Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 64. Mengantarkan pesanan.


__ADS_3

Laras terpaku didepan pintu sebuah rumah megah yang ia kunjungi. Sesaat ragu untuk menekan bel pintu namun inilah alamat yang telah diberikan kepada Laras melalui pesan singkat.


Ting tong. Ting tong.


Menunggu dengan sebuah paper bag di tangan, jantung Laras berdetak lumayan cepat menanti sang pemilik rumah membukakan pintu. Ramahkah pemiliknya ataukah sebaliknya, Laras mengira-ngira.


Pintu terkuak dan muncul seorang wanita separuh baya berhidung mancung tidak terlalu besar dan terlihat seperti menempel di wajahnya yang segar. Wanita cantik sama cantiknya dengan ibu mertua Laras yakni mami Maharani. Laras mengagumi wanita ini.


"Selamat siang nyonya. Saya mengantarkan pesanan anda."


Laras menyodorkan paper bag yang ia bawa berisi pesanan nyonya rumah. Di luar dugaan wanita tersebut mengajak Laras masuk ke dalam rumah.


"Selamat siang. Masuk..mari silahkan masuk." Ajaknya ramah.


"Terima kasih nyonya."


"Silahkan duduk."


"Ini pesanan nyonya, semoga suka."


Tuan rumah mengangguk. Wajahnya tersenyum ramah. Dia menatap Laras tanpa berkedip. Laras menjadi salah tingkah.


"Duduklah dulu. Jauh-jauh kemari kau pasti lelah. Aku kira kurir mengantarkannya."


"Tidak nyonya saya lebih senang mengantarkan sendiri."


Seorang asisten rumah tangga datang membawakan minuman dan meletakkan di atas meja. Sepertinya nyonya rumah telah memberi arahan agar ART tersebut menyiapkan air minum untuk tamunya. Di atas meja telah tersedia tiga macam cemilan di dalam toples kaca yang apik. Hal yang sama Laras dapati di rumah mami Maharani. Benar-benar sebuah sambutan yang baik.


"Minum dan makanlah."


"Baik nyonya. Terima kasih."


"Jangan sungkan-sungkan. Silahkan dicicipi."


Laras mencicipi satu macam makanan. Sebuah camilan yang berisi udang dihaluskan lalu dibungkus kulit dari adonan tepung.


"Selamat. Kau masih muda memiliki usaha yang berkembang pesat."


"Terima kasih nyonya." Hanya kalimat itu yang mampu Laras ucapkan. Ia belum sangat mengenal wanita ini sehingga belum bisa akrab.


"Berapa umurmu?" Tanya Marina, wanita di hadapan Laras.


" Dua puluh satu tahun nyonya."


"Muda sekali. Kau sudah menikah?" Tanyanya lagi.


"Sudah nyonya." Jawab Laras.


"Oh sayang sekali." Marina berkata seperti sedang bergumam.


"Iya nyonya?"


"Ee.. bukan apa-apa. Pasti beruntung lelaki yang mendapatkanmu. Kau cantik." Puji Marina.


"Biasa saja nyonya. Kecantikan hanyalah bonus." Laras merendahkan diri.


"Hahahah kau ini. Kecantikan adalah anugrah. Bersyukurlah. Andai saja anakku sudah menikah.." Pandangan Marina menerawang. Wajah anak lelakinya terbayang di pelupuk mata. Laras menangkap kesedihan di wajah Marina.


Tanpa sengaja netranya pun melihat foto keluarga ukuran besar terpajang di dinding. Sepasang suami istri dan satu anak lelaki remaja berumur belasan tahun.


"Apakah itu anak nyonya?"


"Benar. Huuuh tapi dia tidak ingin tinggal bersama kami. Ia lebih memilih apartemen."


"Ingin mandiri nyonya."


"Yaah begitulah anak masa kini."


Obrolan ringan masih berlanjut. Lama kelamaan mereka menjadi akrab. Marina menyukai Laras.


