tidak bodoh jika kesempatan untuk berkembang itu terbuka lebar.
"Aku sudah mendukungnya Ed. Kau lihat dia sekarang kuliah, kursus ini itu dan sebentar lagi kudaftarkan kursus mengemudi."
"Kursus mengemudi? Bagaimana jika aku mengajarkan Laras??" Edo menawarkan diri. Menunggu jawaban dari Vim. Sebuah senyum penuh arti menyembul dari bibirnya.
__ADS_1
"Akh kau mau mengambil kesempatan ya. Daripada kau yang mengajarkan, lebih baik aku sendiri gurunya."
"Dasar! Takut amat sih!"
"Bukan takut. Hanya berjaga-jaga.
Aku tahu hati Laras padaku bro."
Vim sangat percaya diri.
"Hmm..yaah. Kau jaga hati Laras . Jangan kau buat hancur berantakan. Aku lihat dia terlalu menyintaimu." Pesan Edo.
"Aku tahu. Jangan kau coba memalingkan hatinya padaku." Balas Vim tak mau kalah.
Malam semakin larut tapi mereka bertiga bertambah asyik mengobrol. Dion urung kembali ke bungalownya. Tidak mungkin membawa baby Devan keluar selarut ini. Meskipun menggunakan kendaraan dan jarak yang dekat, Dion tidak ingin melakukannya. Terlalu gelap pekat di luar sana.
Edo mengikuti Dion untuk tetap berada di bungalow Vim. Tadinya akan menginap di bungalow Dion mengingat di bungalownya tidak ada teman.
"Cari teman hidup biar kau ada kawan." Celetuk Dion.
"Aku tahu. Syukurlah kalian menginap di sini, jika tidak sudah tentu Vim mengusirku. Katanya yakin sama Laras tapi kelihatannya dia takut juga Laras berpaling padaku heheh." Edo melirik Vim. Menunggu reaksi Vim selanjutnya.
"Kalau kau mepet terus bagaimana aku bisa tenang. Katamu Laras itu lain dari yang lain, iya kan?!" Vim bertanya.
Kazumi cantik seperti Laras. Sama-sama kecantikan dari belahan bumi bagian timur. Tetapi kecantikan Laras lebih menonjol ditambah dengan hatinya yang baik, tulus dan menyintai Vim tanpa menuntut berlebihan. Sedangkan Kazumi tidak bisa menjaga hatinya hanya untuk Edo. Edo terluka lebar, dalam dan luka itu telah sembuh namun meninggalkan bekas di hatinya. Edo meringis mengingat itu.
...🍃🍃🍃...
Anggia menutup kancing bajunya setelah baby Devan menyusu. Perlahan menepuk-nepuk paha anaknya agar tidur lelap. Tadi Devan terbangun dikarenakan suara kucing berkelahi.
Anggia dan Laras menatap Devan. Senyum mengembang di bibir keduanya.
"Ganteng mbak. Hidungnya mancung seperti mbak Anggia. Kulitnya juga. Raut wajahnya mirip papanya."
"Karunia Tuhan, Laras. Aku sangat bersyukur memiliki mereka." Ucap Anggia. Maksudnya memiliki Dion dan Devan.
"Apakah kalian cepat mendapatkan Devan mbak?" Laras ingin tahu.
"Ehm iya. Satu bulan setelah menikah aku positif hamil."
"Cepat ya mbak."
Anggia mengangguk. Mereka berdua berbaring di samping Devan. Laras membawa Devan ke kamarnya saat menggendong Devan tadi. Meletakkan bayi itu di tempat tidur dan mengajaknya bercengkerama.
"Kalian akan mendapatkan seperti Devan juga. Bersabar ya. Siapa tahu bulan depan yang diharapkan datang." Anggia menghibur Laras sebab dilihatnya wajah Laras berubah sendu.
__ADS_1
"Aamiin. Semua akan senang mendengar berita itu mbak."
Pandangan Laras menerawang ke langit-langit kamar. Berharap agar Sang Pencipta segera memberikan momongan.
"Tentu. Seringlah berdo'a."
"Sering mbak. Aku kasihan sama mami, menunggu baby dari kami." Curahan hari Laras.
"Mami itu baik banget. Sangat mengerti keadaan. Mbak mengenalnya jadi jangan terlalu dipikirkan, oke. Pikiranmu harus tenang Laras."
"Baiklah mbakku. Nasehat mbak hamba laksanakan."
Keduanya tergelak bersamaan. Anggia memang lebih tua dari Laras. Wajar Laras menganggap
nya sebagai kakak. Menerima nasehat Anggia.
"Aku memindahkannya ke kamar kami."
"Jangan mbak. Biarkan dia tidur denganku." Pinta Laras. Tatapannya berharap Anggia mengabulakan keinginannya. Anggia hendak memindahkan Devan ke kamar yang telah disiapkan untuk Anggia dan Dion.
"Tidak Laras. Mengganggu kalian nantinya."
"Mbak aku ingin tidur dengannya. Boleh ya? Sekali ini saja."
Anggia menghela nafas.
"Boleh dan rasakan ia menangis nanti malam. Ia akan mengganggu tidurmu Laras."
"Aku akan mengantarnya ke kamar kalian jika ia menangis."
"Baiklah. Sekarang tidurlah. Aku ke luar ya dan aku tidak yakin bisa tidur tanpa Devan dan tidak yakin Vim setuju gagasanmu ini."
"Terima kasih mbak heh." Bibir Laras membentuk senyuman.
"Ya. Selamat tidur Laras."
"Selamat tidur mbak."
Anggia berlalu meninggalkan Laras dan Devan. Laras senang permintaannya dituruti oleh Anggia.
"Hai anak ganteng tidurlah dengan tenang dan bangun besok pagi ya. Ada aunty di sini." Laras menyentuh ujung hidung Devan.
Menepuk pelan paha Devan seperti yang Anggia lakukan dan menyium bayi itu. Vim belum memasuki kamar. Kemungkinan hingga larut malam berbincang dengan sahabatnya.
Buat yang sudah membaca dan meninggalkan jejak di karya ini..💚💚💚
__ADS_1