
Laras duduk bersila di atas bed mereka yang besar. Dia baru saja bangun tidur. dilihatnya Vim berjalan hilir mudik dengan ponsel dalam genggaman. suaminya itu sedang menjawab panggilan masuk dari seorang teman.
Kanan lalu ke kiri, dari kiri kemudian ke kanan dan mengulangi gerakan mondar-mandir. Pukul lima pagi tapi mereka sibuk sekali terutama Vim. Laras menghirup udara kemudian melepaskan
perlahan.
Tak berniat sama sekali untuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan Vim. Larangan Vim atas dirinya agar tidak mengikuti reunilah yang membuat Laras tidak beranjak dari tempat tidur. Seenaknya Vim pergi sendiri dan ia harus menjaga rumah. Huuuh. Perasaan dimana perasaan.
"Maafkan mengganggumu yang. Kau bisa tidur lagi." Kata Vim.
"Aku mau ikut. Aku sudah sembuh."
"Keras kepala." Vim bergumam.
"Lihat mas hidungku tidak berair lagi dan suhu tubuhku normal."
Kini Laras berdiri di depan Vim menjangkau tangan Vim agar menyentuh keningnya. Semoga suhu tubuhnya tidak berubah menjadi tinggi saat keningnya disentuh Vim.
"Tidak panas lagi bukan? Gimana..aku bisa pergi ya?"
Pertanyaan Laras penuh harap. Berharap Vim menyetujui.
"Semangat banget sih. Apa yang kau cari di sana?"
"Yaaah aku tidak mencari siapa dan apa-apa. Hanya ingin ikut. itu saja mas."
Vim tidak menghiraukan perkataan Laras. Diambilnya sebuah benda kecil yang disebut termometer dari laci meja rias Laras.
"Selipkan." Perintah Vim.
Laras menurut. Menyelipkan termometer di bawah ketiak. Duduk manis berapa saat sambil menunggu angka yang tertera di termometer.
Vim tidak berdiri di depan Laras lagi. Lelaki itu telah memasuki kamar mandi. Muncul lagi dengan rambut yang basah. Keharuman tubuhnya mengisi ruangan kamar mereka. Bau wangi dan segar.
"Di mana kaosku?"
"Di gantung." Laras menjawab singkat.
"Mengapa masih di gantung?"
Laras selalu rajin menyiapkan pakaian Vim di setiap pagi. Kali ini tidak melakukannya.
"Sebab tidak boleh ikut reuni."
"Oh begitu. Balas dendam hmm?"
"Bukan."
"Jadi?"
Bagaimana mungkin kau tidak mengerti perasaan dan keinginanku ini. Reuni tidak diadakan setiap tahun.
"Kesal aja." Laras lega mengatakan kata-kata itu.
"Berikan termometer itu." Pinta Vim
"Tiga puluh enam." Ucap Vim jelas.
Wajah Laras berseri seketika. Nah ijin akan keluar dari mulut Vim.
"Aku boleh ikut ya." Laras memutuskan sendiri. Dia bersenandung kecil ke kamar mandi.
"Aku mandi dulu mas . Tunggu aku ya mas atau kubawa mobil sendiri aja?"
"Siapa yang mengijinkanmu?"
"Hahh? Mas jangan curang. Katamu aku boleh pergi jika suhu tubuhku normal dan tidak flu lagi. Lihat aku sehat sekarang."
Vim tersenyum. Senang mengerjai Laras seperti ini. Syukurlah Laras tidak flu lagi.
"Baik bersiaplah. Kau pergi bersamaku."
"Woow.. makasih!" Laras memeluk Vim.
"Terima kasih sayang. Nanti malam_"
"Nanti malam di rumah dong. Kau baru saja sembuh."
"Yaaahhh gitu deh."
"Iya. Cepat mandi waktu berjalan. Jam tujuh sudah mulai senam bersama."
"Baik. Siap tuan."
"Tidak perlu berlari. Kau bisa jatuh Laras."
Vim meminta bibi menyiapkan dua gelas susu. Terlalu pagi bagi mereka berdua makan pagi. Lebih baik minum susu saja.
Tok.tok.
"Laras..kau lama sekali."
Vim memanggil Laras. Mengetuk pintu kamar mandi agar Laras menyudahi mandinya.
"Sebentar sayang..aku sudah kok."
Pintu terbuka.
"Tunggu ya sayang aku salin dulu. Waah mas ini keren sekali seperti anak muda." Puji Laras.
"Aku masih muda Laras. Apa aku terlihat tua menurutmu?" Vim mengikuti Laras ke kamar ganti. Harumnya sabun menyegarkan indra penciumannya.
