Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 136. Diterima


__ADS_3

Seratus meter bukanlah jarak yang jauh dan kini Vim berada tepat di pintu pagar bangunan besar dan mewah yang dituju. Ia tidak menoleh kebelakang sama sekali agar tidak menimbulkan kecurigaan pada kamera CCTV. Saat itu pula Joel dan Robin meninggalkan Vim sendirian.


"Semoga aman-aman saja," ucap Robin.


"Iya semoga," timpal Joel.


Vim didatangi seorang penjaga. Tatapannya sinis banget, tidak ramah dan mengandung kecurigaan. Vim tak gentar meskipun suara penjaga bagaikan beduk ditabuh.


Penjaga bertanya, "Siapa kau? Mengapa kau di sini?"


"Selamat siang pak. Ma'af mengganggu sebentar. Kemarin saya membaca berita bahwa di sini mencari pekerja. Maksud saya mau melamar kerja Pak."


"Begitu. Tunggu di sini."


Penjaga mengarahkan Vim ke ruang kerjanya yang berukuran persegi dan tidak luas.


"Sebentar." Penjaga meninggalkan Vim di sana. Mendatangi dua orang yang berdiri di depan bangunan itu. Vim menajamkan penglihatannya. Ia kenal dengan orang itu. Yang satu adalah Roni dan satunya lagi tentu orang suruhannya.


Jantung Vim berhenti sesaat sepersekian detik ketika melihat sosok Laras di halaman kiri. Rasa haru menyeruak tiba-tiba. Bibir Vim bergerak menyebut nama Laras. Dia hampir saja berlari memeluk Laras namun segera sadar bahwa saat ini Laras sedang dalam tahanan Roni dan Vim datang sebagai pencari kerja.


Bulir bening hampir jatuh menetes andai Vim tak ingat ia sedang dalam misi. Semampunya Vim menahan agar tidak menangis haru. Setelah beberapa hari tidak melihat Laras, hari ini sangat membahagiakan hati Vim sebab berhasil menemukan Laras. Wajah itu dan semua bagian tubuhnya yang biasa ia rengkuh dan peluk, kini hanya bisa dilihat saja. Vim memejamkan mata. Menyakitkan.


Terima kasih Tuhan. Dia baik-baik saja. Tolong jaga dia selalu dan bantu aku membebaskannya dari sini.


Vim membetulkan posisi berdiri seperti semula. Penjaga datang kembali kepadanya dan memanggil Vim.


"Hei kemari dan ikut aku!"


Vim meletakkan ransel ke belakang punggung lalu mengikuti penjaga. Dia dihadapkan kepada Roni.


"Apa yang kau bawa. Kau keberatan."


"Pakaian Pak. Saya tak pulang kalau diterima kerja jadi sekalian bawa pakaian saya," jawab Vim.


"Kau yakin diterima? Hahaha.."


"Tolong saya diterima Pak. Saya butuh uang untuk ibu saya. Karena itulah jauh-jauh saya kesini Pak."


"Sampaikan saja sama tuan kami. Bilang kalau kau perlu uang."


Sekali lagi berhadapan dengan Roni bukanlah hal mudah terutama dalam mengatur emosi. Kemarahan Vim naik ke permukaan. Netra Vim mencuri pandang ke arah Roni. Tangan Vim mengepal siap meninju hidung Roni. Rahangnya mengeras memancarkan ekspresi dingin. Semua kelakuan Roni membayang di pelupuk mata.


Namun kepalan tinju tidak jadi bersarang di wajah Roni. Akal sehat Vim masih lebih besar dari sekedar menurutkan kata hati. Vim menahan diri. Mengingat tujuan kemari demi orang yang ia kasihi, Laras. Vim menjaga tangannya supaya tidak segera mendaratkan bogem mentah ke wajah Roni. Vim melirik Laras yang sedang memperhatikan bunga tak begitu jauh darinya. Fokusnya hanya Laras.


Mengapa kau di luar sini Laras. Sebaiknya di kamar saja agar tidak selalu dekat Roni. Akh..Roni memang brengsek Laras.

__ADS_1


"Tuan ada tamu. Dia mau melamar pekerjaan yang kita umumkan di berita." Penjaga berkata pada Roni.


"Dia ini? Siapa namamu?" Roni mencermati Vim. Vim menunduk. Berlagak bego lebih baik, pikir Vim.


"Saya Arik, Tuan. Mohon saya diterima bekerja di sini Tuan. Ibu saya perlu biaya untuk berobat. Tolong saya Tuan."


Roni memberi kode kepada penjaga dan si penjaga mengerti maksudnya. Lalu penjaga memeriksa tubuh Vim dari atas hingga kaki.


"Buka tasnya!" Kali ini orang suruhan Vim yang bersuara.


"Wah mau diapakan tas saya Pak. Isinya cuma pakaian. Jangan Pak. Saya malu pakaian dalam saya dilihat orang. Tidak terlalu bagus ****** saya Pak."


