
Laras bercerita pada Vim tentang Ririn. Teman lama tapi baru menemaninya di toko hari ini.Vim setuju asalkan Laras merasakan kecocokan dengan temannya itu.
"Yang penting bisa kau percaya Laras. Jangan salah memilih. Kepercayaan yang kau berikan itu besar." Nasehat Vim untuk Laras.
"Ririn anak baik dari keluarga baik-baik. Aku percaya dia tidak akan mengkhianati atau berbuat macam-macam mas."
"Ya sudah jika kau merasa yakin. Oya aku tadi memesan sejumlah nasi kotak untuk besok."
"Nasi kotak? Untuk apa?" Laras bertanya keheranan karena Vim tidak pernah mengatakan sebelum nya. Kejutan apa lagi ini dari suaminya.
"Besok aku mengundang sedikit anak panti asuhan dan pak ustad supaya membaca doa di tokomu. Tidak banyak dua puluh orang anak saja karena itu aku memesan nasi kotak untuk mereka."
Laras tercengang. Suaminya ini luar biasa. Tanpa mengajaknya berbicara tiba-tiba berbuat sesuatu.
"Mas aku protes. Kenapa aku nggak diajak rembuk. Mas nggak bertanya dulu sih."
"Kejutan memang nggak harus bertanya dan aku tahu kamu orangnya suka menerima makanya aku mengurus semuanya." Vim menyunggingkan senyum. Senyum yang telah membuat Laras meleleh dan berhasil menepikan Vano dari hatinya.
"Nggak gitu dong mas. Aku kan istrimu. Siapa yang menyiapkan semuanya?"
"Bu Atik. Beres semua, besok jam dua an ya."
Bu Atik adalah staf kantor Vim yang biasa mengurus keperluan acara kantor yang berhubungan dengan konsumsi. Laras tidak berkata-kata lagi. Kemauan Vim terkadang sulit dibendung. Seenak udel sendiri menurut Laras.
"Terus berapa indeks nasi kotaknya?" Tanya Laras lagi ingin tahu. Padahal ia tidak berniat membuat acara pembukaan toko walaupun hanya sekedar do'a selamat.
" Tiga puluh lima ribu. Ada rendang, ayam, sambal goreng hati, sayur dan lain-lain pelengkapnya. Lalu masing-masing anak menerima amplop seratus ribu rupiah. Mereka juga membawa goody bag saat pulang."
"Astaga banyak amat mas. Sekotak harga segitu mahal mas_"
"Ooops tidak mahal dengan lauk yang lengkap. Harga sesuai dengan isinya. Ini catering terenak di sini. Sudahlah aku hanya ingin berbagi dengan mereka. Perusahaan sedang berkembang pesat Laras. Ada bagian mereka dari pendapatanku. Ini hanyalah selamatan kecil, tidak menghabiskan uang yang banyak.
Bukan suatu masalah dan jangan dipermasalahkan."
"Oke mas tapi lain kali aku diajak berunding. Kau tidak bertanya padaku sama sekali." Raut wajah Laras berubah cemberut. Mulutnya semakin maju ke depan.
"Jika aku bertanya padamu tentu saja kau menolak, iya kan? Tidak usah mas ini hanya menghabiskan uang saja. Lagian cuma toko kecil. Mana indeks nasi kotak mahal lagi. Pasti begitu kau bilang."
Vim berbicara sangat dekat di depan wajah Laras. Pemandangan yang tidak enak melihat wajah Laras berubah sangat masam seperti rasa jeruk tapi ia ingin merubah mood Laras yang dibuat kesal oleh dirinya.
"Hei kau cantik jika cemberut. Mulutmu semakin mancung." Sarkas. Vim menyentuh bibir Laras dengan tangannya lalu menahan jemarinya di hidung Laras.
"Aauw! Aauww!! aku nggak bisa bernafas tahu. Lepaskan mas, mas Vim!" Rengek Laras. Senjata Laras jika sudah terpojok. Vim melepaskan tangannya. Di hatinya penuh kemenangan. Wajah Laras tidak cemberut lagi.
"Lalu apalagi yang mas siapkan?"
"Perlengkapan untuk acara. Kursi meja tentu saja. Tim dekorasi besok akan menghiasi tokomu. Sudah kuminta konsepnya sederhana saja biar sesuai dengan kepribadian pemiliknya yaitu kamu."
"Harusnya aku yang menyiapkan semuanya mas."
__ADS_1
"Maafkan aku ya. Aku tahu kau tak mempunyai rencana apapun untuk menyambut toko itu meskipun aku tahu kau sudah membuka hubungan dengan Laria. Di situ aku bisa membaca keinginanmu memiliki toko karena itulah aku membeli ruko itu."
"Semua sudah dipesan." Ujar Laras lirih.