"Mas pemuda tampan pujaan hatiku."
Senyuman Vim merekah dipuji seperti itu.
"Tapi bukan hanya tampan saja yang menjadi penilaianku."
Laras mengambil kaos seragam dan menggunakan di depan Vim.
"Hal tersembunyi di balik ketampananmu. Hanya aku yang tahu dan rasakan. Sebab itu aku menyukaimu."
"Kaos kakimu mas."
Kaos kaki diserahkan kepada Vim.
"Sudah?"
"Iya."
Bahu jalan sepanjang depan sekolah mereka menjadi padat dengan kendaraan peserta reuni. Walaupun tidak semua peserta membawa kendaraan tetap saja kendaraan bersusun ke belakang diparkir oleh tuannya.
"Kita cuma bisa di sini."Kata Vim mencabut kunci mobilnya.
"Ya gimana lagi. Tidak ada tempat."
"Laras kau tidak usah ikut berjalan santai. Itu akan membuatmu lelah. Setelah senam duduklah menunggu di sekolah. Kuharap pagi ini saja kau menghadiri acara." Kata Vim sebelum mereka turun dari mobil.
"Baik sayang. Aduh khawatir sekali sih. Malam nanti aku tidak ikut?"
"Hmm..tentu. Turunlah."
Laras keluar mobil. Lalu bersama Vim berjalan memasuki gerbang sekolah.
"Laras! Laras!" Itu suara Ririn memanggilnya. Laras tersenyum melihat Ririn menunggu di pojok pagar sekolah.
"Ririn!"
"Kau datang juga." Ririn suka cita menyambut Laras.
"Berkat do'amu."
__ADS_1
"Mas aku sama Ririn ya." Ijin Laras kepada Vim.
"Baiklah. Ada apa-apa hubungi aku."
"Baik mas."
Vim meninggalkan Laras dengan Ririn. Belum berjalan terlalu jauh Vim menemukan Edo dan Dion di depan pintu masuk sekolah.
"Lambat bro." Sapa Edo.
Vim mengangkat alisnya.
"Menunggu Laras tapi belum mulai juga kan."
Panitia reuni sie acara kelihatan sibuk memulai acara pagi ini. Vim dan kawan-kawan hanya mengikuti rangkaian acara saja pagi ini. Bagian Vim hanya mengeluarkan dana kepada sie setiap kegiatan.
"Assalamualaikum. Selamat pagi. Kepada semua hadirin diharapkan berkumpul di lapangan. Acara segera kita mulai. Terima kasih."
Pembawa acara memanggil semua hadirin melalui mic. Mereka berkumpul di lapangan. Tiga lapangan di dalam sekolah penuh dengan peserta reuni.
Laras dan Ririn tak terpisahkan. Selalu berdua. Mereka mengambil tempat berdiri di lapangan basket. Vim dan kedua sahabatnya berdiri di lapangan utama yang biasa digunakan untuk upacara.
"Gila seksi bro. Ckk."
"Siapa Ed?" Dion mengikuti arah pandangan Edo. Pemandu senam yang dimaksud oleh Edo.
"Dasar mata." Vim mencibir.
"Normal bro." Edo tak mau disalahkan.
"Nikah lu." Tambah Vim.
"Sebentar lagi."
"Berarti sudah ada calon dia." Giliran Dion yang berkata.
"Syukurlah."
Vim dan Dion melempar senyum.
"Ada pilihan mommy."
"What??!"
Vim dan Dion sama-sama berteriak.
" Kau setuju?" Tanya Vim.
"Belum kujawab." Kata Edo.
Obrolan terpotong sebab pembawa acara memberi aba-aba agar seluruh peserta merentangkan kedua tangan. Jarak mereka semakin jauh. Senam akan segera di mulai. Musik pengiring senam berbunyi. Mereka semua mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh pemandu senam.
Panas mulai terasa. Keringat bercucuran keluar akibat gerakan senam tanpa henti. Mereka menyeka keringat saat musik berhenti dan senam usai.
"Jalan santai lagi."
"Ya" Dion menyambung ucapan Vim.
"Gerakan yang enerjik." Edo menilai.
"Tidak cocok untuk usia jauh di atas kita." Vim menambahkan.
"Encok bisa kumat. Paling tidak pegal-pegal untuk mereka." Dion menyambung ucapan Vim.
"Hahahah.." Tawa mereka berderai.
"Tugas Astuti yang mencari pemandu senam." Vim lagi berkata.
