
πΊπΊπΊ
"Anggia kita pulang..kita lambat."
Dion memanggil Anggia ketika tiba di ruang perawatan Laras.
Anggia pun menyudahi obrolan dengan Laras dan meraih tasnya.
"Aku pulang ya. Segera pulih." Bisik Anggia pada Laras.
"Iya mbak. Makasih ya mbak."
"Sama-sama. Ingat jangan terlalu bersedih atas atas apa yang terjadi."
"Baik mbak."
Anggia membalikkan badan. Ia dan Dion harus segera pulang karena mereka khawatir Devan akan mencari mereka. Menangis di tengah malam akan merepotkan orang tua Anggia.
"Kusut sekali penampilan kalian. Berkelahi ya?" Anggia memandang Vim dan Dion bergantian.
"Benar. Buruan sayang." Jawab Dion.
" Kami pulang ya Vim." Pamit Anggia bergegas menyusul Dion yang berjalan keluar ruangan.
"Terima kasih. Hati-hati."
"Kau belum tidur sejak tadi?" Vim menghampiri Laras. Duduk di samping Laras dan menatap dengan penuh kasih.
"Gimana aku bisa membersihkan luka itu?" Tanya Laras mengamati wajah Vim. Ada beberapa luka di sana.
"Tidak perlu dipikirkan. Aku bisa meminta obat pada perawat."
"Apa menurutmu perawat-perawat cantik-cantik?" Pertanyaan Laras membuat Vim tersenyum penuh arti. Vim tahu arah pembicaraan Laras.
"Apa kau sedang cemburu?" Vim balik bertanya.
"Tidak." Laras menghindari tatapan Vim.
"Perawat di sini cantik-cantik." Vim menunggu reaksi Laras atas ucapannya tetapi Laras tidak terpengaruh. Laras sengaja mengalihkan topik obrolan.
"Uuuh aku mengantuk sekali."
"Tetapi istriku lebih cantik dari pada mereka." Tambah Vim. Dari ekor matanya Vim bisa melihat Laras tersenyum tipis dan malu.
"Ya sudah tidurlah." Kata Vim akhirnya.
"Selamat malam sayang."
"Selamat malam."
βοΈβοΈβοΈ
Hari berganti...
Laras baru terbangun dari tidur ketika Vim memasuki ruangan.
"Mas dari mana?" Laras bertanya.
"Jalan pagi ke depan setelah perawat datang mengecek ke sini . Seorang ibu menjajakan dagangannya dan aku membeli ini."
Laras memperhatikan bungkusan yang dibuka oleh Vim. Dalam keadaan begitu Vim terlihat seperti orang biasa. Membeli makanan sendiri tanpa memerintahkan bawahannya.
" Oh nasi pecel."
"Hmmm enak. Kau mau merasakannya?" Tanya Vim basa-basi. Menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Tidak."
"Bagus. Ransummu sudah datang.dan boleh dimakan. Aku ambilkan ya."
"Jangan. aku belum menyikat gigi mas."
Laras turun dari pembaringannya. Cukup kuat berjalan dan ia merasa ingin kembali ke rumah.
__ADS_1
"Mas aku ingin pulang." Laras berkata sebelum melewati pintu kamar mandi.
"Yakin? Kita tanya dokter ya."
Laras mengangguk. Beberapa menit kemudian Laras muncul dan Vim telah siap dengan ransum untuk Laras di tangannya. Siap menyuapkan makan pagi kepada Laras.
"Aku bisa makan sendiri kok mas." Laras meminta ransumnya.
"Jangan sungkan begitu. Aku suamimu."
"Tidak sungkan. Aku sakit ringan aja mas jadi aku bisa makan sendiri."
"Tapi aku ingin menyuapimu."
Vim memaksa Laras membuka mulut. Laras tidak bisa menghindar. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Laras hingga isi ransum benar-benar habis. Vim tersenyum penuh kemenangan berhasil membuat Laras melahap habis ransumnya.
"Nah begini dong. Di rumah kau juga harus makan makanan bergizi sesuai anjuran dokter supaya kita cepat dapat momongan dan satu hal.. aku bakal lebih ketat mengontrol kegiatanmu."
"Yaaaah kok bisa gitu sih." Kedua alis Laras bertaut. Ia tidak setuju dengan ucapan Vim.
"Untuk kebaikanmu dan kebaikan kita. Katanya mau cepat dapat ganti." Vim memberikan alasan.
"Iya tapi apa perlu diperketat gitu?"
"Tentu saja karena kau terlalu aktif hingga melupakan keadaanmu yang sedang hamil. Terlalu banyak bergerak dan bekerja hingga kelelahan dan akhirnya kau kehilangan bayimu."
Laras menundukkan kepala. Ucapan Vim tidak salah.
"Selamat pagi. Bagaimana keadaan ibu." Suara dokter menghentikan pembicaraan mereka. Vim segera berdiri menyambut dokter yang datang tiba-tiba.
"Selamat pagi dokter." Balas Laras dan Vim bersamaan.
"Rasanya hari ini lebih baik dokter. Maaf dokter saya boleh pulang hari ini?"
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mengijinkan Laras pulang ke rumah. Laras menjadi lebih bersemangat mendengarnya. Dia tersenyum dengan mata berbinar.
Tidak ada yang membahagiakan Vim selain melihat Laras bisa tersenyum lepas.
"Semoga kondisi ibu cepat pulih sehingga bisa program kehamilan lagi. Jangan lupa berdoa ya Bu."
