
Aktivitas hari ini telah selesai dikerjakan. Hari pun merangkak sore. Perlahan langit malam muncul. Vim mengajak Laras menaiki mobil. Lima menit kemudian mobil berhenti di sebuah kompleks pertokoan yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Vim memarkir mobil tepat di depan sebuah ruko.
"Turunlah kita telah sampai."
Laras memandang ke sekeliling. Ia tidak mengerti apa yang akan dibeli oleh Vim di sini.
"Mas mau mencari apa di sini?" Tanyanya penuh rasa heran. Ini bukan tempat langganan Vim biasa berbelanja barang keperluan nya.
"Ini adalah ruko yang kubeli untukmu. Cash keras supaya kau senang menggunakan tempat ini dan tidak memikirkan bagaimana menyetor sewanya."
Penjelasan Vim meluncur begitu mereka masuk ke dalam. Laras menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terpana tak percaya.
Detik selanjutnya adalah setitik air menetes di kedua sudut mata akibat rasa haru yang menyelimuti hati.
"Kok malah menangis." Vim mengusap titik air di sudut mata Laras.
"Kau membelikan ini untukku??"
"Ya, kau suka? Supaya kau bisa memajang barang yang selalu kau pasarkan di media online. Dari sini kau bisa menjalankannya atau jika kau keberatan kau tetap memantau dari rumah. Kita cari pekerja untuk menjaga toko ini."
"Aku senang sekali. Aku suka menjalankan kegiatan ini. Dari sini aku bisa mulai usahaku mas. Tidak muluk hanya membantu mami masarkan barang-barang beliau. Itu saja."
Laras merasa senang. Mendapatkan lampu hijau dari Vim untuk memulai sesuatu adalah salah satu hadiah berharga. Laras akan mengelola toko dengan baik.
"Aku sudah menyampaikan pada mami. Mami mendukungmu, produk mami juga bisa terjual olehmu karena itu mami dengan senang hati memberikan mobilnya untukmu." Vim melepaskan tangannya di kedua bahu Laras. Membuat Laras bahagia adalah tujuannya sesuai janjinya pada almarhum adiknya, Vano.
"Terima kasih untuk semuanya mas." Laras mengitari seluruh ruangan. Tersedia rak untuk memajang kain-kain panjang dari rumah mami. Tersedia pula meja untuk kasir. Dekorasi ruangan sarat keindahan sesuai dengan barang dagangan yang dipajang nantinya. Dominan dengan sentuhan seni.
"Bisa menjalankannya?"
Laras mengangguk percaya diri.
"Aku harus banyak belajar denganmu. Meskipun ini usaha kecil dan baru memulai tidak masalah. Suatu permulaan tidak harus langsung sesuatu yang besar, iya kan mas?"
Vim melihat kebahagiaan di wajah Laras. Wanita yang telah dikenal sangat lama namun baru kali ini sangat dekat dengannya. Yang tak pernah disangka-sangka akan menjadi miliknya.
Flashback on.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
Waktu itu Vim memperhatikan Laras kecil sedang memainkan tangannya melukis sesuatu di buku gambar. Vim mengamati anak perempuan berusia 12 tahun itu. Vim berusia 19 tahun kala itu.
Lukisan yang dibuat Laras bertemakan flora. Dia melukis sendiri di sebuah kertas gambar ukuran sedang di meja bundar halaman rumah Vim. Tidak terlalu menghiraukan keberadaan Vim di sampingnya.Vim sangat hafal Laras sedang menunggu ibunya saat sang ibu menyelesaikan pekerjaan di rumah orang tua Vim dan mengisi waktunya dengan membuat lukisan dari pensil atau pena hitam. Bahkan Laras bisa membuat sketsa wajah dengan apik.
"Aku melukis. Nggak lihat ya."
Laras menekuni lukisannya. Menunduk tidak mengalihkan pandangan dari media lukis.
"Jelek. Warnanya kelabu semua. Seharusnya bunga itu warna- warni." Celetuk Vim. Laras sedikitpun tak terpengaruh. Menggoreskan ujung pensil dengan lancar. Tak pernah sekalipun ia menghapus karena salah gores.p
"Biarin. Aku cuma punya pensil."
Vim tidak bosan berdiri di depan Laras bahkan duduk di hadapan gadis cilik itu. Memperhatikan Laras tanpa mengedipkan mata.
"Kalau sudah selesai lukisannya aku minta ya..ehm aku beli."
"Lukisan ini kan jelek. Kenapa mas mau membeli lukisanku."