*

__ADS_1


*


*


Edo memasuki taksi yang telah dipesannya. Dirinya baru saja tiba dari luar kota. Sekali ini tidak ingin dijemput oleh sang sopir.


"Lanjut pak. Harum Kencana A1."


Katanya Ia menyebutkan sebuah nama komplek perumahan elit. Itu adalah rumah orang tuanya.


"Baik tuan."


Mobil pun melaju membelah jalan raya. Ia harus menjenguk ibunya. Tiga hari yang lalu ia mendapat telepon dari ibunya mengatakan kalau sang Ibu sedang sakit. Namun Edo terpaksa menunggu beberapa hari hingga urusan di sana selesai.


Edo menyerahkan ongkos taksi lalu berjalan memasuki pekarangan rumah. Tak lupa menyapa Pak Satpam. Rumah besar itu semakin sepi tanpa dirinya. Edo tersenyum kecut. Melangkah menuju pintu. Pintu dalam keadaan terbuka.


"Assalammualaikum! Mom!"


"Waalaikumsalam." Dua wanita menjawab bersamaan. Laras dan Marina berdiri.


"Edo! Kau kembali?!" Ibunya mendapat kejutan.


"Yeah aku pulang mom. Gimana kabar mommy?"


Kak Edo. Jadi ini rumah kak Edo.


"Mommy sudah sembuh." Jawab Marina.


"Hei ada tamu rupanya! Laras kau ada sini??!" Mata Edo berbinar melihat Laras. Surprise dengan apa yang dilihatnya. Rasa rindu melingkupi relung hatinya. Rasa yang salah menurut kata hatinya. Kenapa harus Laras? Kenapa? Tiba-tiba perih di ulu hati Edo.


"Iya kak mengantar pesanan tante."


"Kau sendiri?"


"Iya."


"Kalian sudah saling mengenal." Marina menyela.


"Dia cantik ya Ed."


"Iya mom." Tapi sayang dia milik temanku mom, Edo berkata di dalam hati.


"Daddy?" Tanya Edo kemudian.


"Masih jam kerja sayang."


"Iya sih."


Laras merasa keperluannya telah selesai. Ia permisi untuk pulang.


"Nyonya.. Laras permisi pulang."


"Mengapa cepat sekali?" Edo bertanya.


"Aku sudah lama di sini kak."


"Panggil Tante saja Laras. Iya mengapa terburu-buru. Edo baru tiba. Sebentar lagi ya sayang." Marina mencegah Laras. Ia merasa senang dengan kehadiran Laras.


"Kau belum makan siang bersama kami. Lagian ini waktunya makan siang, kau pasti belum makan. Makan dulu baru kau boleh pulang." Kata Edo menahan Laras untuk tidak secepat itu pulang. Kalau bisa ia ingin menahan Laras sampai besok atau besoknya lagi.


Laras menerima ajakan makan siang bersama. Sekali lagi pekerjaan membawanya ke hal yang tak pernah diduganya. Setelah bertemu Herdi di perusahaan Roseli, sekarang bertemu Edo di rumah orang tuanya. Kedua-duanya dalam rangka mengantar pesanan pembeli.


Laras mengambil makanan sekedarnya. Menghormati tuan rumah yang berbaik hati menawarkan makan siang. Kebahagiaan Marina terpancar di wajahnya yang masih ayu di usia yang tidak muda. Barangkali merasa senang anak lelakinya datang. Laras mencuri pandang wajah Edo. Wajahnya yang sedikit lembut diwarisi dari Marina tetapi mata mereka berbeda. Kemungkinan mata sipit Edo menurun dari ayahnya yang kata Vim lelaki Jepang.


Marina menginginkan Edo agar berhenti berkerja dan memikirkan bisnis keluarga. Wanita itu mulai bisa menerima Laras di antara mereka. Ia tak sungkan membicarakan hal keluarga di depan Laras. Edo pun mendengarkan setiap kalimat ibunya.


"Bantu Daddy, Ed. Bagaimanapun kau kelak menggantikan Daddy. Mau tidak mau, suka atau tidak suka."


