
Begitu cepat waktu berlalu. Laras dan Vim harus kembali ke kota mereka. Kembali ke rumah dan memulai aktivitas seperti biasanya.
"Laras biarkan pakaian-pakaian itu. Aku akan memberikannya kepada bibi."
Vim melarang Laras membereskan pakaian kotor.
"Kasihan bibi mas. Pekerjaannya banyak." Alasan Laras.
"Kita cari ART satu lagi."
"Ya sudah. Mau kuambilkan minum mas?"
"Tidak. Itu saja." Vim menuney6Laras mengambil segelas air minum. Laras benar-benar ingin tahu kelanjutan urusan jual beli tanah antara papi dan om Handoyo. Kemarin Vim menemani papi melihat tanah yang dimaksud.
"Baru lihat saja. Harganya lumayan. Tidak tahu apakah papi akan lanjut atau tidak."
"Jauh di sana." Laras memberikan pendapat.
"Ya. Semua bisa diatur Laras."
"Jauh di sana berarti papi harus mencari orang yang mau mengurusnya. Sama saja papi memberikan orang tersebut gaji atau bagiannya."
"Memang begitu. Kelak tanah itu dibagi tiga untuk kami. Selanjutnya bagianku untuk anak-anak kita."
"Aku mengerti."
"Jaga semuanya untuk anak-anak jika suatu saat aku pergi dulu." Pesan Vim.
"Aah mas ngomong apa sih.
Berdo'a minta umur yang panjang mas."
"Aamiin."
"Aku mau menyiapkan makan malam." Laras berdiri hendak berlalu.
"Mengapa harus repot? Duduklah. Temani aku di sini."
"Kita harus makan sayang dan semuanya belum tersedia di meja. Lagian ini kan tugasku."
"Aku yakin bibi sudah menyiapkan nya. Tunggu aku lihat ke belakang."
Tidak mungkin Laras harus berdiam diri sehari-hari menuruti kata Vim. Tidak boleh ini dan tidak boleh itu. Sangat membosankan. Dia kembali lagi kemudian.
"Mas.. aku mau merajut. Besok aku belanja keperluanku."
Laras teringat hobi lamanya di saat masih gadis. Mengisi waktu dengan merajut sangat menyenangkan. Waktu yang berlalu tidak akan terasa membosankan.
"Boleh saja asalkan tidak membuatmu kelelahan. Besok kuantar ya."
"Terima kasih mas."
Laras mengalungkan kedua lengan di bahu Vim. Memberikan kecupan terima kasih.
*****
Vim merasakan kepalanya berputar saat akan bangun pagi. Keringat sebesar biji jagung menenuhi wajah. Perutnya berasa mual sangat hebat. Sesuatu mendorong dari dalam perut minta dikeluarkan.
Hoooeek. Hoooeek.
Lalu gemericik air wastafel terdengar. Laras mendengar suara aneh segera bangun. Vim tiada di sampingnya. Ia buru-buru ke kamar mandi.
"Mas! Kenapa?"
Vim menggeleng. Hoooeeeek.
"Aaaakhh." Lenguhan dari mulut Vim.
Laras memijit leher Vim berulang-kali. Tak satupun yang keluar dari mulut Vim. Wajah Vim pucat pasi.
__ADS_1
"Kepalaku pusing. Sudah."
Vim berjalan lemah ke bed. Laras memberikan minyak angin di punggung dan perut Vim.
"Cukup Laras. Baunya tidak enak. Perutku mual."
"Baiklah. Mas istirahat di sini."
Laras menjadi khawatir. Vim jarang sakit. Ia takut Vim sakit hebat karena Vim tidak pernah sakit. Tubuhnya selalu fit.
"Masih mual mas?" Tanya Laras.
"Sedikit. Buatkan aku teh hangat manis." Pinta Vim.
"Baiklah."
Dengan langkah cepat Laras ke dapur. Mengambil teh dan menyeduh dengan air panas.
Bibi memperhatikan menjadi heran melihat kesibukan Laras. Bukan kebiasaan mereka minum teh manis. Laras cekatan sekali di pagi ini.
"Mas Vim minta bi. Kelihatannya kurang sehat." Kata Laras.
"Oh. Non apa yang harus bibi lakukan?"
"Ehm bibi tolong buatkan bubur nasi ya bi buat mas Vim. Dia muntah-muntah. Takutnya perutnya menolak nasi."
"Baik non. Bibi siapkan."
Kreeeekk.
"Ini teh manisnya mas. Pelan-pelan masih panas."
Sluuurrp.
Vim menyeruput teh sedikit. Kemudian melanjutkan lagi dan lagi hingga teh tinggal seperempat gelas.
