Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 80. Resah gelisah.


__ADS_3

Kembali Vim tidak pulang ke rumah pada waktu yang semestinya. Hati Laras gelisah, resah akan keberadaan Vim. Tadi Laras menelpon Joel menanyakan apakah Vim masih di kantor. Joel menjawab ia tidak tahu sebab dirinya pulang terlebih dahulu. Menurut Vim Joel boleh pulang karena Vim hampir selesai sebentar lagi.


Baru pukul tujuh malam. Laras menghubungi Vim tetapi panggilannya tidak diangkat oleh Vim. Mungkin memang sibuk pikirnya.


Drama Korea tak mampu menghilangkan gelisah hati Laras. Ia menyudahi tontonan itu dan mengambil Hoodie miliknya. Menggapai kunci motor dari tempatnya dan pamit pada bibi.


"Sudah malam non. Siapa tahu sebentar lagi den Vim pulang."


Ujar bibi yang dipamiti Laras. Laras tidak yakin dengan perkiraan bibi.


"Saya juga sebentar bi. Satu jam aja. Ke rumah mbak Anggia. Saya bawa kunci."


"Iya non jangan malam-malam pulangnya. Nanti den Vim marah." Kata bibi.


"Baik bi."


Dua puluh menit kemudian.


Mesin motor dimatikan oleh Laras sesampainya di rumah Dion. Pagar dibuka Laras dan motor diparkir tidak jauh dari kursi taman halaman depan.


Ning nong. Ning nong.


Bunyi bel yang ditekan oleh Laras. Lalu Anggia muncul membuka pintu.


"Laras!" Senyum bersahabat Anggia menyambut kedatangan Laras.


"Iya mbak. Boleh aku masuk?" Laras meminta persetujuan.


Anggia mengangguk.


"Tentu doong. Ayo masuklah." Tangan Laras diraih Anggia. Anggia mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Kau sendiri Laras? Vim mana?"


Pertanyaan Anggia sudah ada dalam perkiraan Laras. Datang ke rumahnya sendiri di malam hari. Apalagi yang datang adalah Laras. Bagaimana bisa Vim membiarkan Laras pergi sendiri malam hari.


"Sendirian mbak. Belajar mandiri heee." Kata Laras ringan.


"Apa suamimu tidak takut kau hilang di jalan? Bukankah belanja saja kau ditemani?" Pertanyaan Anggia seperti ejekan bagi Laras. Tetapi Laras tak menanggapi dengan serius. Kenyataannya memang begitu.


Anggia mengajak Laras ke ruang keluarga.


"Kalau aku hilang bisa cari ganti mbak." Seloroh Laras.


"Nggak semudah itu toh? Apalagi kalau sudah cinta mati." Kata Anggia.


"Sepi mbak. Devan sudah tidur?" Tanya Laras.


"Devan banyak bermain siang tadi. Sehabis mandi dan makan mulai rewel. Sebelum kau datang dia sudah tidur." Anggia menjelaskan.


Mendekati ruang keluarga terdengar derai tawa nan renyah dari dua suara yang berbeda. Dua suara yang Laras hafal siapa pemiliknya. Dion dan Edo. Di antara mereka minus Vim sebab Laras tidak melihat mobil Vim di luar dan Vim memang tidak berkunjung ke situ.


"Edo di sini sejak sore." Kata Anggia tanpa Laras tanya.


"Ini tamunya." Kata Anggia lagi.


Anggia membuat kedua lelaki itu mengurangi volume tawa mereka.


"Laras!?"


Panggilan itu hampir serentak dari mulut Dion dan Edo. Laras mengulum senyum.


"Gerangan apa yang membawa tuan Putri kemari?"


Pertanyaan Edo membuat Laras tergelak dan Laras menjawab sejujurnya.

__ADS_1


"Hanya ingin main di sini. Boleh kan?"


"Tentu saja tuan Putri. Tidak ada yang boleh melarang termasuk tuan rumah."


Edo bersemangat menjawab. Baginya sesuatu sekali bisa berada di dekat Laras meskipun ia tidak bisa berharap lebih.


"Di mana Vim pengawalmu itu? Apa dia tidak takut kau diculik orang?" Tanya Edo lagi.


"Mas Vim belum pulang." Jawab Laras enteng.


"Oya?? Hmm kira-kira kemana dia."


Edo berpikiran liar. Laras bukan tidak tahu jika Edo memancing reaksi Laras.


"Dia di kantor kak. Pekerjaannya minta diselesaikan."


Ucapan Laras sangat tenang namun di dalam hati terbersit pikiran yang sama seperti yang Edo pikirkan. Andaipun Vim pergi ke suatu tempat dan tidak di kantor seperti perkiraan Laras, Laras bisa apa. Toh nanti Vim akan pulang ke rumah. Laras yakin itu. Tidak perlu dipikirkan berlebihan. Laras menghalau pikiran negatif. Tetapi jika benar, pikir Laras lagi. Entahlah. Laras menjadi galau.


"Begitu. Bukan tidak mungkin Vim sedang di suatu tempat bersama wanita lain." Lagi Edo berkata. Dia hanya menggoda Laras.


Edo melirik Laras dengan ujung matanya. Laras sedang menundukkan wajah menatap ponselnya.


Dion dan Anggia sudah beranjak dari tempatnya. Dion ke kamar kecil dan Anggia ke dapur.


Di dapur Anggia tidak hanya membenahi bekas makan malam mereka, akan tetapi menghubungi Vim.


"Kau di mana saja? Laras di rumah kami. Ada sesuatu antara kalian??"


Anggia menutup panggilan hp. Dion keluar dari kamar mandi. Kedua alisnya terangkat ke atas.


