
*Di*lanjut ceritanya yaa..readers.😍
~
~
~
Hari ini hari kedua Laras berada di rumahnya. Sudah dua malam pula Vim kembali ke rumah itu setiap kali ia pulang dari kerja. Hanya ingin berdekatan dengan Laras Vim rela menempuh waktu 45 menit dari rumah Laras ke tempatnya bekerja. Lelahnya hilang begitu melihat wajah Laras. Hidupnya penuh semangat.
Pagi yang cerah..
Belum sempat Vim memasuki mobil, surat panggilan ponsel berdering. Panggilan dari mami Maharani, ibunya.
"Assalammualaikum mih."
'......'
"Iya di sini. Maafkan kami mih. Besok kami ke sana."
'......'
"Vim kerja dulu ya mi. Assalammualaikum."
Baru saja mami Maharani menanyakan kenapa mereka belum berkunjung ke rumah mami. Sesuai dengan rencana Laras mereka akan bergeser ke sana setelah tiga hari di rumah Laras.
Laras menapaki halaman depan setelah melepas kepergian Vim. Memandangi pohon buah satu-persatu. Jambu biji bangkok, mangga dan sirsak. Netranya yang jernih tertambat pada pohon mangga yang penuh dengan buah-buah mangga bergelantungan. Saat ini sedang musim mangga dan mangga- mangga muda yang bergantungan itu sungguh menggiurkan bagi Laras. Ia menelan saliva. Muncul idenya untuk mengambil buah mangga itu karena ia begitu ingin memakan beberapa biji mangga.
Kemudian Laras menyusuri halaman samping mencari sebuah alat yang biasa digunakan untuk memanen buah-buah yang bergelantungan tinggi di atas pohon. Sebuah alat pemotong berukuran kecil diselipkan di ujung kayu yang panjang dan dengan alat tersebut bisa membuat buah jatuh ke dalam jaring yang telah terpasang di ujung kayu pula. Laras belum menemukan kayu panjang tersebut dan tidak bertanya pada siapa pun sebab memang tidak ada orang di rumah selain dirinya. Ibu sedang ke pasar dan ayahnya mengurus penjualan tembakau dari kebun peninggalan kakek yang tidak terlalu luas.
Hingga ke halaman belakang akhirnya Laras menemukan barang yang ia cari. Kembali lagi ke halaman samping rumah dan menjolok buah yang ia inginkan. Mangga muda menggantung indah menggoda mata khususnya penglihatan seorang wanita yang sedang hamil muda pada fase mengidam.
Laras tersenyum bahagia. Matanya berbinar ceria. Tidak menyadari beberapa titik merah menghiasi betisnya yang putih mulus akibat nyamuk-nyamuk hinggap dibetisnya. Sesekali tangan Laras menggaruk di bagian kaki yang gatal. Cukup lima buah mangga di pagi ini pikirnya. Ia menelan saliva lagi. Berjalan memasuki dapur dengan membawa mangga mangga tersebut.
Di dapur Laras meletakkan mangga di atas meja. Mengambil sedikit sabun cuci tangan dan mencuci tangan di wastafel. Lalu mengeluarkan cobek dari tempatnya. Dua tangkai cabai rawit dan sedikit gula merah diletakkan Laras ke atas cobek. Ia mulai mengulek cabai dan gula merah. Laras sudah tidak sabar memakan sambal buatannya. Segera dikupasnya dua buah mangga muda yang berhasil ia petik tadi. Mencuci kupasan mangga dengan air matang, mengiris kecil buah mangga dan meletakkan ke dalam piring kecil. Laras melahap buah mangga dan sambal buatannya sedikit demi sedikit. Hmmm. Ia tak merasakan masamnya buah mangga. Ia merasa puas dan bertenaga.
Laras merasa lega. Keinginannya telah tersampaikan. Makan mangga muda dicolek sambal gula merah.
Terdengar langkah kaki mendekati pintu dapur. Ibu muncul di sana dengan membawa barang belanjaan di tangan. Ibu baru pulang dari pasar.
"Ibu dari pasar ya." Laras berdiri menyambut barang belanjaan yang ibu bawa.
"Iya sayang. Kita harus masak kaan."
"Ibu benar. Biarkan Laras
membantu ibu. Hari ini Laras tidak ke toko."
"Oya?! kalau begitu kamu bersihkan sayur-sayur ini. Ibu akan membuat bumbu dan membersihkan udang. Tapi..."
__ADS_1
Ibu berhenti berkata dan sepertinya mencari sesuatu di sekeliling mereka. Pandangan ibu berhenti pada cobek dan biji mangga yang tergeletak di atas meja. Kening Ibu berkerut.
"Siapa yang datang Laras? Siapa yang makan mangga sepagi ini?" Tanya ibu dengan rasa heran. Tidak semua orang bisa memakan mangga muda di pagi hari kecuali wanita hamil dalam masa tiga bulan pertama. Itu menurut ibu sebab ibu sudah mengalaminya saat mengandung Laras dan cerita yang sama yang sering ibu dengar dari tetangga dan saudara. Bau mangga yang harum tak bisa dielakkan dari penciuman.
"Ee..ee..itu..itu Laras yang makan bu." Laras menjawab terbata-bata.
"Ada apa denganmu? Laras.. katakan pada ibu apakah kamu hamil nak. Biasanya wanita muda yang sedang hamil makan mangga muda di pagi hari seperti ini." Ibu menggenggam jemari Laras. Sebuah harapan terpancar di wajah Ibu. Tidak sabar menanti jawaban Laras. Keyakinannya begitu besar.
"Ibu apa yang ibu katakan benar." Laras menjawab dengan sangat hati-hati.