"Kau ini cerewet sekali! Mau kerjaan tidak?!"


"Iya mau Pak, uangnya pasti."


"Dasar mata duitan."


"Saya perlu uang Pak. Jadi saya boleh ya bekerja di sini Pak."


Pemeriksaan selesai. Tidak ditemukan barang yang mencurigakan. Roni bersidekap dan menatap Vim, lalu katanya, "Tidak sedikitpun hal di sini yang boleh kau ceritakan kepada orang lain. Jika itu terjadi kami tak segan bertindak padamu."


"Tidak Tuan saya tidak berani seperti itu. "Semua rahasia disini tetap saya simpan untuk diri saya sendiri."


"Ma'af Tuan...gaji saya...."


"Sudah pasti kau dapat gaji. Mau berapa? Dua puluh juta?"


"Terserah Pak tapi kalau bisa yang besar."


"Huuuh kau ini belum-belum mintamu banyak. Aku yang menentukan berapa gajimu. Antar dia ke dalam."


"Baik Tuan."


"Terima kasih atas bantuannya Tuan," kata Vim akhirnya. Sebenarnya ia tak perduli besaran gaji yang akan diterima. Paling penting baginya yaitu Laras bisa pulang bersamanya dengan selamat.


Untukmu Laras apapun kulakukan. Aku bahagia bisa melihatmu lagi. Kau kurus Laras. Apa mereka kurang memberimu makan?


Jarak antara Vim dan Laras sangat dekat. Dua meter sebelum Vim berlalu masuk ke dalam gedung. Semilir angin mengantarkan harumnya tubuh Laras. Vim merasakan itu tetapi harum parfum yang dipakai Laras bukan bau parfum Laras yang sesungguhnya.


Vim dan penjaga memasuki ruangan utama bangunan itu. Di D alamnya memiliki banyak ruangan. Vim menerka-nerka kamar yang ditempati Laras.


Darahnya mendadak mendidih membayangkan perlakuan Roni kepada Laras. Tidak mungkin dan jangan sampai hal yang tak diinginkan dilakukan Roni terhadap Laras.


Mereka tiba di dapur. Ben si tukang masak sedang mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


"Kau sehari-hari di dapur ini. Bantu dia. Jangan banyak protes kalau mau tetap bekerja disini. Itu kamarmu."


"Baik terima kasih Pak. Pak kenalkan nama saya Arik." Arik mengapa tukang masak.


"Salam kenal. Semoga kau betah membantuku. Pergi bawa tasmu ke kamar dan bersihkan kamarmu. Barang-barang di atas tempat tidur letakkan saja di bawah kolong. Nanti malam sudah bisa kau gunakan untuk tidur."


Kamar yang tidak terlalu besar itu berbeda jauh dengan kamarnya di rumah Kamar ini hanya sepertiga bagian saja dari kamar Vim di rumah.


Haaatciiiim!


Hidung Vim sangat peka dengan udara yang asing. Kamar ini lebih mirip gudang yang lama tidak dibersihkan. Barangnya tidak terlalu banyak sehingga Vim tidak perlu banyak merapikan barang-barang tersebut.


Haaatciim...hatciiiimm.


Vim terpaksa membersihkan kamar. Pekerjaan yang tak pernah ia lakukan. Tekad mengalahkan segalanya. Semua sudah diperkirakan termasuk dia harus kelehan membantu tukang masak.


Vim membersihkan tangan sesudahnya.


"Boleh minta air minumnya Pak?" Tanya Vim.


"Boleh, kenapa tidak. Duduklah dan minum. Kau menghidangkan makanan setiap waktu makan tiba dan membersihkan meja makan setelah tuan selesai makan."


"Oke Pak. Apakah wanita itu istrinya?"


"Calon istrinya kata mereka tapi aku belum pernah melihatnya sebelum ini."


"Kapan mereka menikah Pak? Bukankah tuan Roni belum bercerai?"


"Begitulah. Istrinya hanya menginginkan uangnya saja. Biaya hidup anaknya saja dipakai oleh istrinya."


"Di kamar nyonya ada satu dus air minum. Sebaiknya Nyonya ambil di sana saja!" Terdengar suara penjaga berseru disusul suara wanita. Laras.


"Aku mau air minum di dapur dan jus bagianku!"


"Selamat siang Nyonya. Ada yang bisa dibantu?" Tukang masak menyambut Laras.


Vim berdiri. Hatinya girang Laras berada di situ. Laras meneguk segelas air putih..


"Siang Nyonya, kami siap melayani anda. Ada yang bisa dibantu?" Tanya Vim.


"Tidak ada. Aku bisa mengambil sendiri. Pak di mana jus saya."


"Di kulkas Nyonya."


Kesempatan itu digunakan Vim. Dia mengambilkan Laras jus jeruk di kulkas.

__ADS_1


__ADS_2