Laras selalu menggunakan sebutan mas untuk memanggil Vim bersaudara.
Laras berhenti menggerakkan tangan. Wajah polos itu menatap Vim.
"Aku tidak menjualnya." Ia menyibakkan poni yang hampir mengenai mata. Mengucek mata kiri.
"Apakah kau bercita-cita menjadi pelukis? Mengapa kau tidak membantu ibumu menyelesaikan pekerjaannya? Itu banyak kain. Kau bisa melukis kain."
"Ibu menyuruhku sekolah. Ini cuma hobi." Laras menjawab seadanya. Melukis di atas kain sungguh membosankan bagi Laras.
"Ayolah berikan padaku. Nanti kuberikan alat lukis berwarna model terbaru. Sebentar aku ambil."
Vim berlari masuk ke kamarnya. Kembali lagi dengan sesuatu di tangannya. Menyerahkan sekotak alat melukis kepada Laras.
"Ini semua belum pernah kupakai. Buatmu saja. Tidak apa jika kau tidak memberikan lukisan itu padaku." Vim mengangsurkan kotak kepada Laras. Laras melihat ketulusan 1 mata Vim. Akhirnya Laras menerima dan mengganti alat lukis dengan lukisannya. Tidak apa ia bisa membuat yang baru pikirnya.
Vim selalu mengingat kenangan itu saat ia qqaqqqqqtertarik pada Laras.
__ADS_1
Flashback off.
"Mas, Aku seperti mengenal lukisan ini." Laras menyentuh lukisan berbingkai yang dipajang di toko baru tersebut. Mencoba mengingat di mana ia pernah melihatnya.
"Coba ingat lagi." Saran Vim.
"Mas kau dapat dari mana? Dulu aku suka membuat lukisan begini. Masih ada koleksi yamg kusimpan. Sampai SMP aku suka membuatnya. Mengasyikan."
Laras mengenang dan tersenyum mengingat hobi masa kecilnya.
"Aku tahu. Kau sering melukis di meja bundar di rumahku sedangkan ibumu membantu mami menyelesaikan pekerjaannya."
"Hahaa mas mengingatnya ya. Kadang kita bertemu dan juga..ah kau kan suka menggodaku." Protes Laras. Vim sangat suka memainkan rambut Laras yang di ikat dua seperti ekor kuda. Seketika ia mengingat Vano tapi tidak melanjutkan menyebut nama itu. Vano sudah damai di alam lain.
"Lukisan ini kudapat dari seorang gadis yang suka menunggu ibunya bekerja di rumahku. Sambil menunggu ia akan menghabiskan waktu dengan menggoreskan pensilnya di atas kertas."
"Mas maksudmu? Siapa gadis itu?"
"Gadis remaja itu kau Laras. Aku yang meminta lukisan itu darimu lima belas tahun lalu. Aku memberikan lukisan itu bingkai."
"Oya??? Benarkah? Jadi lukisan ini milikku? Aku tidak mengingat lukisan yang ini mas."
"Tidak akan ingat karena lukisan itu aku yang menyimpan hingga kini dan selama itu pula aku tak pernah melupakanmu."
Laras terkesima. Sekian lama waktu berlalu dan Laras sama sekali tak pernah melirik Vim. Laras hanya tahu Vano yang selalu ada di dekatnya. Vano yang memberikan perhatian lebih dan hanya Vano yang menyintainya.
"Aku mengabaikanmu ya mas. Aku benar-benar tidak bisa membaca perasaanmu. Tidak menangkap perhatianmu padaku tapi memang kau tak pernah mengutarakannya sehingga aku benar-benar tidak tahu."
"Biarlah itu sudah berlalu. Yang penting sekarang kau ada bersamaku dan tetaplah bersamaku."
"Aku tak ingin jauh darimu apalagi kehilanganmu." Lagi-lagi Laras terbawa suasana. Keharuan melingkupi hatinya.
"Cengeng. Sudah jangan menangis.Aku tidak suka melihat air matamu." Vim mengejek Laras sebelum kristal bening itu turun.
Laras memukul dada Vim mesra. Menyandarkan kepalanya di bahu bidang itu dan mencari ketenangan di sana. Tidak mungkin ia mencari kebahagian dari orang lain. Suaminya memberikan segalanya. Cukup Vim saja untuk Laras.
Jangan menggodaku Laras. Pertahananku bisa jebol. Di sini juga tidak apa-apa.
__ADS_1
Hahaa dasar Vim pikirannya mesum.
Pembaca semua..mohon dukungan like, comment, vote nyaa..🙏