"Daddy masih bisa mom. Orang-orang di sekeliling Daddy mumpuni." Edo menjelaskan.


"Mommy tahu itu tapi kau perlu belajar dari sekarang. Suatu saat kau telah siap menggantikan Daddy."

__ADS_1


"Oke mom. Aku pikirkan."


Laras menyimak percakapan mereka. Aneh pikirnya. Memiliki perusahaan sendiri tetapi Edo memilih bekerja dengan orang lain.


"Lalu bagaiman dengan calon menantu mommy?"


Edo meneguk air putih. Ditodong sebuah pertanyaan yang kerap dipertanyakan padanya akhir-akhir ini. Lantas dibenaknya muncul Kazumi. Aahh dia telah pergi bersama angin desahnya.


"Nanti Edo kenalkan ke mommy dan Daddy."


"Sudah ada belum??" Marina menekankan pertanyaannya.


"Belum." Edo menjawab cepat.


"Yaaahh. Lalu kapan mommy melihat kamu menikah Edo?"


"Sabar ya mom."


"Sabar melulu. Coba Laras belum menikah, mommy minta kamu melamarnya."


"Mommy. Don't say it."


Edo serta merta memandang Laras. Merasa tidak enak dengan ucapan ibunya. Laras hanya tersenyum menanggapi mencoba mengerti suasana hati Marina. Wanita itu berharap Edo menikah secepatnya.


"Maafin tante ya sayang." Kata Marina kepada Laras.


"Tidak apa Tante."


Mereka telah selesai makan. Laras berinisiatif untuk pulang.


"Tante, Kak Edo.. Laras pulang ya. Terima kasih makan siangnya."


"Baiklah nak. Hati -hati di jalan ya."


"Baik Tante."


Mereka mengantar Laras ke depan rumah.


"Oh itu mobilmu. Tadi aku berusaha mengingat dimana pernah melihat mobil ini. Yaah Tante Maharani punya." Kata Edo.


"Iya kak diberikan padaku."


"Apa kau bisa membawanya?" Tanya Edo sangsi.


"Aku sudah sampai di sini kan. Itu karena aku menyetir mobil itu." Jawab Laras jujur.


"Waah bukan main. Tapi karena aku takut terjadi apa-apa padamu, aku akan mengantarmu."


"Tidak.Tidak. Aku akan pulang sendiri. Kasihan tante kalau kak Edo tinggal. Kak Edo baru saja tiba." Dalih Laras. Ia enggan berduaan di mobil bersama Edo meskipun tidak melakukan hal-hal yang melanggar batas aturan.


"Mom ku tinggal sebentar bisa?" Edo meminta persetujuan pada Marina. Marina mengangguk setuju.


"Pergilah. Kasihan juga dia mengendarai mobil sejauh ini."


"Makasih mom. Ayolah kuantar. Kau duduk manis di mobil ya. Jika terjadi apa-apa padamu, Vim akan memarahiku habis-habisan sebab kau barusan berkunjung ke sini."


Laras menyerah. Alasan Edo bisa diterimanya.


"Permisi tante. Terima kasih untuk semuanya." Laras menyium tangan Marina.


"Sama-sama Laras. Jangan menyesal datang ke sini ya." Marina menyium kedua pipi Laras. Dia benar-benar tertarik pada Laras.


Saat Edo berpamitan, Marina sempat berbisik pada Edo, " Mommy suka Laras. Cantik dan sopan. Andai saja dia calon menantu mommy."


"Maunya mommy. Cuup." Edo menyium pipi ibunya. Lalu mengajak Laras masuk ke mobil. Laras menyerahkan kunci mobilnya kepada Edo.


Mobil melesat meninggalkan rumah megah itu. Di perjalanan keduanya saling membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing terutama Edo yang berusaha menenangkan jantungnya yang bertalu-talu. Sedangkan Laras memikirkan Vim.


🌿🌿🌿


Like, comment, gift, vote dan bintang lima jangan lupa..readers.❀️

__ADS_1


Trims πŸ’•πŸŒΉ


__ADS_2