
"Setidaknya ia tahu aku tidak akan tinggal diam jika ada orang yang mengusik kehidupanku."
Vim meraih tisu yang tersusun di dalam kotak di atas dashboard. Membersihkan sisa-sisa peluh di wajah.
"Kau mau ke mana ini?" Tanya Dion.
"Pulang."
"Oke lah. Sudah kukirim tadi ya."
"Oke makasih bro." Vim merasakan pegal-pegal di tubuhnya.
"Rony balas dendam kesumat denganmu."
"Aku ikuti permainannya. Dia jual aku beli. Antar saja aku ke rumah Laras, Di. Dia ada di sana."
Dion memutar setir ke kiri. Dua puluh menit kemudian mereka tiba di halaman rumah Laras yang luas. Tanah kosong tanpa tanaman apapun di tengahnya selain hamparan paving block tertata rapi. Di kelilingi beberapa pohon buah-buahan dan bunga.
"Aku lanjut pulang ya." Lambai Dion pada Vim. Menolak mampir walau sebentar karena Anggia pasti menunggu di rumah.
"Yoi hati-hati Di!"
Bruuummm. Mobil Dion menghilang dari pandangan. Mobil Vim dititipkan di kantor Dion. Esok hari akan diambil.
Vim mengetuk pintu tiga kali. Pintu dibuka oleh ayah Laras.
"Vim kau baru pulang. Masuklah."
Pintu terbuka lebar dan Vim masuk ke dalam.
"Wajahmu lecet begitu. Habis kelahi?"
"Iya pak. Biasa pak laki-laki. Saya masuk dulu pak"
Ayah Laras mengangguk. Pintu kamar dtutup rapat oleh Vim. Laras tersentak kaget atas kemunculan Vim.
"Mas Vim!! Astaga kenapa ke sini malam begini?!"
"Astaga Laras apakah aku tidak boleh mengunjungi istriku?" Vim balas bertanya. Laras tertawa renyah.
"Hahahah.. siapa bilang tidak boleh. Kupikir mas di rumah saat aku di sini." Laras menyelesaikan menulis sesuatu sehingga tidak terlalu memperhatikan Vim.
"Mana bisa aku tidur tanpa dirimu. Apalagi aku sendiri tanpa pelukanmu." Ucap Vim bermanis kata.
"Haalaah bukankah lebih pulas tidurmu tanpa kuganggu."
Sampai di situ Laras berhenti menulis. Membalikkan tubuhnya menghadap Vim dan ia terkejut luar biasa melihat penampilan Vim yang amburadul.
Kemeja tidak dimasukkan ke celana, rambut acak-acakan dan wajah yang jauh dari kesan ceria. Yang ada hanya wajah letih dan kusut. Lalu memar-memar di wajahnya menimbulkan tanda tanya di kepala Laras.
"Mas kau kenapa?!!" Pekik Laras.
"Bukan apa-apa."
"Ya ampun sebentar aku ambil kotak P3K dan air hangat ya." Laras bergerak lincah menuju ke belakang. Kembali lagi dengan sebaskom kecil air hangat. Wajahnya menegang membawa baskom.
Laras membersihkan luka dan memar di wajah Vim dengan hati-hati. Mengoleskan rivanol dan betadine pada lukanya.
"Untung tidak sobek besar lukanya mas. Mas berkelahi dengan siapa?" Tanya Laras kemudian.
Tidak sabar mendengarkan cerita Vim lebih lanjut. Tetapi Vim masih membisu. Ia tak serta merta bercerita namun justru menelentangkan tubuhnya di atas ranjang. Merentangkan lebar kedua tangannya dan mengatupkan kedua kelopak mata. Hembusan napas keluar dari hidungnya.
"Aku lelah." Ujarnya dengan kedua mata yang masih mengatup.
"Aku tahu mas pasti lelah dalam keadaan begini tapi mas masih kotor."
"Siapkan air hangat Laras aku mau mandi." Kedua mata Vim terbuka. Demi masa depan dan kelangsungan rumah tangganya ia rela melakukan ini. Berkorban jiwa dan raga asalkan rumah tangganya tetap utuh dan Laras tak kehilangan kebahagiaan.
"Sudah mas. Cepatlah mandi setelah itu kita makan. Ayo."
__ADS_1
Laras mengulurkan tangan ke arah Vim dan disambut oleh tangan kanan Vim agar Vim bangkit dari pembaringan. Laras berusaha menarik tangan Vim tapi percuma karena kekuatan tarikannya tak seimbang dengan kekuatan tangan Vim. Laras kalah dan ia jatuh telungkup tepat di atas Vim.
"Aaaahhh." Laras berusaha bangun namun kedua lengan Vim justru menguncinya sehingga ia tidak bisa bergerak bangun.