"Seharusnya senam yang tidak terlalu cepat gerakannya."
"Benar." Dion setuju dengan ucapan Vim.
Mereka bertiga tetap berdiri. Bersiap mengikuti jalan santai.
"Hai bro. Hery!" Dion menyahut.
"Hai." Edo menyahut juga kemudian disusul Vim.
"Hai Her. Gimana kabarmu?"
"Baik Vim. Hahah jumpa lagi kita."
"Berkat reuni." Balas Vim.
"Jalan."
Dion mengajak mereka mengikuti peserta lain yang mulai bergerak. Jalan santai dimulai. Vim teringat Laras sama sekali belum makan. Apa kabar dia. Belum menghubungi Vim melalui ponsel.
Syukurnya rute jalan santai tidak terlalu jauh tapi bekas sekolah mereka yang terletak sedikit di atas bukit lumayan membuat dengkul panas.
Mereka hampir memasuki pintu gerbang sekolah lagi setelah tadi jalan memutar mengitari bekas sekolah.
"Hah! Hah!" Dion mengatur nafas.
"Aku mencari Hendra. Katanya mau ketemu tapi dimana dia." Kata Hery.
"Hendra. Tidak tahu di mana dia. Kami tidak melihatnya dari tad.i"
"Nggak apa Ed. Aku pergi dulu mencarinya."
"Baik. Titip salam dari kami, Her!"
"Oke!!"
Hery melambaikan tangan dan pergi.
"Apa kau lelah?" Tanya Edo melihat Dion yang terlihat ngos-ngosan.
"Memangnya kau tidak lelah."
"Aku? No." Edo boleh sombong.
"Makanya kondisikan perutmu bro." Kata Edo lagi. Perut Dion lebih buncit daripada perut Vim.
"Halaaahh..belum aja kau."
Vim menyadari ponselnya bergetar dan berbunyi di dalam saku celana dan tangan Vim segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku.
'Ya. Ririn ada apa?'
'......'
'Apa? Sekarang di mana?"
'......'
'Baik aku ke sana. Terima kasih.'
Wajah Vim berubah panik. Ririn memberitahukan berita yang tidak baik.
"Ada apa??" Dion penasaran.
"Laras! Laras pingsan. Aku ke sana."
"Dimana? Vim..dia di mana sekarang?!!" Seru Edo namun Vim terlanjur berlari hendak menemui Laras.
Kedua sahabatnya menyusul Vim. Laras berada di ruangan khusus yang disediakan untuk perawatan bagi para peserta yang tiba-tiba sakit.
Ririn sedang mengusapkan minyak kayu putih ke hidung Laras saat Vim tiba. Dua orang panitia bagian kesehatan membantu menyadarkan Laras.
"Gimana Laras??" Tanya Vim.
__ADS_1
"Belum sadar kak." Ririn menjawab. Dia memberikan tempat kepada Vim supaya Vim bisa mendekati Laras.
"Laras. Bangun."
Minyak kayu putih dioleskan lagi. Kipas di tangan Ririn bergerak ke kiri dan kanan mengipasi Laras tepat di atas kepala.
"Ras bangun." Vim terus berusaha.
"Sini Rin." Kipas diminta oleh Vim. Dia mengipasi Laras sekarang.
Lima menit kemudian kepala Laras bergerak lalu kelopak matanya membuka.
"Laras..kau sudah sadar." Vim tersenyum.
"Mas..Vim aku..aku."
"Kau pingsan Laras."
"Ooh.. Ririn?"
"Aku disini Laras. Kamiu ingat tadi kamu mengeluh pusing?"
"Iya." Suara Laras lemah.
Setengah perjalanan saat jalan santai Laras merasakan keringat dingin. Keringat dingin tiba-tiba membanjiri wajah, kepalanya pusing dan Laras tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
"Kami membawamu ke sekolah dalam keadaan pingsan. Maafkan aku kak Vim. Aku baru menghubungimu karena aku mengurus Laras." Ririn minta maaf.
"Tidak apa Ririn. Aku sudah berpesan pada Laras agar ia duduk saja di bawah pohon. Jangan mengikuti senam dan jalan santai." Kata Vim. Netranya tak lepas menatap Laras.
"Terima kasih kak. Aku ambilkan makanan dulu ya." Ririn berlalu keluar.
"Gimana Vim keadaan Laras?"
Dion dan Edo baru tiba di ruangan itu.
"Sudah sadar. Ini lihatlah."
"Syukurlah." Edo berkata.
"Hai Laras. Gimana rasanya?"
"Aku baik kak. Tidak apa-apa kok, kak Edo."