"Terima kasih dokter." Vim menyalami dokter kemudian mengantar dokter sampai ke pintu.
"Aku selesaikan urusan adminitrasi. Kau tunggu di sini dan jangan berkemas."
"Baik tuan."
"Hhhhhhh." Vim mengacak rambut Laras gemas. Laras terkekeh.
Kemudian Vim menelepon Ibu Laras. Memberitahukan ibu jika Laras diperbolehkan pulang agar Ibu tidak menyusul ke rumah sakit.
Pakaian kotor telah dimasukkan ke dalam tas. Mereka siap sedia pulang kerumah hanya saja harus menunggu pak Uun datang menjemput.
Menurut pak Uun kedatangannya akan lambat disebabkan harus mencuci mobil terlebih dahulu.
Laras dan Vim sabar menunggu hingga pak Uun tiba.
"Mas boleh ambilkan sisir dan karet rambutku?" Pinta Laras pada Vim.
"Boleh dong sayang."
Vim mengambil barang yang disebut Laras dari dalam pouch kecil milik Laras di dalam tas.
"Kau mau mengikat rambutmu? Biar aku yang ikat." Vim menawarkan diri.
"Oh tidak mas. Aku ikat sendiri saja."
Laras tidak dapat membayangkan bila Vim yang mengikat rambutnya. Bagaimana Vim bisa melakukan itu. Pernah Vim mengikatkan rambut satu kali tetapi sudah lama sekali.
Tetapi Vim bersiteguh dengan keinginannya mengikat rambut Laras. Laras pasrah mengalah.
Vim mulai menyisir pelan rambut Laras. Menggabungkannya menjadi satu dengan hati-hati.
"Sakit?" Tanya Vim.
__ADS_1
"Tidak." Laras menjawab.
Tangan Vim kemudian mengikat rambut Laras menjadi satu. Hasilnya tidak mengecewakan. Lumayan rapi.
"Sudah. Kau lihat di cermin ya."
Lalu Vim mengambilkan Laras bedak padat yang di dalamnya terdapat cermin kecil. Laras melihat wajahnya yang lebih pucat dari biasanya di cermin kecil itu. Bagaimanapun ia tidak bisa puas melihat tampilan wajah dan rambutnya di cermin tersebut disebabkan ukuran cermin yang kecil.
"Sudah mas. Aku percaya hasilnya bagus karena suamiku ini maunya hasil yang sempurna. Bukan begitu?"
"Iya tapi kita juga tidak selalu bisa mendapatkan sesuatu yang sempurna sayang." Jawab Vim bijak.
"Begitu. Eehm jadi misalnya nih maaf ya mas, misalnya anak kita nggak cantik atau ganteng gimana?" Tanya Laras ragu-ragu mengeluarkan apa yang ada di benaknya.
"Hahaha..kau ini berpikir sejauh itu."
"Boleh saja kaan."
"Cantik atau jelek. Ganteng atau biasa saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan karena memang tidak ada yang sempurna Laras. Kau temui kekuranganku?" Vim menjadi ingin tahu kekurangan dirinya menurut Laras.
"Kau sempurna." Jawab Laras cepat.
"Tidak ada yang sempurna Laras. Katakan dengan jujur kekuranganku."
"Eehm.. banyak." Laras menyeletuk. Laras melihat perubahan di wajah Vim.
"Katanya katakan dengan jujur. Kau marah?"
"Tidak. Katakan apa saja itu." Vim menatap bola mata Laras. Siap mendengarkan yang Laras katakan.
"Yang paling utama kau cemburuan." Laras mengeja kata terakhir menjadi suku kata.
"Hohoo itu..ya jelaslah. Mana ada suami yang tidak cemburu melihat istrinya berdekatan dengan lelaki lain."
"Eits tapi kan bukan untuk hal yang tidak senonoh sayang dan bukan perselingkuhan."
"Iya. Iya. Lalu apa lagi kekuranganku?" Tanya Vim lagi.
"Tidak ada. Yang ada kelemahan. Kau mau tahu mas, kau akan lemah pada wanita yang membutuhkan pertolongan."
"Oya?? Bukankah itu bagus?"
"Rasa kemanusiaanmu ku acungi jempol tapi kau bisa dimanfaatkan oleh si wanita. Seperti_"
"Seperti?" Vim tidak sabar mendengarkan Laras.
"Seperti mantan pacarmu itu." Jawab Laras dengan mimik wajah berubah cemberut.
"Haahaa.. ya tidak begitu terus Laras. Berhentilah membahas ini."
"Benar. Cukup sampai di sini. Eeh pak Uun sudah datang pak?"
Kedatangan pak Uun tepat di saat obrolan Laras dan Vim selesai. Tidak ada obrolan pribadi yang didengar oleh pak Uun.
"Iya non. Selamat siang. Maaf bapak telat."
"Tidak apa Pak. Kita boleh pulang."
"Baik. Bapak bawa tasnya." Pak Uun meraih tas berisi pakaian.
"Tidak ada yang tertinggal mas?" Tanya Laras sekedar mengingatkan Vim.
"Tidak ada. Tadi aku memeriksa lagi. Jika ada yang tertinggal kita bisa beli lagi sayang."
"Duh mentang-mentang banyak uang." Laras melirik Vim. Lirikan yang menggoda bagi Vim.
Vim menggenggam jemari Laras. Membantunya turun dari ranjang rumah sakit. Menggandeng Laras keluar ruangan rawat inap tersebut.
πππ
Bersambung...
Suka, komen, hadiah, vote dan bintang lima buat othor ya..
__ADS_1
Trims.π