"Lepaskan. Kau belum mandi. Mas Vim lepaskan. Iiiiihh." Laras meronta. Mencubit lengan Vim tetapi ia meringis kesakitan. Otot lengan Vim yang keras tak merasakan apapu saat ia cubit.
Sungguh bukan hal yang nyaman berada dipelukan Vim saat ini. Wajah Vim kucel. Kemejanya lusuh dan Vim bau keringat bercampur parfum. Jauh dari kata wangi meskipun masih tersisa bau parfum samar-samar. Vim mengumbar tawa bahagia. Bisa membuat Laras masuk dalam dekapan adalah kebahagiaan baginya. Apalagi melihat Laras yang berusaha ingin lepas darinya. Membuat Vim tambah gemas.
"Lepaskan. Lepaskan. Uuuhhh!"
Vim melonggarkan dekapannya.
"Haahaahahah."
"Hah..hah..hahhh." Laras mengatur nafas di sebelah Vim. Cemberut pada suami sekaligus kekasihnya itu.
"Udahan. Mas mandi sana sudah malam."
"Baiklah aku mandi. Nantikan aku datang ya." Vim menepuk pipi Laras pelan. Sebelumnya Vim membuka rekaman yang tadi dikirim Dion ke ponselnya. Rekaman ketika ia berkelahi dengan Rony.
"Dengarkan ini."
Laras memandang penuh tanya. Ia mulai mendengarkan rekaman itu. Mendengarkan penuh perhatian suara orang bergantian berbicara disertai pukulan-pukulan. Braak. Buuk. Hati Laras terasa ngilu. Ia mengenal suara Vim.
Vim meninggalkan Laras sendiri karena harus membasuh dirinya. Lalu Laras menyiapkan pakaian santai untuk Vim. Laras memutar kembali rekaman suara tersebut.
Kreeeek.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Muncul Vim dari sana.
"Sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya. Jangan menuduh hal sembarangan padaku." Vim menggenakan handuk yang melilit di pinggang.
Laras berlari kecil mendekati Vim. Kedua lengan Laras melingkar di leher Vim. Wajah mereka sangat dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. Wanginya tubuh Vim membuat Laras betah berlama-lama menempel pada Vim.
"Menggodaku heeh??" Tanya Vim. Hembusan nafasnya terasa hangat menyentuh kulit wajah Laras.
"Humm apa salahnya. Aku istrimu. Sah-sah saja." Ujar Laras tanpa malu.
Laras menggeleng. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Vim. Rasa haru, bahagia dan sayang bercampur jadi satu. Rasanya ia ingin tetap merangkul Vim malam itu. Menunjukkan bahwa ia benar-benar mencintai Vim.
"Maafkan aku sayang. Aku terbawa emosi." Bisik Laras ditelinga Vim. Suara lembut dan halus milik Laras mirip sebuah *******. Jiwa lelaki Vim meronta. Bisikan Laras seperti suara ******* yang seketika membangkitkan bara hangat dalam dada.
"Tidak apa. Aku mengerti. Kadang aku pun cemburu. Maafkan aku ya tapi..apakah kau akan membiarkanku kelaparan begini?"
"Oh ee maafkan aku." Laras tersipu malu dan melepaskan rangkulannya. Tatapan Vim sangat lembut. Laras salah tingkah dan berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat.
"Aku mau makan di sini saja Ras." Vim mengambil cake oren yang masih ada di depan kaca rias. Mengulangnya makan tiga potong. Tetap saja perutnya masih mencari sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayuran.
"Aku ambilkan ya. Tunggu sebentar."
Tak lama kemudian Laras datang dengan makanan di nampan.
Ia menunggu Vim makan dengan sabar.
"Kemarilah mendekat denganku." Panggil Vim setelah selesai makan. Tak ingin mengecewakan, Laras menghampiri dan duduk di sebelah Vim.
"Aku di sini."
Kini Vim yang merangkul Laras. Mengusap lengan atas milik Laras. Usapan lembut tanpa ingin menyakiti Laras. Laras menyandarkan kepala di pundak Vim. Damai terasa. Romansa dua pasangan muda sebagai cara lebih mengeratkan ikatan batin antara keduanya sekaligus memupuk rasa cinta.
"Aku merindukanmu." Ucap Vim lagi. Terdengar klise tapi itulah apa yang sedang dirasakannya. Selalu ingin berdekatan dengan Laras. Satu malam pun ia tak sanggup berjauhan dari Laras. Laras yang menjadi penyemangat hidupnya. Yang karenanya Vim berjuang sekuat mungkin menggapai kesuksesan. Terdorong akan rasa cinta yang besar pada Laras Vim rela berkorban apa saja. Nyawa sekalipun.