"Sudah kuperingatkan jangan ikut senam dan jalan santai. Perutnya belum diisi sarapan pagi. Kemarin hidungnya yang berair baru sembuh. Sekarang seperti ini jadinya." Urai Vim.
"Istirahatlah di sini. Kami kumpul lagi di lapangan." Dion dan Edo bersiap mengikuti acara selanjutnya.
"Baik kak. Terima kasih ya kak."
"Tidak perlu berterima kasih Laras. Vim kami kesana."
"Oke. Bawa hadiah yang banyak!" Seru Vim.
"Maafkan aku mas. Merepotkanmu." Laras merasa bersalah.
"Aku terima maafmu. Besok kau ulangi lagi ya."
Laras tersenyum dengan pandangan yang sayu. Senyuman itu mengingatkan Vim ketika Laras berada di tempat tidur. Di mata Vim dia selalu saja cantik dalam keadaan apapun.
"Mas pergilah sarapan. Mas belum makan."
Di luar acara break sebentar dan para peserta reuni dipersilahkan mengambil konsumsi makan pagi. Beberapa jenis makanan dalam bungkusan di tata di atas meja panjang.
"Tidak aku ingin di sini saja." Vim tidak ingin pergi.
Kau lebih penting dari sekedar sarapan. Bagaimana bisa aku makan sedangkan kau butuh perhatian.
Laras bangun dan duduk perlahan.
Ririn datang dengan tiga bungkusan makanan yang ia bawa. Di tangan kirinya tiga minuman hangat dalam satu kantong plastik.
Satu bungkusan siomay diberikan Ririn kepada Vim berikut minuman Milo panas dalam cup tertutup.
"Terima kasih Ririn."
"Sama-sama kak. Kuambilkan bubur untuk Laras."
"Terima kasih Ririn. Kamu makan di sini saja." Kata Laras sebelum Ririn berinisiatif pergi.
"Tapi.." Riri ragu keberadaan dirinya mengganggu Laras dan Vim. Di ruangan itu memang tidak ada orang lain selain mereka.
"Iya si sini saja bersama kami. Makanlah." Vim tidak keberatan dengan permintaan Laras.
"Aku suapi?" Vim mengulurkan tangan meminta bungkusan bubur yang Laras pegang. Laras tidak memberikan kepada Vim.
"Aku bisa makan sendiri mas."
"Baik. Makan dan habiskan."
"Enak siomaynya." tutur Ririn.
"Hmmm iya." Vim sependapat dengan Ririn.
"Buburnya enak Ras?" Vim meminta pendapat Laras.
" Kurang enak mas."
"Coba kurasa." Vim mengambil sesendok bubur dan memasukkan ke dalam mulut.
"Enak kok. Dimakan lagi Ras."
"Sudah mas. Kenyang."
"Aku suapi ya?"
"Tidak. Perutku sudah penuh.
Laras tetap menolak permintaan Vim menyuapi dirinya. Bubur tidak terasa nikmat. Mulut Laras sedikit pahit.
"Aku ingin jeruk." Ucap Laras.
"Jeruk? Di sini tidak ada jeruk sayang. Nanti kita beli pulang dari sini."
"Oiya tidak ada air putih." Ririn berdiri akan keluar.
"Ririn kamu temani Laras saja. Aku ambil air mineral."
Vim mencari meja konsumsi. Sekalian dirinya menemui temannya yang mengikuti lomba.Vim urung bergabung bersama timnya. Dirinya diganti teman yang lain. Laras lebih penting.
"Dedy aku diganti dengan yang lain saja. Maaf sebelumnya." Dedy si koordinator kelas Vim.
"Waahhh bakal menang nih mereka." Ujar Dedy mengira-ngira. Tanpa Vim si pemimpin tim.
"Kau usahakan menang dong." Vim menyemangati kawannya itu.
"Okelah. Aku cari gantimu."
"Makasih bro."
"Yoi sama-sama."
Vim kembali lagi ke ruangan semula. Menyerahkan air mineral kemasan dibawa.
"Ambil air ini. Minumlah."
Menjelang tengah hari Vim mengajak Laras pulang. Singgah di toko buah-buahan untuk membeli jeruk. Vim menemani Laras hingga Laras tidur siang. Kemudian ia kembali berkumpul bersama teman-temannya untuk memastikan acara esok hari berjalan dengan lancar.
πΎπΎπΎ
Bersambung...
__ADS_1
Like, komen, hadiah, gift, vote dan bintang lima.
Terima kasih hadir dan jejaknya.π