"Aku sudah menghubungi Vim. Dia akan datang sebentar lagi."


Anggia menerangkan kepada Vim.


"Menurutnya?" Tanya Dion.


"Astaga. Dia tidak merasa istrinya menunggunya?" Dion menggeleng heran.


"Sayang biarkan mereka melalui itu. Suatu proses mereka saling mencari, membutuhkan. Tidak hanya Vim saja yang perduli tetapi Laras juga." Kata Anggia panjang lebar.


"Ehm..ya seperti kau yang perduli padaku bukan?" Dion meraih pinggang Anggia.


"Hahaa jelas sangat perduli karena kau suamiku." Laras memberikan sebuah kecupan di pipi Dion.


Berdua mereka menghampiri Laras dan Edo di ruang keluarga.


"Laras kami semua sudah makan malam. Pergilah makan." Perintah Anggia.


Laras mengangkat wajahnya. Sedari tadi ia menunduk memperhatikan ponselnya sambil menghadapi Edo yang mengajak berbicara. Tidak bisa dipungkiri ia merasa sedikit grogi hanya berdua saja dengan Edo tadi. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal itu.


"Terima kasih mbak. Aku sudah makan." Laras berbohong. Ia merasa sungkan makan sendirian.


"Laras jangan sampai perutmu sakit saat pulang nanti karena belum makan malam. Vim akan menanyakan kami. Aku temani ya." Ajak Anggia.


"Tidak mbak. Sebentar lagi aku mau pulang. Tadi aku ingin melihat Devan dan ternyata sudah tidur." Tolak Laras dengan halus.


Ning nong. Bel pintu berbunyi.


"Itu Vim sepertinya." Kata Anggia.


Dion bergerak cepat akan membukakan pintu.


"Aku yang buka." Kata Dion sambil berlalu.


"Mas Vim? Dia mau ke sini mbak?" Tanya Laras ingin tahu kebenarannya.

__ADS_1


"Iya tadi bilang begitu." Jawab Anggia.


Suara Vim dan Dion mengisi ruangan besar itu. Suara semakin mendekati Laras dan Anggia. Keduanya muncul dengan tawa di wajah mereka.


"Hai Anggia. Gimana kabarmu?" Tanya Vim begitu melihat Anggia. Dia belum menoleh ke arah Laras.


"Baik Vim. Kau sehat?" Anggia balik bertanya.


"Ya aku baik. Edo kau pura-pura serius bro ?" Kali ini Vim menegur Edo sahabatnya. Edo sedang menonton televisi sembari mengunyah keripik pedas.


"Memang serius. Kau baru datang sedangkan Laras dari tadi di sini. Kemana saja ?" Kali ini Edo telah menoleh ke belakang. Mulutnya belum berhenti mengunyah keripik. Vim sudah berjongkok di belakang Edo tetapi menghadap ke Laras.


"Kau juga di sini sayang. Sejak kapan?" Suara dan tatapan Vim sangat lembut. Tersirat cinta di manik matanya yang coklat.


"Aku..satu jam yang lalu ke sini. Maafkan aku mas." Lirih suara Laras takut jika Vim tidak suka ia keluar rumah malam hari tanpa info sebelumnya.


"Tidak perlu minta ma'af. Aku salah tidak menjawab teleponmu. Aku ketiduran di kantor. Kau sudah makan?" Vim selalu perduli pada Laras.


"Belum. Aku tidak lapar tadi."


Jawab Laras.


"Sudah wooii mesra-mesraannya. Bikin ngiri saja." Tiba-tiba Edo menyeletuk.


Vim melepas tawanya dan Laras menunduk malu.


"Yaaa biarkan saja Ed. Dunia milik berdua, yang lain sewa." Timpal Dion disusul tawa mereka semua.


"Bikin pingin ajaaa..." Tambah Edo kemudian.


"Cepetan cari gandengan biar ngerasain." Ujar Vim tak perduli perasaan Edo. Edo cukup kuat menerima balasan Vim. Mereka terbiasa akan hal-hal begitu. Ejek mengejek satu sama lain.


"Truk kali..gandengan." Sahut Edo.


"Betah banget sendiri sih..ckk." Tambah Vim lagi. Di dalam hatinya ia senang bisa menggoda Edo.


"Tunggu tanggal mainnya bro."


"Halaah hari gini aja belum ketahuan siapa gadismu." Vim pesimis dengan ucapan Edo."


"Mas.." Laras mengingatkan Vim tetapi Vim mengabaikannya.


"Ada. Ada. Kalian mau lihat potonya?"


Edo mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Membiarkan teman-temannya mengamati gerak-gerik Edo.


"Wanita paling cantik sedunia. Aku mencintaimu." Edo menyium dompetnya di bagian yang terbuka. Ia tersenyum puas.


Vim memandang Dion. Dion juga.


"Bagaimana bisa dia melihatnya sendiri. Apa bisa dipercaya??" Tanya Vim pada Dion.


"Menurut mu? Aahh sudahlah. Omong kosong Ed!" Dion mengibaskan tangan kanannya.


"Hahahahah." Edo tertawa lepas.


"Aku ke sini menjemputmu. Mari kita pulang."


Tangan Vim terulur ke depan. Menanti tangan Laras menerima uluran tangannya. Tidak menunggu lama Laras menggapai tangan Vim. Lalu bangkit bersamaan. Mereka pamit pada tuan rumah. Diikuti Edo yang juga berpamitan pulang.


Bersambung...


Halo readers..maafkan othor yang baru muncul. Masih ada beberapa episode lagi yang ingin othor up..do'akan yaa.


Jangan lupa dukung othor. Suka, komen, hadiah, vote & bintang lima.

__ADS_1


Trims.Luv u.💕


__ADS_2