"Uluuh.. uluuuh belum satu hari ditinggal." Laras menyentuh ujung dagu Vim.
"Huumm kau meragukannya kan?"
Vim membiarkan tangan Laras membelai dadanya. Tersanjung akan perhatian yang diberikan Laras.
"Tidak. Aku percaya kok apa yang mas katakan."
__ADS_1
Krucuuk. Krruuk..
"Bunyi apa itu?" Vim memandang bola mata Laras. Mencari sumber suara yang barusan ia dengar.
"Maaf perutku bunyi." Laras menunduk malu. Perutnya minta diisi lagi padahal dua jam yang lalu ia baru saja makan.
"Oo Laras. Mengapa kau kelaparan di sini? Apakah ibu tidak memasak enak sehingga kau tidak makan? Ckk kau kelaparan di rumah sendiri?" Vim bertanya penuh keheranan.
"Aku lapar lagi sayang." Jawab Laras singkat. Sebenarnya ia menginginkan makanan lain yang tidak ada di rumah.
"Kalau begitu ayo makan. Aku temani dan ini berikan pada ibu supaya bisa belanja lebih banyak. Minta tolong pada ibu membelikan apa yang kau mau."
Vim mengeluarkan lima lembar uang seratusan dari dompetnya dan diberikan kepada Laras. Dompetnya kempes kembali.
"Berikan pada ibu." Perintahnya.
"Mas aku terima uangnya tapi ibu sudah kuberikan uang untuk tambahan belanja. Mas simpan aja ya." Laras menolak saran Vim. Vim menggelengkan kepala.
"Kau saja yang simpan. Sekarang ayo makan. Cepat, atau kugendong ke ruang makan." Ancam Vim. Sudah tentu Laras menolak dirinya digendong Vim. Laras tak bisa membayangkan kedua orangtuanya akan melihat itu.
"Tidak. Tidak. Ehm aku sudah makan nasi. Mas aku menginginkan yang lain." Suara Laras terdengar ragu.
"Apa itu??"
"Mi ayam." Jawab Laras ringan.
"Mie ayam? Masih adakah jam segini?" Vim melirik jam dinding. Pukul sembilan lewat lima belas menit.
"Mas tolong belikan ya. Ya mas? Aku ingin." Ucap Laras lagi setengah merengek seperti anak kecil.
"Aku minta tolong pak Uun belikan."
"Aku maunya mas Vim yang beli. Nggak enak sama pak Uun."
"Dienakin aja." Jawab Vim asal.
"Nggak. Nggak enak. Kalau mas nggak mau belikan berarti mas nggak sayang aku. Mas sayang aku nggak?" Laras hampir menangis Vim tidak menuruti permintaannya.
"Ya udah daripada kamu nggak makan. Aku belikan. Itupun kalau masih ada." Akhirnya Vim mengalah padahal ia agak malas keluar rumah mengingat hujan rintik-rintik telah turun.
"Mas jangan lupa kerupuknya dan bakso." pinta Laras lagi menahan langkah Vim keluar dari pintu.
"Untukmu sayang apapun.. hhhh." Vim berkata sebelum menghilang di balik pintu.
Laras tertawa lebar. Namun ia harus bersabar menunggu Vim pulang. Lumayan menanti lama. Laras terus berharap Vim segera datang.
Ia berjalan ke ruang tamu. Melongok dari balik tirai jendela. Melihat barangkali Vim telah datang. Tidak ada. Kembali lagi menuju ke kamarnya.
"Sayang aku datang. Ini pesananmu." Akhirnya Vim yang ditunggu-tunggu muncul membawa mangkok kosong dan sebungkus mi ayam
"Makanlah." Ia telah menuangkan mie ayam ke dalam mangkok siap untuk disantap oleh Laras.
"Makasih sayang. Kamu baik. Hmmm sedap. Mas mau?"
"Tidak aku sudah kenyang. Makanlah."
"Enak mas tapi ini bukan mie ayam di depan sana." Laras mulai menilai. Ia terlalu hafal dengan mi ayam di pertigaan dekat rumahnya. Yang ia makan sekarang potongan ayamnya banyak tetapi keci-kecil.
"Jelas bukan. Ini ku beli di Raya City walk."
"????"
Pantas sekali lama banget nunggunya, batin Laras. Jarak ke sana jauh dan biasanya ramai pembeli. Laras membayangkan Vim mengantri di sana. Ternyata ia sungguh perduli pada Laras. Rela mengantri.
πΎπΎπΎ
Hai readers..bagian ini yang harusnya up kemarin.π€ Jangan bosan-bosan hadir di sini ya..
Tinggalkan komen, suka, hadiah dan vote ...juga β5.
__ADS_1
Trims ππ