"Oh puji Tuhan! Alhamdulillah. Kamu sedang isi ya sayang. Ya Tuhan. Berbahagialah kalian nak." Ibu segera memeluk Laras. Rasa haru yang menyeruak berhasil membuat netra ibu berkaca-kaca. Tangis bahagia karena mengetahui Laras sedang hamil. Akhirnya calon bayi yang ditunggu-tunggu akan hadir di antara mereka.
"Kamu duduk saja di sini. Kamu belum makan kan. Tadi ibu membeli bubur nasi. Nah makanlah." Ibu membuka bubur nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Wangi daun dan bubur bersantan itu membangkitkan selera makan.
Laras memakan bubur dengan lahap. Ibu memperhatikan senang. Anaknya tidak kehilangan selera makan di saat hamil dan selama di rumah ibu belum mendengar Laras muntah di pagi hari seperti wanita hamil pada umumnya.
Laras meletakkan sendoknya. Bubur belum dihabiskan.
"Sudah bu Laras kenyang."
"Ya sudah. Jika kamu kurang nyaman, pergilah istirahat." Saran Ibu.
"Laras mau membantu ibu."
"Baiklah yang ringan-ringan saja ya. Tetaplah duduk di situ."
Laras menganggukkan kepalanya.
"Hampir dua bulan bu. Maafkan Laras." Laras menunduk menghindari tatapan ibu. Merasa bersalah menyimpan berita menyenangkan ini.
"Pasti Vim bahagia ya apalagi mami." Ibu berkata sembari tangannya bekerja. Mengupas bumbu, memotong dan menggiling.
"Ehm..ee bu.. sebenarnya Laras belum ngomong sama mas Vim." Suara Laras pelan hampir mirip sebuah bisikan.
"Apa? Vim belum tahu? Ampun Laras. Mengapa begitu?" Mata ibu membelalak. Tatapannya menyudutkan Laras.
"Bu... begini Bu. Laras ingin membuat kejutan pada mas Vim. Ibu tolong Laras ya." Akhirnya Laras berbicara jelas. Berharap ibu setuju.
"Jadi gimana?"
"Ibu jangan cerita apapun ke mas Vim termasuk Laras hamil. Nanti waktunya tiba Laras ngomong sendiri. Bisa ya Bu."
Ibu menarik nafas dalam. Mencuci sayuran yang telah Laras bersihkan.
"Bu.. bisa kan? Laras mohon sebab Laras mau bikin kejutan buat mas Vim."
"Hhh baiklah terserah padamu. Jaga kandunganmu baik -baik."
"Makasih bu. Laras sayang ibu."
__ADS_1
Pagi berganti siang. Laras baru saja mengganti pakaian saat Vim tiba-tiba masuk ke kamar tanpa bersuara. Hari Sabtu Vim bekerja setengah hari meskipun sebenarnya tidak ada jadwal masuk. Hal ini membuat Joel menggerutu sebab hari liburnya terpotong.
"Tuan hari Sabtu persiapan malam Minggu." Joel memberikan alasan ketika dipanggil masuk kerja.
"Kau malam mingguan juga??"
"Tentu. Pacar saya dari Malang tuan."
"Setengah hari saja. Hari Sabtu kau kuberi gaji ekstra tapi temani aku di kantor."
"Baiklah tuan." Joel sadar mana mungkin si bos mau dibantah olehnya.
Jam pulang tiba, Vim dan Joel pulang mengendarai mobil masing-masing.
Dilihatnya Laras tidur dalam posisi miring ke kanan. Pakaian Laras yang hanya sebatas dengkul membuat betisnya kelihatan. Vim melihat keanehan di betis Laras. Beberapa benjolan kecil kemerahan menempel di sana. Vim mengamati lebih dekat. Warnanya kontras dengan kulit Laras yang putih. Ia beralih ke meja rias mengambil minyak kayu putih di sana lalu mengoleskan minyak di betis Laras. Mengoleskan hingga rata di kaki kanan dan kiri.
Usapan lembut itu membangunkan Laras. Ia menolehkan wajahnya ke belakang lantas tersenyum melihat Vim berada di dekatnya.
"Mas sudah pulang ya."
"Huumm barusan. Betismu kenapa?" Tanya Vim penasaran.
"Itu bukan apa-apa. Di gigit nyamuk." Laras menjawab.
"Oo di sini banyak nyamukkah tapi dua malam ini aku tidur tanpa diganggu nyamuk."
"Di luar mas "
"Di luar mana." Vim semakin penasaran ingin tahu.
"Di bawah pohon."
"Di bawah pohon? Pohon mana? Ngapain kau di bawah pohon?" Pertanyaan Vim bertubi-tubi.
Sungguh ini adalah perhatian Vim yang Laras rasakan tetapi Laras mulai risih dengan rasa ingin tahu Vim.
"Aku cuma ingin berdiri di situ mas rupanya nyamuk senang menemaniku. Lihatlah mereka menggigit kakiku." Urai Laras.
"Ada-ada saja. Besok nggak ke situ lagi ya Ras. Kau garuk semakin merah."
Vim berkata sembari mengganti pakaian. Pilihannya adalah celana pendek dan kaos tanpa lengan.
"Apapun katamu sayang aku nurut heheh. Oya mas belum makan kan?" Tanya Laras kemudian. Ia duduk di atas bed.
"Belum. Nanti saja aku mau tidur dulu."
Laras membiarkan Vim mengambil posisi di atas bed. Vim tidak ingin diganggu. Nyatanya ia langsung terlelap pulas tanpa mengajak Laras bercanda. Laras melanjutkan tidur siangnya. Berbaring di sebelah Vim.
💖💖💖
__ADS_1
Mohon dukungan like, comment, gift, vote dan five ⭐.
Trims 💕