"Baringlah. Mungkin mas masuk angin. Aku panggilkan dokter ya."
"Tidak usah Laras. Aku hanya ingin tidur."
Vim tidur sangat lama membuat Laras khawatir. Tepat pukul dua siang Vim bangun dari tidur.
"Mas belum makan dari tadi. Aku tidak berani membangunkanmu. Masih pusing?"
"Tidak lagi."
"Aku ambilkan bubur."
Lalu Laras menyuapi Vim. Bagus. Tidak muntah sama sekali. Laras menjadi lega.
"Sudah lumayan enakan. Aneh aku tidak pernah seperti ini." Ucap Vim.
"Mas terlambat makan di kantor mungkin."
"Tidak juga."
"Mengapa tidak berobat saja mas?"
"Tidak apa. Sakit ringan saja. Ini sudah baikan kok."
Laras teringat satu bulan ini ia belum kedatangan tamu bulanan. Sebaiknya ia mengatakan kepada Vim.
"Mas aku..aku.. bulan ini belum dapat tamu."
"Tamu dari mana?"
"Dari diriku sendiri. Maksudku aku belum M."
Vim mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Oh aku ngerti. Lalu? Kau..Kau hamil Laras?" Vim mengira-ngira.
"Entahlah. Aku ingin periksa tapi nanti saja jika dua bulan ini M tidak datang."
Vim manggut-manggut. Vim bersandar lemah.
"Mas makan lagi. Roti kosong dan teh manis."
"Boleh. Ambilkan."
Dengan langkah ringan Laras mengambil roti yang dimaksud. Asalkan Vim mau makan dan tidak muntah, Laras cukup lega.
"Tolong suapkan. Mungkin aku kangen dengan suapanmu."
"Iya tenang saja. Selagi mas mau, aku suapi."
Suapan pertama, kedua, ketiga Laras menunggu. Syukurlah tidak muntah. Suapan berikutnya hingga habis dua buah roti tanpa isi.
"Untuk menjaga jangan lakukan pekerjaan yang menyita tenagamu. Serahkan pada bibi semua. Bibi bisa dibantu pak Uun. Aku akan menyetir mobil sendiri."
Vim sudah parno terlebih dahulu sebelum tahu Laras benar hamil atau tidak.
"Kurasa bibi bisa mengerjakan semuanya. Biarkan pak Uun mengantarmu. Setelah ini aku menjadi takut. Tubuhmu sedang tidak fit." Urai Laras.
"Baik bumil."
"Apa? Ibu Hamil? Belum tahu aku hamil atau tidak sayang. Jangan cepat mengambil kesimpulan."
Laras takut kecewa kedua kali. Mengharap terlalu berlebihan tetapi kecewa pada akhirnya. Ia akan senang dan puas jika telah melakukan pemeriksaan pada dokter ahli kandungan.
"Semoga saja ini benar Laras."
"Aku juga berharap begitu. Jangan beritakan ini pada sesiapa pun sebelum kita periksa ke dokter. Kita berdua saja yang tahu." Pesan Laras.
"Aku tidak sabar menunggu hari itu Laras."
"Aku juga."
"Oh Tuhan cepatlah waktu berlalu." Vim berkata penuh pengharapan.
Keduanya saling berpandangan dan tersenyum. Hari ini Laras tidak jadi melihat bazar yang sedang berlangsung. Semua ia serahkan kepada Ririn tentang keikutsertaan produk mereka di bazar. Ririn bisa diandalkan.
Tak mungkin meninggalkan Vim dalam keadaan sakit. Vim butuh perhatian Laras.
"Tidurlah jika merasa mengantuk. Di sini." Vim menunjuk tempat di sebelahnya. Mata itu sayu tanpa sinar. Wajahnya pucat meskipun tidak sepucat tadi pagi.
Hatinya tidak tenang bahkan untuk memejamkan mata sebentar saja. Masih was-was jika Vim pusing dan mendadak muntah . Laras berjaga-jaga.
"Maafkan aku. Kau pasti khawatir."
Vim menggenggam jemari kiri Laras.
"Besok pagi akan normal kembali."
"Semoga." Laras tersenyum. Berusaha menutupi kegundahan hati.
"Aku tidur sebentar. Sore ini mengerjakan tugas. Mas memerlukan apa-apa, bangunkan saja aku."
"Baik mbak. Ya sudah tidurlah."
Laras tertawa kecil. Lalu mulai mengatupkan kedua mata. Vim mengelus pelan rambut di atas kening Laras. Usapan lembut sarat cinta.
...💗💗💗...
Masih bertaburan cinta untuk keduanya..
Jangan lupa like, komen, gift juga vote.
Trims.💕
__ADS_1