"Aku membaca obrolanmu dengan Laria. Biarkan aku yang mengurus tentang ini. Nanti kalau baby lahir kau mengurus acara kelahirannya sesuai dengan keinginanmu, oke??"
Entah kapan si bayi mungil akan lahir, Laras berkata dalam hati.
"Mami dan papi tidak di sini. Dion dan Edo berada di lain kota."
"Tidak apa. Ibu dan ayah bisa ke sini."
"Beritahu ibu dan ayah supaya naik taksi online saja. Pak Uun tidak bisa menjemput."
"Baiklah. Aku telpon ibu."
Laras terhubung dengan ibunya. Berbicara sebentar dan menutup kembali panggilan hp.
"Sekarang tidak marah lagi kan?"
"Aku tidak bisa marah padamu." Bisik Laras di telinga Vim. Vim tersanjung.
"Kalau gitu..yuk."
"Kemana?"
"Ke alam orang dewasa."
"Kita ciptakan sendiri. Yang sering kita lalui berdua. Salah satu cara mencapai target." Vim semakin mendekati Laras dan berbuat sesuai keinginannya. Hasrat lelakinya muncul dan harus disalurkan.
"Seperti membahas urusan pekerjaan saja ada targetnya."
"Target anak. Biar cepat jadi." Vim tidak terkendali. Mulai menguasai Laras. Laras tak menampik karena itu adalah hak dan kewajiban mereka sebagai pasangan. Laras sangat senang karena Vim mendapatkan kepuasan hanya darinya, tidak mencari dari wanita lain.
"Mas aku ngantuk sekali."
Laras menutupi dirinya dengan bed cover. Matanya tidak bisa diajak kompromi dan tubuhnya terasa lelah. Malam sangat larut.
"Tidurlah." Vim mengecup kening Laras yang menghadap ke arahnya. Sebentar saja Laras telah terlelap.
Vim tidak langsung tidur. Rasa lapar mengganggu kenyamanannya. Ia beranjak ke dapur mencari makanan yang masih ada. Menemukan cumi cabai hijau disana dan ayam goreng. Tanpa nasi ia melahap makanan itu ditambah segelas susu. Cukup mengganjal perutnya yang minta diisi.
Ia membuka salah satu media perpesanan di hp. Tadi siang ia telah mengundang Dion dan Edo ke toko Laras untuk acara besok. Kedua sahabatnya ini tidak bisa hadir karena berada di kota lain.
Ia masih bisa mengetahui Dion belum tidur.
"Hai Di. Belum tidur?"
"Belum. Kau juga?"
__ADS_1
"Iya nih."
"Aku tahu selesai bikin anak ya."
"Tahu saja. Kau ngapain belum tidur. Biarkan Anita tidur. Jangan kau ajak ngobrol."
"Busyet. Masih selesaikan pekerjaan nih."
"Pekerjaan atau janjian?"
"Kau sendiri nggak tidur. Tentu capek habis bercocok tanam."
"Sebentar lagi. Mengembalikan tenaga haha."
Mereka tetap mengetik di layar hp. Saling berbalas pesan. Hampir jam satu malam.
"Kapan pertemuan dengan pak Arison."
"Nah itu. Aurora japri aku, ia bilang mewakili pak Arison. Gila. Apa kalian tidak ada orang lain lagi? Mengapa Aurora??"
Emoji ketawa dikirim oleh Dion
"Selamat berjumpa dia lagi hahaa. Maaf aku lagi di luar, Pak Arison kebetulan berangkat tanggal segitu jadi beliau menunjuk Aurora."
"Kan ada yang lain Di."
"Pak Arison berhak menunjuk anak buahnya dan aku nggak bisa melarangnya Vim. Aku tidak di kantor."
"Setidaknya kau bisa memberikan usul."
"Aku lambat. Sorry. Yang penting kalian bisa menjaga diri. Jangan lupa diri."
"Huuuh batalkan saja pertemuan sampai kau kembali. Kau yang hadir."
"Vim jika kita lambat peluang ini dimanfaatkan pihak lain. Sesegera mungkin, oke?"
Sekian menit Vim tidak memberikan balasan pesan.
"Vim?? Aku tebus jika aku pulang. Ini harus jadi."
Vim membuat Dion blingsatan. Chat ditinggal begitu saja. Vim dengan santai mengupas kacang kulit favorit nya.
Setelah menyikat giginya, Vim menuju ke bed. Berbaring di sebelah Laras. Merengkuh tubuh Laras dalam pelukannya. Tak sedikitpun Laras bergerak. Ia sejak tadi telah terbuai mimpi.
π§‘πΏπΏπΏπΏπ§‘
~Bersambung~
Like, comment, vote, gift & fav.
__ADS_1
Salam manis dari author retjeh ini.π